![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Risa mengantar Kevin ke toilet untuk buang air kecil, saat turun dari bianglala, Risa memperingati Justin agar jangan mengikutinya, jika tidak dia akan membenci Justin.
“ayo”
Risa membersihkan tangan Kevin dengan tisu basah lalu menuntun kembali tangan Kevin. “minggu depan kita ke planetarium, bagaimana?”
“ya” Kevin mengangguk
“Ayah kemana?”
‘ditelan lumpur hidup’ gumam Risa
“bersama dengan tante Jennie” jawab Risa, rasanya Risa ingin menjambak rambut Lian.
“Ayah” seru Kevin saat melihat Lian dan Jenny berjalan ke arahnya.
“Hai Boy” Lian mengacak rambut Kevin.
Jennie menatap Risa, perempuan itu menggenggam sebelah tangan Lian, ada perasaan tidak nyaman melihat bagaimana jemari mereka saling bertautan erat.
“aku ingin membeli minum” ucap Risa.
“Kevin bersama Ayah, okey?”
“Ya” ucap Kevin
“menikmatinya?” tanya Jennie.
“maksudnya?”
“menjadi bayang-bayang Lisa”
“menurutmu akan melakukan hal seperti itu?” Risa mengambil makanannya dari stand penjual minuman.
“Ya, Lian menganggapmu Lisa” Jennie melipat kedua tanganya didepan dadanya. “sejak awal kamu hanya orang asing yang menyusup di antara kehidupan kami”
Kami? maksudnya Jennie, Lian, dan Kevin? Risa meringis pelan, setelah Justin! Kenapa Jennie juga mengatakan hal seperti itu.
“aku rasa jika wajahmu tidak mirip dengan Lisa, Lian tidak akan pernah mau dekat denganmu, dan kamu tidak akan pernah tinggal bersama mereka”
“cukup” Risa menghentikan langkahnya
“berhenti mengurusi hidupku, jika kamu menyukai Lian silahkan urusi perasaan kalian masing-masing tanpa harus melibatkanku”
*********
“bagaimana hari ini?” tanya Lian, dia masih sibuk dengan setir kemudi setelah mengantar Jennie pulang, mereka mampir ke rumah makan lalu memutuskan untuk pulang kerumah.
“menyenangkan” Kevin memakan keripik kentangnya,
“tapi Ibu bersedih, aku bertemu paman berambut putih dan kami menaiki bianglala bersama lalu paman itu mengucapkan sesuatu, aku tidak mengerti apa yang diucapkannya tapi dia membuat Ibu sedih”
“Kevin”
Risa menatap Kevin agar dia menghentikan ucapannya “minumlah” Risa menyodorkan air mineral,
“sesampainya dirumah Kevin, harus langsung pergi mandi, badanmu begitu lengket”
Lian menatap Risa yang mengalihkan pembicaraan, paman? Siapa? Setelah ini Lian harus bicara dengan Risa.
“Kevin sudah tidur“
Risa sudah membersihkan dirinya setelah menidurkan Kevin dikamarnya, Lian masih setia berdiri di ujung pintu kamarnya, ada yang ingin dia tanyakan.
“mau kemana?”
Risa jelas bukan ingin pergi dengan celana jeans dan kaos yang melekat di tubuhnya.
“aku ingin pulang ke apartemen”
“ini sudah malam”
“masih banyak taksi”
“menginap disini”
“aku ingin pulang!”
“siapa pria itu?” suara Lian meninggikan, ada amarah yang terselip saat Risa terus menerus menyela ucapanya.
__ADS_1
“bukan urusanmu”
Risa menuruti anak tangga, dia kesal dan sekarang tidak ingin berdebat apapun dengan Lian.
“Risa!” Tubuh Risa membeku, Lian membentaknya.
“bukankah sudah aku bilang untuk menjauhi pria lain”
Lian menarik Risa agar berbalik ke arahnya, “aku sudah memperingatimu”
“aku tidak bilang menyetujuinya”
bahkan Risa saja tidak pernah bertanya apa yang Jennie lakukan di taman bermain tadi, kenapa Lian harus bertanya siapa yang bersamanya tadi.
“Risa, aku sedang tidak bermain-main”
“dan aku tidak sedang bermain denganmu Tuan Jung!” Risa memutar bola matanya bosan.
Lian memang tidak pernah tahu bagaimana cara menghadapi perempuan yang usianya enam tahun lebih muda darinya, dia tidak pernah tahu jika Risa memiliki emosi yang meletup-letup.
“Risa, aku hanya bertanya kenapa kamu begitu marah” Lian merendahkan suaranya menekan sedikit demi sedikit emosi yang meluap di hatinya.
“berhenti” sentak Risa saat tangan Lian mencoba merangkulnya, membawanya ke dalam pelukannya.
“Risa--"
“kamu menyebalkan, kamu pria Tua menyebalkan yang bersikap sesuka hatimu, kamu menyuruhku ini dan itu semaumu, menurutmu siapa dirimu?”
Risa tidak tahan lagi, sudah cukup “sejak awal aku hanya orang asing”
matanya tidak mampu menahan kesedihan lagi saat air matanya lolos membasahi pipinya.
“bersikaplah seperti orang asing, jangan mengurusi hidupku dan aku tidak akan pernah mengurusi hidupmu, aku hanya perlu menjadi Ibu Kevin, bukan berarti aku harus menjadi bayang-bayang istrimu”
Risa semakin terisak, tubuh Lian mematung, dia tidak tahu apa yang terjadi hari ini, pasti sesuatu telah melukai hatinya.
*******
“Risa?”
Keira menepuk pelan bahu Risa, sejak tadi temannya yang satu ini terlihat lesu, wajahnya sedikit pucat dan sejak tadi temannya terus menerus bersin. “kamu baik-baik saja?”
Risa semakin menelungkupkan kepalanya, badannya terasa hangat, tadi pagi kepalanya sangat pusing, awalnya dia tidak ingin bekerja tapi pekerjaannya lebih menempuh jika dia mengambil cuti.
“sebaiknya kamu istirahat saja di sofa”
Keira mengambil teh hangat yang sejak tadi di simpan atas meja kerjanya, “minumlah”
“aku baik-baik saja”
“astaga--” Keira memekik gusar saat telapak tangannya menyentuh dahi Risa.
“badanmu panas sekali, kamu demam” Keira langsung membawa tubuh Risa untuk berbaring, ada sofa di ujung ruangan yang biasanya dijadikan tempat istirahat saat lembur.
Keira melihat ke lemari kecil, tempat penyimpanan kotak P3K, semoga kaplet paracetamol bisa meredakan panas Risa.
“minumlah” Keira menyodorkan air mineral dan kaplet paracetamol, wajah Risa sedikit berkeringat.
Setelah meminum obat yang diberikan Keira, Risa mengambil ponselnya mencoba menelpon Lian hanya untuk mengabari jika dia tidak bisa menjemput Kevin.
Lian sempat bertanya kenapa Risa tidak bisa menjemput Kevin, dan Risa hanya menjawab jika dia sedikit ada urusan.
Dia hanya tidak mau Lian mengkhawatirkan, terlebih Kevin tapi memang Lian peduli dengannya? Risa tertawa sendiri dengan pemikirannya, dia berharap Lian khawatir padanya, sungguh menggelikan.
“kamu dimana?” - Jung Lian
Tidak ada kata sapa yang menjadi pengantar saat Risa menjawab telepon dari Lian, langit sudah cukup gelap untuk dikatakan senja, pantas saja Lian menelponnya.
“di apartemen”
“tidak pulang” - Jung Lian
“tidak bisa”
Risa sedikit kehilangan suaranya, meski demamnya sedikit turun tapi seluruhnya tubuhnya masih lemas dan sedikit pusing kepalanya, dan jangan lupakan demam itu berganti dengan bersin-bersin sejak tadi.
“kenapa?” suara Lian terdengar merajuk kali ini.
Aku takut Kevin tertular olehku, flu sangat mudah menular. Risa mengucek pelan hidungnya yang sudah memerah, beberapa tisu berceceran di atas karpet kamarnya.
__ADS_1
“aku--Hatchiii!!!” hidung Risa kali ini terasa begitu gatal, suaranya sedikit berdengung.
“aku terkena flu--hatchii!”
“aku akan menjemputmu sebentar lagi” - Lian
Setelah itu hanya bisa menatap layar ponsel dengan wajah bodoh dan mulut terbuka lebar, apa tadi yang Lian ucapkan,menjemputnya?
Benar saja setelah 15 menit baru berlalu bell apartemen sudah berdering sejak tadi, Risa terlihat gusar, wajahnya sekarang terlihat begitu berantakan, hidung merah, rambutnya sedikit berantakan.
Mengenakan celana training dan kaos kebesaran yang memperlihatkan jelas tulang selangkang, dengan cepat di mengikat asal rambutnya saat melihat layar intercom wajah Lian menghiasi layar itu.
“ayo”
Lian langsung menarik tangan Risa saat dia keluar untuk membukakan pintu.
“hei!” Risa memekik dengan suara yang berdengung, “kita mau kemana?” tanya Risa.
“pulang” ucap Lian sambil terus menarik Risa menuju Lift. “dan tentu saja pulang ke rumah kita“ Ucap Lian.
Risa terkejut saat kata kita melantun dati mulut Lian, sudah sedekat apa sebenarnya hubungan mereka? Risa tidak mengerti dengan jalan cerita hidupnya, Lian datang begitu saja kedalam hatinya.
“tidak bisa--Hatchiii.”
lagi-lagi bersin sialan, Risa mengumpat dalam hati.
Lian sama sekali tidak memperdulikan ucapan Risa, menekan tombol LG pada dinding Lift.
“Kevin bisa tertular, aku tidak ingin dia terkena flu nantinya”
“tidak akan, aku hanya perlu mengurungmu di kamarku dan kamu tidak akan menulari ke Kevin”
Risa meneguk ludahnya, tidak yakin jika itu adalah solusi baik untuknya.
Sesampainya dirumah Jung Lian.
Risa tengah berbaring diatas ranjang dikamar Lian, setelah pria itu mengajaknya pulang dia langsung pergi keluar dari kamarnya.
Deritan pintu terbuka, Lian membawa nampan yang sudah berisikan sup ayam dan bubur diatasnya.
“kemarilah” tangan Lian memberi isyarat agar Risa pindah ke sisi ranjang
“sudah minum obat? Atau mau pergi ke dokter?” tanya Lian.
Risa menggeleng lemah, dia masih bersin-bersin “tadi siang aku sudah minum obat, aku tidak mau pergi ke dokter”
Dalam hati Risa berharap Lian mau menyuapi bubur itu untuknya.
“kenapa?”
“hm?” tanya Risa tidak mengerti
“kenapa tidak makan buburnya?”
Alis Risa terangkat, wajahnya merenggut tidak suka, dia pikir Lian akan menyukainya, tapi pria itu hanya mematung duduk di sisi ranjang.
“jangan manja” Lian mengambil mangkuk yang berisikan bubur.
“tanganmu masih bisa digunakan”
Mulut Risa menganga sempurna, kenapa pria ini tidak pengertian sekali, dengan kesal Risa mengambil mangkuk dari tangan Lian, menyuap satu sendok penuh bubur kedalam mulutnya.
“panas..”
bodoh, kenapa dia tidak meniup dulu buburnya, dengan pelan dia menelan bubur yang sudah berada dalam mulutnya.
“haha, kamu masih saja menjadi kelinci bodoh”
Lian mengambil minum, menyerahkan untuk Risa minum, membiarkan Risa meneguk pelan airnya “masih panas?”
Lian sedikit khawatir saat Risa menjulurkan lidahnya yang sedikit memerah, Risa mengangguk, terus saja panas untung saja mulutnya tidak melepuh.
Tangan Lian memegang dagu Risa. “buka mulutmu!” Risa menuruti begitu saja permintaan Lian.
Tubuhnya seketika tersentak, jutaan volt listrik seperti menyengatnya saat Lian meniup pelan mulut Risa, Oh Tuhan, angin yang keluar dari mulut Lian menerpa langit-langit Risa, tatapan Lian yang melembut dengan gerakan berulang pria itu terus meniupkan angin ke dalam mulut Risa agar gadis itu tidak kepanasan.
“masih panas?” tanya Lian,
Risa terlalu menikmati perlakuan Lian hingga memejamkan matanya seerat mungkin, rasanya ingin menjawab masih panas, Risa pikir Lian akan menciumnya atau mengecup bibirnya, Oh jauhkan Risa dari pikiran mesum sialan ini!.
__ADS_1