![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Beberapa hari berlalu ....
Hari ini aku kembali menginjakan kaki di kota kelahiranku, sudah lima tahun berlalu sejak aku meninggalkan kota yang membesarkanku, rasanya saat berbeda dengan saat Han meninggalkan kota ini, hanya kesalahpahaman yang terjadi membuatnya melarikan diri dari kota ini.
Han, pria itu kembali setelah sekian lama melarikan diri, setelah semua urusannya selesai dirumah sakit dia segera ke korea sudah saatnya dia bersikap dewasa sekarang, dia menunggu sang adik untuk menjemputnya di bandara, sebelum Han naik pesawat dia sempat untuk menghubungi Ayahnya dan sang Ayah menyuruhnya untuk menunggu karena ayahnya ingin Sean yang menjemputnya.
Hari ini Han tidak terlalu memakai pakaian yang tebal hingga membuatnya kedinginan, dia sengaja memakai jas putihnya dia ingin menunjukkan padanya jika selama dia pergi dia bukan pria yang suka membuat ulang di negara lain, Han juga ingin mengenang jas yang mungkin tidak akan digunakan lagi di masa depan.
Tak lama kemudian Sean sudah datang, dia berhenti tepat dimana Han berdiri, Sean melambaikan tangan saat dia melihat kakaknya, wajahnya terlihat sangat bahagia karena setelah sekian lama akhirnya kakaknya bisa kembali rumah, Sean berjalan mendekati sang Kakak.
“apa kamu menunggu lama?” Sean bertanya, dia membantu sang kakak membawa barangnya didalam mobil.
“tidak, aku baru saja tiba, kamu tepat waktu”
Setelah itu tidak ada percakapan di antara mereka berdua, Sean pun juga seperti tidak ada hal yang ingin disampaikan pada sang Kakak, dia segera menyalakan mesinnya dan segera meninggalkan bandara.
Selama di perjalanan mata Han terus menatap jalan kota Seoul, yang tidak begitu banyak perubahan di sana, mungkin karena dia perginya tidak terlalu lama.
“bagaimana dengan urusan rumah sakit?” Sean bertanya, dia mencoba membuka pembicaraan setelah sekian lama tidak berbicara selama perjalanan.
“aku bekerja disana karena sukarela, itu tidak sulit untukku keluar dari sana”
“lalu dengan wanita yang kamu cari?”
“Sean, dia sudah tiada, aku pergi dari rumah karena Ibu, bukan karna mencarinya”
“kenapa setelah lima tahun baru kamu kembali? Kakak tahu selama kakak Han meninggalkan rumah Ayah jarang pulang dan selalu menghabiskan waktunya di kantor”
“apa sekarang Ayah ada dirumah? Bagaimana dengan kesehatannya”
“semenjak penyakit Ayah kambuh, Ayah tidak pernah meninggalkan rumah lagi, pekerjaan ayah sementara di ambil oleh Kakak Lisa”
Han terdiam sejenak, dia mencoba mencerna ucapan yang dikatakan oleh Sean 'sementara diambil oleh kakak Lisa?'
“karena itu Ayah menurun ku untuk pulang?” Han bertanya.
“Kakak, Ayah tidak bisa terus merepotkan keluarga Lisa, kakak tahu Ayah bahkan ingin menjodohkanmu dengan Lisa, pasien yang kamu rawat”
“apa ayah menjodohkan pada Lisa untuk mengucapkan rasa terima kasihnya pada keluarganya?”
“apa kakak tidak ingin menerima perjodohan ini? Kakak Han tahu sendiri bagaimana sikap Ayah”
“aku tidak masalah dengan perjodohan, tapi bagaimana mungkin dia melakukan itu karena--Aku semakin tidak mengerti dengan sifat Ayah yang tidak pernah berubah”
“Kakak Han, tolong jangan seperti ini, aku tidak mau menikah, aku ingin mengejar cita-cita menjadi seorang seniman terkenal”
“Sean, bukan itu maksudku, kamu baru harus mengejar cita-citamu biar aku yang mengurus semua ini agar tidak terjadi padanya”
Keduanya kembali menjadi hening, Han lebih memilih untuk mengeluarkan ponselnya saku jasnya, rasanya dari tadi ponsel itu terus bergetar.
'20 panggilan tak terjawab dan 1 pesan masuk'
Han tersenyum saat dia melihat ternyata yang menghubunginya sedari tadi adalah Lisa.
By : Lisa (Dear My Panda)
__ADS_1
« Han, selamat pagi ....
Apa kamu sudah bangun?
Atau kamu sedang bekerja?
Aku ingin sekali mendengar suaramu tapi kamu tidak mengangkat panggilanku ...
Hari ini aku berkuliah pagi .. Jadi aku putuskan untuk memberitahumu ..
Semoga harimu menyenangkan ... »
Han segera membalas pesan itu yang baru dikirim 20 menit yang lalu, mungkin Lisa sudah dalam perjalanan menuju universitasnya.
By : Han (My Doctor)
« pagi juga Lisa ....
Aku sudah bangun, dan sedang ...
Ditempat dimana aku sudah lama sekali kesana ...
Maaf, tidak karena ponselku tidak aku deringkan ...
Semangat untuk kuliahmu hari ini ...
Kamu juga harus terus tersenyum
tapi bukan pada pria lain ...
Tak lama kemudian dia sampai di rumah yang sudah lama tidak dia lihat, Han mencoba untuk meyakini hatinya untuk tidak melakukan kesalahan, dia kembali untuk Lisa dan untuk meluruskan semua masalah, dia berjalan mengikuti Sean yang sudah lebih awal melangkah masuk kedalam rumah.
Saat melihat ke arah ruang tamu dia melihat sang Ayah yang saat berbeda saat berakhir lalu dia melihatnya, tidak ada lagi wajah yang gagah dan juga dingin, sekarang hanya ada wajah yang terlihat keriput dan juga kurus, wajahnya pun terlihat lebih pucat di wajah terangnya cahaya matahari.
“Han?”
Saat Han sudah ada dihadapannya, Sang Ayah segera menariknya untuk memeluknya, betapa Han sangat merindukan dirinya, berapa beratnya hal yang Han lakukan pada dirinya, walaupun dia bukan anak kandungnya tapi tetap saja dari bayi hingga detik ini dia adalah ayahnya Han.
“ayah--”
Tuan Kim segera menarik sang anak untuk menuntunnya duduk disofa yang sudah disediakan banyak makanan disana.
“putraku, Kamu semakin dewasa”
Akhirnya keduanya berbicara banyak hal yang tidak pernah lakukan selama bertahun-tahun lamanya, di wajah Tuan Kim saat tersirat jika dirinya sangat bahagia dan juga bersyukur dengan apa yang ada di hadapannya, dan Han? Pria itu menangis saat sang ayah yang kini memanggilnya dengan sebutan 'putra' sudah lama rasa nya dia tidak mendengar panggilan itu.
Setelah berbicara dengan sang ayah, Han langsung pergi ke kamarnya yang sudah lama tidak dia lihat, semua kesalahpahaman yang hanya hal kecil bisa membuat perpecahan antara Ayah dan anaknya, Han saja jika sepenuhnya saat dia mendengar percakapan ayahnya dengan sekretarisnya membuat hati sakit dan juga sangat kecewa namun Han salah menanggapinya, dia malah memilih untuk pergi dari rumah tanpa mau mendengarkan percakapan antara sang ayah dan sekretarisnya hingga selesai, seharusnya Han bisa menjadi lebih dewasa tapi semua itu sudah berlalu hanya menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan oleh Han.
Tapi jika dia tidak pergi Han juga tidak akan bertemu dengan Lisa, mungkin Han hanya akan menerima perjodohan ini atas dasar perjodohan yang diajukan oleh sang ayah, mungkin Han akan tetap menjadi pria yang dingin dan tidak berperasaan, Han tidak bisa membayangkan jika dirinya akan terus menyakiti Lisa atau menganggap wanita itu tak ada dalam kehidupannya.
Han tersenyum saat melihat barang yang ada barang miliknya masih tersusun rapi disana, ruang kamar ini memiliki banyak sekali kenangan, satu persatu Han melihat sekeliling barang yang ada di kamarnya, tidak sedikitpun ada yang berubah dari kamarnya.
Dia berjalan mendekati laci lemari yang ada di samping ranjang, dia melihat bingkai foto keluarganya yang diambil saat usia Han 7 tahun dan Sean yang masih bayi, Han merindukan sosok Ibunya yang sudah pergi meninggalkannya, dia kembali meletakkan bingkai foto itu ke tempatnya, lalu menatap langit-langit kamar yang penuh dengan gambar langit malam.
Dia sudah ada di korea, namun dia belum berani untuk menemui Lisa, jika Han menampakkan dirinya sekarang apa reaksi Lisa saat pertama kali melihatnya ada dihadapannya, tiba-tiba Han merindukan gadis yang selalu menghiasi wallpaper ponselnya dan juga pikirannya.
__ADS_1
jam sudah menunjukan pukul 9 pagi, Han tidak ingin mengganggu waktu libur Lisa, ini hari minggu mungkin saja gadis itu masih berbaring diranjang kesayangannya atau sedang minum teh bersama keluarganya, Han memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Kemarin malam pria itu belum memejamkan kedua matanya, setelah urusannya dengan Tuan Park selesai Han langsung memilih untuk mengambil penerbang dini hari, dia segera merapikan semua barang miliknya dan bergegas ke bandara, didalam pesawat pun dia tidak bisa memejamkan matanya karena perjalanan dari jepang ke korea hanya memakan dua jam saja, saat sampai di bandara dia langsung menuju rumahnya dan mengobrol dengan sang Ayah, detik berikutnya dia terlelap dan tertidur.
******
Lisa, gadis itu sedang duduk dibangku sambil menatap kosong kearah taman bermain yang tidak jauh dari rumah sakit, entah kenapa Lisa merasa jika hari ini sangat berbeda dari biasanya, tangannya terulur untuk menyentuh kalung yang menjadi benda tidak pernah lepas darinya, Lisa merasa jika Han ada disini namun pria itu tidak mau menemuinya.
Pria itu, jika Lisa tidak lebih dahulu menghubunginya maka Han tidak akan menghubunginya, perasaan buruk mulai memenuhi seisi hatinya dan membuat Lisa diliputi dengan rasa yang gelisah tidak ada habisnya, menjalani hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah apa lagi diusia Lisa yang masih muda, dimana usia itu lebih senang bertemu dengan kekasih daripada hanya saling memberikan kabar dan bertatap muka di layar ponselnya.
Udara semakin dingin, tapi tidak membuat Lisa ingin melangkah keluar dari taman, Lisa masih ingin merenungkan semua ini, memang hubungan ini berjalan dengan baik namun Lisa juga takut akan kehilangan Han, Lisa takut jika dia terlalu dalam mencintai pria itu hingga saat Han meninggalkannya mungkin Lisa tidak akan sanggup untuk mencintai pria lain.
“kenapa sendiri disini?” ucap pria yang langsung memberikan syal pemiliknya kepada Lisa.
Seorang pria menghampiri Lisa dan memilih untuk duduk disamping gadis itu, dari pakaiannya pria ini sepertinya bukan orang biasa, mengingat jas yang dikenakan sangat bagus, dan syal yang dia berikan pada Lisa juga sangat berbeda dari syal biasanya.
“maaf aku tidak bisa menerima syal anda Tuan”
Lisa menyerahkan syal itu kembali, dengan sedih pria itu menerima kembali syalnya, dia menatap Lisa, gadis yang ditemui di bus.
“Lisa, kamu tidak mengingatku?” pria itu bertanya.
Lisa langsung menatap pria yang ada disamping dia mencoba mengingat wajah pria di sampingnya, Lisa langsung teringat pada kejadian didalam bus.
“Ka--Kau-- Pria yang menolongku,kan? Bagaimana bisa kamu tahu namaku?”
“kamu hanya mengingat itu saja?”
“kita hanya bertemu satu kali saat di bus dan ini yang kedua kalinya, maaf seperti anda salah lihat Tuan, aku harus kembali”
“Lisa tunggu!”
Pria itu menahan pergelangan tangan Lisa, dia masih ingin berbicara lama dengan Lisa, gadis yang sudah lama dia cintai sejak SMA.
“Lisa, ini aku Karan, pria culun dengan kacamata besar yang pernah kamu tolong dari anak-anak yang membully ku saat SMA”
“Karan?”
“Ya, Lisa ini aku, mungkin sekarang aku sangat berbeda dengan diriku yang dulu”
“kau, pria yang selalu membawa buku dan juga kacamata besar itu? Karan, kau berubah sekali, kamu sedikit tampan”
Lisa memilih untuk duduk kembali kebangku, dia menatap heran pada teman masa SMA yang begitu berubah, hampir saja Lisa melupakannya jika Lisa tidak melihat tanda lahir di tangan Karan yang tidak terlalu besar, Tanda lahir itu terletak di jari jempolnya.
“sekarang kamu sudah mengingatku? Aku baru saja kembali dari inggris dan aku juga kesini bersama mantan kekasih Sona”
“mantannya Sona? Bukankah kau dulu dengannya sangat tidak akur dan kenapa bisa bersama?”
“Kita Kuliah di universitas yang sama di inggris bahkan jurusan kita sama, lambat laut akhirnya kita menjadi teman”
“kamu ingin bertemu dengan Sona? Ibunya sedang dirawat dirumah sakit yang tidak jauh dari disini”
“baiklah, Lisa baiklah, tubuhmu harus tetap hangat”
Karan menglingkarkan syal itu, dan Lisa tidak menolaknya, mereka berdua berjalan bersama menuju rumah sakit sambil berbincang-bincang, mengingat masa lalu mereka yang sudah hampir terlupa-kan.
__ADS_1