![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Satu minggu telah berlalu begitu saja …
Tidak terasa jika memang Han dan Lisa sudah tidak bertemu beberapa hari, duanya disibukkan dengan segala aktivitas yang tidak mau ditinggal oleh keduanya, komunikasi keduanya memang berjalan lancar, namun tidak seperti sebelum.
Jika ada waktu luang baru salah satu dari mereka membalas pesan yang jika dihitung satu hari hanya ada beberapa pesan dan tidak ada satu atau dua panggilan masuk.
Baik Han dan Lisa, kedua memang perlu untuk mengerti satu sama lainnya, mereka tidak akan memaksakan jika setiap hari mereka harus bertemu atau saling menatap wajah dalam layar ponselnya.
Hari-hari Lisa diisi dengan berbagai tugas yang membuatnya terbiasa akan aktivitas yang terasa berbeda saat dia hanya mempelajarinya lewat materi, kini Lisa mengerti kenapa seorang dokter Han bisa mengerti perasaan pasiennya karena harapan terakhir mereka adalah suatu kesembuhan yang harus diberi semangat oleh orang sekitar, itu alasan kenapa Han sangat menyemangati Lisa saat berjuang melawan penyakitnya.
Berbanding terbalik dengan Han yang kehidupannya berubah 180° dari pekerjaannya selama lima tahun ke belakang, hari-hari Han di isi dengan jadwal yang selalu diberitahu oleh asisten, tumpukan kertas dan email - email yang harus segera dia balas, belum lagi pertemuan dengan beberapa klien di luar kantor yang jaraknya tidak begitu dekat, apalagi jika tiba-tiba Han harus menghadiri rapat yang memang harus dihadiri oleh pemimpin perusahaan.
Beban hidup Han jauh lebih berat dari saat dirinya masih berstatus seorang dokter, Han benar-benar dibuat berpikir keras untuk menyelesaikan semua masalah yang tidak ada habisnya, saat di musim seperti ini perusahaan Han akan lebih sibuk dari musim lainnya, bukan hanya Han yang merasakan itu seluruh karyawan yang bekerja di grup Kim.
Semua hal itulah yang membuat Han sangat jarang untuk menyentuh ponsel tipisnya, semua rasa beban itu akan hilang saat Han melihat beberapa pesan dan foto yang Lisa berikan padanya, hanya senyuman Lisa yang mampu membuat Han mengambil langkah seberani ini dalam hidupnya.
Dengan sengaja Han mengunduh foto-foto Lisa dan menyimpannya di laptop yang sekarang menjadi temannya bukan lagi alat untuk mendengar detak jantung dan senter yang selalu ada di saku jas putihnya, Han membuang nafas berat, dia sampai memijat pangkal hidungnya mencoba menghapus segala ke stress dan bebannya.
“Tuan Muda Kim, akan ada rapat setelah makan siang”
Han hanya menatap asistennya, lalu dia menggerakkan tangannya memberi isyarat jika Han sudah mengerti dan mendengarnya, dia melihat pada jam tangan yang menunjukan pukul 11 siang, tiba-tiba Han bangkit dari posisinya, dia mengambil jas berwarna dark blue dan mengambil kunci mobil miliknya.
Dengan santai dia berjalan mendekati lift yang dibuat khusus untuk Han dan beberapa orang kepercayaannya, dia segera menekan tombol ruang garasi miliknya, sambil menunggu Han mencoba menghubungi Lisa.
Lisa : Halo?
Han : Hai Lisa, kamu sedang apa?
Lisa : aku sedang memeriksa daftar nama untuk pasienku, Ya seperti memastikan jika makan siang mereka sampai keruangan mereka.
Han : oke baiklah
Han mematikan ponselnya ketika lift terbuka, memperlihatkan jajaran mobil milik sang ayah yang diberikan untuk Han, sudah empat hari juga Han tidak pulang kerumah karena menurut Han kantor adalah tempat pelariannya dari ayahnya yang masih bersikeras mendesak Han untuk segera menikahi Lisa.
Dia memilih mobil hyundai, alasannya karena Han lebih terbiasa membawa mobil yang diproduksi hanya terbatas di belahan dunia ini, hidup sederhana yang Tuan Park ajarkan cukup membuat Han tidak gila akan harta dan kekuasaan yang saat ini ada di genggamannya sementara.
Han segera menyalakan mesin mobilnya, keluar begitu saja dari garasi mobil dan menyusuri jalanan kota Seoul yang tidak terlalu banyak kendaraan berlalu lalang di jalan, dia juga menyalakan radio untuk mengusir keheningan di dalam mobil, dan memasang GPS menuju rumah sakit tempat Lisa bekerja.
Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai di rumah sakit, mengingat tempat Lisa bekerja cukup jauh dari kantor Han, tanpa menunggu lama lagi Han kembali menghubungi Lisa.
Lisa : ada apa lagi Tuan Sibuk?
Han : rumah sakit yang cukup besar dan banyak juga dokter pria disini ternyata.
Lisa : kamu dimana?
Han : didepan rumah sakit
Lisa segera mematikan ponselnya, dia membuka pakaian pelindungnya dan menyisihkan jas putih, dia sedikit berlari ke arah lift yang sudah hampir tertutup.
Saat kaki Lisa sudah berada diluar rumah sakit, dia menatap tidak percaya pada pria yang sedang bersandar di depan sebuah mobil sambil memasukan salah satu tangannya di saku celana dan tersenyum padanya.
Lisa segera berlari mendekati Han, dan memeluk pria yang sudah tidak dia lihat selam satu minggu ini, rasanya begitu berat untuk mengatakan jika Lisa tidak sanggup untuk berjauhan dengan Han, seandainya semua bisa menjadi lebih mudah, namun tidak indah jika ingin mendapatkannya tanpa adanya usaha dan tantangan.
“aku merindukanmu” ucap Han, dengan senang hati pria itu menerima pelukan hangat Lisa.
“aku juga, bukan aku sangat merindukanmu Han”
Setelah puas memeluk pria berjas dark blue itu secara perlahan Lisa melepaskannya, dia menatap pria yang sangat gagah dan semakin tampan mungkin.
“makan siang bersama?” tanya Han
“Han, kamu jauh-jauh datang kesini untuk mengajakku makan siang? Romantis sekali”
“kamu suka? Aku akan kesini setiap hari untuk mengajakmu makan siang”
Siapa yang tidak senang jika sang kekasih akan selalu mengajaknya makan siang bersama, namun berbeda dengan Lisa, gadis itu menggelengkan kepalanya tidak suka.
“bukannya aku tidak mau Han, tapi--”
“aku tahu, kamu tidak ingin mengganggu pekerjaanku bukan?”
“Ya, cukup satu kali dalam seminggu”
“baiklah, kita akan makan siang dimana?” tanya Han, dia mengulurkan tangannya pada Lisa, bermaksud mengajak gadis itu untuk ikut dengannya kedalam mobil.
“aku ingin ke restoran italia”
Han hanya mengangguk, dia mencari lokasi restoran italia terdekat di GPS yang disediakan di dalam mobilnya, baru setelah itu memasang sabuk pengaman untuknya dan Lisa.
Detik berikutnya mobil Han sudah meninggalkan rumah sakit, Han mengemudi mengikuti arahan yang GPS tunjukan padanya, sambil sesekali melirik pada Lisa, ada yang berbeda dengan gadis itu.
“mengubah gaya rambutmu?”
“ini, sebenarnya selama aku dirumah sakit aku lebih sering mengepang rambutku hingga membuat rambutku sedikit berbeda dari biasanya, aku juga jarang merawat rambutku”
__ADS_1
“tidak, aku suka melihatnya, kamu terlihat lebih cantik ditambah dengan jas putih itu”
Lisa tertunduk malu saat mendengar perkataan Han yang membuatnya bahagia, dia menggenggam satu tangan Han yang tidak sedang menggenggam kemudi. “terimakasih”
“Ya, aku lupa bertanya, dokter disana cukup tampan dan sebagian hampir sama usianya dengan dirimu”
“Han, aku tidak tertarik dengan mereka, didalam mereka aku sudah menemukan nya dirimu, kamu tampan, baik, dewasa, dan yang jelas mereka tidak bisa menjadi seperti dirimu”
“baiklah, aku hanya menguji dirimu saja, terimakasih karena telah mencintaiku begitu dalam”
Tak lama mobil mereka suda diparkirkan di depan restoran italia, Han langsung membukakan pintu untuk Lisa dan menggenggam tangan gadis itu menuju restoran.
Lisa dibuat takjub dengan tema gaya klasik yang benar-benar membawa Lisa pada suasana italia, hari ini Han begitu romantis, dia bahkan memesan meja yang di samping diiringi dengan seseorang yang bermain biola dan piano, Han juga menarikkan kursi untuk mempersilakan Lisa duduk terlebih dahulu.
“Han, ini terlalu berlebihan, kita hanya makan siang bukan kencan” ucap Lisa.
“tidak Lisa, ini sederhana”
“tapi--”
“Lisa, kita jarang untuk bertemu, apa aku tidak boleh melakukan hal istimewa untukmu?”
“terimakasih, aku sangat menyukai kejutan yang selalu tidak terduga seperti ini”
Lisa dan Han, kedua menikmati indahnya makan siang bersama dengan suasana italia yang begitu kental, Lisa tidak tahu jika Han menyewa restoran itu yang kebetulan sedang sepi dari pengunjung.
“Lisa, aku akan segera berangkat ke inggris” ucapan, setelah dia selesai menikmati makan siangnya dan sedang meneguk wine yang kadar alkoholnya rendah.
“kapan?”
“tiga minggu lagi”
“itu berarti kita hanya akan bertemu tiga kali lagi? Setelah kamu berangkat kita tidak akan bertemu?”
“Ya, itu mungkin akan benar, aku tidak bisa berjanji, tapi aku pastikan jika dalam satu bulan kita akan bertemu maksimal tiga atau dua kali” ucap Han
“tidak apa-apa, jangan memaksakan dirimu Han, aku sudah sangat senang saat kamu sering menghubungiku”
“Lisa, aku mohon tunggu aku enam bulan lagi”
“aku akan selalu menunggu Han, selama apapun itu”
Han tersenyum pada Lisa, dia mendekati Lisa dan memberikan pelukan pada sang gadis sebagai ucapan rasa terimakasih untuk segala hal yang Lisa yakini untuk Han.
Jam sudah menunjukan pukul 12.30 siang, sebentar lagi waktu makan siang akan berakhir, baik Lisa dan Han keduanya harus kembali pada pekerjaan masing-masing, tapi Han tidak membiarkan Lisa untuk kembali ke rumah sakit sendiri, Han tidak peduli jika dirinya akan terlambat kembali ke kantor.
“Ya, sampai jumpa lagi”
Lisa melambaikan tangannya pada saat mobil Han meninggalkan rumah sakit, hari yang sebelumnya terasa begitu berat kini telah tergantikan dengan semangat yang baru, dengan wajah bahagia Lisa kembali masuk kedalam rumah sakit.
Setelah selama enam hari terus berada di rumah sakit akhirnya ada satu hari dimana Lisa bisa beristirahat dari semua aktivitas sehari-harinya, hari ini entah kenapa suasana hatinya menjadi lebih buruk, sang ayah berkata jika malam nanti Tuan Kim dan Han akan mengajak mereka makan malam.
Lisa tahu apa tujuan dari ucapan sang ayah, setiap harinya Lisa mencoba untuk tidak memikirkan jika sang ayah yang terus berubah semenjak Kakak Kevin meninggalkan rumah ini, kecanggungan antara ayah dan ibu juga membuat Lisa semakin tidak nyaman untuk tinggal di rumah yang sudah menampunya selama 19 tahun, rumah yang sudah menjadi bagian dari hidup Lisa.
'apa aku menyewa sebuah rumah untuk menghindari ayah yang terus memaksaku?'
Di cuaca yang begitu dingin Lisa masih membiarkan jendela kamar terbuka menerpa wajahnya, tidak sedikit pun terpaan angin mengusik Lisa untuk pergi dari posisinya.
Sudah tiga hari Han tidak menghubungi atau meninggalkan satu pesan untuk Lisa, pria itu seperti hilang di telan bumi, Lisa juga tidak punya satu niat pun untuk menghubungi Han lebih dahulu membiarkan semua ini berjalan begitu saja.
“kita akhiri saja hubungan ini yang sudah kita bangun selama 20 tahun!”
Suara pertengkaran dari kedua orang tuanya, itu terdengar sangat jelas hingga membuat Lisa terkejut, dia segera berlari dari kamarnya menuju keruangan tamu di mana sang ibu yang sudah menangis sedangkan sang ayah hanya terdiam tanpa melakukan apapun, Lisa bersembunyi di dinding mendengarkan apa yang menjadi masalah pertengkaran kedua orang tuanya.
“Risa, dengarkan apa yang akan aku katakan” ucap Lian, dia masih mencoba untuk menuntun Risa untuk tidak menghindarinya, dia tidak bisa kehilangan lagi dalam hidupnya Risa begitu berharga untuknya, maka dari itu Lian tidak pernah mau menerima seorang wanita untuk menjadi sekretarisnya.
“bukankah sudah aku bilang jangan kembali jika dirimu bukan Lian yang aku kenal” ucap Risa, wajahnya sudah penuh dengan air mata yang berlinang, air mata yang sudah lama tidak membasahi pipinya.
“Risa--”
“jangan panggil namaku! Kamu tidak punya hak untuk itu Tuan Jung”
“kalau begitu aku akan berbicara sebagai suami dan kepala keluarga ini! Sebagai haknya”
Lian terus mencuba memahami Risa, dia menarik wanita itu ke dalam pelukkannya walau Lian tahu jika wanita itu akan terus menolaknya hingga membuatnya kesal.
“Lian! Berhenti memaksaku, sampai kapanpun aku tidak akan ada di pihakmu!” ucap Risa, dia memukul dada bidang Lian yang ada di hadapannya.
“sebegitu tidak sukanya kamu dengan sentuhanku? Risa, kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik tanpa ada penolakan dan paksaan”
“menikahi Lisa bukan jalan menyelesaikan masalah ini Tuan Jung! Mau sampai kapan kamu mengorban anakmu untuk bisnis gilamu itu! Tidakkah cukup Kevin”
“apa yang kamu mau?”
“berhenti mengurusi urusan Lisa, harus aku bilang berapa kali? Kamu sudah tua dan akan segera mati! Apalagi yang ingin kamu miliki Tuan Jung? Menikah lagi? Silahkan aku tidak perduli, atau kamu ingin menjadi perusahaan yang terkenal di dunia ini aku juga tidak akan peduli tapi jangan libatkan Lisa atau Kevin!”
__ADS_1
“.....”
Lian, pria itu terdiam mendengarkan Risa yang mencurahkan semua isi hatinya yang selama ini jarang dilakukan lagi, dia melepaskan tubuh Risa dari genggaman pelukannya, pria itu menarik frustasi rambutnya dan mencoba mengalihkan pandangannya dari Risa.
“aku ingin kita pisah” ucap Risa,
Sudah cukup semua pertengkaran yang terjadi hampir setiap harinya, semua ini membuat Risa lelah dengan hubungan yang tidak bisa di pertahankan, dia melepaskan cincin pernikahan yang selama 20 tahun tidak pernah meninggalkan jari manisnya, memberikan pada pria yang selama ini dia cintai lebih dari ayahnya dan juga dirinya sendiri.
“Risa, tidak jangan seperti ini, aku masih mencintaimu” ucap Lian, dia menarik tangan Risa, namun wanita segera melepaskan tangannya dari sang suami dan berkata.
“Tolong, jangan katakan kata-kata itu lagi, kamu tahu kata-kata itu semakin menyakitiku, kamu bilang kamu mencintaiku, tapi tidak ada cinta yang bisa membuatku bertahan untukmu”
“Risa--”
“tidak Lian, tidak lagi”
Risa pergi meninggalkan ruang tamu, tidak ada lagi air mata yang menghiasi wajahnya, wanita itu berlari ke dalam kamarnya mengeluarkan koper lalu mengisinya dengan pakaian yang ada di lemari.
Dan Lisa dia hanya bisa terdiam, sebelum sang ibu melihatnya Lisa sudah lebih dahulu kembali ke kamarnya, dia mencoba untuk tidak menangis tapi tetap saja wanita lemah akan itu, dengan air mata yang sudah mengalir Lisa mengambil ponselnya dan menghubungi Han.
Han : Lisa ada apa?
Lisa : Han, bisakah kita bertemu?
Han : sekarang, baiklah aku akan menjemputmu
Lisa : aku akan menunggumu
Saat Lisa ingin kembali merapikan dirinya, dia melihat ke arah jendela yang dimana sang ibu yang sudah berada luar rumah dengan koper yang ada di tangannya, sang ayah juga seperti tidak mau melepaskannya, dia masih terus membujuk sang istri untuk kembali, saat itu juga mobil Han memasuki halaman mereka.
Lisa segera keluar dari dalam kamarnya, dia berlari menghampiri Han yang baru saja membuka pintu mobil yang langsung mendapatkan pelukan dari Lisa, Han memang terkejut dengan Lisa lakukan namun dia langsung mengerti dengan situasi yang terjadi sekarang, Han juga melihat Risa dan Lian yang saling merebutkan koper.
“bisakah kita pergi sekarang?” tanya Lisa, dia masih enggan untuk melepaskan pelukannya.
“tenang aku di sini sayang, kamu masuklah dulu, ada hal yang harus aku lakukan” ucap Han, dia melepaskan pelukannya membiarkan Lisa untuk masuk kedalam mobil.
Han berjalan mendekati kedua orang tua Lisa, dengan sedikit lancang dia mengambil koper itu, dan berkata dengan sopan namun sedikit kasar.
“Tuan Jung bukankah tidak baik bersikap kasar pada seorang wanita, jangan memaksa jika mereka tidak mau, Nyonya Risa jika anda mau saya akan menghantar anda”
“Hei! Kau anak muda, kamu tidak akan mengerti--”
“walau dia anak muda tapi dia punya pemikiran yang dewasa tidak seperti dirimu”
Risa berjalan mengikuti Han, dengan sopan Han membukakan pintu belakang untuk Risa, dan meletakkan koper dalam bagasi mobilnya.
Sebelum masuk kedalam dia juga menyempatkan diri untuk memberi salam pada Lian.
“anak sialan” ucap Lian.
Tak lama mobil Han mulai meninggalkan halaman rumah Lisa, mobil itu membawa dua orang yang sangat Lian sayangi namun dirinya tidak sadar jika telah menyakiti mereka juga, pria itu hanya berdiri disana melihat mobil yang semakin jauh dari pandangannya.
Didalam mobil hanya ada keheningan yang terjadi, Han mencoba untuk tidak mengganggu kedua wanita yang masih larut dalam pemikirannya masing-masing, Han mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Lisa, dia tersenyum pada gadis yang sangat dia cinta.
“kita pasti akan bahagia”
Sampai akhirnya Han memilih untuk membawa mereka ke rumah milik Han yang baru saja dibeli ketika dirinya baru kembali ke Seoul, awalnya Risa menyuruhnya untuk membawanya ke apartemen Kevin namun Lisa membantahnya dengan mengatakan jika Kevin tidak boleh terlibat dalam masalah ini dan akhirnya mereka ada di rumah milik Han yang tidak terlalu besar namun cukup menampung beberapa orang.
“ibu sudah beristirahat” ucap Lisa, gadis itu sedang menuruni beberapa anak tangga, dia berjalan mendekati Han sedang duduk disofa.
“kamu tidak beristirahat?”
"Han, aku lelah”
Lisa menyadarkan kepalanya di dada bidang Han, inilah yang Lisa butuhkan sebuah sandaran yang tidak bisa diberikan oleh orang lain, hanya Han dan akan selalu Han, rasanya sudah cukup pertengkaran kedua orang tuanya yang terjadi, Lisa hanya ingin menghabiskan waktu yang terisis bersama Han.
“tidak apa-apa, aku mengerti Lisa, kita berdua sama”
“Han, aku hanya ingin hidup bersamamu saja, aku tidak butuh yang lain”
“aku juga Lisa, rasanya semua beban dan luka yang ada dalam diriku menghilang begitu saja saat melihat dirimu”
“Han apa sebaiknya kita ikuti kemauan ayahku dan ayahmu”
“aku tidak mau menikahimu karena alasan bisnis Lisa, jika kamu ingin menikah aku akan melakukannya dengan caraku sendiri, ayo kita menikah dua minggu lagi” ucap Han.
“kamu tidak romantis sekali, mengucapkan kata itu dengan mudahnya tanpa ada cincin atau kata-kata manis”
“aku rasa itu tidak perlu karena kamu tidak akan menolaknya”
“kamu terlalu percaya diri”
“Ya, tapi aku suka itu, percaya diri adalah kekuatanku untuk melakukan tindakan tanpa takut salah mengambil langkah”
“jadi kamu mau menikah denganku Lisa?”
__ADS_1
Lisa menganggukkan kepalanya, dia memeluk Han lebih erat lagi, menghirup aroma tubuh Han yang begitu menenangkan pikirannya, keduanya hanya menikmati waktu yang terus berjalan seiring bergantinya hari, ada satu hal yang bisa di simpulkan dalam kisah ini jika kamu mencintai seseorang hanya karena takut kehilangan maka itu hanya akan membuatmu tidak bisa memahami apa isi hatinya, jadi cintai aku dengan keyakinan dan uluran tangan yang siap untuk menarikku keluar dari kegelapan, hingga menuju surga yang penuh dengan kebahagian dan cahaya.