![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Setelah melewati malam yang indah dengan suasana malam romantis seperti pasangan yang baru menikah. Semua itu berjalan dengan indah seperti cerita dongeng malam.
Sona atau Kevin, keduanya kelelahan dalam gelapnya malam dan dingin udara, mau mereka sering melakukan hubungan intim tapi untuk kali ini bisa membuat keduanya kelelahan hingga melewatkan makan malam yang sudah direncanakan.
Keduanya bangun secara bersama ketika tubuh telanjang saling bersembunyi di selimut tebal, Sona dan Kevin hanya saling menatap diatas bantal yang mereka gunakan untuk bersandar, mungkin semua ini tidak perlu satu kalimat untuk menyuarakan isi setiap perasaan masing-masing.
Sona mengerti kenapa Kevin begitu menghargai setiap keputusan dalam hidupnya karena tidak semua proses bisa dilakukan sendiri, butuh bantuan orang lain untuk mencapai tujuan tersebut, Sona menunjukkan senyuman manisnya ketika tangannya menyentuh wajah Kevin, dia tidak mempedulikan dengan cuaca yang begitu dingin di luar dan ruangan kamar yang begitu berantakan.
Selama menikah Sona tidak pernah begitu memperhatikan wajah Kevin dengan baik, dari jarak yang dekat ini wanita itu bisa melihat lingkaran hitam dibawah kelopak mata Kevin menjelaskan semua kondisi pria itu, Sona menyentuh area wajah yang bisa dia sentuh mulai dari lingkaran hitam itu, lalu pipi Kevin yang mulai ditumbuhi dulu dan hidung mancung yang terus membuat Sona iri yang mengambilnya.
“kamu menginginkan suatu? Kamu terlihat sangat manja sejak malam” ucap Kevin, dia menahan tangan Sona di wajahnya dan mencium telapak tangan sang istri sambil menatapnya.
Kevin antara senang dan juga bingung, dia tidak bisa melepaskan masalah Yoona begitu saja dan tidak bisa membiarkan honeymoon mereka hancur begitu saja, saat sulit bagi Kevin untuk meyakini Sona jika wanita itu layak mencoba menjadi seorang ibu walau usianya rentang akan ancaman saat mengandung maupun melahirkan nanti, tapi tanpa Kevin dugaan dalam waktu cepat wanita itu menyetujui permintaan begitu saja dan siap untuk menerima resiko apapun nantinya.
Sona menggelengkan kepalanya, dia masih ingin menyentuh wajah Kevin lebih lama tapi pria itu malah menahannya, “haruskah aku katakan jika aku tidak suka saat kamu mulai membiarkan bulu itu tumbuh?”
“kamu tidak suka? Padahal aku berniat untuk membuatnya menjadi lebih tebal dan tumbuh”
“Tidak! Saat kita berciuman itu terasa seperti menusukku! Jadi lebih seringlah bercukur, kamu mengerti sayang?”
Kevin mengangguk, ia menarik tubuh Sona untuk menepis jarak diantara mereka, membiarkan Sona menggunakan tangannya sebagai tempat bersandar, dan hal selanjutnya adalah kesukaan Kevin mendaratkan kecupan di kening Sona.
“kamu tidak bermaksud untuk menyuruhku tidur lagi?” tanya Sona, dia mengangkatkan kenapa untuk menatap Kevin yang seperti memang masih ingin tidur sangat terlihat jika Kevin beberapa kali mencoba memejamkan kedua matanya dan menahan dirinya untuk tidak menguap.
“hm.. Aku memang masih ingin tidur, tadi malam aku tidak bisa tidur dengan baik” ucap Kevin, suara begitu tenang dan sangat lembut membuat Sona tidak lagi mengajukan pertanyaan untuk sang suami.
Setelah menunggu nafas Kevin yang terdengar teratur dan memastikan jika pria itu benar-benar tertidur, barulah Sona membuka kedua matanya, dia tidak bisa tidur kembali seperti Kevin jadi wanita itu memutuskan untuk membiarkan Kevin beristirahat lagi untuk beberapa jama karena memang mereka belum ada rencana untuk langsung pergi ke suatu tempat, mereka baru saja tiba dan harus lebih banyak mengisi energi dan mungkin mencoba beradaptasi disini.
Sona menarik sedikit selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak ada satu benang sehelai-pun disana, sebelum turun dari ranjang Sona mendekati wajah Kevin secara hati-hati, Sona sangat menyukai menatap wajah Kevin dengan cara diam-diam seperti ini, setelah lima detik puasa menatap wajah sang suami, Sona memberikan satu kecupan pada kening Kevin dan juga bibir seksi itu.
Dengan kain putih yang cukup lebar, Sona melangkah meninggalkan kamar mereka dengan kain yang berfungsi menutupi tubuhnya, dia harus membersihkan dirinya dari semua kegiatan malam mereka yang begitu bergairah, jadi dengan air hangat adalah salah satu cara untuk merilekskan tubuh dan membantu menghilangkan rasa pegal di tubuh. Dengan bathup yang sudah diisi dengan air hangat dan lilin terapi yang begitu merilekskan suasana, Sona merendamkan tubuhnya disana hingga tidak sadar jika dia tertidur di dalam bathup.
“Tidak!!!” teriak Sona, hanya memejamkan mata selama 15 menit tiba-tiba saja mimpi buruk itu kembali mendatangi Sona bagaikan kilatan petir saat terjadi hujan, wanita mencoba mengatur nafasnya dan juga tubuhnya yang gemetar hebat, dia pikir mimpi itu tidak akan lagi mendatangi dirinya setelah Sona mengabaikan segalanya namun apa setiap kali Sona memikirkan Kevin mimpi itu selalu datang bagaikan sebuah petunjuk atau sebaliknya sebuah ancaman entah itu dari siapa.
Dengan air yang ikut bergerak karena Sona memutuskan untuk menyudahi acara berendamnya, kini perasaan khawatir dan cemas menjadi satu di bawah shower yang mengaliri air ke tubuh Sona, dia mencoba untuk berpikir jika semua itu tidak akan terjadi karena Sona yakin itu bukan hal yang bisa dikatakan nyata, mungkin ini efek karena terlalu sering menonton film barat dan juga lebih sering berhadapan dengan para pembunuh di persidangan membuat Sona yakin itu hanya mimpi bisa.
Namun ada beberapa orang percaya mimpi bisa menjadi pertanda, dan ada beberapa menganggapnya itu akan menjadi sebuah peristiwa baik.
Jadi Sona berada di tim tidak percaya itu, dia hidup di abad 21 dan kemajuan akan teknologi tidak mungkin semua hal misterius masih ada hanya dengan melihat dalam mimpi, Sona juga percaya jika di belahan dunia ini pasti ada hal yang tidak bisa dijelaskan oleh sains.
“Sona? Kamu didalam? Apa terjadi sesuatu?”
“Sona? Sona?”
“katakan sesuatu?” panggil Kevin, dia begitu panik ketika teriakkan Sona terdengar hingga membangunkan dirinya, dengan cepat Kevin terus menggedor-gedor pintu bathroom sangat kencang. “Sona?”
“Ya, aku baik tadi ada binatang didalam sekarang aku sudah menghilangkanya, maaf setelah mengganggumu” ucap Sona, dia tidak ingin membuka pintu itu jadi dia memutuskan tetap berada dibawah shower.
“kamu tidak berbohong? Aku tahu mana teriakkan melihat sesuatu, mana teriakkan karena perasaan takut”
“aku tidak berbohong”
“kalau begitu biarkan aku masuk”
“tidak! Aku lelah Kevin biarkan aku berjalan dengan baik hari ini!”
Kevin sedikit tertawa, dia tahu jika dirinya tidak akan mungkin sekedar bergabung ikut mandi tapi mungkin Kevin akan melakukan hal lain.
__ADS_1
Setelah memastikan jika Kevin benar-benar pergi, barulah Sona menjatuhkan tubuhnya di lantai dengan perasaan benar-benar khawatir dan takut, ini sudah kedua kalinya dia bermimpi tentang Kevin yang ditembak oleh seseorang saat mereka sedang bersama, mimpi itu terasa begitu nyata bahkan Sona sampai hafal dengan suara tembakkan itu.
“aku harap ini bukan sesuatu yang bisa dikatakan serius”
*****
Hari pertama di Swiss, sesuai dengan rencana di ‘memories note’ Sona ingin berkunjung ke tempat bersejarah di negara putih ini.
“aku pikir kita akan bermain sky atau mengunjungi beberapa restoran” ucap Kevin, dia bukanlah orang yang terlalu menyukai kunjungi ke sebuah bangunan bersejarah ketika berada di luar negeri, menurut Kevin dia lebih suka mengunjungi toko buku jika ingin mengetahui tentang sejarah.
“Kamu tidak tahu jika, Chateau De Chillon, Tempat ini merupakan salah satu bangunan bersejarah di Swiss yang menawarkan pemandangan yang menyenangkan dan juga indah, kita bisa melihat kota Swiss dari atas saja” ucap Sona, dia menunjuk ke arah menara yang juga berdekatan disampai museum ‘Chateau De Chillon’
Walaupun Kevin tidak suka dengan hal bersejarah, tapi jika Sona sudah ingin maka hal yang tidak dia suka akan menjadi dia sukai, dengan tangan yang tertutup sarung tangan Kevin menggendong Sona untuk masuk ke dalam museum setelah memesan tiket.
“aku masih penasaran kenapa kamu sangat ingin pergi ke Swiss sebagai tempat honeymoon kita, padahal kebanyakan wanita ingin berkunjung ke paris, london, bahkan sekarang Malta menjadi tempat rekomendasi untuk pasangan yang baru menikah” ucap Kevin, dia memberikan segelas kopi yang sempat dibeli pada Sona.
“aku ingin berbeda dari yang lain, banyak sekali tempat yang ingin aku ketahui disini”
“apa kamu pernah kesini dengan mantanmu?”
Sona yang sedang melihat-lihat benda-benda di hadapan langsung menengok ke arah Kevin sambil menaikan satu alisnya, “ini bukan tentang kenangan diriku dengan masa lalu tapi aku ingin merasa langsung dari kisah ibuku ketika bertemu dengan ayahku disini”
“ayo kita berkeliling? Aku yakin kamu butuh penerjemah bukan?” ucap Kevin, dia mengulurkan tangan pada Sona, jika alasannya karena Sona ingin melihat kenangan kedua orang tuanya maka Kevin akan dengam senang hati memperkenalkan kenangan itu dengan baik pada Sona.
“penerjemah gratis?”
“tidak, semua ini tidak ada yang gratis sayang, tapi untukmu hanya perlu memberiku satu ciuman, bukan mungkin 10 kali”
Dengan malas Sona menarik tangan Kevin untuk segera mengakhiri ucapannya yang menyebalkan, hari ini satu kenangan akan tercetak dalam ‘memories note’ dan akan menjadi cerita tersendiri dalam versi yang mungkin bisa sama atau ada tambahan di dalamnya.
Seminggu berlalu begitu saja …
Pria itu juga tidak bisa fokus pada honeymoon mereka, dan hampir meninggalkan kegiatan yang dia lakukan dengan Sona ketika berkunjung di berbagai tempat, Kevin hanya takut jika Yoona akan menjadi ancaman untuk dirinya dan mungkin bisa menjadi orang terdekatnya, apakah Sona tidak punya sangkut pautnya dengan masalah grup Jung.
Sejak lama hingga menjelang pagi Kevin tidak bisa diam atau sekedar memejamkan kedua matanya untuk beberapa jam, dia mencoba mengingat apa yang terjadi di jepang saat dirinya dengan Yoona, tapi tetap saja Kevin merasa jika dia tidak melakukan kesalahan pada pertemuan dengan Tuan Min dan juga terhadap Yoona, dia memberikan segala hal yang wanita itu butuhkan, mereka bahkan tinggal berpisah lalu apa yang menjadi masalahnya?
Menghilangnya Yoona dengan segala kecurigaan yang Kevin pikirkan tidak membuktikan sebuah hasil yang mengatakan itu benar, jika dia hanya ingin mengundurkan diri, haruskan wanita itu melakukan tindakan sampai menghapus semua sejaknya?
Dengan gelisah Kevin terus berjalan tak tentu arah di depan jendela, tangan dan tubuhnya terus bergerak tidak karuan, sesekali dia akan mengacak-acak rambutnya dengan frustasi ketika pikiran buntu dan bingung, saat ini Tuan Min dan perusahaan sangat sulit untuk dihubungi sama seperti Yoona.
Apa hilangnya Yoona berkaitan dengan Grup Min?
Apakah Yoona mata-mata yang dikirim untuk mengambil arsip berharga Kevin?
Atau ada yang mencoba memeras dirinya melalui Yoona?
“apa yang kamu pikirkan?” tanya Sona, wanita itu memeluk tubuh Kevin dengan selimut yang sebatas menutupi tubuhnya tanpa satu benang pun disana, dia melingkar tangan mungilnya pada dada bidang Kevin. Menempelkan tubuhnya dengan tubuh Kevin yang sama seperti dirinya namun pria itu sudah memakai celana.
“bukan hal yang penting” ucapnya, pria itu tak langsung membalik tubuhnya seperti biasa, dia malah seperti memang menghindari Sona untuk bertatapan langsung.
“jika bukan masalah penting, kenapa kamu terlihat begitu khawatir? Kamu bahkan seperti tidak tidur semalam?”
“Sona ...” dengan terpaksa Kevin membalik tubuhnya, dia ingin Sona diam untuk kali dan tidak ikut campur dalam masalahnya, karena takut itu menjadi sebuah kesalahpahaman baginya.
“Kevin! Aku tidak suka kamu yang menco--”
Dalam hitungan detik saja, Kevin sudah mengambil tindakan dengan menutup mulut Sona dengan ciuman yang kasar hingga membuat wanita itu merintih kesakitan, Kevin tidak memperdulikan Sona yang berontak dengan terus mendorong-dorong dada bidangnya.
__ADS_1
“Kevin… Hmph” tidak ada cela bagi Sona untuk mengatakan sesuatu untuk menghentikan Kevin melakukan hal itu, ini bukan Kevin yang Sona kenal dia tidak pernah kasar padanya dan mencoba membuat Sona mengalihkan pemikirannya.
Seperti Kevin memang frustasi atau dia memang sedang tidak ingin memperdebatkan apapun dengan Sona hingga akhirnya memutuskan berbuat kasar pada Sona, dia mendorong tubuh Sona dengan kasar keranjang setelah melepaskan ciuman mereka yang membuat bibir Sona terluka.
Dengan rasa takut Sona terus melangkah mundur hingga tidak ada cela baginya untuk menghindari Kevin yang entah kenapa begitu membuat Sona takut, pria itu melangkah naik keranjang hingga menaik kaki Sona dengan paksa, dengan berakhir Sona yang berada dibawah kendali Kevin.
“tidak, kumohon Kevin, aku tidak mau!” ucap Sona, dia menghindari Kevin saat dia akan kembali menciumnya, dia tidak mengerti apapun namun kenapa Kevin harus semarah itu pada dirinya.
“tidak!! Hentikan!! Aku benci dirimu!!” teriak Sona, dia menangis saat Kevin ingin menyatukan dirinya dengan milik Kevin, Sona tidak mau jadi seorang ****** dia ingin melayani Kevin sebagai istri.
Dia menangis saat Kevin menggigit area lehernya dengan kasar, lalu saat Kevin ingin menciumnya kembali wanita itu memberikan tamparan keras di wajah Kevin hingga membuat pria itu berhenti memaksa Sona.
Sona memejamkan keduanya dengan sangat rapat, dia tidak berani menatap Kevin dengan sikap yang baru saja dia tunjukkan padanya, Sona benar-benar takut untuk menatap mata Kevin yang penuh kemarahan, namun itu hanya berlangsung beberapa detik, lalu Sona segera menjauh dari Kevin dengan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Don't Touch Me!!” Sona menepis tangan Kevin dengan kasar, dia benar-benar takut untuk berdekatan dengan Kevin walau dia saat ini adalah suami, masih dengan nafas yang terengah-engah Sona mencoba membiarkan dirinya tetap senang, dia menatap dengan tatapan kebencian.
“Sona … aku minta maaf”
Sona menggelengkan kepalanya saat Kevin mencoba mendekati dirinya, Kevin tidak tahu jika ini akan membuat hati Sona terluka dia hanya ingin mengalihkan bukan malah mempersulit mereka berdua, Kevin sadar jika itu salah namun sudah terlambat untuk membuat Sona percaya.
“Aku bukan barang untuk melampiaskan frustasi, aku memang istrimu tapi aku tidak suka dipaksa, apakah selama ini aku selalu menolak? Aku tidak pernah berpikir kau bisa sekejam itu” ucap Sona, dia menangis bukan karena dia takut tapi dia menangis atas tindakkan Kevin yang salah.
“Sona, ini begitu rumit untukku, aku takut akan kehilanganmu”
“aku pergi!”
Sona turun dari ranjang dengan cepat menuju bathroom, menutup pintu itu dengan rapat hingga tidak ada kesempatan bagi Kevin untuk masuk. Tak lama kemudian wanita itu keluar dengan koper di tangannya setelah mencoba terus membuat Kevin berhenti mendekatinya, dia menyeret koper itu sampai dirinya menemukan taksi.
“Sona, tidak dengarkan penjelasanku dulu”
“Sona!! Jangan tinggalkan aku!!” Kevin terus menahan tangan Sona hingga tidak sadar jika pergelangan tangan Sona terluka karena genggamannya yang begitu kuat.
Sebelum masuk ke dalam taksi, Sona menatap Kevin dan mencoba melepaskan tangannya “kita selesai! Jangan pernah menghubungiku lagi!”
“tidak! Sona aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku!! Sona ….” sudah terlambat bagi Kevin untuk mencegah Sona pergi. “Ah!!! Bodoh!!!”
Disaat Kevin begitu frustasi dengan segala guncangan tentang Grup Jung kini dengan bodohnya dia membuat satu cela untuk menambah lagi satu masalahnya, seharusnya Sona menjadi tempat bagi Kevin mencari solusi untuk masalah atau setidak tempat Kevin menyandar ketika dirinya terlalu lelah untuk masalahnya tapi apa? Tidak ada cela bagi Kevin untuk menghentikan Sona pergi.
Di Dalam taksi menuju bandara, Sona mencoba untuk tidak mengeluarkan suara tangisannya, dia menangis hingga membasahkan syal yang digunakan, Sona tidak tahu kenapa semua ini terjadi setelah banyak kenangan yang mulai tersimpan dalam hatinya, padahal semja berjalan dengan baik tanpa adanya masalah tapi kenapa Kevin bisa begitu kejam dengan melakukan pengalihan yang melukai harga dirinya Sona.
Selama perjalanan ke bandara tidak ada satu hal pun yang membuat Sona goyah akan keputusannya namun tidak ada satu panggilan masuk dalam ponsel Sona yang membutuhkan jika Kevin tidak peduli padanya, usia pernikahan mereka memang rentang akan sebuah pertengkaran apalagi jika sikap keegoisan lebih diutamakan daripada ikatan, Sona juga hanya gadis biasa pada umumnya yang tidak bisa langsung menghadapi masalah pasti wanita akan ada di pihak dalam menghindari sebuah pertengkaran berat.
Kevin kembali kerumah dengan kekacauan dalam dirinya, saat melangkah ke dalam semua barang berantakan akibat pertengkaran mereka, pandangan Kevin jatuh pada ‘memories note’ yang Sona tinggalkan, sebelum Kevin tahu jika Sona membawa sebuah album foto namun dia tidak pernah melihat isinya lagi setelah mereka sampai disini.
Dia duduk di sofa sambil membuka album foto, yang sudah di isi beberapa foto di dalamnya.
Dihalaman pertama dia melihat foto pernikahan mereka bersama dengan beberapa kalimat yang ditulis tangan oleh Sona.
“walau pernikahan ini terjadi karena perjodohan, tapi karena itulah aku menemukan kehidupan baru bersama dirinya, sekarang aku begitu mencintai hingga ingin menjadi istri yang baik untuknya dan ibu dari anak-anak kita”
Kevin kembali membuka halaman berikutnya, itu foto dimana mereka baru saja tiba di Swiss.
“hari pertama dimana aku tidak sabar ini segera memulai honeymoon, dimana kita bisa membuat kenangan bersama, sama seperti ibu dan ayah”
Foto selanjutnya adalah foto dimana mereka melihat kunang-kunang bersama di danau Geneva, dua hari yang lalu.
“saat melihat indahnya danau bersama dengan cahaya kunang-kunang, secara sekilas aku seperti berada dalam buku dongeng yang hidup bahagia bersama pangeran, ingin rasanya ingin terus berada dalam pelukan hangatnya dan ingin selalu berada disisi dengan masalah apapun”
__ADS_1
Kevin menangis, betapa bodohnya dia telah menghancurkan ketulusan dari Sona, padahal Kevin pernah berjanji akan membuat Sona bahagia pada mendiang ibu Sona namun sekarang dia malah membiarkan wanita itu terluka sendirian akibat kesalahannya