![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Kevin masuk sebuah gudang tidak terpakai di area yang tidak jauh dari hotel milik Tuan Min, dia sendirian datang kesana tanpa membawa sebuah mengawal ataupun senjata untuk melindungi dirinya, padahal nyawanya lebih penting dari wanita itu namun rasa tanggung jawab Kevin begitu besar hingga dia tidak memperdulikan dirinya yang akan mungkin tidak terselamatkan.
Tapi dia sudah menuliskan sebuah surat jika dirinya benar-benar tidak bisa kembali lagi, kedatangan Kevin ke jepang pun tidak diberitahu oleh Sona bagaimana bisa pria itu melupakan pertengkaran mereka?
“kau sudah datang Tuan Jung?”
‘Yoona?’ Kevin melebarkan matanya ketika melihat suasana didalam gedung tak terpakai itu, dia melihat Yoona yang terikat di kursi dengan beberapa luka lebam di area wajahnya dan juha tubuhnya, wanita itu tampak kurus dan sedikit pucat.
Matanya menatap keseluruh penjuru di gebung itu, selain ada Tuan Min dan Yoona, ada beberapa pria yang bertubuh besar di dekat Yoona dengan masing-masing memegang senjata di tangan, Kevin hanya datang dengan modal nekat tanpa memikir sedang bersama dirinya berhadapan.
Kevin berjalan, dia memang wajah tenang dan mencoba memahami situasi saat ini, pandangan hanya tertuju pada chips di tangan Tuan Min dan sesekali dirinya menatap Yoona yang kini mulai menangis ketika melihat Kevin datang.
‘aku akan menyelamatmu’ ucap Kevin seperti berbisik pada Yoona, dan berharap wanita itu mengerti apa yang dibicarakan oleh dirinya.
“aku pikir kita tidak bertemu di tempat seperti ini? Selera begitu berbeda” ucap Kevin, dia berbicara dengan bahasa korea tanpa mau menggunakan bahasa jepang, dia ingin pria itu menunjukan siapa yang lebih dibutuhkan ditempat ini? Kevin atau Tuan Mim sendiri.
“kau pikir aku tidak mengerti apa yang kau katakan? Walau pengawalku tidak mengerti bahasamu tapi tempat inilah, tempat yang cukup untuk membalaskan dendamku! Lebih tepatnya dendam ayahku pada ayahmu!”
“bukankah ayahku sudah menjelaskan kita saat itu kita mengalami masalah hingga tidak bisa melakukan kerjasama saat itu?”
Tuan Min saat itu terlihat tenang, namun saat mendengarkan ucapan Kevin tiba-tiba saja emosinya begitu meluap dan langsung menarik keran pakaian Kevin hingga akhirnya Tuan Min memberikan satu tinjuan pada pipi kanan Kevin, sampai Kevin terjauh dengan sedikit darah yang keluar dari mulutnya.
“dengan mudahnya ayahmu membatalkan kerjasama itu! Padahal saat itu perusahaan ayahku membutuhkan bantuanmu namun apa gara-gara ayahmu membatalkan itu! Perusahaan yang sudah dibangunnya bangkut hanya dalam kurung waktu dua bulan! Dan apa? Kau dan ayahmu tidak kembali lagi kesini! Hingga membuat ayahku bunuh diri karena kalian!”
“tapi masalah ini tidak ada ikatannya dengan Yoona? Kenapa tidak langsung saja padaku? KENAPA HARUS MELIBATKAN ORANG LAIN!!! ” Ucap Kevin, pria itu kesal karena Tuan Min memukulnya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi jika perbincangan ini harus melibatkan kekerasan.
Kevin yang awalnya tidak ingin berkelahi, akhirnya menarik kemeja Tuan Min sebagai tanda jika dirinya tidak takut hanya dengan satu pukulan. “KATAKAN PADAKU!!! KENAPA?”
Dengan kasar Tuan Min menepis tangan Kevin, menjauhkan tubuhnya sedikit dari Kevin yang terlihat sangat marah, Tuan Min menunjukkan meringai pada pria dihadapan dengan remeh sebelum kembali memberikan tendangan di tulang kering atau kaki Kevin sampai membuat pria itu berlutut di hadapannya.
“haruskah aku melibatkan istrimu disini juga?” tanya Tuan Min, dia mengangkat sebagai tanda jika pengawal harus mengambil seorang tahanan yang sebenarnya sudah diculik sejak kembalinya wanita itu ke South Korea.
“Sona? Kau juga melibatkan istriku? Hanya untuk sebuah rasa dendammu?” ucap Kevin, dia tidak bisa bergerak banyak saat para pengawal itu menahannya untuk di posisi itu, kaki terasa sakit ketika bertemu dengan sepatu yang dipakai Tuan Min.
“kenapa? Bukankah itu baik? Kau tidak akan bisa melakukan perlawan dengan itu”
Tak lama kemudian, Sona datang dengan tubuh yang diikat dengan tali dan mulut yang disumpal dengan kain, mata sedikit bengkak, lalu pengawal di belakang tubuh Sona menempelkan pistol pada kepalanya, mungkin pria itu juga melukai istri?
“Kevin!!” teriak Sona, dia terus meronta walau itu malah melukai dirinya, dia tidak tahu dirinya akan bertemu dengan Kevin dalam situasi seperti. Dengan tubuh terikat dan mulut yang sulit berbicara.
“Sona!! Tenanglah aku akan menyelamatmu, tetaplah tenang sampai aku bisa mengatasi semua ini” ucap Kevin, dia ingin sekali berlari kesana menemui Sona untuk memberikan pelukan hangat untuk wanita itu tapi semua terasa sulit jika Kevin nekat untuk mendekati Sona.
“AKH!!” rintih Kevin, tiba-tiba saja tanpa Kevin ketahui pengawal Tuan Min memukul tubuhnya dengan kayu hingga pria itu berbaring kelantai yang dipenuhi dengan debu, darah kembali mengalir saat Kevin terbatuk, tubuhnya tidak sekuat yang Kevin kira.
‘Kevin’ ucap Sona, tentu saja dia tidak tahu apa dengan masalah yang sedang Kevin hadapi tapi melihat Kevin yang terluka seperti itu tentu saja dia ikut merasa terluka.
Tuan Min kembali mendekati Kevin yang kini sudah duduk walau punggungnya terasa begitu sakit, dia terus menghilangkan darah diarea mulutnya dengan jas yang dikenakan, di situasi tubuh yang masih terluka pria itu masih menyempatkan diri untuk tersenyum pada Sona, menunjukan jika dirinya baik-baik saja.
“menyedihkan, kau bahkan tidak bisa memilih antara istri dan wanita itu!”
Kevin meringai, mengangkat kepala untuk menatap Tuan Min “aku? Haruskah aku yang mengatakan seperti itu? Jika memang kau ingin membalas dendammu padaku, hadapi diriku secara langsung!!!”
“tanganku akan kotor jika berkelahi dengan pria lemah sepertimu!!”
Kevin memang tidak ingin melakukan perlawanan apapun pada Tuan Mim karena jika dia sedikit saja memberikan perlawanan maka yang akan terancam bukankah keselamatan dirinya tapi Sona, Kevin tidak akan melakukan hal bodoh karena terus dipancing emosinya.
“kita buat kesepakatan saja, kau bisa mengambil cips Grup Jung dan menghancurkan arsip berharga dalam chips itu, aku akan membiarkan dirimu pergi tanpa harus melukai istriku dan asistenku”
“cips ini? Aku tidak peduli pada benda ini lagi karena semua rancangan didalamnya sudah ku salin dan aku ubah menjadi hak milikku!!”
“lalu kau ingin apa?” tanya Kevin, penglihatannya mulai kabur, tubuhnya mulai kesulitan untuk bernafas dan detik berikutnya Kevin kembali jatuh kelantai.
“nyawa harus dibayar dengan nyawa, itu baru adil”
“ambilah, bunuh diriku sekarang!! Jika itu bisa membuat dirimu tenang” ucap Kevin, dengan kondisi seperti ini Kevin hanya bisa berharap pengawalnya datang tepat waktu karena Kevin ini keselamatan Sona terjamin.
Sona yang sedari tadi hanya menonton Kevin, secara perlahan mendekati sang suami yang tergeletak dilantai, detik berikutnya Sona berlari ketika para pengawal lengkah.
“Sona!! Jangan!!”
Satu tembakkan pistol mengenai tepat di punggung belakang Kevin, saat dirinya ingin menyelamatkan Sona yang nekat mendekatinya, pria itu memeluk tubuh Sona sebagai perlindungan terakhir yang bisa dilakukan.
Tuan Mim dan pengawalnya tentu saja terkejut, dia langsung memerintahkan semuanya untuk meninggalkan tempat itu tanpa berpikir panjang, awalnya Tuan Min hanya ingin memukul Kevin tanpa niat mengeluarkan tembakkan. “Let Go!!!”
Detik berikutnya, pelukkan itu memudar ketika rasanya Kevin sudah tidak mampu lagi memeluk tubuh Sona, tubuhnya jatuh ke lantai.
Sona yang masih terikat dan tertutup mulutnya, menangis ketika dia melihat Kevin yang tergeletak disana.
“tidak Kevin!!”
Tak lama kemudian bala bantuan datang ketika kesulitan melacak lokasi melalui ponsel Kevin, mereka semua membantu melepaskan ikatan pada Yoona dan Sona.
“Tidak Kevin!! Bangun!! Kau tidak boleh meninggalkanku¡!” ucap Sona, dia memeluk tubuh Kevin yang tak memberikan respon apapun ketika tubuhnya diguncangkan oleh Sona berkali-kali.
__ADS_1
“Nona, Tuan Kevin harus dibawa kerumah sakit, anda bisa ikut dengan saya” ucap salah satu pengawal Kevin yang menarik tubuh Sona untuk menjauh dari sang suami.
Di Sebuah rumah sakit terbesar di kota Tokyo, yang memiliki lantai 40 itu memiliki berbagai jenis kamar dan juga fasilitas yang sangat baik.
Di Lantai satu lebih tepatnya di depan ruang UGD.
Sona masih terus mencemaskan sang suami sejak kedatangannya kesini jika dihitung dengan waktu sudah tiga jam Sona berada di depan ruangan itu, air matanya sudah terlalu banyak mengalir hingga sekarang dirinya hanya bisa mengigit jari untuk mengusir kegugupannya.
Seharusnya wanita itu membersihkan sisa darah di tangannya dan juga mengganti pakaiannya yang sudah kotor atau setidaknya mengisi kembali energinya, semenjak dia diculik oleh Tuan Min dirinya selalu menolak makanan yang diberikan oleh pria itu, dan sedang tenaganya tinggal sedikit lagi.
Ketegangan dan rasa cemas terus bergantian, karena sebelumnya dokter mengatakan operasi ini sangat beresiko bagi Kevin karena selain peluru yang tertanam terlalu dalam dan punggung tulang belakangnya retak membuat dokter harus memutar otak untuk mengeluarkan peluru tanpa melukai tulang retak itu, itu kenapa pikiran Sona begitu kacau hingga tidak sedikit dia memikirkan untuk makan.
Sesekali Sona akan berdiri untuk mengintip dari cela jendela dan akan duduk jika dirinya sedikit merasa gelisah, semua pengawal Kevin sibuk mencari keberadaan Tuan Min dengan anak bawahannya sehingga Sona sendirilah yang harus mengurus segala kebutuhan Kevin.
“Tuhan, kumohon selamatkan dia, aku sangat mencintaimu, aku akan memaafkan dirinya dan berjanji tak akan meninggalkannya lagi”
“ku mohon, buatlah operasi ini berjalan baik”
Kalimat itu yang terus Sona ucapkan dalam setiap pergerakkan, wanita itu tentu saja terus menyalahkan dirinya yang telah meninggalkan Kevin karena egoisan dirinya, jika.saat itu Sona tidak pergi mungkin Kevin tidak akan terluka separah ini, dia bahkan melindungi Soan tanpa takut nyamanya sebagai gantinya.
Tak lama seorang pria berjas mendekati Sona, dia menggenggam sebuah surat, “Tuan pernah menyuruhku meninggalkan ini untuk anda”
“surat? Kapan Kevin memberikan ini?” tanya Sona, dia tidak pernah melihat Kevin menulis apapun saat dirinya berada di swiss, entah kenapa saat menggenggam surat itu degup jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
“sebelum dirinya pergi ke jepang”
Dengan ragu Sona membuka kertas.
‘ Dear My World …
Dunia ini kompleks …
Aku ingin mencari cinta saat itu …
Aku hanyalah salah satu dari orang-orang itu,
Bahkan aku tidak percaya cinta sejati, hanya berkata
aku ingin jatuh cinta seperti suatu kebiasaan,
Tetapi aku menemukan dirimu,
semuanya menjadi baru bagiku,
Aku adalah sebuah buku setelah aku bertemu denganmu,
Bagaimanapun, aku ingin menjadi pria terbaik untukmu..
Tentu saja, kamu adalah dunia bagiku …
Tapi aku kehilangan duniaku setelah melakukan
Kesalahan sampai melukai duniaku …
Jika duniaku menghilang seperti itu, maka ini
Adalah surat terakhirku …
Kepada orang yang kucintai terlalu banyak ..
Untuk benang merah yang terlalu terikat …
Perasaanmu untukku, terlalu banyak untuk dilepaskan …
Jadi, jangan menangis Sona …
Aku ingin membiarkanmu pergi dari genggaman tanganku …
Untuk alasan itu aku akan mengucapkan selamat tinggal ...’
Tetesan air mata itu mengalir membasahi kertas yang ada di genggaman Sona, pria itu begitu mencintainya tapi dirinya terlalu bodoh dengan segala kecurigaan yang terlalu Sona pikirkan. Dia membaca satu lembar lagi.
“jangan memikirkan apapun untuk saat ini …
Pastikan saja kamu makan dengan baik nantinya …
Aku sangat berharap kamu bertemu seseorang, Yang akan menjagamu dan tulus mencintaimu …
Hingga aku bisa kembali melihat senyuman itu…
Jadi aku akan menutup mataku sekarang …
Dan berharap aku akan mengingat
__ADS_1
saat-saat kita bersama …
Selamat tinggal duniaku, istriku, ikatan benang merahku ...”
Tangisan itu kini telah terganti dengan isakan yang cukup kuat, Sona sampai terduduk di lantai mencoba menahan diri agar tidak mengganggu dokter yang di dalam, bagaimana Kevin bisa memikir untuk menulis surat seperti ini, bagaimana bisa dia menunjukkan jika dirinya tidak layak untuk Sona, Dan Berkata seakan-akan dirinya akan pergi jauh meninggalkan dirinya.
Tiga jam berlalu begitu saja, jika dilihat dari waktu sudah memasuki sore hari namun baik dokter didalam atau Sona sendiri tidak ada hal yang bisa harapkan, melakukan operasi ini sungguh beresiko dan tidak menjamin apapun untuk Kevin.
“Nona, Tuan Kevin berkata jika Nona Sona harus menjaga makan anda”
“aku tidak lapar, bisakah kau meninggalkan aku sendirian disini? Aku benar-benar tidak butuh siapapun kecuali suamiku”
Kepergian pengawal saat itu juga ruangan itu terbuka, Sona yang tidak mau menunggu dokter mendekati langsung bertanya tujuan selama ini dia menunggu.
“bagaimana keadaannya? Apakah operasinya berhasil? Bagaimana dengan Kevin sekarang?” tanya Sona, walau tubuhnya begitu lemah dia masih sangat bersemangat untuk mengetahui kabar sang suami, bagaimanapun Sona masih harus percaya jika Kevin tidak akan pergi meninggalkannya.
“maafkan kami, kami memang berhasil mengambil peluru itu tapi kondisi pasien kritis dan kemungkin akan koma” ucap sang dokter, dia melepaskan genggaman tangan Sona dan sedikit menundukkan tubuhnya sebagai tanda jika dia tidak bisa menjamin apapun untuk keselamatan sang suami.
Sona menghela nafas, dia baru saja berhenti menangis kini dirinya sekarang ingin menangis karena tidak tahu akan melakukan apa selanjutnya, dunia begitu runtuh sekarang tak ada lagi pertahanan untuknya, hingga belum lama dokter pergi tubuh wanita itu jatuh ke lantai.
********
Tiga hari berlalu …
Dokter mengatakan kondisi Sona sudah membaik setelah dirinya dinyatakan positif hamil, yang usianya baru memasuki 2 minggu, di usia itu dokter mengatakan rentan terhadap kesehatan sang ibu, seharusnya Sona lebih menjaga makan dan istirahat-nya tapi Sona malah meninggalkan makan dan terlalu larut dalam tekanan mental.
Dia pingsan lebih dari 5 jam, lalu harus dirawat selama 3 hari, semejak dirinya pingsan hingga sekarang Sona masih mengurungkan niatnya untuk langsung bertemu dengan sang suami, Sona tak mampu jika melihat Kevin dengan kondisi tubuh seluruhnya terdapat alat, belum lagi dirinya yang kini sudah mengandung seorang anak dari Kevin.
“Nona, jangan lupa meminum susu anda”
“Ya, terimakasih”
Sekarang Sona mengerti kenapa sang ibu tidak pernah mau dirawat dirumah sakit karena disini begitu sendiri dan kesepian, sejak sakit tidak ada hal bisa dilakukan Sona, dia tidak ingin menghubungi siapapun apalagi dirinya sedang berada di jepang.
Walau tidak suka dengan hal masuk kedalam mulutnya Sona harus tetap mementingkan kesehatan sang bayi, dia meneguk semua susu itu dan kembali menatap kearah luar dimana banyak para pasien berjalan atau sekedar duduk-duduk di taman.
“aku ingin bertemu dengan Kevin” ucap Sona, dia berbicara dengan perawat yang tadi memberinya susu.
“aku akan mengantar anda”
Sona dan perawat itu berjalan bersama keruangan rawat Kevin yang tidak jauh dari tempatnya, Sona sebenarnya sangat ragu namun dia tidak boleh menghindar dan menjauh, perasaan takut hanya akan membuat dirinya kehilangan semua keyakinan dirinya, Kevin pasti akan sembuh. “kita akan bertemu dengan ayahmu”
Tapi …. Yang dia lihat bukanlah alat yang bertumpukan di atas tubuhnya, melainkan sebuah kain yang digunakan untuk menutupi tubuhnya.
“tidak mungkin--”
Tubuh yang bergetar dan nafas yang terdengar begitu ragu, tangannya Sona begitu gemetar sampai menyentuh kain putih-pun rasanya begitu sulit untuk ditarik, dia tidak siap untuk menerima ini, tidak!! Ini pasti sebuah mimpi yang memaksa dirinya harus bangun!!!
“tidak!!!”teriaknya, dirinya langsung terduduk di ranjang setelah melihat mimpi buruk yang terasa begitu nyata itu dikatakan sebuah mimpi biasa, nafas dan degup jantungnya masih terus berdetak seperti tidak ada kata untuk berhenti melakukannya.
“tenanglah aku disini, jangan takut sayang”
Seperti sebuah khayalan atau memang nyata, Sona begitu terkejut melihat Kevin di hadapannya dengan perban yang hampir menutupi punggung hingga perutnya, pria itu duduk di sisi ranjang dengan susah payah untuk memeluk tubuh sang istri yang baru saja bermimpi buruk.
“K-ev-in? Ini bukan mimpi-kan?”
“tidak ini nyata Sona, maafkan aku telah melibatkan dirinya disini, aku senang bisa kembali melihatmu”
“bodoh!!”
“bodoh!!”
Entah kenapa Sona begitu kesal hingga memukul dada bidang Kevin tanpa tahu jika pria itu sedang terluka, dia begitu syok namun juga bahagia jika itu hanyalah sebuah mimpi bukan kenyataan yang bisa melukai hatinya.
“Sona, aku sedang terluka” ucap Kevin, dia menahan tangan Sona lalu mencium kedua tangannya secara bergantian untuk beberapa detik. “terimakasih karena telah memilih untuk kembali, aku tidak tahu kehidupan apa yang harus aku jalani jika tidak bersamamu Sona tapi takdir tidak pernah salah dalam memilih, itulah kenapa sekarang aku tidak ingin menyia-siakan kesempatan ini, berjanjilah untuk bersedia mendengarkan diriku dan berjanji tidak akan meninggalkanku”
“aku berjanji” ucap Sona, dia lepaskan genggaman Kevin, lalu dia sedikit menarik wajah Kevin untuk menunduk dan membiarkan dirinya mencium keningnya yang juga tertutup perban, kemudian mencium bibirnya untuk beberapa detik setelah itu kembali menatap wajahnya, “aku bermimpi--”
“aku tidak ingin mendengar jika itu menyakiti dirimu Sona”
“tidak, aku bermimpi jika aku memiliki seorang bayi disini”
Sona tentu saja langsung menarik tangan Kevin untuk menyentuh perut ratanya yang mungkin saja pria itu bisa merasakan ada kehidupan disana.
“benarkah? Kalau begitu kita harus memeriksanya”
Sona mengganggunya, dia tersenyum sangat bahagia sampai rasanya air mata itu ikut mengalir bersama dengan kebahagian yang dia rasakan sekarang, mungkin banyak sekali pertanyaan yang ingin sekali dia sampaikan ketika dirinya ingin segera bertemu dengannya tapi ketika dirinya melihat wajah itu seribu pertanyaan hilang tergantikan dengan kebahagiaan tanpa sebuah keromantisan cinta.
Seberat apapun kisahnya dengan Kevin akan tetap menjadi satu pengalaman berharga untuk menjadi pelajaran dimasa depan, sudah cukup banyak kejadian yang menguras air mata, keringat dan juga darah, bukankah kisahnya ini harus terus berjalan?
Ya benar, kisah ini masih berlanjut dengan kisah lainnya dengan versi yang tentu berbeda dan alur tidak sama.
--- TAMAT ---
__ADS_1