
Reyna benar-benar sudah tidak tega melihat kondisi suaminya yang semakin menggigil, dengan wajah yang panik Ia pun terpaksa membuka piyama yang menutupi tubuhnya. Sementara Filio semakin berusaha meyakinkan Reyna jika dirinya benar-benar menggigil.
"Aduuh ... Mas Filio kira-kira lihat nggak ya kalau Aku melepaskan baju, kok jadi deg-degan sih, moga aja Mas Filio nggak tahu dan hipotermia nya cepat hilang, aisss sumpah kalau bukan karena terpaksa, aku nggak mau lah ngelepasin bajuku gini, malu!" gumam Reyna sembari melepaskan ikatan piyama yang melilit pada pinggangnya. Perlahan Reyna melepas handuk piyama itu hingga terjatuh ke lantai. Dan tersisa hanya bra dan celana hot itu.
Benar-benar Filio di buat gemetaran saat Ia mengintip dari matanya yang sedikit terbuka, pemandangan yang begitu sempurna, kulit putih semulus jalan tol, pinggul yang padat berisi, dua gunung kembar yang menantang indah, dan belum lagi sesuatu di balik kain tipis berwarna merah jambu itu.
Ah benar saja ternyata Reyna tidak sedang datang bulan, karena sangat jelas terlihat di balik kain tipis itu tidak ada benda apapun dan terlihat begitu menggoda.
"Kemari lah, Sayang! Ayo cepat mendekat lah!" gumam Filio yang sudah tak sabar ingin segera memberikan surprise untuk sang istri.
Apapun kondisi pria itu, nyatanya dia sudah benar-benar siap untuk menyambut pelukan sang istri. Perlahan Reyna mulai beranjak masuk ke dalam selimut yang menutupi seluruh tubuh sang suami. Dengan hanya menggunakan bra dan celana dalaam, Reyna memberanikan diri untuk mendekap tubuh Filio. Dengan tujuan agar kondisi Filio normal dan membaik. Setelah itu Ia akan kembali memakai bajunya saat suhu tubuh Filio kembali normal.
Dengan raut wajah yang cemas, Reyna mulai melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya, saat itu Filio terlihat meringkuk seolah-olah dirinya memang sedang kedinginan, gadis itu menggigit bibir bawahnya saat bagian tubuhnya yang sensitif mulai menyentuh punggung Filio, sontak Filio mulai membuka matanya dan dengan cepat Ia membalikkan badan dan menindih tubuh Reyna seketika.
"Awww ... Mas Filio! Ka-kamu sudah sadar?" ucapnya dengan raut wajah yang malu-malu. Filio menyeringai dan berkata. "Sedari tadi Aku sadar dan sangat sadar,"
Reyna terlihat begitu terkejut dengan ucapan suaminya.
"Maksud Mas? Mas sudah membohongi Aku? Mas pura-pura kedinginan?" Reyna menatap wajah Filio yang terlihat meremang itu.
"Memangnya kenapa jika Aku membohongi mu? Bukankah kamu juga sudah membohongi ku? Hmm!" balasnya sembari memperhatikan bibir Reyna yang berwarna pink natural itu.
"Astaga! Jangan-jangan Mas Filio sudah tahu jika dia ku kerjai, aduhh bisa gawat!" Reyna panik setengah mati.
Saat ini posisi mereka berdua berada di dalam selimut, Reyna berada di bawah Kungkungan suaminya, kedua tangan Reyna dikunci Filio ke atas.
"Apa maksud, Mas? Aku bohongin Mas kenapa?" tanyanya yang masih pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Kamu bilang jika malam ini Kamu tidak bisa memberikan hak ku sebagai seorang suami Tapi nyatanya kamu sudah berbohong." ucap Filio yang diiringi kecupan lembut pada leher Reyna.
"Ah ... Mas! Jangan lakukan itu! Geli Mas!" pekiknya saat bibir Filio mulai nakal menjelajahi leher jenjangnya.
"Tapi, kamu juga sudah membohongiku, Mas! Kamu bilang jika burung empritmu sudah cacat, tapi nyatanya itu tidak benar. Kenapa kamu lakukan itu, Mas!"
Filio tidak menjawab pertanyaan sang istri, Ia tahu jika Reyna sebenarnya juga menginginkan nya. Ia lebih fokus untuk membuktikan kepada Reyna daripada harus menjawab pertanyaan istrinya.
Ciuman itu mulai turun di dua tempat yang tinggi menjulang yang masih terbungkus oleh bra berwarna senada dengan celana dalaam Reyna. Sejenak Reyna membusung kan dadanya, ketika Filio berhasil mengalirkan sebuah energi percintaan di malam ini. Dan kini Filio berhasil melepaskan pengait bra itu dan membuang kacamata dada milik Reyna.
Pria mana yang tidak tergoda saat di suguhkan dengan dua buah pepaya yang masih mengkal dan belum terjamah oleh pria manapun, lidahnya begitu lincah bermain pada ujung buah yang tampak mengkal itu. Menyesap dan menghisapnya adalah sebuah cara untuknya membangkitkan libido sang istri.
Benar saja, Reyna mulai terhanyut dalam permainan Filio, awalnya gadis itu malu-malu, tapi setelah mendapatkan transferan rangssangan, Reyna mulai menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh sang suami.
Hingga akhirnya tangan Filio berhasil melepaskan penutup yang melindungi mahkota kebanggaan milik Reyna. Sungguh Filio sudah tak sabar ingin segera menyatukan cinta mereka.
"Mas Filio, apa yang kamu lakukan?"
Di depan mata telanjangnya, Reyna melihat Filio melepaskan sangkar burung empritnya, perlahan namun pasti mata polos gadis itu benar-benar melihat secara sempurna kepemilikan sang suami yang tegap Perkasa.
"Omaigad! Apa itu, Mas! Itu bukanlah burung emprit, tapi itu adalah anaconda, oh Mas Filio! Kenapa kamu pelihara Anaconda sebesar itu, Mas! Aku takut." ucap Reyna sembari menutupi matanya dengan kedua tangannya.
Filio menyeringai ketika melihat reaksi sang istri yang semakin membuatnya tergila-gila. Perlahan Filio merangkak naik ke atas tubuh istrinya dengan melebarkan kedua kaki Reyna.
Sontak apa yang dilakukan oleh Filio membuat Reyna menatap kembali wajah suaminya yang sekarang berada tepat di atas tubuhnya.
"Mas Filio! Kamu ...."
__ADS_1
"Kamu adalah milikku, dan sekarang Aku akan menyempurnakan kewajibanku sebagai seorang suami, izinkan Aku untuk mengambil hak ku atas dirimu, jika kamu keberatan Aku tidak akan memaksa." bisiknya pada telinga Reyna, sementara Reyna sangat merasakan sebuah benda keras yang masih berada di atas perutnya.
"Aku takut." jawabnya polos.
"Aku tidak butuh jawaban itu, yang aku butuhkan hanyalah kata iya atau tidak!" balasnya sembari terus menciumi leher dan pipi Reyna hingga terakhir Filio kembali mellumat bibir mungil istrinya.
Kembali Reyna mulai tidak bisa konsentrasi lagi, tubuhnya seolah luluh tak berdaya ketika Filio terus berusaha membangkitkan rasa itu.
"Bagaimana?" tanyanya kembali di telinga Reyna, gadis itu sudah tak mampu berkata apa-apa, Ia pasrah dan hanya menganggukkan kepalanya.
Tak butuh waktu lama, Filio yang mendapat kode positif dari istrinya segera Ia mulai mengarahkan kepemilikannya pada tempat yang seharusnya.
"Aku datang, Sayang!" bisiknya sembari menggerakkan pinggulnya untuk mendorong benda itu agar masuk ke dalam tempatnya.
Satu kali dorongan.
"Awwww ... Mas! Sakit!" pekik Reyna yang merasakan seperti ada sesuatu yang menekan begitu keras pada area intinya.
Dua kali dorongan, Reyna mencengkram pundak Filio.
Hingga akhirnya pada dorongan ketiga, ular Anaconda itu pun berhasil masuk ke dalam sarangnya di iringi jeritan kecil dari bibir Reyna. Ada rasa sesak dan nyeri yang luar biasa ketika benda keras itu berada di dalam tubuhnya.
Sejenak Filio berhenti saat ular anaconda itu berhasil menerabas pintu masuk area sensitif sang istri. Filio menatap wajah sang istri yang tampak mengeluarkan bulir air mata itu, begitu pun dengan Reyna, keduanya saling menatap hingga akhirnya Reyna mengucapkan sesuatu kepada suami yang kini berhasil membobol gerbang keperawanan nya.
"Kenapa kamu diam?"
"Aku akan bergerak jika kamu yang memintanya."
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥