
Di rumah Aldo
Setelah beberapa menit Aldo dan Vega menunggu putra dan menantunya, akhirnya yang di tunggu-tunggu pun telah tiba, keduanya disambut senyuman oleh Aldo dan Vega.
"Eh ... kalian sudah turun, sini Mama dan Papa bawa sesuatu untuk kalian berdua."
Vega tampak memberikan sebuah kotak berisi bakpao telo yang mereka beli di sebuah gerai yang menjual makanan khas kota Malang.
"Terima kasih Ma! Apa ini?" Fio begitu senang saat melihat bingkisan yang di berikan oleh sang mertua. Namun, tiba-tiba saja Vega melihat bibir menantunya yang terlihat sedikit bengkak.
"Fio! Itu bibir mu kenapa Sayang? Kok sampai begitu?" tanya Vega yang merasa ada yang berbeda dari penampilan menantunya itu.
Fio dan Galen saling menatap, Fio tersenyum kepada sang mertua dan mencoba menjelaskan nya.
"Ah ... ini, ini karena di gigit semut Ma, tadi tiba-tiba saja pas makan kue, Fio nggak tahu jika ada semut di dalam kue itu, jadi semutnya gigit deh." alibi Fio yang tidak sengaja Aldo juga ikut melihat bibir putri William Anthony itu terlihat berubah.
__ADS_1
"Di gigit semut? Hmm nakal sekali semutnya hingga membuat menantuku seperti itu, ya ampun Fio, lain kali jika ada semut yang merayap, udah pites aja nggak pake lama, semut model gitu suka nakal memang." seloroh Vega yang pastinya sudah tahu jika itu adalah ulah putranya sendiri, karena dirinya pun pernah mengalami hal yang sama seperti Fio.
"Kok di pites sih Ma! Ya janganlah, itu semut tahu kalau di bibir itu tempatnya empuk makanya dia suka gigit di sana," sahut Aldo yang rupanya mendapat dukungan dari Galen.
"Nah Papa benar tuh, Galen setuju."
Nyatanya kedua laki-laki itu memiliki selera yang sama, suka menggigit bibir istrinya. Aldo dan Galen tampak saling tertawa, keduanya memang sama-sama konyol, namun siapa sangka keduanya mampu membuat pasangannya tak berdaya saat berada di atas ranjang.
"Ah sudah-sudah, kalian berdua ini memang membuat kami kaum wanita menjadi resah, dituruti minta nambah, nggak dituruti kok ya sayang lihat gede nya." ucapan Vega tiba-tiba saja membuat Fio tersedak saat minum.
Fio tampak terbatuk-batuk saat Vega mengucapkan kata gede. Spontan Galen mencoba membantu istri nya dengan mengusap punggung Fio pelan.
"Enggak, Aku nggak apa-apa." jawabnya dengan malu-malu.
"Ya ampun Fio! Hati-hati kalau minum, oh iya itu bakpao nya di makan dong! Enak loh isinya macam-macam, ada coklat, strawberry, keju, hmm pokoknya rasanya enak banget, tuh Papa kalian doyan banget." seru Vega sembari menatap Aldo yang tampak pipinya menggembung karena makan bakpao banyak.
__ADS_1
Spontan Aldo berhenti mengunyah dan menatap ketiga orang yang sedang memperhatikannya, Vega, Galen dan Fiona.
Akhirnya Aldo menelan kunyahan bakpao telo itu dengan paksa, sehingga terlihat matanya yang melotot saat kunyahan bakpao itu melewati kerongkongannya. Setelah berhasil menelan bakpao itu, Aldo tampak senyum-senyum kepada mereka bertiga.
"Anjiirrr si Papa! kuat banget nelennya, nggak kesedak Pa?" Galen tampak garuk-garuk kepala melihat kekonyolan sang Papa.
"Halah ini cuma bakpao biasa! Nggak begitu menantang buat Papa, beda sama bakpao Mama kalian, rasanya lebih empuk dan nikmat, dan lebih menantang, bikin jantung Papa berdebar begitu kencang, apalagi saat Papa membuka isi bakpao itu, beuh benar-benar bikin Papa merem melek."
Tiba-tiba saja cubitan kecil mendarat sempurna pada pinggang Aldo, Iya cubitan dari Vega yang gemas mendengar ucapan dari suaminya mengenai bakpao.
"Hilih ... apaan sih Sayang! sakit tahu." ucap Aldo memprotes cubitan sang istri.
Galen dan Fio tampak tertawa kecil melihat keseruan Aldo dan Vega, mereka berdua memang terlihat somplak dan konyol, namun sejatinya Aldo dan Vega adalah pasangan yang saling menyempurnakan, usia Aldo yang terpaut cukup jauh dari sang istri tak membuat Vega merasa berada di atas, Vega selalu menghormati suaminya dan selalu bisa menerima kekonyolan sang suami yang terkadang membuat perut sakit karena tingkah Aldo yang jenaka.
"Galen! Jangan ngetawain Papa kamu," Aldo melihat jika putranya itu sepertinya sedang menertawakan dirinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥