Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
- IMPL S2 - [ Bab 03 : Still ]


__ADS_3

Prov Sona 


Sebenarnya mengambil jurusan tata bahasa, bukankah kesukaan Sona, dia sangat suka kehidupan yang berhubungan dengan Psikiater dan hal yang bisa melibatkan rumah sakit dalam keahlian terbaiknya yang bisa memecahkan masalah kejiwaan seseorang dengan kepintaran mereka dan perasaan yang mereka miliki. Tapi dirinya malah memilih terjun di dunia penulisan yang sangat jauh dari dunia psikolog. 


Dan kata lain bagaikan minyak dan air, tidak bisa menyatu dan sangat berbeda, tapi mereka memiliki satu kepentingan untuk setiap manusia, Sona menarik nafas dan membuangnya setelah beberapa detik. 


Gedung berlantaikan 17 lantai itu menjulang tinggi mencapai awan, siapa yang tidak ingin mencoba untuk bekerja disana, apalagi minatnya yang begitu tinggi dalam dunia penulisan dan bisa bertemu dengan banyak penulis terkenal di kota Seoul ini. Tidak termasuk dengan Sona, dia malah berharap semoga saja dia tidak lolos dalam sesi wawancara nanti. 


Sona lebih akan merasa terbebani jika bisa bekerja disini walau hanya akan di kontrak satu tahun, lebih baik bekerja dikantor biasa saja, dia tidak pandai untuk berinteraksi, jika dirinya dipilih sebegai editor untuk salah satu penulis disini. 


“haruskan aku masuk? Atau aku bilang saja pada Lisa jika aku gagal dalam seleksi” ucapnya, Sona belum melangkah kakinya kedalam gedung Grup Joon, dia hanya berdiri di batas pintu utama.


“Maaf, Nona jika anda tidak ingin masuk kedalam bisakah anda jangan menutupi jalan orang lain untuk masuk kedalam?” ucap seseorang dibelakang tubuh Sona, dia menepuk bahunya tanpa pemberitahuan lebih dahulu.


Sona segera membalik tubuhnya, dia merasa malu melihat beberapa orang menatap dirinya, “Maaf” ucapnya sambil menyingkir dari sana, jika dilihat dari waktu yang sudah menunjukkan pukul 8.30 pagi. Tinggal satu jam lagi waktu tersisa untuk sesi wawancara.


“baiklah, tidak ada salahnya untuk mencoba, mungkin masih ada kesempatan untukku membantu Eonnie” setelah perdebatan panjang antara dirinya dam hatinya, akhirmya Sona memutuskan untuk melangkah maju masuk kedalam Grup Joon.


Dia berjalan mendekati lift yang terdapat di ujung koridor, kebetulan di lantai dasar tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang disana, mungkin waktu sudah menujukan waktu bekerja jadi saat naik lift Sona hanya sendiri. 


Ruangan sesi wawancara terletak di lantai 5, diruangan Ryu Hyeon Woo. Dari profil perusahaan Joon yang Sona baca jika pria bernama ‘Ryu Hyeon Woo’ posisinya cukup tinggi di usianya yang masih terbilang muda, dia adalah 'Ketua Team Manager'. Karena Sona melamar untuk bagian Team editor untuk bagian perbaikan kata atau tanda kalimat.


Sona menyempatkan untuk merapikan penampilan di dalam lift, karena rambutnya pendek, dia tidak bisa mengikatnya atau setidaknya menata rambutnya seperti Lisa, dia hanya mengunakan jepitan berhiaskan lumba-lumba kecil, dia mengoleskan lipstik dibibirnya dan memastikan jika pakaian yang dia pilih cocok dengannya, Sona sangat suka mengkombinasi cardigan dengan celana jeans dan meja bergariskan putih dan hitam.  


Lift berhenti tepat saat Sona selesai menyakini jika dirinya cukup untuk dipandang, dia tidak terlalu mementingkan dirinya cantika tau tidak dimata orang-orang yang berpapasannya, selagi dia nyaman dengan apa adanya dirinya, Sona tidak akan memperdulikan ucapan orang lain tentang menilai dirinya.


Melangkah keluar lift, Sona memasang ID-Card namanya.


Dia menatal pada lantai lima yang dipenuhi dengan banyak sekali buku, seperti bukan sebuah ruangan kantor tapi lebih tepatnya seperti perpustakaan, walau Sona tidak terlalu begitu minat dalam novel romance, fantasi ataupun genre lainnya, tapi siapapun pasti akan senang melihat tumpukan buku yang tersusun rapi.


‘dimana ruangan Tuan Ryu?’ Sona hampir lupa tujuannya kesini, untung saja ada sebuah papan yang menujukan dimana ruangan Tuan Ryu untuk sesi wawancara. 


“Ketua Team Manajer” 

__ADS_1


Sona berhenti didepan ruangan yang bertuliskan label ‘KTM - Ryu.’. Dari desain pintu ruangan sudah terlihat jelas jika seperti Tuan Ryu sangat menyukai ketenangan dan hal sederhana. Tangan Sona memutar gagang pintu. 


“selamat pagi Tuan Ryu, saya Oh Sona Ji. Saya datang untuk sesi wawancara, maaf atas keterlambatan saya” Sona membukakan badannya dengan hormat, kemudian melangkah mendekati meja Tuan Ryu.


Suasana begitu sunyi namun terasa nyaman untuk Sona, dia sedikit terteguh saat matanya menatap Tuan Ryu yang begitu lembut dari caranya membaca dokumen ditangannya, belum lagi kacamata membingkas di hidungnya. Belum pernah Sona melihat pria begitu tenang seperti ini. 


“tidak apa-apa, aku juga baru selesai mewawancarain yang lain” ucapnya, suara terasa tenang seperti sebuah hembusan nafas, dia bangun untuk mempersilahkan Sona duduk “duduklah, Nona Oh”


Sona menarik kursi dihadapannya, dia meletakkan dokumen berisikan profil pribadinya. “terimakasih Tuan Ryu.”


Luar dugaan Sona, dia pikir jika pria dihadapan sifatnya akan begitu dingin dengan orang baru sepertinya tapi sekarang rasanya Sona tidak bisa mempercayai hal itu, saat membuka dokumen saja pria itu terus memberikan kesan tenang dan lembut. Apalagi jika dia menunjukan senyuman saat berbicara dengan Sona.


“aku jarang sekali menemukan seorang wanita yang bekerja sebagai Editor, biasanya aku selalu menerima penulis baru dan kebanyakan mereka wanita” 


‘Oh, Tuhan. Aku rela berlama-lama disini untuk mengobrol dengannya, lihatlah caranya berbicara--, sangat tenang sampai aku tak bisa membalas ucapannya'


“Nona Sona, boleh aku mengajukan beberapa pertanyaan?”


“Ya, tentu saja Tuan Ryu”


“Nona Oh, kamu sudah tahu bukan tugas seorang editor? Bukan hanya memeriksa kesalahan kalimat dalam naskah, tapi kamu harus benar-benar memperhatikan kesehatan penulis, dan membantu mereka untuk terus semangat dalam menulis bukankan?” ucapnya, walau terkesan tegas dan cepat dalam setiap kalimat tapi Tuan Ryu tidak menaiki suaranya.


Sona sangat gugup, dia tidak tahu apapun jika pekerjaan editor seperti itu “A--aku, belum terlalu mendalam tugas seorang editor, tolong kedepannya ajarin aku untuk menjadi editor yang baik”


“aku mengerti, sejak aku membaca profilmu, aku menemukan keganjalan jika kamu tidak seratus persen yakin ingin melamar untuk posisi itu--”


“maafkan aku, jika anda memberikan kesempatan, aku janji akan memahami lebih dalam tentang dunia penulisan” ucap Sona, walau dia berbicara terkesan memotong ucapan Tuan Ryu. Tapi demi membantu meringankan utang Eonnie Risa, Sona rela melakukan apapun untuk bisa bertahan disini.


“baiklah, aku akan memberikan jawabannya melalui surel, kita bisa mengakhiri wawancara ini, anda bisa kembali nanti saat anda diterima, terimakasih untuk waktu Nona Oh” ucapnya, dia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Sona.


Tanpa berpikir panjang Sona segera membalasnya, dia juga membungkukkan tubuhnya “terimakasih Tuan Ryu untuk sesi wawancara ini, dan maaf jika pertemuan ini membuat anda tidak nyaman”


“Senang bertemu denganmu lagi”

__ADS_1


Sona mulai melangkah meninggalkan ruangan Tuan Ryu, tanpa sadar pria itu mengucapan beberapa kalimat yang tidak terdengar oleh Sona.


Sona melihat jam yang sudah menunjukan pukul 11.30, dia tidak menyadari sesi wawancara yang begitu lama, dia segera berlari menuju lift. 


“Tunggu!!”


Sona kaget saat dirinya melihat seseorang berlari mendekati lift yang baru saja ingin tertutup, pria itu tampak tergesa-gesa sambil membawa tas yang mungkin berisi laptop. 


Didalam lift yang bergerak turun, Sona sedikit menepi keujung. 


Didalam hanya ada dirinya dan pria berjas hitam yang sedang mengatur nafasnya, dia hanya menatap sekilas wajah itu dan cukup membuat Sona, terheran lebih terkesan bingung, banyak sekali pria tampan digedung ini dan mungkinkah dirinya bisa menjaga hati disini? 


‘Samuel?’


Sona jadi merindukan temannya yang sedang melakukan wajib militer, dia sahabat Sona sejak SMP hingga sekarang, memamg tidak ada hubungan yang spesial antara dirinya dan Cho Samuel Ahn. Hanya Sona yang menyimpan satu perasaan pada pria itu mungkin.


Di lobby utama lantai dasar, Sona menemukan keberadaan Lisa yang sedang melihat pajangan buku-buku disana, dia menatap aneh pada gadis itu, seingat Sona. Dia sudah memberitahu Lisa untuk menghubungi jika dia sudah selesai.


“Lisa!!” panggil Sona saat caranya tinggal beberapa meter dengan Lisa.


Mendengar namanya dipanggil, Lisa tersenyum bahagia, dia membalas lambaian tangan dari Sona “Eonnie!!”


“kenapa tidak menghubungiku? Apa kamu menunggu lama?” 


“aku baru disini sekitar setengah jam, aku ingin menghubungi Eonnie tapi aku takut menganggu”


Sona tersenyum, dia menarik tangan Lisa untuk segera meninggalkan gedung tersebut.


“Eonnie, apa Grup Nam dan Grup Joon keduanya bergerak dalam industri penulisan?”


“Ya, hanya saja Grup Nam lebih fokus pada Novel, sedangkan Grup Joon pada sejenis manga atau webtoon”


“pantas saja, saat Lisa masuk banyak sekali komik disana”

__ADS_1


“kamu lelah? Ayo kita pergi mencari makan siang”


note : jangan lupa like dan komen, jangan lupa mampir kecerita baruku yuk, judulnya “paper heart and life”


__ADS_2