
"Saya terima nikah dan kawinnya Zyva binti Rafael Marchetti dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
Setelah mengucapkan ijab Kabul itu, Bryan kini resmi menjadi suami Zyva, sepasang cincin yang sudah dipersiapkan untuk pertunangan mereka, kini berubah menjadi cincin pernikahan, betapa bahagianya hati Bryan yang sudah berhasil memperistri Zyva, putri Rafael dan Ellen itu. Begitu juga kedua pihak keluarga yang sudah menyaksikan penyatuan hubungan mereka secara agama. Setidaknya Bryan tidak akan takut dosa lagi saat berduaan dengan Zyva, mengingat putra Ruli itu sudah tidak sabaran.
Ellen pun tidak menyangka jika Willy mau mengerti keadaan calon pengantin itu, Ia tidak mau menanggung resiko, mereka bisa bebas berbuat apa saja, tidak ada yang melarang karena mereka telah diikat oleh pernikahan meskipun masih di bawah tangan.
"Pak Willy! Saya sangat berterima kasih kepada Anda, sekarang Saya tidak akan khawatir lagi tentang keadaan Zyva, dia telah mendapatkan suami dan mertua yang baik, Saya tidak tahu apa yang bisa Saya lakukan untuk membalas kebaikan Anda, Pak Willy!" seru Ellen kepada Willy yang didampingi istri tercintanya.
"Aku tidak butuh apa-apa, Aku hanya minta tetaplah menjadi saudari istriku, melihat kalian berdua saling tersenyum itu sudah membuat ku bahagia, tidak ada manusia yang sempurna, semua orang pernah memiliki salah, kita sesama manusia apa salahnya saling memaafkan, belajar dari masa lalu, semoga kamu bisa menjadi Ibu yang baik untuk Zyva dan menantu kalian, anak-anak kita sudah dewasa, mereka butuh figur yang baik untuk masa depan mereka, dan hanya kita yang bisa memberikan contoh yang baik untuk mereka, bukan begitu? Kalau bukan kita siapa lagi?" Eve menatap suaminya dengan bangga, betapa dirinya begitu beruntung memiliki suami yang pengertian, penyayang dan pemaaf.
Setelah acara pernikahan itu berlangsung, akhirnya Zyva dibawa pulang ke rumah Bryan, tentu saja sebelum Zyva pergi, Ia pamit kepada kedua orang tuanya dan juga kepada Pak Dhe dan Bu Dhe nya, Willy dan Eve.
Mereka melepaskan kepergian Zyva dengan diiringi senyum dan doa terbaik untuk pasangan pengantin baru itu, sambil menunggu persiapan pernikahan mereka, untuk sementara Zyva tinggal di rumah mertua, sebelum mereka pindah ke rumah yang sudah disediakan oleh Ruli, karena rumah yang akan ditempati oleh pengantin baru itu masih dalam tahap renovasi.
Sesampainya di rumah mertua, Zyva dipersilahkan untuk masuk dan menganggap rumah itu seperti rumahnya sendiri. Betapa bahagianya Zyva memiliki mertua yang humble dan gokil seperti Ruli dan Riris yang selalu terlihat harmonis.
"Zyva! Ini adalah rumah kamu juga, anggaplah seperti rumah kamu sendiri, nanti setelah renovasi rumah kalian selesai, kalian bisa menempati rumah itu berdua, tidak akan ada yang bisa mengganggu kemesraan kalian berdua." ucap Ruli.
"Terima kasih banyak, Pa! Zyva senang sekali mempunyai mertua yang baik banget seperti Mama dan Papa." balas gadis cantik itu.
__ADS_1
"Dengar, Nak! Kamu bukan hanya sekedar mantu kami, tapi Kamu sudah kami anggap sebagai Putri kandung kami. Jadi, jika nanti Bryan berbuat jahat sama kamu, jangan ragu-ragu bilang sama Papa, biar Papa getok tuh kepalanya." ujar Ruli yang diiringi tawa kecil Riris dan Zyva. Sementara itu Bryan terlihat garuk-garuk kepala dan protes dengan apa yang dikatakan oleh Ruli, sang Ayah.
"Yah Papa! Main getok segala, Bryan tuh nggak bakalan nyakitin istri Bryan, yang ada dia malah keenakan eh ... salah ya!" Bryan terlihat menutup mulutnya karena keceplosan berkata seperti itu.
"Nah ... itu baru anak Papa, sini kamu!" Ruli menyuruh Bryan untuk mendekatinya. Bryan pun mengikuti perintah sang Ayah dan dirinya pun mulai mendekati Ruli, kemudian Ruli tampak membisikkan sesuatu pada telinga sang anak.
"Nanti, Papa akan ajari berbagai macam model dan gaya, dari A sampai Z, Papa yakin bini mu nggak akan mau jauh-jauh dari kamu, percaya deh, noh Mama kamu tuh buktinya, sampai tua gini nggak mau ditinggal Papa sedetikpun, bawaannya pingin dipeluk terus katanya." bisik Ruli yang membuat kedua wanita itu saling menatap. Penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh bapak dan anak itu. Karena sesekali keduanya tertawa cekikikan seolah-olah ada sesuatu yang lucu dan menggelikan.
"Mereka berdua kenapa, Ma?" tanya Zyva kepada Riris.
"Hmm paling Papa sedang ngasih kultum sama Bryan, sudah biarin aja, nanti kamu juga yang merasakan hasil dari kultum yang diberikan Papa pada suamimu!" jawab Riris sembari tersenyum.
Setelah Bryan diberikan nasihat oleh Ruli, Ia pun mengajak istrinya untuk istirahat di kamar mereka, tentunya Zyva sedikit gugup, karena Ia tahu jika sekarang statusnya adalah sebagai istri orang.
Di dalam kamar.
"Akhirnya, sekarang kita dipersatukan lewat ikatan pernikahan, semoga hubungan ini selama nya akan tetap terjalin, dan tentunya semoga kehadiran seorang bayi akan melengkapi kebahagiaan rumah tangga kita." Bryan berkata sembari menatap wajah gadis yang baru saja menjadi istrinya.
"Bayi?" Zyva membulatkan matanya saat Bryan memancing pembicaraan tentang seorang bayi.
__ADS_1
"Hiya! Bayi kita, anak kita, Aku ingin segera mendapatkan seorang putra, tuh biar Papa dan Mama nggak kesepian, biar ada yang nemenin mereka bermain," mendengar penuturan dari suaminya, Zyva tersenyum malu-malu.
"Secepat itu? Kita kan baru menikah, Bryan! Apa kamu tidak ingin menikmati masa-masa pengenalan kita, ingat! Kita dipertemukan secara tidak langsung, kita terjebak cinta satu malam, dan tentu saja kita belum mengetahui kepribadian masing-masing Aku gimana, kamu gimana, ya ibaratnya kita pacaran dulu lah." seru Zyva.
"Hmm iya ucapan mu memang ada benarnya, tapi sekarang Aku adalah suamimu, apapun yang Aku minta kamu harus menuruti nya, dan hukumnya wajib, jika Aku menginginkan seorang anak, maka kamu harus siap menjadi seorang Ibu, tapi Aku bukan lah suami yang egois, jika kamu belum siap, oke tidak apa-apa, Aku bisa menunggu mu sampai kamu siap untuk memiliki seorang anak. Karena sejatinya pernikahan bukan hanya sekedar memiliki anak, tapi menjaga sebuah komitmen untuk bersama dan saling melaksanakan hak dan kewajiban, Aku bertugas membahagiakan mu, jika istriku bersedih, maka Aku akan gagal menjadi seorang suami, Aku ingin melihat mu selalu tersenyum Zyva, Aku akan mengobati luka yang pernah Aku berikan kepadamu, sehingga kamu tidak akan pernah merasakan rasa sakit itu lagi." Bryan meraih tangan Zyva dan menciumnya, setelah itu Bryan terlihat meraih dagu Zyva dan mengangkat wajah mungil itu dan perlahan Bryan berusaha mencium bibir Zyva.
"Bryan! Ma-maaf Aku belum siap untuk, untuk ...!" Zyva memalingkan wajahnya agar Bryan tidak bisa mencium bibir nya, karena Zyva masih sangat traumatis dengan kejadian malam saat Bryan memaksanya.
"Kenapa?" Bryan membulatkan matanya saat Zyva menolak ciumannya.
"Tidak, Aku cuma, cuma ...."
"Cuma apa?"
"Aku masih takut untuk melakukannya lagi, Plis Bryan! Aku mohon jangan paksa Aku untuk melalukan nya, Aku tidak mau mengingatnya lagi,"
"Tapi Aku tidak akan menyakiti mu lagi, percayalah!" bujuk Bryan yang mencoba meyakinkan Zyva.
"Enggak Bryan! Plis mengerti Aku sedikit saja, rasanya itu sakit banget pokoknya, Aku nggak mau dulu, Aku tidur saja. Selamat malam!" Zyva terlihat berbaring sembari menutupi tubuhnya dengan selimut tebal di dalam kamar mereka. Sementara itu Bryan yang sudah memiliki bekal trik jitu dari sang Papa, dia pun akan menerapkannya malam ini.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sekarang kamu menolak ku, tapi kita lihat nanti malam, Aku tidak akan membuat mu kesakitan lagi, justru kamu akan mendapatkan surganya kenikmatan." batin Bryan sembari memperhatikan punggung istrinya yang bersembunyi di balik selimut itu.