![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
keesokan harinya ....
pagi-pagi sekali Lisa sudah membuka kedua matanya, dia melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukan pukul lima pagi, entah kenapa rasanya hari ini begitu menyedihkan untuk Lisa, dia akan meninggal ruangan ini yang menjadi saksi bisu cintanya kepada Han dan juga tentu saja kenangan yang tak akan terlupakan bagi Lisa.
dia menatap ruangan yang tampak sepi karena keluarganya belum ada yang datang, hanya ada sahabatnya yang masih tertidur di sofa, Lisa tersenyum murung saat mengingat setiap pagi biasanya Han akan datang dan berikannya obat dan juga memberikan Lisa semangat.
bayangan dirinya dan Han yang saat itu ingin pergi dari rumah sakit muncul dalam khayalan Lisa, dimana saat itu dirinya sangat terkejut melihat Han yang sedang membuka pakaiannya tanpa memikirkan jika ada seseorang dibelakangnya, mengingat kenangan itu membuat hati Lisa sakit.
'hanya dengan mengingat kenangan bersamamu, hati ini sudah merasa sedih, bagaimana jika nanti aku benar-benar meninggalkanmu Han!'
Lisa menghela nafas panjang, bagaimana dia menjalani kehidupannya nanti, Lisa yakin setelah dia dikatakan sehat dan bisa kembali pulang kerumah, Lisa tak akan bisa bertemu dengan Han lagi.
"aku tidak mencintaimu Lisa, aku sudah memiliki tunangan dan berhentilah berimajinasi jika aku juga mencintaimu”
lagi-lagi perkataan itu terlintas di pikiran Lisa, betapa hancur hatinya mendengar perkataan itu keluar dari mulut Han, bagaimana Lisa tidak bisa mengetahui jika Han sudah memiliki tunangan?
sebuah memori terlintas dalam benak Lisa, dia baru ingat jika saat pertama kali bertemu dengan Han di taman pria itu sudah memakai cincin di jari manisnya, kenapa Lisa lupa dengan apa yang sudah pernah dia lihat sebelumnya.
Lisa turun dari ranjangnya, dia berjalan keluar dari ruangannya, kali ini Lisa harus bertemu dengan Han sebelum dia berpisah dengan Han, dia menuntun kakinya untuk berjalan keruangan yang tak pernah ingin dia datangi lagi.
tak lama kemudian, dia berhenti didepan pintu berwarna coklat, dia sedikit ragu untuk mengetuk pintu itu, tapi Lisa sudah berdiri disini dan akan menjadi sia-sia jika dia kembali lagi ke ruangannya. dengan keberanian yang dia miliki, Lisa mencoba mengetuk pintu kamar itu.
hingga ketukan ketiga tak ada respon dari dalam, Lisa menatap sendu pada pintu itu berharap jika orang yang ada di dalam bisa keluar, dengan senyuman yang terlihat terpaksa Lisa memutuskan untuk kembali ruangannya.
“Lisa?”
panggil Han saat dia hendak ingin keluar kamar, Han memang sudah bangun namun saat ada ketukan pintu dia sedang berada di dalam kamar mandi.
“kamu membutuhkan sesuatu?” Han bertanya.
“bolehkan aku meminta waktu hanya lima belas menit saja” ucap Lisa.
“Ya, apa kamu ingin berbicara di dalam atau di tempat lain?”
“lebih baik di dalam saja”
Han membukakan pintunya dan membiarkan Lisa untuk memasuki ruangannya yang belum sempat dia rapikan karna Han terburu-buru untuk membukakan pintu, dan juga tadi malam untuk melampiaskan kesedihannya Han menghancurkan beberapa barang miliknya.
Lisa memilih untuk duduk di sofa, dia menatap ruangan yang tidak terlalu mewah namun cukup nyaman untuk menjadi tempat istirahat, di setiap barang yang ada di dalam ruangan itu tak pernah lepas dari pandangan Lisa, didalam ruangan itu dia melihat ada satu foto seorang wanita yang tersenyum manis.
'itu pasti foto tunangannya Han' ucap Lisa dalam dirinya.
“ada hal apa yang ingin kamu bicara Lisa? tumben sekali kamu sudah bangun jam segini?”
Lisa menarik nafas, dia bingung ingin memulainya dari mana, ada satu hal yang ingin disampaikan namun rasanya berat untuk diungkapkan.
“aku--aku ingin mengembalikan gelang yang diberikan olehmu” dia melepas gelang itu dan menyerahkannya pada Han.
Han hanya menatap bingung pada gelang berwarna merah itu, yang Lisa serahkan padanya.
“aku tak pantas untuk menerimanya, itu bukan milikku lagi sekarang”
“kenapa?”
'kenapa Lisa? kenapa kamu berkata seperti itu? aku memberikannya itu untukmu agar setidaknya aku bisa merasakan dimana keberadaan dirimu dan setidaknya aku bisa memberimu sesuatu untuk dikenang' ucapan saat melihat gelang yang ada di tangannya.
“tidak semua ini salah, aku datang kesini ingin mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah kamu lakukan untuk diriku, Dokter Han”
“lalu jika hanya ingin berterima kasih kenapa kamu mengembalikan gelang ini Lisa?”
“Han berhenti berkata seperti! kamu membuatku ingin berharap kembali padamu, gelang itu bukan milikku Han”
Lisa menangis, dia sudah mencoba untuk menahan ini tapi apa daya Lisa, dia hanya wanita biasa yang gampang menangis.
__ADS_1
“tidak bisakah kamu menyimpannya untukku”
“jika aku menyimpannya, aku hanya akan selalu mengingat dirimu, aku ingin melepas semua perasaanku, seperti hal yang sering kamu katakan jika aku layak untuk bahagia”
Lisa berhenti sejenak untuk menghapus air matanya.
“aku tak mau menyimpan apapun yang berhubungan dengan dirimu Han! berat bagiku untuk melepaskan semua yang sudah aku anggap sebagai milikku”
“aku mohon Lisa, simpanlah untukku, biarkan ini menjadi kenangan”
Han menggenggam tangan Lisa, dia menyerahkan gelang itu kembali ke Lisa, namun Lisa tak mau menerima kalung itu dan malah membuangnya ke sembarang tempat.
“Han! ada kenangan yang ingin ku ingat dengan dirimu, kurang waktunya sudah akan habis, lebih aku pergi”
tangan Han menahan tangan Lisaa untuk melangkah pergi, dia menarik kembali Lisa untuk duduk di sofa.
“jika kamu terus memaksaku untuk menyimpannya, itu hanya akan menjadi luka untukku Han, aku mohon untuk kali ini mengalahlah, aku sudah lelah, aku ingin segera pergi dari rumah sakit ini agar aku tak melihat dirimu lagi”
“Lisa maafkan aku”
Han menarik wajah Lisa untuk menghadap ke wajahnya, lalu dia memiringkan wajahnya dan mencium Lisa, Han sangat merindukan bibir itu, Han hanya menyatukan bibir itu, dia mencoba mengirim semua perasaannya melalui ciuman itu.
Dan Lisa hanya diam, dia tak mengerti kenapa Han menciumnya disaat seperti ini? bahkan pria itu sudah memiliki tunangan!
setelah beberapa menit, Han melepaskan ciuman itu, dia menatap wajah Lisa, tangan Han bergerak untuk menghapus air mata yang tersisa di mata Lisa, dan terakhir dia mencium kening Lisa.
“Lisa, kuharap kamu mengerti”
Lisa memberikan tamparan di pipi kanan Han, dia menatap pria itu dengan bingung, dia bangkit dari sofa dan berlari meninggalkan Han tanpa mengeluarkan satu kata apapun untuk pria yang sedang memegang pipi kanannya.
“bodoh!”
Han mengutuk dirinya sendiri dengan apa yang telah dia lakukan pada Lisa barusan, Han tak pernah berfikir akan melakukan itu di saat situasi seperti ini.
dia terus bertanya pada dirinya sendiri, sebenarnya apa yang diinginkan Han? pria itu melakukan Hal sesuka hati, seakan-akan Lisa bagaikan boneka miliknya.
sampai di depan kamar rawatnya, Lisa mencoba menghapus air mata yang masih ada di pipi, sudah cukup Lisa menangisi pria itu, sudah berapa hati yang dipatahkan karena ucapannya pria itu, rasanya hati Lisa sudah mati.
Lisa membuka pintu itu, melangkah kembali keranjang yang tak lama lagi akan dia tinggal dan akan digantikan oleh orang lain, dia memeluk lututnya, menatap ke arah jendela yang tertutupi salju, hari ini dia melepaskan sesuatu yang tak seharusnya dia miliki.
Lisa tak habis pikir, kenapa pria itu tiba-tiba mencium disaat situasi yang begitu tegang dan tak memungkinkan untuk lakukan itu, tapi ciuman itu seperti salam perpisahan dari Han untuk Lisa, dia bisa merasakan ada hal yang disampaikan dari ciuman itu, seperti mengungkapan perasaan atau sejenis lainnya.
Lisa ingin kembali tidur untuk memulihkan kesehatannya, dia harus menjaga kondisi tubuhnya, karena mungkin di ruang operasi itu bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam, maka dari itu Lisa tak boleh terlihat kelelahan, dia menarik selimut dan membaringkan tubuhnya, berharap dia bisa tertidur dan melupakan apa yang telah terjadi padanya tadi.
Tiga puluh menit kemudian .....
Lisa sama sekali tak bisa memejamkan kedua matanya, dia sudah membolak-balikkan tubuhnya untuk mencari posisi yang nyaman agar dirinya bisa tertidur namun hasilnya tetap nihil.
“apa yang harus aku lakukan sekarang? aku sama sekali tak merasa ingin tidur” ucap Lisa,
dia menatap pada langit-langit kamar yang berwarna putih itu, tiba-tiba di langit kamar itu dia melihat wajah Han yang sedang tersenyum manis padanya, wajah yang sekarang sulit untuk Lisa lihat, hingga tak lama kemudian Lisa pun tertidur tanpa sadar.
Hari sudah menunjukan pukul tujuh pagi ....
Lian, Risa, Kevin, Sean dan Sona, mereka semua sudah berada di ruangan Lisa dengan pakaian rapi mereka, tak ada satupun dari mereka yang ingin membangunkan Lisa, dengan sabar mereka menunggu Lisa bangun disofa.
mereka semua sedang berdiskusi untuk rencana pernikahan Kevin dan Sona yang akan dilangsungkan pada bulan depan.
“ku pikir Ayah dan Ibu tak akan membahas ini lagi, Ayah itu hanya ketidaksengajaan saja, kenapa kalian masih bersikeras menikahkanku”
“Om dan Tante bukannya aku mencela ucapan kalian, tapi menikah? aku masih kuliah, aku tak siap untuk menjadi seorang istri, Om dan Tante”
“kamu bisa belajar denganku, tak perlu malu untuk bertanya pada yang sudah berpengalaman”
__ADS_1
“Ibu dan Ayah berhentilah memaksaku untuk menikah! aku tak mencintai Sona, aku tak bisa membangun hubungan yang tak di awali dengan rasa suka sama suka, aku juga tak mau memaksa Sona dalam ikatan pernikahan yang bahkan dia sendiri tak bisa menerimanya, tolong Ibu dan Ayah mengertilah”
Lian yang baru saja ingin menyuarakan pendapatnya harus dipotong karena dia melihat Lisa yang sudah bangun dan menatap bingung ke arah mereka yang sedang duduk di sofa.
“menikah? siapa yang akan menikah Ayah? Ibu?” Lisa bertanya.
mereka semua menghampiri Lisa, mencoba untuk menutupi apa yang tadi mereka diskusikan.
“kita yang akan menikah Lisa” ucap Sean.
“jangan mencoba membohongiku Sean!”
“apa kamu tak mau menikah dengannya Lisa”
kini giliran sang Ayah yang bertanya pada Lisa, dia berjalan ke sisi ranjang untuk bisa berdiri disamping Lisa.
“Ayah! aku ingin menyelesaikan kuliahku dan menjadi seorang dokter, aku tak mau menikah”
“Lisa kamu tak boleh berkata seperti itu!” ucap Risa, dia mengelus rambut putrinya dengan lembut.
“aku menyesal bertanya tadi” ucap Lisa, dengan kesal dia memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di dadanya.
“bagaimana dengan perasaanmu hari ini?” kali yang bertanya adalah Kevin.
“aku cukup gugup dan takut”
“Lisa ingat kita semua disini untuk dirinya, jangan merasa takut, kamu harus yakin bisa melewati ini dengan baik, kami akan selalu menunggu disini dan tak akan kemana-mana” ucap Sona.
“aku bahagia memiliki kalian, aku akan berjuang untuk melewati semua ini, terimakasih untuk dukungannya”
Lisa tersenyum bahagia, di balik senyum bahagianya terdapat luka yang juga bisa menghancurkan semuanya itu dalam detik, Lisa tak mau mereka tahu tentang hatinya yang baru beberapa jam terluka karena seorang pria yang kini tak tahu keberadaannya, seharusnya pria itu sudah ada di ruangan ini untuk melakukan pemeriksaan sebelum Lisa masuk ke ruang operasi.
dan benar saja, baru beberapa detik Lisa mencari keberadaan Han, pria itu kini sedang berjalan mendekatinya dengan pakaian seragam yang selalu dia kenakan membuat hati Lisa berdebar untuk kesekian kalinya, pria terlihat tampan dia sudahnya yang sudah 30 tahun, dengan jas berwarna putih dan ditambah dengan sepatu pantofelnya semakin membuatnya terlihat sempurna.
“selamat pagi semuanya, maaf aku mengganggu waktu kalian, bisakah kalian meninggalkan ruangan ini untuk beberapa menit, aku perlu memeriksa kondisi Lisa” ucap Han.
mereka semua secara kompak menoleh ke arah Han saat pria itu berbicara, setelah selesai berbicara tanpa menjawab pertanyaan Han satu persatu dari mereka melangkah keluar.
“Ibu menyayangimu” ucap Risa.
Lisa mengangguk kepada sang Ibu, dia mencoba untuk terus tersenyum hingga mereka semua keluar dan meninggalkan Lisa, setelah pergi senyuman itu hilang dari jawab Lisa, dengan dingin dia menatap pria yang mulai memeriksa kondisi tubuhnya.
“hari kamu belum makan sesuatu?”
“belum, aku mengikuti saranmu untuk melakukan puasa”
“itu bagus, operasi akan dilakukan jam 11 siang”
“Ya, aku tahu”
“lebih banyaklah minum air mineral, dan jangan takut”
“aku lebih takut untuk menatap pria yang sudah memiliki tunangan tapi masih berani mencium gadis lain”
“Lisa”
“apalagi Han? lagi-lagi kamu menganggap semua ini hal yang biasa! apa kamu tak berfikir bagaimana perasaan tunanganmu saat melihatmu berciuman dengan wanita lain?”
“Lisa, kamu tak akan mengerti, aku sudah mencoba menyampaikannya padamu”
“apa dengan ciuman bisa menyampaikan sesuatu? kamu seorang dokter tapi pikiran sangat jauh dari kata dokter!”
“kurasa waktu sudah selesai, kontrollah emosimu Lisa dan berhentikan memikirkan hal yang tak berguna”
__ADS_1
Han sangat tak mau berdebat lagi dengan Lisa, dia melangkah keluar dari ruangan tanpa menoleh ke arah belakang, saat ingin memasuki ruangan itu Han harus melawan keegoisannya sekarang dia keluar untuk melawan perasaannya, semua ini benar-benar menyiksa Han.