Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 46 - Flashback ll


__ADS_3

Suasana di ruang tunggu masih sangat tegang, Sona terus menunggu sang Ibu untuk membuka keduanya, Ya ibu sona sudah dipindahkan ke ruang rawat setelah melewati masa krisisnya, dokter mengatakan jika jantung Ibu Sona saat lemah beliau tidak boleh terlalu tertekan dan tidak boleh terlalu lelah, jantungnya bisa berhenti berdetak saat ibu Sona terlalu tertekan.


Ruang tunggu hanya ada Sona dan Kevin, Risa dan Lian, mereka terdua sedang berbincang dengan dokter dan mengurus kebutuhan Ibunya Sona.


Kevin menatap Sona, pria itu tidak bisa berbuat banyak disaat wanita itu bersedih, mungkin dengan membiarkan gadis itu menuangkan semua kesedihannya itu akan membuatnya lebih tenang, Kevin tidak mau membuat Sona merasa tidak nyaman saat seperti ini.


Namun jika dibiarkan seperti ini Sona tidak akan bisa menerima jika terjadi sesuatu terhadap ibunya, Sona harus bisa menghadapi emosi dan juga keegoisannya, dengan langkah yang pelan Kevin mendekati Sona yang ada disebrangnya, Kevin memilih untuk duduk disamping gadis itu.


“kamu akan terus menyalahkan dirimu sendiri?”


“tinggalkan aku sendiri!”


“Sona--”


Kevin menarik tangan gadis itu untuk menghadapnya, Kevin sebenarnya tidak sanggup melihat Sona yang terus menangis seperti itu, menangis bukanlah hal yang bisa menyelesaikan walaupun memang menangis adalah sulosi untuk meluap-kan semua kesedihan.


“apa? Kau tidak akan pernah bisa mengerti diriku! jadi tidak usah memperdulikanku”


“Sona, apa dengan menangis dapat menyelesaikan masalah? Tatap aku Sona!”


Kevin menggenggam kedua pergelangan tangan Sona, dia terus menatap Sona dengan tatapan tajam.


“aku tahu Ibumu sakit Sona, tapi bukan berarti dirimu saja yang cemas memikirkannya, aku juga memikirkannya. Berhentilah menyakiti dirimu sendiri, ibumu butuh dukunganmu Sona”


Sona kembali menangis, dia mencoba menarik tangannya yang digenggam oleh Kevin, air matanya membasahi pipinya. Kevin segera menarik Sona kedalam pelukannya walau sang gadis tidak mau menerimanya.


“tidak lepaskan aku!”


Sona memukul-mukul tubuh Kevin yang ada di hadapannya, pria itu selalu saja memaksa semaunya, Sona hanya seorang anak yang takut jika Ibunya akan meninggalkannya sendirian, dengan cara menikahi Sona dengan Kevin bukanlah solusi yang tetap untuk membuat Sona bisa melupakan sang Ibu begitu saja.


“Lepas! Brengsek!”


Sona berhasil melepaskan dirinya dari genggaman Kevin, namun saat dia ingin berlari menjauh dari pria itu, Kevin malah menariknya kembali dan membuat Sona kembali duduk di kursi tunggu.


“Sona, apa yang membuatmu begitu membenciku?”


“apa pertanyaan itu harus di pertanyakan disaat seperti ini Tuan Kevin, pernahkah kamu berfikir--”


Sona berhenti melanjutkan kalimatnya, dia baru teringat dengan apa yang dikatakan oleh Ibu Lisa, jika dirinya tidak boleh mengungkit apapun tentang ibu kandung Kevin yang sudah tiada.


“apa? Kenapa kamu tidak melanjutkannya Sona?” Kevin bertanya, dia menatap Sona dengan bingung karena tidak biasanya gadis itu berhenti berbicara.


“bagian mana yang sakit? Beritahu aku Sona jangan diam seperti ini!” tanya Kevin lagi, dia mulai khawatir dengan Sona.


“Tidak ada”


Sona melepaskan semua genggaman Kevin yang ada didalam tubuhnya, dia menggesek tempat duduknya untuk menjauh dari Kevin, percuman saja Sona menjelaskan Kevin tidak akan pernah mengerti apa yang dirasakan olehnya, apa yang bisa Sona harapkan dari pria itu, Sona bahkan yakin jika pria itu hanya menuruti permintaan kedua orang tuanya untuk menikahi bukan karena alasan cinta.


“Sona--”


“sudah cukup! Aku tidak ingin berbicara apapun padamu atau pada orang lain”


Kevin terpaksa menuruti kemauan Sona, dia hanya terdiam menatap gadis yang hanya membelakanginya tanpa mau melihat ke arahnya.


Tidak lama Lisa datang dengan seorang pria, mereka berjalan mendekati Sona yang ada di depan ruang sang Ibu, Lisa dan Karan langsung mendekati Sona yang terdiam.


“Sona? Apa yang terjadi?” tanya Lisa yang kini duduk dihadapan Sona. Dia menghapus air mata yang masih tersisa di wajah Sona.

__ADS_1


“Sona kamu baik-baik saja?”


Sona hanya mengelengkan kepalanya kepada kedua orang yang ada di hadapannya, Sona tidak menyadari jika yang ada di depannya itu Lisa dan Karan.


“Sona, katakan sesuatu” ucap Lisa, dia menggenggam kedua tangan sahabatnya.


“apakah aku harus memanggil samuel?”


Hati Sona terketuk saat mendengarkan nama itu 'samuel' nama yang bahkan pernah membuat hati Sona selalu bahagia, nama yang selalu menghiasi seisi ponselnya dan nama yang pernah meninggalkannya tanpa adanya penjelasan.


“samuel--Apa dia ada disini?”


“Sona, ini aku Karan, apakah kamu tidak mengingatku?”


“Karan! Kau si pria culun itukan?”


“Sona akhirnya kamu mengingatku juga”


“bagaimana kalian bisa bertemu? dan apa Samuel juga ada disini?”


“ceritanya sangat panjang Sona, aku akan menceritakannya nanti” ucap Lisa.


Kevin, pria hanya menatap Sona yang mulai melupakan kesedihan walau hatinya masih tidak tenang karena mendengar nama seorang pria yang langsung membuat Sona mencari keberadaannya.


'apakah pria itu pacar Sona?'


“baiklah aku akan menghubungi Samuel untuk kesini”


Karan berjalan meninggalkan Sona dan Lisa, dia harus menjemput temannya yang mungkin mengurus kepindahannya disini, atau mungkin pria itu masih sibuk dengan pekerjaan.


“Lisa apakah aku mampu untuk bertemu dengannya?”


Lisa dan Sona saling berpelukan untuk meyakini satu sama lain, mereka tidak tahu jika pria yang tidak jauh dari mereka terus mendengar ucapan mereka yang membuatnya bingung di hatinya dan juga pikirannya.


Tidak lama kemudian Karan kembali ke rumah sakit, dia benar-benar memenuhi janjinya membawa Samuel untuk bertemu dengan Sona, jika dilihat dari sekarang Samuel lebih dewasa dari terakhir mereka berpisah, dia berjalan mendekati Sona yang menatapnya dengan tatapan sedikit bingung dan juga ada keterkejutan yang sangat terlihat diwajah Sona.


Hati Sona bergetar hebat saat melihat sosok pria yang berjalan ke arahnya, pria yang pergi meninggalkan Sona tanpa mengucapkan kata perpisahan, pria yang membuat hati Sona tertutup rapat karna dia terlalu takut untuk terluka kembali, pria yang pernah menjadi cinta pertama untuk Sona, ada rasa bahagia, kecewa, kesedihan yang terus mengaduk-aduk perasaan Sona secara bersamaan.


Tatapan Sona tidak pernah meninggalkan sosok Samuel yang sudah ada di depannya, ada banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran Sona yang ingin sekali diajukan pada pria itu.


“Lisa bagaimana jika kita meninggalkan mereka berdua?” ucap Karan, dia mengajak untuk meninggalkan Sona bersama Samuel.


Lisa menganggukan tawaran dari Karan, dia bangkit dari kursi lalu mengikuti Karan dari belakang.


Kevin pria itu masih ada disana, namun dia hanya patung yang terus mendengar apa yang orang lain bicara.


“Sona, apa kabar?”


“Ah--Ya kabarku baik, bagaimana denganmu?”


Kevin yang mendengar nama 'Samuel' langsung menatap kearah Sona, dia segera mendekati Sona yang tidak jauh darinya.


“kau siapa? Jangan mencoba mendekati calon istriku!”


Kevin berdiri di hadapan pria yang baru ingin menggenggam tangan Sona, dia mencoba melindungi Samuel untuk mendekati Sona.


“Tuan Kevin, ini bukan urusan anda, bisakah anda tinggalkan kami, hanya berdua”

__ADS_1


Kevin menatap ke arah belakang, Kevin menatap sedikit kecewa pada Sona yang tidak mau Kevin berada diantara mereka berdua.


“Sona--”


“aku mohon, bisakah kali ini kamu mengalah, aku benar-benar tidak ingin kamu ikut campur”


Kevin mengepal tangannya, dia langsung menatap kearah Samuel yang menunjukan senyuman kemenangan pada Kevin, dia juga mengangkat satu alisnya sebagai tanda jika pria itu tidak pantas untuk menghalangi Samuel,  dengan kesal Kevin meninggalkan berdua.


Samuel memilih untuk duduk dihadapan Sona yang kini menundukkan pandangannya dari pria yang di hadapannya.


“Sona maafkan, aku pergi tanpa mengatakan apapun padamu, padahal saat itu kita sedang menjalani hubungan, apakah kamu mau mendengar semua penjelasanku?”


"jika aku menolak untuk mendengarkan penjelasanmu, apakah kamu akan tetap menjelaskan semuanya? Samuel--Kau pergi disaat hubungan kita sudah berjalan dua tahun, kau pergi tanpa mengatakan jika kau akan meninggalkanku, aku hancur Samuel, kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana hidupku saat banyak pertanyaan yang selalu menghantuiku setiap hari, pertanyaan. 'kemana kamu pergi disaat aku mulai takut kehilanganmu' ”


Sona menangis dihadapan Samuel, rasa selama tiga tahun dia pendam, mencoba melupakan semua yang pernah terjadi selama pria itu pergi, bahkan Sona hampir lupa rasanya menyukai seorang pria dan secara perlahan hatinya tertutup begitu saja.


“dan kenapa kau muncul disaat aku akan menikah! Apa yang harus aku lakukan Samuel?”


“Sona, Aku tahu aku memang bersalah padamu karena pergi saat kamu sudah mencintaiku dan kembali disaat orang lain ingin mengambilmu, tapi Sona ... Kepergianku bukan karena alasan lain, aku sakit Sona .. Aku harus berjuang selama satu tahun untuk melawan penyakitku, saat itu aku ingin sekali memberi salam terakhir namun aku takut kamu akan khawatir dan membuatku tidak bisa meninggalkanmu”


Samuel menggenggam tangan Sona, dia menatap gadis yang membuatnya semangat dalam melawan penyakit yang diderita, tidak satu haripun Samuel melewatkan tanpa memikirkan Sona.


“aku kembali bukan karena aku ingin menyakitimu Sona, tiga tahun telah berlalu mana mungkin aku masih bisa memiliki kesempatan untuk memilikimu kembali bahkan kata maaf pun tidak cukup untuk menghapus luka dihatimu Sona”


Samuel menghapus air mata Sona yang membuatnya merasa terganggu melihatnya, dia tidak bisa melihat seorang gadis menangis karena perbuatannya.


“kamu akan menikah?”


“Ya”


“apa kamu bahagia?”


Sona terdiam, ucapan Samuel seperti menusuk hatinya, pertanyaan yang selalu dia hindari siapapun saat orang lain bertanya, Sona tidak tahu harus menjawab apa, karena pernikahan ini dilandasi bukan karna Sona mencintai Kevin atau sebaliknya, tapi karena kemauan kedua orang tau mereka.


“kebahagian? Aku bahkan lupa kapan terakhir aku bahagia Samuel, hidup hanya ada hitam dan putih tanpa adanya warna saat aku putuskan untuk lebih fokus pada kuliahku, aku lebih memilih memikirkan Ibuku dari menjalin hubungan dengan pria lain, semenjak ayahku dan kamu pergi dari kehidupanku, aku mengerti satu hal pada sadarnya semua orang akan meninggalkanmu disaat dirimu sudah terbiasa tapi Ibu, dia tidak akan meninggalkan putrinya”


“Sona .. Jangan menikah, semakin kamu memaksakan untuk menikah kamu tidak akan pernah menemukan kebahagian di kehidupanmu di masa depan, jika kamu mau kita bisa mengulang semua dari awal”


“Samuel, jika aku bisa egois aku juga ingin kembali padamu, tapi aku tidak bisa melakukan apapun disaat Ibuku,lah yang meminta padaku, Samuel bisakah kamu melepaskanku?”


“Sona--Aku mohon--”


“Samuel, Jika kamu masih mencintaiku, kamu harus bisa merelakan diriku, dalam dua minggu aku akan menikah dan aku harap kamu bisa menerima itu, terimakasih karna telah kembali, setidaknya saat aku menikah aku tidak merasa bersalah padamu lagi”


“baiklah Sona, jika sudah menjadi keputusanmu maka aku tidak bisa memaksamu, tapi jika kamu tidak bahagia bersamanya jangan takut untuk kembali padaku”


“terimakasih Samuel tapi aku tidak akan lari dari masalahku, bagaimanapun menikah sekali dalam hidup itu adalah prinsipku”


“seandainya aku tidak pergi apakah aku masih bisa bersamamu?”


“takdir, jodoh dan kematian adalah satu hal yang tidak bisa kita rubah, walaupun saat itu kamu memutuskan untuk tidak pergi tapi jika memang Tuhan berkehendak aku bersama yang lain tetap saja kita tak ada bisa”


Samuel tersenyum murung saat Sona melepaskan tangannya dan memberikan cincin yang selama ini menghiasi jari manisnya Sona dan dia berkata.


“aku ingin mengembalikan semua milikmu, cincin ini adalah benda yang menjadi saksi kesedihan dan semua yang aku alami selama kamu pergi, aku sudah tidak bisa memilikinya, jari manis ini akan diisi oleh orang lain”


Sona tersenyum pada Samuel yang masih menatap cincin di tangannya, Sona mulai meninggalkan Samuel dengan air mata yang sudah di tahan sedari tadi, Sona tidak mau melihat sang Ibu kecewa padanya karena dia lebih memilih Samuel.

__ADS_1


'ayah, bisakah kamu memberitahuku jika keputusanku benar atau tidak? Kamu selalu memberikan solusi untuk masalahku bisakah kali ini kamu memberikan aku petunjuk? Aku sangat bingung ayah antara memilih kasih sayang seorang ibu atau cintaiku'


__ADS_2