![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Seperti hari ini merupakan hari yang panjang bagi Sona, sepanjang hari kakinya hanya terus dipaksa untuk terdiri padahal wanita itu sedang memakai sepatu heels, dia menghela nafas panjang, akhirnya mobil dikendarai Kevin sampai di sebuah bangunan apartemen yang cukup mewah dan sangat bagus, mobil itu kembali melaju ke dalam tempat parkiran yang terletak dibawah apartemen, dengan sangat baik Kevin memarkirkan mobilnya.
Kevin, pria itu dengan sangat sopan membantu membuka pintu mobil untuk Sona, dia juga mengulurkan tangannya pada Sona agar sang gadis tidak ketakutan akan terlibat oleh gaun yang sangat panjang membuat Sona sulit untuk berjalan ke lift yang akan membawa mereka ke sebuah apartemen milik Kevin yang sudah sangat lama dibeli namun belum pernah ditempati.
Melihat sang istri kesulitan saat berjalan, membuat Kevin tidak punya pilihan selain menarik wanita itu dan dengan mudahnya dia menggendong Sona menuju lift yang kebetulan sudah terbuka untuk mereka, langsung saja kaki itu melangkah masuk dan menekan tombol dengan nomor 15 .
Sona, wanita itu terkejut saat Kevin yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya ke dalam pelukkan, mata Sona tertuju pada wajah tampan Kevin yang hanya menatap kearah depan, saat didalam lift saja pria itu masih setia menggendongnya tanpa sedikit pun ingin menurunkan Sona.
“itu… bisakah kamu menurunkanku? Kamu tidak perlu sampai seperti ini” ucap Sona,
Sebenarnya setelah meninggalkan rumah Kevin, kecanggungan mulai merasuki hati Sona, di dalam perjalanan yang tidak diketahui kemana tujuannya Sona hanya terdiam menunggu sampai pria itu yang memulai percakapan terlebih tapi kenyataan pria itu malah diam saja.
“tidak, aku masih mampu menggendongmu sampai menuju kamar kita” ucap Kevin, pria juga merasakan apa yang Sona rasakan sekarang kecanggungan dan kebingungannya membuat Kevin lebih banyak diam daripada berbicara.
Sampai akhirnya lift berhenti di lantai 15, lift pun terbuka dan Kevin segera melangkah mencari kamar miliknya yang bernomor 993, kemudian setelah menemukan kamarnya Kevin menurunkan Sona, kemudian dia mengeluarkan kartu identitasnya dan menunjukan pada layar sensor yang terdapat di sisi pintu.
Kevin melangkah lebih dahulu untuk membuka pintu apartemennya yang baru saja dia renovasi satu minggu yang lalu, apartemen ini cukup luas karena didalamnya ada dua ruang kamar, dapur, ruangan tamu yang cukup luas dan terdapat satu kolam berenang disana.
'apartemen ini cukup luas untuk ditinggali oleh dua orang, bahkan di balkon itu masih bisa menaruh kolam renang disana? Dan juga kenapa hanya ada dua kamar saja?' ucap Sona dalam hatinya, matanya tidak pernah melepaskan pandangan dari seisi ruangan apartemennya.
'oh astaga aku lupa jika ini adalah malam pertama kami! Aku bahkan tidak memiliki satu set pakaian yang akan aku pakai nantinya, mana mungkin aku terus memakai gaun ini sampai besok'
Dengan ragu-ragu Sona mendudukan dirinya di sofa yang masih sangat empuk seperti baru dibeli kemarin, dia memperhatikan Kevin yang sibuk menghubungi seseorang, tiba-tiba Sona merasa jika malam ini akan sangat canggung dan juga aneh. Ucapan dari teman-teman kuliahnya mulai meracuni pikirannya.
'aku benci dengan pemikiranku! Aku seharusnya tidak mendengarkan apa yang dikatakan mereka! Sekarang aku harus bagaimana? Aku takut … apakah akan sangat sakit?'
Kevin berjalan mendekati Sona sambil membuka dasi dan jas berwarna hitam itu, melihat itu rasanya keringat dingin mulai bermunculan dari keningnya, dengan tubuh yang gemetar Sona memeluk lututnya, matanya tidak mampu untuk menatap Kevin yang kini sudah ada dihadapannya.
“Sona, aku lupa memberitahumu jika ini adalah apartemen yang sudah lama aku beli, aku belum pernah menempatinya, dan juga disini hanya ada satu kamar dan satu ruangan lagi itu adalah ruang kerja dan sekaligus ruang perpustakaan” ucap Kevin, dia memilih untuk duduk disamping Sona yang tidak mau memandang ke arahnya.
“aku tidak masalah tidur di sofa ini” ucap Sona, dia menggesek posisinya sedikit, berdekatan dengan Kevin membuat kesehatan jantungnya tidak berjalan baik, dan entah kenapa ruangan ini terasa sangat panas dan membuat Sona ingin sekali berendam di bawah shower dengan air dingin.
“aku tidak bisa membiarkanmu tidur disofa, kamu istriku bukan orang lain” ucap Kevin.
Kesal dengan Sona yang terus menghindar darinya membuat Kevin menarik gadis itu, hingga akhirnya tatapan mereka bertemu membuat keduanya terdiam, namun detik berikutnya Sona memutuskan untuk menghindari Kevin lagi hingga tubuhnya terbentur dengan ujung Sofa.
“Sona ...”
Kevin kembali mendekati gadis itu lagi, hingga tidak ada tempat baginya untuk menggeser tempat duduknya, Kevin menarik dagu gadis itu untuk memaksanya menatap dirinya.
“kamu terus menghindariku? Apa yang membuatmu takut?” tanya Kevin.
“itu … tidak … hanya” ucap Sona yang terlihat sangat gugup hingga untuk berbicara saja dia sampai terbata-bata karena tatapan Kevin benar-benar membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali.
“apa yang ingin kamu katakan? Sona mukamu memerah, apa kamu sakit?” tanpa diduga pria itu langsung menyentuh kening Sona dan merasa jika suhu tubuhnya normal-normal saja.
Kemudian Kevin terdiam itu mengingat sesuatu, saat melihat gaun yang masih melekat ditubuh Sona membuat Kevin teringat satu hal 'malam pertama?', setelah itu, Kevin meringai kearah Sona, dan membuat sang gadis ketakutan hingga mencoba melepaskan dirinya.
“bukankah kamu harus mandi? Aku akan menyiapkan air panas untukmu” ucap Sona, dia menarik gaunnya hingga memperlihatkan kaki jenjangnya lalu melangkah ke arah pintu kamar yang sudah terbuka.
'dia sangat manis dan imut' ucap Kevin, saat sang gadis mencoba menghindarinya.
Tak lama kemudian suara bel membangunkan Kevin dari lamunannya, dia segera melangkah mendekati pintu dan membuka nya, di luar sudah ada asistennya yang membawakan pakaian yang tadi Kevin minta belikan.
“terimakasih, kamu bisa langsung kembali” ucap Kevin, dia segera menutup pintu apartemennya dan berjalan ke arah ruangan yang akan menjadi kamar miliknya dan Sona, 'ayolah apa yang sedang aku pikirkan!'
Kevin membuka satu persatu pakaiannya, lalu dia hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang hanya, dia meletakkan pakaian miliknya dan Sona di lemari. Dia hanya membeli beberapa pakaian yang layak untuk dipakai hari ini dan besok, karena mungkin besok sore mereka akan kerumah mereka masing-masing untuk mengambil barang milik mereka.
Sona yang sudah selesai menyiapkan air panas untuk Kevin segera melangkah keluar dari kamar mandi untuk memanggil Kevin, namun langkahnya terhenti saat melihat Kevin yang hanya memakai handuk. Betapa terkejutnya Sona melihat tubuh Kevin yang terekspos di hadapannya, namun Sona tidak mau menjadi wanita yang nakal karena berani menatap Kevin secara sembunyi-sembunyi, dia memutuskan untuk mendekati Kevin dengan tatapan mengarah ke arah lain.
“itu… aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi” ucap Sona.
“terimakasih”
Kevin segera melangkah ke kamar mandi, setelah itu hanya ada Sona yang membuang nafas dengan lega, setelah hari yang sangat melelahkan kenapa masih harus berhadapan dengan semua ini, ingin rasanya Sona melompat ke kolam renang yang terus menggodanya namun satu fakta yang tidak bisa dilakukan karena Sona tidak bisa berenang.
Dia berjalan ke sisi ranjang yang terdapat meja rias, dia harus melepaskan semua perhiasan yang melekat di tubuhnya dan juga dia harus mandi karena tubuhnya pasti penuh dengan keringat, satu persatu perhiasan itu terlepas dari tubuh Sona, hingga terakhir gaun yang belum dia lepas, dia mencari baju mandi yang seharusnya disediakan disini, akhirnya dia menemukannya di dalam lemari, langsung saja Sona mencoba membuka gaun yang sangat sulit untuk dibuka.
'Apa yang harus aku lakukan! Kenapa gaun ini saat sulit dibuka! Aku menyesal memilihnya!'
Tak lama kemudian pintu kamar mandi itu terbuka memperlihatkan tubuh Kevin yang masih terdapat tetesan air yang berasal dari rambutnya yang basah, dengan susah payah Sona menelan air liurnya untuk menghilangkan kehausannya yang datang tiba-tiba, tangan masih mencoba meraih resleting yang ada di belakang punggungnya.
Sona merasa jika tangannya bersentuhan dengan tangan yang terasa dingin, kemudian dia terpaksa membalik tubuhnya untuk melihat apa yang sedang pria itu lakukan. 'jangan bilang dia ingin membantuku membuka resletingnya, oh tidak! Aku malu untuk memperlihatkan tubuhku!'
Benar saja, resleting itu sudah terbuka berkat bantuan Kevin, dengan gugup Sona menahan gaun itu agar tidak jatuh dari tubuh namun seperti pria itu sudah melihat punggung mulusnya yang tidak memakai bra saat ini, lalu dengan cepat Sona mengambil baju mandi itu dan segera berlari ke arah kamar mandi.
Kevin hanya tersenyum melihat tingkah Sona membuat Kevin merasa jika dia menikahi seorang yang dibawah umur, dia segera mengambil pakaiannya dan mengenakannya.
Dua puluh lima menit kemudian ….
Sona keluar dari kamar mandi dengan tangan yang terus menghilang di dadanya, dia berjalan sangat pelan hingga tidak menimbulkan suara apapun, dia lupa untuk membawa pakaian ganti karena terlalu takut berhadapan dengan Kevin.
Setelah menutup lemari pakaian, baru saja Sona ingin kembali kekamar mandi tapi langkahnya terhenti saat dengan sengaja Kevin meletakkan kedua tangannya di sisi butuh Sona, dia menghilangkan jarak diantara keduanya.
“kamu membutuhkan sesuatu?” tanya Sona, dia mencoba menghilangkan kegugupannya.
“tidak”
“apakah, kamu ingin mengatakan sesuatu?”
“tidak juga”
“atau ingin mengambil pakaianmu?”
“tidak Sona”
__ADS_1
Kevin menarik pinggang Sona hingga kedua tubuh itu saling bersentuhan walau tertutupi oleh pakaian, nafas Kevin terdengar sangat berat ketika hembusannya menerpa wajah Sona.
“ini sudah malam, kamu harus istirahat lebih awal bukan? Dan bisakah lepaskan diriku, aku harus memakai pakaian ini”
“hanya sebentar saja, aku ingin memelukmu, malam ini aku tidak akan melakukan apapun jadi jangan menghindariku lagi” ucap Kevin.
Sona hanya diam, membiarkan pria itu memeluknya sesuka hatinya hingga rasanya kaki Sona mulai lemas, dia sedikit mendorong tubuh Kevin untuk segera melepaskannya.
“aku harus--”
“baiklah, kamu bisa pergi”
Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, kini Kevin dan Sona keduanya siap untuk menyebrang ke alam mimpi, dengan posisi keduanya yang paling berhadapan, dimana tangan Kevin sangat posesif memeluk tubuh mungil Sona, menatap gadis itu yang mencoba memejamkan kedua matanya.
“kamu tidak bisa tidur?” tanya Sona
“ya, aku tidak bisa tidur, apakah kamu juga seperti itu?” ucap Kevin
“tidak, biasanya aku mudah tertidur, hanya malam ini saja aku sulit untuk tidur”
“mungkin kita harus kelelahan dulu agar bisa tertidur”
“kamu bilang--”
“aku bercanda, sudahlah pejamkan saja kedua matamu”
Sona menuruti perintah Kevin, hingga beberapa menit berlalu keduanya tertidur dengan lampu yang tidak terlalu terang, masih dengan posisi yang sama dimana kedua tangan itu masih memeluk tubuh Sona dan selimut yang menutupi sebagian tubuh mereka.
Keesokan pagi ….
Hari demi hari telah berlalu begitu saja seiring berjalanan musim, butiran salju yang turun mulai berkurang menutupi kota yang tidak pernah kenal akan kesibukan aktivitas manusia, tapi tetap saja setebal apapun salju sinar matahari masih bisa menebusnya.
Di Sebuah apartemen yang redup akan cahaya hanya menampakkan kedua manusia yang masih menikmati indahnya tidur di ranjang, mereka saling berpelukan tanpa merasa malu pada sinar matahari yang sudah berani masuk kedalam cela-cela jendela kamar, suara kicauan burung pun tidak mengusik mereka, hanya suara dering alarm yang mampu membangunkan keduanya.
Hingga akhirnya salah satu dari mereka mulai terusik oleh berisiknya alarm, mencari kemana ponsel itu berada, lalu mematikan dengan sangat kesal, Ya Kevin sampai membanting ponsel itu karena selama ini dia tidak pernah dibangunkan oleh alarm ponsel biasanya sang ibulah yang membangunkannya.
Namun kekesalan itu hilang begitu saja saat melihat wajah sang istri yang masih tertidur lelap. Tanpa sadar Kevin tersenyum saat melihat Sona yang ada di hadapannya, dia juga menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya, pemandangan yang selama ini tidak pernah Kevin pikirkan sebelumnya.
Cahaya matahari terus menerangi kamar milik Kevin hingga cahaya itu mengenai wajah sang istri yang mulai terusik karena cahaya, melihat itu Kevin menutupinya dengan tangan, membiarkan Sona tidur lebih lama lagi.
Hingga tidak lama Sona membuka kedua matanya, pandangan yang pertama kali dia adalah Kevin yang tersenyum padanya. Dan ada sedikit keterkejutan saat melihat Kevin yang ada di hadapannya.
'kapan pria itu melepaskan pakaiannya? Ini sangat tidak baik untuk dilihat saat pagi hari' pertanyaan itu muncul ketika tatapan teralihkan ke tubuh atletis Kevin, dada yang bidang dan perut kotak-kotaknya.
“morning” ucap Kevin, pria itu tahu jika saat ini Sona sangat gugup karena dirinya yang tidak memakai pakaian, pria itu sangat suka menggoda Sona yang masih belum terbiasa dengan semua ini, membuat Kevin berpikir terus jika dirinya menikahi gadis di bawah umur.
“kamu sudah bangun dari tadi?” tanya Sona, dia sedikit menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Kevin
“Ya”
“aku tidak ingin mengusik tidurmu”
“maaf, seharusnya aku bangun lebih awal, kamu pasti akan terlambat berangkat ke kantor, aku akan-- ”
Saat Sona ingin menyingkirkan selimut dan beranjak dari ranjangnya, namun tangannya ditarik oleh Kevin yang menariknya kembali hingga membuat tubuh Sona terjatuh ke ranjang dengan posisi dia yang memunggungi Kevin dan pria itu yang memeluknya dari belakang.
“Sona, aku menikahimu bukan menjadikanmu pembantu tapi untuk mengisi kekuranganku” ucap Kevin, suara itu terdengar sangat berat namun sangat jelas ditelinga Sona.
“aku hanya melakukan tugas sebagai istrimu itu saja” ucap Sona, tubuh panas Kevin terasa begitu dia menarik Sona untuk lebih leluasa di peluk.
“aku tahu, tapi selagi aku masih bisa melakukannya sendiri, kenapa harus semua yang melakukannya dirimu, aku tidak mau menyusahkan dirimu dan membuatmu terbebani”
Kevin begitu menikmati Sona yang ada di pelukannya, entah sejak kapan aroma tubuh Sona membuatnya tidak bisa jauh dari gadis itu, dia bahkan sampai menempelkan hidungnya di perpotongan leher Sona.
“aku-- ”
Sona merasa gugup dengan apa yang sedang Kevin lakukan, hingga membuatnya tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba saja Kevin sudah ada diatas tubuh yang langsung mencium bibirnya, Sona merasa jika Kevin sedang menahan sesuatu hingga rasanya membuat Sona tidak mampu untuk melawannya, ciuman yang cukup panjang yang menguras oksigen di paru-paru Sona, setelah itu Kevin melepaskan tautan bibir mereka dan menatap Sona yang wajah sudah memerah.
'Shit!!, kenapa sangat sulit untuk mengendalikan diriku, aku tidak mau melakukan itu jika Sona tidak menginginkannya' Kemudian Kevin bangkit dari posisi dan berjalan ke arah kamar mandi, dia perlu menjernihkan kembali pikirannya.
Ada rasa kecewa yang melintas di hati Sona saat melihat Kevin yang pergi begitu saja, Sona segera keluar dari kamar itu lalu berjalan ke arah dapur untuk membuat sarapan yang jarang dilakukan dirumah, Sona tampak bingung untuk membuat sarapan apa untuk Kevin.
Setelah selesai membersihkan dirinya Kevin memakai pakaian miliknya, hari ini dia tidak ingin berangkat ke kantor, rasanya Kevin tidak ingin jauh dari Sona dan selalu ingin menarik gadis itu ke dalam pelukannya, seperti saat ini ketika Kevin melihat Sona yang sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya, dia melangkah mendekati Sona dan langsung memeluk tubuh mungil itu.
“Kevin, aku sedang membuat sarapan, bisakah melepaskanku”
“magnet apa yang ada di tubuhmu hingga membuatku sulit untuk menjauh darimu” ucap Kevin, dia melingkarkan tangan di perut Sona dan meletakkan dagunya di punggung Sona.
“apa yang kamu bicarakan, Kevin aku sulit untuk memasak telur ini”
“hentikan saja jika kamu tidak bisa melakukannya!”
“kamu ini kenapa--”
Saat Sona membalik tubuhnya tiba-tiba Kevin langsung mengecup bibirnya.
“duduklah, biar aku yang membuat sarapan untukmu”
Kevin menarik kursi lalu mendorong tubuh Sona untuk duduk, dan dirinya mulai sibuk membuat sarapan untuk dirinya dan Sona.
Melihat sang suami yang serba bisa membuat Sona merasa jika dirinya tidak pantas untuk sosok Kevin yang begitu sempurna, Sona bahkan tidak bisa memasak, untuk sekedar membuat Coffe saja dia tidak bisa, benar-benar tidak berguna, selama hidupnya Sona disibuk dengan mengejar cita-citanya hingga mengabaikan semua yang akan dilakukan jika menikah nanti.
“ini makanlah” ucap Kevin, dia meletakkan nasi goreng didepan Sona yang tertunduk.
“terimakasih”
__ADS_1
Kevin juga ikut bergabung dengan Sona, dia menarik kursi kosong yang ada di samping kanan Sona, lalu menikmati nasi goreng yang tadi dia buat, jauh berbeda dengan Sona yang hanya menatap piring dihadapannya.
“apa kamu tidak suka?”
“aku hanya sedang berfikir jika diriku memang tidak berguna, aku tidak bisa melakukan apapun dengan baik, Kevin… kamu masih bisa mencari gadis lain yang bisa menjadi istri yang terbaik, aku tidak akan melarangmu”
Tiba-tiba selera makan Kevin menjadi menghilang setelah mendengar apa yang keluar dari mulut Sona, ingin rasanya dia menutup mulut itu untuk bicara lagi.
“apa yang sedang kamu bicara? Mencari istri yang terbaik? Sona, bisakah kamu menjauhi pikiranmu yang seperti itu, harus kuingatkan berapa kali jika aku menikahimu bukan menjadikanmu pembantu!”
“tapi--”
“tapi apa? Kamu terlalu banyak membaca novel dengan pemeran pria yang brengsek dan wanita yang tidak dapat melawan, apa aku juga harus seperti itu?”
“Sona, aku tidak akan menuntut apapun darimu dan tolong jangan berfikir jika kamu tidak berguna, kamu masih bisa menghangatkan ranjangku”
“Kau! Mesum! Jadi kamu menikahiku hanya untuk menghangat ranjangmu? Akan aku lakukan setiap malam dengan membakar ranjangmu”
“kamu sangat lucu ketika marah, jika aku menikahimu karna ingin meniduri, aku rasa banyak wanita diluar sana yang mengantriku tanpa perlu aku pintah, itu semua karna aku mencintaimu, atas dasar cinta aku berani menarikmu ke dalam pernikahan, jika karna nafsu aku pasti sudah membuatmu tidak bisa berjalan kemarin”
“tapi aku tidak mencintaimu”
“bukan tidak tapi kamu belum yakin untuk mencintaiku Sona, aku akan memperkenalkan duniaku padamu hingga kamu bisa yakin mencintaiku”
Sona dan Kevin, keduanya melanjutkan sarapan pagi mereka dengan nasi goreng buatan Kevin, ada perasaan lega saat Sona sudah mulai terbuka tentang apa yang menjadi beban pikiranmu selama ini, dia mencoba untuk mencintai Kevin, mencoba membuka hati untuk pria itu.
“hari ini kamu tidak bekerja?”
“tidak, hari ini seperti kita perlu mengisi rumah ini dengan beberapa barang, dan juga kulkas itu, bukankah kamu juga harus mengambil beberapa barang milikmu”
“apakah aku boleh kembali ke rumahku?”
“Ya, nanti sore kita akan mengambil barang-barang milikmu dan juga milikku”
“terimakasih” Sona tersenyum senang, dia merasa jika menikah dengan Kevin adalah keputusan yang terbaik dalam hidupnya daripada memilih pergi bersama pria lain, Kevin seperti pria yang selama ini Sona harapkan, dia baik, pengertian, dewasa dan sangat terbuka pada Sona, tidak seharusnya dia mengabaikan pria baik seperti Kevin. Benar kata Kevin, dia terlalu banyak membaca novel dengan pemeran pria brengsek yang selalu mendapatkan wanita baik dan hidup bahagia.
Hingga akhirnya mereka berdua bergegas pergi ke Mall, membeli semua kebutuhan mereka, pernikahan mereka yang masih sangat baru rasa melakukan apapun akan terasa indah dan menyenangkan, seperti saat mereka berbelanja makanan, memilih beberapa barang dan juga menghabiskan waktu lebih lama diluar.
Hari sudah menunjukan pukul lima sore, kini Sona sedang berada dirumahnya untuk memilih beberapa pakaian untuk dia pindahkan ke apartemen Kevin, hingga tidak menyadari jika seorang pria berjaket hitam masuk kedalam kamarnya.
“kamu terlihat bahagia”
“siapa kamu?”
“wah … baru menikah sudah melupakan mantan kekasihmu”
Samuel berjalan mendekati Sona yang berada di ujung kamarnya, suatu kesempatan untuk membuat wanita itu tidak bisa kabur darinya, dia berjalan terus hingga Sona tidak bisa bergerak untuk melarikan dirinya.
“samuel! Apa yang kamu lakukan disini?”
“menemui, apa lagi yang aku lakukan”
“apa kau gila? Kamu menemui seorang wanita yang sudah menikah!”
“Ya, aku memang gila Sona, itu semua karna dirimu! Aku masih mencintaimu tapi kenapa kamu memilih meninggalkanku Sona?”
Dengan sangat kasar dia menarik dagu Sona untuk menatapnya, membuat sang gadis merintih kesakitan.
“Samuel lepaskan!”
“haruskah kita melakukan yang belum kalian lakukan, agar pria itu menyesal karena sudah menerima bekasan”
Lagi-lagi Samuel menarik kasar Sona hingga membuat gadis itu tergeletak di ranjang miliknya.
“Tidak! Tidak! Samuel jangan!”
Sona sebisa mungkin mendorong pria itu hingga terjatuh dan dia segera berlari menjauh. 'Kevin kapan akan kembali?'
“Sona, apa kamu didalam?”
Suara ketukan yang berasal dari pintu menghentikan langkah Samuel untuk mendekati Sona, dia kembali merapikan pakaian dan melompat dari jendela kamar Sona.
Rasanya pertahanan tubuh Sona sudah tidak bisa menahannya hingga dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai, memeluk lututnya, tak lama pintu itu terpaksa dibuka menunjukan sosok Kevin yang segera mendekati Sona yang terlihat sangat ketakutan.
“Sona, apa yang terjadi” ucap Kevin, dia menarik Sona untuk kedalam pelukannya yang langsung disambut oleh sang gadis dengan sangat erat.
“Kevin, aku takut”
“tenanglah aku disini”
Kevin terus memeluk tubuh, membiarkan sang gadis untuk tenang lebih dahulu, dan baru dia akan bertanya.
“bisakah kita langsung kembali” ucap Sona.
“baiklah”
Kevin membawa Sona keluar kamarnya, di jalan menuju mobil mereka saja Sona tidak mau melepaskan tangannya yang seakan-akan jika dirinya jauh sesuatu akan terjadi pada dirinya.
“tenanglah aku disini Sona”
Setelah memastikan jika barang-barang milik Sona sudah masuk kedalam mobil box, baru Kevin menyalakan mesin mobilnya dan mengendarainya kembali ke apartemen. Sesekali Kevin akan melirik pada Sona yang terlihat sudah mulai merasa tenang, Kevin ingin sekali bertanya apa yang terjadi tapi dia takut Sona akan mengingat apa yang terjadi.
Kevin mengambil tangan Sona dan menggenggam tangan itu, mencoba mengalihkan perhatiannya.
“tak apa, aku tidak akan menanyakan apapun”
__ADS_1
Sona, dia masih mencoba menyangkal apa yang terjadi tapi tetap saja bayangan kejadian dimana dirinya hampir kehilangan harga dirinya, jika Kevin saat itu tidak datang, mungkin Sona akan menjadi wanita kotor yang tidur dengan lelaki lain padahal statusnya sebagai istri oleh lain, menggenggam tangan Kevin membuat semua ketakutan menghilang secara perlahan, hingga tidak sadar jika Sona tertidur saat di perjalanan kembali pulang.