
"Eh minggir-minggir, Gue mau bangun! Badan Elu berat tahu." Fio tampak mendorong tubuh Galen yang sudah menindih tubuhnya.
"Enggak! Elu harus tanggung jawab!" Galen masih memaksa untuk tetap mengungkung Fiona.
"Tanggung jawab apaan?" Fiona tampak mengerutkan keningnya.
"Elu udah berani colek-colek adik Gue Lu! Nggak bisa tidur nih!"
"Urusan Elu! Kok Gue yang musti tanggung jawab sih." Fiona tampak menelan ludahnya saat dirinya merasa ada sesuatu yang keras berada di atas perutnya.
"Galen! Elu bisa pergi nggak?"
"Enggak!"
"Pergi!"
Karena merasa risih ada yang menekan perutnya, spontan Fio mendorong tubuh Galen sekuat tenaga dan tanpa sengaja lututnya mengenai pangkal paha Galen yang menyebabkan burung empritnya mengalami tragedi di pagi hari.
"Awwww ... aduh aduh adik Gue nih, aduh aduh semaput nih Gue."
Tiba-tiba saja Galen tergeletak kembali di atas sofa, sambil memegangi burung empritnya yang tak sengaja terkena sepakan lutut Fiona, membuat Fiona panik setengah mati.
"Ya ampun Galen! Aduh gimana nih, kok malah pingsan, Galen bangun!"
__ADS_1
Dengan segera Fio mencoba membangunkan Galen, Fiona begitu panik Ia mencoba mencari sesuatu untuk membuat Galen tersadar.
"Eh mana nih minyak kayu putih, aduh ...." Fiona panik, sementara Galen tampak pura-pura pingsan untuk mengerjai sahabat nya itu, Galen terlihat menahan tawa kecil saat melihat Fiona sibuk mencari minyak angin.
"Gue kerjain Lu, salah sendiri udah berani kerjain Gue!"
Galen berusaha berakting sebaik mungkin, Dirinya pura-pura pingsan dan menunjukkan wajah yang melas. Setelah Fiona berhasil mendapatkan minyak angin itu, Ia segera menghampiri Galen dan duduk di sampingnya.
Sejenak Fiona tersenyum saat melihat wajah Galen yang sedang terpejam, Fiona tidak menyadari jika Galen hanya pura-pura pingsan, tiba-tiba saja Fiona mengucapkan sesuatu yang membuat Galen sangat terkejut.
"Elu ganteng juga kalau lagi tidur Len! Kalau saja Gue nggak pacaran dengan Bryan, mungkin Gue mau jadi pacar Elu, Elu somplak memang, tapi Elu laki-laki yang baik dan setia." Fiona tampak tersenyum melihat wajah tenang Galen.
"Eh ... Gue nggak salah dengar tuh! Fiona mau jadi pacar Gue?" gumam Galen sembari tak percaya.
"Eh ... udah bangun aja Lu! Baru saja Gue ambilin nih minyak, eh sorry ya Gue udah nyakitin Elu, maaf Gue nggak sengaja, lain kali Gue nggak akan melakukan itu lagi deh, Gue Janji pasti sakit banget tuh, Elu sampai pingsan segala, Gue ...."
Fiona tidak melanjutkan kata-katanya karena Galen tiba-tiba saja menangkup wajah Fiona. Fiona begitu terkejut melihat Galen yang sedang menatapnya lekat-lekat.
"Galen!"
"Fio! Jujur sama Gue?"
"Elu benar-benar cinta sama Bryan?"
__ADS_1
"Kenapa Elu tanyakan hal itu? Ya iyalah Gue cinta sama Bryan, memangnya kenapa?" tanya Fiona yang tidak mengerti ucapan sahabatnya itu.
"Gue cuma mau mastiin aja, kalau Elu benar-benar cinta sama Bryan, jika seandainya Elu harus memilih, Elu memilih Bryan sebagai pacar Elu, atau Gue sebagai sahabat Elu, jujur!" tanya Galen penuh harap.
Fiona menatap dalam-dalam mata Galen dan berkata, "Gue lebih memilih Elu!" jawab Fio dengan serius.
"Kenapa?" Galen terus mengungkap isi hati dari sahabatnya itu.
"Pacar, hanya bisa menjadi pacar, belum tentu bisa menjadi sahabat, tapi sahabat, dia bisa menjadi teman sekaligus pacar, sahabat selalu mengerti keadaan kita, apa kita sedang senang, sedih, gundah, dia lebih mengetahui semuanya, dan itu ada pada Elu."
Galen sejenak terdiam dan menghela nafasnya.
"Tapi Gue bukan sahabat yang baik!" jawabnya sambil menundukkan wajahnya.
"Apa maksud Lu?" tanya Fio.
"Gue hampir saja menyentuh Elu, Sorry itu diluar kendali Gue, seharusnya Gue nggak ngelakuin itu pada sahabat Gue sendiri, bodoh bodoh sekali." Galen tampak merutuki dirinya sendiri.
"Jangan salahkan diri Elu! Kalaupun itu terjadi beneran, ya udah mau gimana lagi!" balas Fiona yang seolah memberi harapan untuk Galen menyentuh istrinya.
"Maksud Elu?" Galen benar-benar tidak percaya Fiona mengatakan hal itu kepadanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥🔥