
Akhirnya Mbak Yem segera turun dan memberi tahukan kepada Liora jika kedua pengantin baru itu baru saja bangun dan sebentar lagi akan segera turu. Liora yang melihat kedatangan Mbak Yem yang terlihat senyum-senyum itu tampak mengerutkan keningnya.
"Mbak Yem! Piye Cah loro kuwi opo wis melek?"
(Mbak Yem! Gimana kedua anak itu apa sudah bangun?) tanya Liora.
"Sampun Nyonya! Tapi Kulo mesakne Nona Reyna Nyonya! Aduuh mboten mentolo Nyonya! Kadose Lemes ngoten!"
(Sudah Nyonya! Tapi Saya kasihan sama Nona Reyna Nyonya! Aduuh tidak tega Nyonya! Kelihatannya lemas gitu.) jawabnya kepada Liora, sementara Willy yang juga berada di tempat itu, tampak terkejut dengan pengakuan Mbak Yem, Willy khawatir jika Filio menyakitkan istrinya.
"Mbak Yem! Opo bener sing sampiyan ucapno iku, opo Filio wis ngelarani mantuku, titenono mengko tak puthul iku manuke."
(Mbak Yem! Apa benar dengan apa yang Mbak Yem katakan, apa Filio sudah menyakiti menantuku, awas saja nanti Aku potong burung nya.) seru Willy dengan serius.
__ADS_1
Rupanya Willy sudah salah paham dengan maksud Mbak Yem, wanita tua itu tampak menceritakan tentang sebenarnya kepada Willy.
"Waduh! Kalau di potong gitu, ya kasihan Non Reyna Tuan! Hehehe ... maksud Saya Nona Reyna ndak di sakiti kok sama Tuan muda Filio, Non Reyna itu ndak kesakitan karena di pukuli, orang Non Reyna kelihatannya capek banget gitu, Mbak Yem rasa Non Reyna kewalahan kayaknya." ungkap Mbak Yem yang membuat Willy tersenyum sumringah.
Sementara Liora tampak begitu gembira mendengar Mbak Yem mengatakan hal itu, itu berarti jamu buatannya sangat manjur dan mujarab.
"Duh! Bungah men atiku, mugi-mugi wae langsung dadi, ben koyo Daddy-ne pinter oleh e nanam bibit, suwengi thok wis dadi."
(Duh! Bahagia sekali hatiku, semoga saja langsung jadi, biar kayak Daddy-nya pinter menanam benih, semalam saja udah jadi.) sahut Liora yang merasa begitu senang.
"Ayo udah kita sarapan dulu saja, biarkan pengantin baru itu menikmati kebersamaan mereka, biar cepat-cepat menghasilkan cucu, Mommy sudah tak sabar lagi." seru Liora kepada anak dan menantunya itu.
Akhirnya setelah beberapa saat Filio dan Reyna turun dari tangga, Filio tampak memapah tubuh sang istri dengan mesra, sesekali Filio berhenti sekiranya Reyna sedikit kesakitan. Reyna yang merasa tidak enak kepada Keluarga suaminya, mencoba untuk bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa."
__ADS_1
Namun berbeda keadaannya sekarang, Reyna rupanya benar-benar tidak kuat, rasa nyeri akibat hilangnya selaput dara miliknya yang terasa begitu sakit, karena ulah kegilaan sang suami yang terus menggempur nya sampai pagi.
Keduanya berjalan menuju ke meja makan , tampak Mbak Yem berbisik pada telinga Liora.
"Tuh, kan Nyonya! Bener kata Saya, Non Reyna ndak bisa jalan!" ucapnya yang diiringi senyum tipis Liora.
"Walah! Putuku pancen jos tenanan kuwi."
(Walah! Cucuku memang Jos beneran itu) seru Liora yang tampak senyum-senyum sendiri. Willy pun ikut menyahuti ucapan Liora.
"Mommy ini gimana sih! Sudah pasti Filio seperti Aku Mom! Willy yakin sebentar lagi akan ada berita bahagia, benih-benih Filio sebentar lagi akan segera tumbuh." sahut Willy yakin.
Reyna tampak mulai berkerut keningnya saat melihat Willy dan Liora sedang berbicara, apa yang sebenarnya mertua dan Liora bicarakan, gadis itu tampak bingung, hingga akhirnya mereka berdua pun sudah tiba di meja makan.
__ADS_1
"Duh putuku cah ayu, isuk-isuk Wis mbarahi gagal fokus!"
(Duh cucuku anak Cantik, pagi-pagi udah membuat gagal fokus) seru Liora sembari tersenyum melihat deretan kecupan yang tertinggal di leher Reyna, tanda cinta dari suaminya semalam. Setelah itu Reyna tersenyum dan segera duduk di kursi bersebelahan dengan Suaminya.