
"Maaf Pa! Maaf!" Galen tampak berhenti tertawa meskipun dirinya ingin sekali tertawa, ah sang Papa dari dulu memang selalu konyol, Galen sering sekali dibuat sakit perut oleh sang Papa, Karena kata-katanya yang unik dan serasa menggelitik telinga.
Namun dibalik kesomplakan sang Papa, Galen selalu mendapat wejangan yang tak akan pernah Ia lupakan, Aldo selalu berpesan kepada putranya itu untuk selalu melindungi dan mencintai wanita yang sudah rela meninggalkan keluarganya demi menikah dengan kita, yaitu istri.
Rupanya itulah yang membuat Galen selalu meyakinkan dirinya bahwa Fio adalah wanita yang tepat untuk mendampingi dirinya untuk selamanya.
Galen menatap wajah sang istri, Fio tampak menundukkan wajahnya karena malu Galen menatapnya seperti itu. Hingga akhirnya Vega dan Aldo pamit untuk segera ke kamar mereka.
"Sayang, Ayo ke kamar! Pijitan kepalaku, pusing banget nih," seru Aldo kepada sang istri.
"Iya iya bentar, Galen, Fio! Mama sama Papa mau ke kamar dulu, kalian kalau mau habiskan bakpaonya nih masih banyak." ucap Vega sembari beranjak berdiri dari tempat duduknya.
"Nggak ah Ma, Galen sudah kenyang, lagipula Galen mau makan bakpao di kamar saja lebih enak." jawabnya sambil tersenyum kepada Fio.
Fio tampak salah tingkah mendengar ucapan Galen yang pastinya pria itu akan melanjutkan percintaannya mereka yang sempat tertunda tadi.
"Oh gitu! Ya sudah bawa aja ke kamar, katanya mau makan bakpao di kamar?" Vega tampak menyodorkan sekotak bakpao kepada Galen, namun tiba-tiba saja Aldo menyahutinya.
"Galen nggak bakal mau makan bakpao itu, sayang! Udah ayo kita ke kamar."
Galen tampak senyum-senyum melihat sang papa yang ngerti banget isi otaknya, sementara Vega meletakkan kembali kotak bakpao itu di atas meja.
"Ya sudah! Mama taruh di sini, Mama ke atas dulu." kemudian Vega mengikuti suaminya yang sudah jalan duluan.
"Iya Ma!"
Setelah Vega dan Aldo menghilang dan masuk ke dalam kamar mereka, Galen dengan tatapan nakalnya mengulurkan tangannya kepada Fio yang mulai mengerti maksud suaminya itu.
Fio membalas uluran tangan sang suami, kemudian Galen dengan sigap menggendong tubuh Fio, dengan tatapan mata yang tidak pernah lepas dari keduanya, Galen membawa sang istri untuk masuk ke dalam kamar mereka. Sesampainya di dalam kamar, Galen membaringkan tubuh istrinya, sementara Galen membelai lembut wajah sang istri.
__ADS_1
Galen menatap wajah putri William Anthony itu dengan mesra, Fio terlihat sangat cantik saat dirinya terpejam dan merasakan betapa lembutnya sentuhan tangan Galen.
"Aku tidak menyangka jika kita akhirnya bisa bersatu, tapi ada satu hal yang masih mengganjal dalam pikiranku." ungkap Galen sembari tidur di samping istrinya.
"Apa soal Bryan?"
Tiba-tiba saja Fio mengucapkan hal itu kepada Galen, Karena hanya ada satu permasalahan yang mengganjal hubungan mereka berdua, yaitu Bryan.
"Apa yang ku katakan pada Bryan nanti, jika Ia tahu tentang hubungan kita." ucap Galen sembari menatap langit-langit kamarnya. Fio menoleh kearah sang suami yang tampak memikirkan sesuatu.
Fio mendekati Galen dan menyandarkan kepalanya pada dada Galen, sembari memainkan tangannya pada perut Galen yang seperti roti sobek itu.
"Biar Aku yang bicara kepada Bryan, Aku akan menjelaskan semua yang terjadi kepadanya, mungkin sedikit kejam untuknya, tapi mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, bagaimana pun juga sekarang Aku adalah milikmu, dan seterusnya akan seperti itu." Fio tampak semakin menurunkan tangannya ke bawah.
Galen rupanya merasakan tangan Fio yang semakin nakal memainkan benda keras yang ada di dalam celananya. Spontan Galen mengehentikan tangan Fio yang mulai membuat gerakan merremas-rremas itu.
"Kamu sekarang nakal ya!"
"Galen stop! Jangan lakukan itu, iya iya ampun, plis aku minta maaf." ucap Fio sembari kedua tangannya yang memohon ampun kepada Galen.
Akhirnya Galen menghentikan aksinya menggelitik pinggang Fio, namun tangannya justru membuka satu persatu kancing baju Fio.
"Baiklah! Aku akan memaafkanmu, tapi malam ini Aku ingin kamu menjadi milikku." ucapnya sembari menatap dua manik mata yang indah itu. Fio tersenyum dan mempersilahkan sang suami untuk melakukan apa saja terhadap dirinya.
*
*.
*
__ADS_1
*
Sementara itu di saat bersamaan, Zyva pulang ke apartemen nya, gadis itu tidak menyangka jika hari ini dirinya harus kehilangan sesuatu yang berharga yang menjadi kebanggaan setiap wanita, Zyva berjalan perlahan menuju ke tempat tidurnya, gadis itu merutuki nasibnya sendiri, bagaimana bisa dirinya bisa bertemu dengan Bryan, laki-laki yang sudah membuatnya tak berdaya.
Tiba-tiba saja Zyva mendengar ponselnya berdering, Zyva mengusap air matanya dan menatap ke layar ponsel miliknya.
"Mama!"
"Halo Mama!"
"Zyva Sayang! Bagaimana kabarmu nak, Mama kangen sekali sama kamu."
"Zyva juga kangen sama Mama."
"Kapan kamu pulang? Bukankan beasiswa mu sudah selesai?"
"Secepatnya, Zyva akan pulang secepatnya, Zyva ingin sekali memeluk Mama."
"Sayang, Mama juga ingin sekali memeluk Kamu, kami semua merindukan mu sayang!"
Hari itu perasaan Zyva benar-benar hancur, Ia pergi jauh dari kedua orang tuanya untuk menempuh pendidikan, namun dengan mudahnya seseorang menghancurkan hidupnya dalam sekejap.
"Bryan, Aku berharap kita tidak dipertemukan kembali, semoga kamu hidup bahagia bersama pacarmu." ucap Zyva sembari duduk dengan memeluk kedua lututnya.
Sementara itu, Bryan terus mencari keberadaan alamat Zyva, ia terus menghubungi nomor Zyva, namun gadis itu tidak ingin bicara lagi kepada Bryan, Ia masih trauma bagaimana Bryan telah merudapakasa dirinya, dan yang lebih menyakitkan lagi, Bryan menikmati tubuh Zyva namun Bryan membayangkan wanita lain.
"Zyva Zyva kamu dimana? Kenapa tiba-tiba saja Kamu menghindari ku? Apa semua ini ada hubungannya denganmu? Astaga kenapa semua ini harus terjadi, dan kenapa aku tidak ingat apa-apa, jika memang benar wanita itu adalah kamu, Aku tidak akan menjadi seorang pengecut, Aku akan mempertanggung jawabkan atas apa yang sudah kulakukan padamu." Bryan tampak memperhatikan celana dalaam yang sudah terkoyak itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥