Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 42 - Im Jealous


__ADS_3

Setelah sampai dirumah Lisa, sahabatnya lebih memilih untuk pergi ke kamarnya yang katanya ingin langsung istirahat, awalnya setelah sampai dirumah Lisa, Sona berencana untuk ikut bersama Lisa namun Risa tiba-tiba menahan Lisa dan membawanya pergi kesuatu tempat yang berisi dengan rak buku yang sangat tersusun rapi dan juga buku yang terlihat sangat terawat.


“ini adalah ruangan penuh dengan kenangan tentang Kevin dan masa lalu Ibunya” ucap Risa, dia memulai percakapan dengan hal yang seperti teka-teki untuk bisa dimengerti oleh Sona.


Sona mengikuti langkah Risa dengan semua pertanyaan yang terus melintas dalam pikiran. Dia ingin bertanya namun bingung untuk menyampaikannya.


“Kevin dan masa lalu Ibunya? Aku tidak mengerti, bukankah kamu Ibunya Kevin dan Lisa” Sona bertanya setelah memutuskan untuk meyakini jika pertanyaan itu adalah pertanyaan yang terbaik, dia tak berani untuk mengajukan pertanyaan yang diluar batasan dirinya.


“Sona, apakah kamu mencintai Kevin?”


Sontak alis Sona terangkat, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Ibu Lisa, jika bukan karena ruangan yang tampak sunyi mungkin Sona berteriak.


“seperti pertanyaanku terlalu berat, apakah kamu menyukai Kevin? Atau sejenis perasaan nyaman di dekatnya”


'Oh, Ayolah, ingin rasanya aku menjawab, aku tidak menyukai putramu! Dia sangat menyebalkan dan sangat tidak sopan!'


Tapi kata-kata itu hanya tersumbat di tenggorokan Sona, bagaimana pun juga yang kini ada dihadapannya bukanlah sahabat atau pun teman seumur tapi dia adalah seorang wanita yang lebih tua darinya dan jika di ingat juga Ibunya Lisa dan Mommy adalah sahabat karna ayahku dulu teman baik Tuan Lian.


“aku rasa-- ”


“kemarilah, ada hal yang ingin aku sampaikan pada Sona”


Karna terlarut dalam pikirannya atau memang Sona yang banyak melamun, dia menatap Sona yang sudah duduk di sofa yang langsung menghadap kearah luar ruangan yang pemandangan sangat indah, dengan sedikit keraguan Sona berjalan mendekat Risa, mengambil posisi duduk disamping Risa yang sedang memegang sebuah album foto.


“kamu belum menjawab pertanyaanku?”


“Ah--Itu--Perasaanku hanya nyaman saja di dekatnya, Ibu Lisa”


“aku harap setelah mendengar apa yang aku katakan nanti, kamu akan sedikit mempertimbangkan perjodohan ini”


“aku sungguh sangat tidak mengerti”


“Sona, aku bukanlah Ibu kandung Kevin, aku bertemu dengan Lian setelah dia memiliki Kevin, saat itu usianya masih balita”


Sona terkejut dengan apa yang dikatakan Ibu Lisa, pantas saja Lisa dan Kevin terlihat berbeda,  Sona tidak ingin mengajukan pertanyaan atau pun menjawab, kali ini Sona ingin menjadi pendengar yang baik.


“dalam hidupku, aku tidak pernah sekalipun ingin menjodohkan anak-anakku, tapi aku merasa jika kamu pantas bersama Kevin--”


Risa berhenti sejenak, dia mulai membuka ikatan pada album foto yang sudah mulai berdebu, sudah sangat lama Risa tidak membuka album foto ini, membuatnya mengingat kenangannya saat dirinya masih ragu untuk mencintai Lian dan karna surat Lisa lah yang membuat Risa menjadi mengerti tentang kehidupan masa lalu Lian.


“ini adalah album foto yang dibuat oleh Ibu Kevin khusus untuknya, sampai saat ini Kevin belum melihatnya, aku masih ragu untuk menunjukkannya, Lian selalu berkata untuk tidak mengungkit masa lalu, tapi aku tidak mau terus berbohong pada Kevin, dia putraku yang sangat aku sayangi melebih Lisa dan dia putraku yang berharga--,”


Lembaran demi lembaran dibuka oleh Risa, disana banyak sekali foto Kevin dari usianya yang baru menginjak satu bulan, Sona memperhatikan semua itu dengan seksama, tapi sangat berat hidup tanpa sosok ibu disaat dia baru melihat dunia.


“kevin tumbuh besar tanpa rasa kasih sayang seorang Ibu, ini adalah Park Lisa Eun, mantan Istri dari suamiku, dia meninggal saat melahirkan Kevin karna komplikasi, dia sangat mirip denganku hingga membuat Kevin mengira jika aku adalah ibunya yang telah kembali, itulah kenapa sekarang aku bisa menikah dengan Lian, karna Kevin yang telah menyatukan kita”


“aku tidak mengerti, tapi aku paham jika memang Kevin mengangap jika kalian mirip, oh maksudku kenapa kamu memberikan nama putri dengan nama mendiang Ibu Kevin?”


“karna aku ingin Lisa seperti Lisa ibu Kevin, Sona itu bukanlah hal yang penting, jika suatu saat kalian menikah bawalah ini dan tunjukan pada Kevin, kamu harus menyampaikan dengan sangat baik, hingga membuatnya tidak membenciku ataupun Lian”


“tapi kenapa harus aku? Ibu Lisa, aku bukan gadis yang pintar merangkai kata-kata untuk hal seperti ini”


“pertimbangkan dulu baru kamu berkata seperti, ayo hari sudah sore, kamu harus kembali pulang, dan sampaikan salamku untuk Ibumu”


“baik, aku akan menyampaikan pada Mom”


Risa dan Sona berjalan kembali ke ruangan tamu yang disana sudah ada Lian dan Kevin yang sedang bermain, keduanya sangat asik hingga tidak menyadari keberadaan Risa dan Sona.


“kevin, hantarlah pulang Sona”

__ADS_1


“Ibu Lisa, tidak usah aku bisa naik taksi”


“aku akan mengantarnya”


Diluar dugaan Kevin setuju, padahal pria itu sedang asik bermain bersama ayahnya dan bisanya seorang pria tidak suka diganggu saat bermain.


Berpamitan dengan kedua orang tua Lisa, dia berjalan mengikuti Kevin yang hanya memakai kaos hitam lengan pendek dan celana jogernya, Soan jadi teringat dengan semua ucapan Risa.


'aku harus bagaimana?'


“apa yang sedang kamu pikirkan?” Kevin bertanya, dia hanya fokus mengemudi, jika dari samping pria ini terlihat lebih dewasa dan juga sederhana.


“tidak ada” jawab Sona, dia merendahkan suaranya dari biasanya.


“apa Ibu mengatakan sesuatu padamu? Kamu terlihat murung”


“bisakah kau hanya fokus mengemudi, aku sedang malas untuk berbicara”


“kamu sensitif sekali”


Keheningan kembali menghuni di dalam mobil, Sona saat ini sedang tidak ingin memikirkan apapun, semua ini membuatnya sangat pusing dan bingung.


kevin yang terus memperhatikan kemurungan yang terlihat jelas di wajah Sona memutuskan untuk menepi ke sebuah kedai Ice Cream, dia turun begitu saja dari mobil tanpa berbicara satu kata pun pada Sona yang kini menatap punggungnya berjalan mendekati kedai Ice Cream.


tak lama kemudian pria itu kembali lagi dengan membawa mangkuk Ice Cream yang cukup besar, Sona menaikan alisnya dengan bingung, setelah duduk kembali, Kevin menyerahkan Ice Cream itu kepada Sona.


“jika memang beban pikiranmu terasa saat menyakitkan lampiaskan dengan Ice Cream ini saja, aku sengaja membeli banyak karena wanita lebih cenderung suka makan” ucap Kevin, dia mulai menyalakan mesin mobilnya dan kembali kejalan yang menuju rumah Sona.


“terima kasih”


Sona menatap semangkuk Ice Cream yang ada di pangkuannya, dalamnya berisi banyak sekali topping, satu persatu dia memasukan Ice Cream kedalam mulutnya dan benar, rasanya semua pikiran kembali jenih, Ice Cream memang pilihan yang baik untuk meluapkan semua kepenatan pikirannya.


Dia segera mengeluarkan mobil kesayangan miliknya yang baru saja beli satu bulan yang lalu, mobil Hyundai keluaran terbaru itu menelusuri kota Seoul, di korea juga sedang musim dingin jadi wajar jika jalan tanpa sepi dan tertutup salju.


Sambil mengemudi, Kevin menatap kaca spion yang memastikan jika dirinya terlihat rapi dan juga tampan, hari ini demi Sona pria itu meninggalkan pekerjaannya, pada sang ayah sebentar lagi akan memberikan jabatannya pada Kevin sebagai pemegang saham baru di Grup Jung yang sudah berjalan lebih dari 30 tahun, seharusnya pria itu sudah duduk di kursi kebesarannya dan melihat semua laporan tentang perusahaan.


Entah karena Kevin memang sedang tidak ingin melihat tumpukan dokumen di mejanya atau memang pria itu ingin terus melihat Sona yang akhir-akhir ini terus memenuhi pikirannya, sehingga membuat Kevin tidak fokus dalam bekerja, karena jarak rumah Sona yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, kini mobil Kevin sudah berhenti di depan rumah Sona.


Dengan langkah yang tegas dan juga berwibawa, pria itu masuk melewati kebun bunga yang ada di sana, lalu segera menekan bel rumah Sona, tapi ini dia tidak melihat Ibu Sona yang biasanya di pagi hari dia akan menyirami tanaman di halaman rumahnya.


Tak berlangsung lama, pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok Sona yang masih memakai pakaian tidurnya? Oh gadis ini bahkan tidak malu menunjukan tubuhnya di depan seorang pria.


“apa yang kau lakukan disini?”


“bisakah kamu mengganti pakaianmu? Sangat mengganggu mataku saja”


Sona lupa jika dirinya masih memakai pakaian tidurnya, memang pakaian tidurnya tidak pendek dan juga tidak terbuka, namun kebiasaan wanita saat tidur masih melepaskan branya, dengan cepat dia menyilang tangannya di dadanya, Sona tertunduk malu, dengan apa yang terjadi pada dirinya, 'ceroboh!'


“berhenti melihatnya! Dasar mesum!”


“mesum? Kau lebih dahulu menggodaku! Ingatlah Sona kamu sedang berhadapan dengan 'pria dewasa' ”


“aku tidak peduli! Lagi pula apa yang kau lakukan di rumahku! Mom sedang tidak ada!”


“benarkah? Seperti bagus untuk kita-”


“Hei! Buanglah jauh pikiran kotormu!”


“Hei nona Sona, kalau ada seseorang yang lebih tua darimu sedang berbicara tolong dengarkan sampai selesai! Aku bilang itu bagus karena kita bisa langsung menjadi buku yang kau butuhkan, itu saja”

__ADS_1


“aku--Aku tidak mengatakan minta ditemani olehmu, lagi pula orang sesibuk dirimu untuk apa membuang-buang waktumu hanya untuk mengantarku”


“mungkin karena kita akan menikah”


Dengan kesal gadis itu menutup pintu saat mendengar ucapan Kevin, padahal Sona sangat kebal dengan semua ucapan atau rayuan manis dari teman prianya tapi didepan Kevin, seakan-akan hatinya benar-benar luluh pada Kevin.


Tidak mau memikirkan lagi, Sona segera berlari ke dalam kamarnya, mencuci mukanya dan berganti pakaian yang layak, hari ini dia tidak ingin memakai pakaian pendek, entah karena apa Sona tadi menuruti kata pria yang menyuruhnya untuk berpakaian dengan benar.


Setelah selesai dengan make up yang tipis, Sona mengambil tipo baret dan tas, lalu gadis itu segera menuju pintu luar.


Kevin yang menunggu diluar, cukup terkejut saat melihat penampilan yang berbeda dari gadis ini, dia milik konsep cute untuk pakaian hari ini, dengan gemas ingin rasanya Kevin mencubit pipi itu namun dia tidak mau memancing keributan, dia hanya tersenyum lalu mengelus kepala Sona sebelum berjalan menuju mobilnya dan berkata.


“aku suka penampilanmu yang sekarang”


Mendengar apa yang dikatakan Kevin membuat Sona rasanya ingin bersembunyi di balik selimut, dia menundukan pandangannya, wajah terasa panas dan juga degup jantung yang terus berdetak. Mengikuti langkah Kevin yang sudah di dalam mobilnya.


Setelah Sona menutup pintu dan memasang sabuk pengaman, Kevin mulai menyalakan mesin mobilnya dan berjalan ke tempat toko buku yang ada di pusat kota, toko buku di sana saat lengkap dan cukup mudah ditemukan lokasinya, dan juga dekat dengan kantor Kevin.


Tidak berselang lama, mereka sudah berada di depan toko buku itu, setelah memarkirkan mobil kesayangannya, Kevin dan Sona melangkah bersama kedalam toko buku yang tidak terlalu banyak pengunjung.


Mata Sona langsung berbinar lebih banyak buku-buku yang tersusun rapi di sana, menurut Sona buka adalah dunia keduanya, dia sangat suka dengan novel, dia segera mendekati buku dan melupakan pria yang tadi ada disampingnya.


“semua novel ini rasanya ingin sekali kubeli semua, tapi Ibu akan marah jika aku menghabiskan uang bulanku untuk membeli novel”


Sona memilih untuk membeli salah satu novel yang dari dulu ingin dibeli, tapi jaraknya cukup tinggi sehingga membuatnya sulit untuk mencapainya. Sebuah tangan menyentuh tangan Sona, sontak gadis itu berhenti melompat-lompat untuk mengambil buku itu.


“maaf, aku kira kamu butuh bantuan jadi aku ingin membantunya, ini buku yang kamu inginkan”


Seorang pemuda yang senyumnya sangat manis dari oppa-oppa yang Sona kagumi, oh wajah yang ramah itu membuat Sona tidak bisa berkutip melihatnya sedekat ini, dengan gugup dia mengambil buku dari tangan pria itu.


“terimakasih”


“sama-sama, apa kamu masih butuh bantuan?”


“tidak ada, sekali lagi terimakasih”


Pria itu mengangguk dan tersenyum pada Sona yang menunjukan dimple yang cukup dalam, dia mulai meninggalkan Sona dengan perlahan, dan Sona, gadis itu hanya bisa terdiam melihat pria manis itu pergi.


“semalam aku mimpi apa? Sampai bisa bertemu pria tampan dan juga manis seperti dia”


“sudah cukup melihatnya! Kau itu calonku Sona”


Kevin yang dari kejauhan melihat adegan kemesraan pada kedua orang itu membuatnya sangat kesal, dia berbicara pada Sona dengan sedikit nada tinggi dan juga dingin.


“apa? Aku--”


Kevin berjalan mendekati Sona, dia mengunci Sona dengan kedua tangannya yang berada di rak buku itu, menatapnya penuh dengan dingin dan juga tajam.


“menjauhlah, tidak baik dilihat orang lain”


Sona mendorong tubuh Kevin yang terlalu dekat dengannya, Sona sangat tidak mengerti dengan sifat yang berubah-ubah dari pria itu, Sona hanya mengagumi pria yang tadi menolongnya, tapi dia mengartikannya lain.


“saat pria tadi ada didekatmu kau tidak marah, tapi kenapa denganku kamu tidak suka?”


“apa yang sebenarnya kau pikirkan Kevin, dia hanya membantuku, sudah cukup! Jangan mengatakan apapun! Aku belum bilang setuju untuk menikah denganmu! Dan aku ingatkan sekali lagi jangan mencoba untuk melarangku tentang apapun”


Sona melepaskan dirinya begitu Kevin lengah, dia tidak mau berdebar dengan Kevin, apa yang sebenarnya terjadi bukan kemauan Sona, pria itu yang menolongnya dulu, jika Kevin yang lebih dahulu membantunya Sona juga tidak akan memarahinya.


Kevin lebih memilih untuk duduk di meja, dia tidak mau memperpanjang masalah atau menyelesaikan, Kevin tetap menunggu Sona sampai menemukan buku, dia mengeluarkan ponselnya yang terus berdering, banyak sekali panggilan dari Tuan Min, dengan kesal pria itu mematikan ponselnya dan lebih memilih untuk membawa buku yang tadi sempat dia ambil.

__ADS_1


__ADS_2