
Di kampus.
Rupanya pasangan pengantin baru Galen dan Fiona hari ini sudah datang lebih awal daripada Reyna, Fio melihat Reyna yang berjalan dengan sedikit lesu dan tidak bergairah, biasanya Reyna sangat ceria dan selalu menyambut dirinya dengan riang, tapi apa yang terjadi pada Reyna, dan itu membuat Fio penasaran.
"Hai Fio! Elu udah lama?" tanya Reyna yang sedang menghampiri sahabatnya itu. Fio melihat sang sahabat yang tampaknya tidak baik-baik saja.
"Reyna, Elu kenapa?"
"Enggak kok! Gue nggak apa-apa!" jawabnya sembari memaksakan senyumnya.
"Yakin? Gue lihat ada sesuatu yang aneh, nggak biasanya muka Elu sumpek gitu, Elu abis nangis?" tanya Fio menelisik. Reyna tampak menggelengkan kepalanya.
"Enggak kok! Gue nggak nangis, mungkin semalam Gue nggak bisa tidur, jadi ya gini sembap!" jawabnya sembari menyentuh matanya.
Tiba-tiba saja Filio datang menghampiri sang adik yang saat itu sedang bersama Reyna.
"Fio! Abang minta tolong sama kamu, sebentar!" ucapnya sembari menatap wajah Reyna yang terlihat sedang salah tingkah.
"Sekarang Bang?"
"Iya!"
"Emangnya Abang mau minta tolong apa?" tanya Fio serius.
"Bilang sama temanmu ini, supaya bisa pegang janjinya, dia sudah membuat kehidupan seseorang menjadi kacau, sekarang dia akan meninggalkan nya, sungguh keterlaluan." sindir Filio kepada Reyna. Sontak Reyna menatap wajah Filio dan bertanya, "Maksud Mas Filio apa?"
"Aku rasa kamu sudah tahu apa maksudku?" balas Filio berbalik menatap wajah Reyna. Sementara Fio terlihat bingung dengan sikap keduanya, rupanya sang kakak dan sahabatnya telah terjadi suatu masalah.
"Mereka berdua kenapa sih! Ah mending Gue pergi aja!"
Fio memutuskan untuk pergi dari hadapan mereka berdua, dengan mundur pelan-pelan Fio pergi dan meninggalkan mereka berdua yang sedang berbicara serius. Fio melihat dang suami yang sedang berjalan di koridor kampus.
__ADS_1
"Sayang tunggu! Aduh Bang Filio, Reyna aku tinggal dulu ya, itu suamiku udah nungguin." alibi Fio agar dirinya bisa pergi dari Filio dan Reyna.
Fiona segera berlari ke arah suaminya yang saat itu sedang berjalan menuju kamar mandi.
"Sayang! Kamu kenapa panggil-panggil aku?" tanya Galen yang melihat sang istri tampak berlari kecil.
"Huffftt ... nggak apa-apa, Aku cuma biarkan Abang sama Reyna berdua, kayaknya mereka lagi membicarakan hal yang serius deh." seru Fio yang belum mengetahui rencana makan malam nanti.
"Hmm sepertinya begitu, apa mereka ada hubungan ya!" ucap Galen menebak.
"Kalau pun ada hubungan ya bagus dong! Pasti aku dukung, ih tapi nggak mungkin deh, mereka berdua tuh berantem mulu." sahut Fio sembari menggigit jarinya.
"Lah sama kita dulu juga berantem terus, tapi akhirnya aku bisa juga bikin kamu klepek-klepek." jawab Galen sembari men-colek dagu Fio.
"Apa sih Kamu! suka banget godain orang, eh ngomong-ngomong kamu mau kemana, Sayang?" tanya Fio.
"Ke kamar mandi, kenapa? Mau ikut, ayo!" jawaban Galen membuat Fiona memutar bola matanya.
"Enggak-enggak ngeri nggak mau!"
"Entar kamu nakal, sebenarnya Aku pingin pipis banget sih." Fio tampak sedang menahan pipisnya dengan memegang perut bawahnya.
"Udah ayo ikut! Entar ngompol di sini,"
"Eh ... eh Galen!"
Galen segera membawa sang istri masuk ke dalam kamar mandi.
"Braaakkkk ceklek -ceklek."
*
__ADS_1
*
*
*
Sementara itu Reyna dan Filio terlihat masih berbicara serius.
"Sudahlah Mas! Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, semuanya harus kita relakan, kita ikhlas kan, dan Aku yakin Tuhan sudah mengatur semuanya, pertemuan kita dan perpisahan kita, akan indah pada waktunya." ucap Reyna sembari pergi meninggalkan Filio yang tampak terdiam di tempatnya.
Namun, langkah Reyna terhenti saat Filio menahan satu tangannya, sontak Reyna berhenti dan membalikkan badannya kearah Filio yang terlihat sudah meneteskan air matanya.
"Ada apa lagi?" tanya Reyna dengan mencoba untuk tidak ikut menangis seperti Filio.
Terdengar kata yang terucap dari bibir pria tampan itu, sebuah kalimat yang tidak mungkin Reyna mampu menolaknya.
"Sebelum kamu pergi, izinkan Aku memeluk mu untuk yang terakhir kalinya, dan setelah itu Aku tidak akan mengganggumu lagi."
Apalah daya hati seorang wanita seperti Reyna, matanya mulai mengembun saat Filio meminta pelukan terakhir darinya. Ia menganggukkan kepalanya dan menyetujui permintaan Filio untuk memeluknya.
"Sreeep."
Filio mulai mendekati gadis itu dan tanpa pikir panjang, Filio langsung memeluk gadis yang kini menjadi bagian dari hidupnya itu, Filio menumpahkan semua kesedihan hatinya dalam pelukan Reyna, pun sama Reyna juga menumpahkan segala rasa yang ada dalam hatinya.
"Mencintaimu dalam doa, Aku berharap kamu bahagia dengan pilihan orang tuamu, tapi percayalah Aku akan tetap mencintaimu Meskipun kamu tercipta bukan untukku."
Ucapan terakhir dari Filio sebelum dirinya pergi meninggalkan Reyna.
"Selamat tinggal!"
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥