
Kembali pria itu menindih tubuh istrinya setelah beberapa menit Ia beristirahat. Dengan posisi yang sama, kedua kaki Reyna dibukanya lebar-lebar, sehingga memudahkan dirinya untuk masuk kembali ke dalam tubuh sang istri.
"Mas! Jangan bilang kalau kamu menginginkannya kembali." ucap Reyna sembari menahan dada Filio yang mulai menekan tubuhnya. Benar kata Daddy-nya, khasiat jamu dan telur ayam kampung itu sangat efektif mendongkrak kejantanan pria, tak butuh waktu lama Filio bangkit kembali seusai dirinya melakukan pelepasan untuk kali pertama.
"Kamu masih ingat pesan Mommy dan Uti? Mereka ingin kita segera memiliki seorang anak, ini saatnya kita harus rajin-rajin untuk bikin anak, tidak boleh bolong sehari pun." jawabnya sembari tersenyum, secara tak sadar yang dibawah siap untuk masuk ke dalam sarangnya.
"Hmm ... iya aku tahu, jadi ini alasan kamu ... Akkhhh Mas! Pelan-pelan dong!" pekiknya saat ular anaconda itu kembali menyusup ke dalam inti tubuhnya.
"Sudah, jangan banyak bicara nikmati saja!" bisik Filio sembari mellumat kembali bibir Reyna, ah sungguh wanita itu tidak bisa berkutik lagi, tubuhnya pasrah dengan perlakuan Filio kepadanya, untuk kedua kalinya Filio menyatukan raga mereka, tak akan lekang oleh waktu, rasa nikmat itu membuat dua insan yang tengah di mabuk cinta ini, serasa bagaikan di surga.
Reyna meremang dan terpejam, tak mampu lagi Ia berontak saat bibir mungilnya telah dikuasai oleh sang suami, sementara bibir bawahnya tengah menerima tusukan dan hujaman berkali-kali, kini Ia tak menangis lagi justru Ia ingin Filio agar lebih mempercepat gerakan pinggulnya.
"Lebih cepat, Mas!" pinta Reyna sembari menggigit bibir bawahnya.
Mendengar ucapan itu dari bibir sang istri, Ia pun dengan senang hati memenuhi permintaan istrinya, begitu cepatnya gerakan itu hingga membuat ranjang tidur itu bergoyang hebat.
Peluh dan keringat membasahi tubuh keduanya, tak perduli sekarang jam berapa, kedua insan itu terus sibuk dengan aktivitas yang membuat keduanya sama-sama menikmati dan candu.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi, ronde terakhir bagi Filio, iya sudah lima kali mereka menyatukan raga, dan lima kali juga Filio menebarkan benih-benih calon bayinya. Setidaknya jumlah sel-sel kejantanan nya telah Ia lepas begitu banyak, tidak bisa dibayangkan bagaimana kondisi terakhir sarang anaconda itu, tentunya bentuknya tak lagi seimut dulu, dan pastinya bentuk nya sudah berubah karena pintu itu sudah terdobrak sempurna oleh rudaal Filio yang terlihat panjang dan besar itu.
"Ahhh ... Baby!"
__ADS_1
Filio kembali merasakan denyutan-denyutan itu mulai menjalar ke seluruh tubuh dan akhirnya terlepas lagi jutaan pasukan kecebong yang masuk kembali membanjiri tempat favoritnya itu.
Cukup sudah untuk malam ini, keduanya terlihat sudah kelelahan, akhirnya Keduanya tertidur pulas setelah aktivitas yang benar-benar menguras tenaga dalam itu.
*
*
*
*
Pagi hari, seperti biasa Liora suka sekali masak dan menyiapkan sarapan untuk keluarga besarnya, tak perduli Liora adalah Nyonya besar, tentu saja Ia di dampingi sang asisten yang selalu setia yakni Mbak Yem.
"Mbak Yem, panggil Filio dan Reyna! suruh mereka segera turun untuk sarapan, ini sudah siang!" titah Liora.
"Baik Nyonya!" jawab Mbak Yem.
Kemudian Mbak Yem tampak naik ke kamar Filio dan Reyna, dan setelah Mbak Yem tiba di depan kamar pengantin baru itu, Mbak Yem kemudian mengetuk pintu dan memanggil nama mereka.
"Tok ... tok ... tok."
__ADS_1
"Tuan muda, Non Reyna! Disuruh Nyonya segera turun untuk sarapan."
Reyna yang sudah terbangun dan mendengar ada ketukan pintu dari luar, Ia mencoba bangkit dari tidurnya, namun Ia tampak kesulitan saat berjalan, betapa rasa nyeri pada pangkal pahanya belum juga reda. Sementara Filio tampak masih tertidur pulas dibuai oleh mimpinya yang indah.
Reyna meraih piyama nya yang tergeletak di atas lantai, kemudian Ia berjalan menuju pintu dengan mendekap perut bawahnya, karena rasa nyeri pada area intinya benar-benar sangat terasa.
Sesampainya di depan pintu, Ia membukanya dan perlahan wajah mbak Yem mulai terlihat dengan hiasan senyum yang menghias wajah kalem mbak Yem.
"Iya Mbak Yem, ada apa?" tanya Reyna sembari tersenyum.
"Itu Non! Di suruh Nyonya untuk segera turun, sarapan sudah siap!" ucapnya sembari memperhatikan penampilan Reyna yang penuh dengan tanda cinta pada leher dan juga dada gadis itu.
"Iya! Sebentar lagi Kami akan segera turun!" jawabnya sembari menahan rasa nyeri yang masih terasa. Mbak Yem yang merasa Reyna tengah kesakitan, mencoba untuk bertanya.
"Non Reyna! Ndak apa-apa toh? Sepertinya Non Reyna sakit ya?" tanyanya kepada istri Filio itu.
"Nggak apa-apa Mbak Yem! Saya cuma kecapekan." jawabnya dengan malu. Mbak Yem mulai menangkap ucapan Reyna yang tentunya gadis itu kecapekan melayani suaminya semalam.
"Duh Gusti! Nganti koyo ngunu toh Tuan muda Filio mbabat garwane, biyuh! Nganti abang kabeh ning gulune, tur angel nggone mlaku, Jian arek-arek sak Iki wis podo pinter, ora perlu di wuruk i."
(Ya Tuhan! Sampai seperti itu Tuan muda Filio menghajar istrinya, astaga! Sampai merah semua di lehernya, juga susah berjalan, anak-anak sekarang beneran sudah pandai-pandai tidak perlu di ajari.)
__ADS_1
Gumam Mbak Yem sembari senyum-senyum melihat kondisi Reyna yang terlihat susah berjalan.