![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Lisa dan Han, keduanya kembali saat malam harinya.
Tak lama Kevin dan Sona kembali, Lisa dan Han juga segera memutuskan untuk kembali saat matahari terbenam, bukan tanpa alasan mereka juga miliki kepentingan masing-masing yang tidak bisa membuat mereka melupakan kewajiban masing-masing sebagai seorang pemimpin dan seorang dokter.
“seringlah berkunjung kesini” ucap Risa saat dirinya memberikan pelukan perpisahan pada Lisa, waktu berjalan begitu cepat hingga rasanya pertemuan mereka sangat singkat, membuat Risa merasa kehilangan kehangatan rumah mereka lagi.
Lian mengelus kepala Han sebagai salam perpisahan, pria tua itu tak pandai memperlakukan menantunya dengan baik, “jaga Lisa dengan baik, dan aku akan mempenggal kepalamu jika Lisa menangis karena dirimu”
Han mengangguk, dia melambaikan tangan pada Risa dan menarik Lisa kembali untuk segera masuk kedalam mobil, sebenarnya mereka tidak ingin segera kembali namun Han memiliki urusan yang penting besok dikantor lama Grup Kim dan Lisa yang mendapatkan jadwal operasi pagi hari keesokannya.
“jadi kamu benar-benar akan pindah kesini?”
“Ya, aku memang sudah mengatakan itu bukan? Aku sudah tidak akan kembali lagi Busan” ucap Han, dia mengendarai jalanan kota Seoul yang tampak sepi.
“kita akan kembali kerumah?”
“kamu ingin kemana Lisa? Apa rumahku kurang besar?”
“tidak! Lupakan saja”
“kamu kenapa?”
“tidak ada”
Han melirik Lisa sebentar untuk melihat ekpersi wanita itu, lalu tangan pria mengenggam tangan wanita disampingnya dan sesekali menciumnya, entah apa maksud dari Han untuk melakukan hal itu pada Lisa namun usahanya mampu mencairkan suasana yang awalnya canggung karena tiba-tiba Lisa terdiam.
“hentikan kamu membuatku menjadi malu” ucap Lisa, dia mencoba menahan tangan Han untuk menarik tangannya.
“kenapa? Aku hanya ingin mencium tanganmu saja, kamu ingin akan mencium area lain? Ah.. Seperti sangat menyenangkan jika melakukannya didalam mobil”
Lisa langsung melepaskan tangannya dari genggaman Han, “fokuslah mengemudi saja, aku tidak ingin melakukan hal mesum disini”
“baiklah”
Butuh waktu sekitar 35 menit untuk sampai pada rumah yang Han biarkan Lisa untuk tinggal sendiri disini, ini juga merupakan rumah peninggalan sang ibu yang dia dapatkan dari sang ayah sebagai hadiah karena telah melahirkan Sean, sebenarnya Han sangat tidak mau menempati rumah ini namun setelah kematian sang ibu dan wasiat yang dia tuliskan membuat Han merasa bersalah karena sang ibu begitu menyayanginya walau Han sangat membencinya.
Rumah yang didominasi oleh warna putih sudah mulai kotor dan harus segera diganti, dia menatap murung untuk sesaat dan sedetik berikutnya dia langsung kembali pada situasinya, dia membuka sabuk pengamannya setelah meletakkan mobilnya didalam garasi rumahmya.
“kamu bisa masuk duluan, aku ingin menurunkan koperku lebih dahulu” ucap Han, dia memberikan senyuman paksaan pada Lisa saat dirinya membukakan pintu untuk wanita itu.
Lisa mengangguk, dia berjinjit sedikit untuk mencium pipi Han “aku siap jika kamu ingin menceritakan segalanya padaku, jangan merasa jika luka itu hanya milikmu, selama aku disisimu luka itu juga milikku”
Dia mulai melangkah meninggalkan garasi mobil, Lisa tahu jika Han masih belum bisa terbuka pada dirinya namun jika Lisa yang tidak mulai melangkah untuk mendekati pria itu maka selamanya dia tidak akan tahu apa yang menjadi beban pikiran pria itu dan juga luka yang dia rasakan.
‘harusnya aku lebih terbuka pada Lisa, bukan malah menjadi seperti ini’
Han mengusul Lisa setelah mengeluarkan koper dari bagasi mobilnya, dia juga bingung kenapa setelah menikah dia kehilangan sesuatu didalam hatinya jika dikatkan Han sangat senang bisa bertemu dengan Lisa dan tinggal disatu rumah dengan wanita itu maka Han akan mengatakan ‘Ya’ tapi itu hanya perasaan senang bukan sesuatu yang melebihi itu.
Dulu dia begitu mengejar Lisa dan terus berusaha melakukan yang terbaik untuk menjadikan dirinya sebagai teman hidupnya namun sekarang kenapa dia menjadi seperti ini, apakah ini perasaan seorang pria?
Diusia yang sudah melewati 30 tahun bukankah seharusnya dia lebih matang dalam segala hal apalagi keyakinan hatinya lalu kenapa kini dia tidak yakin?
Adakah seseorang yang mengubah perasaannya?
Atau kini Han kembali dilema pada perasaannya sendiri?
Sesampai diruang tamu, Han tidak menemukan keberadaan Lisa. Dia pikir Lisa sudah kembali kekamar mereka, namun saat dia menatap kearah dapur dia menemukan Lisa yang sedang mengambil sesuatu didalam kulkas, “apa yang sedang kamu cari?”
Lisa mendengar suara sang suami, langsung menatap pada sumber titik suara “aku ingin membuat makan malam untuk kita” ucapnya, dia menunjukan daging sapi yang ada ditangannya pada Han.
“kamu bisa masak?”
Han berjalan mendekati ruangan dapur yang berada disebrang tempat dia berada, dia membuka jasnya dan hanya memakai kaos hitam saja, dia mendekati Lisa yang sedang membersihan bahan-bahan diwastafel, sudah lama dia tidak memeluk tubuh Lisa dari belakang hingga rasanya ini baru pertama kali dia melakukan itu, dia membenamkan kepalanya pada bahu Lisa dan melingkarkan tangannya diperut Lisa.
“aku tidak lapar, aku hanya menginginkan dirimu Lisa, kitakan su--”
“Han, bukankah kamu lebih baik membersihkan dirimu dulu? Daripada mengangguku!” ucap Lisa, dia mendorong Han untuk menjauh dari dirinya, Lisa tahu jika Han akan langsunh meminta jatahnya tapi tidakkan dia seharusnya mengisi energi terlebih dahulu karena Lisa yakin jika Han tidak akan melakukannya sekali tapi bisa dua atau tiga kali mungkin.
“aku? Menganggu? Lisa--”
__ADS_1
“Han, aku sangat lapar.. Jadi bisakah kita melakukannya setelah aku makan dan mandi?”
“baiklah”
“aku mencintaimu” ucap Lisa, dia mencium sekilas bibir Han sebelum kembali membersihkan sayuran dan bahan lainnya.
“aku juga”
Dan mereka melakukan makan malam dengan baik dengan menu makan yang sederhana, Lisa lebih banyak bicara seperti biasanya dan Han menjadi pendengar yang baik, keduanya sama-sama masih dalam proses menyesuai keadaan ini yang bisa dibilang canggung karena sikap Han yang menjadi lebih tertutup, entah itu hanya perasaan Lisa saja yang setiap kali menatap Han hanya ada kekosongan disana, tidak ada tatapan yang biasa dia berikan pada Lisa sebelum mereka.
“apa menjadi beban pikiranmu Han?” tanya Lisa, dia mendudukan dirinya dipangkuan Han, awalnya Lisa hanya ingin membuat Han berhenti bersikap itu dengan terus mengajaknya mengobrol namun itu tidak memberikan apapun jadi Lisa terpaksa menggunakan cara yang sedikit manja.
“tidak ada sayang, aku hanya sedang bersedih, hanya sedikit”
Han melingkarkan tangannya pada pinggang Lisa untuk menarik wanita itu.
“katakan padaku, kesedihan apa yang menjadi beban pikiranmu” Lisa juga tidak mau kalah, dia mengalungkan tangannya dileher Han.
“aku sedih karena telah membenci seseorang salah, aku ingin sekali meminta maaf namun sudah sangat terlambat untuk melakukannya, maaf jika aku jadi sedikit berubah Lisa tapi aku tidak akan pernah berhenti mengatakan jika aku mencintaimu”
“tentang ibumu?”
Han mengangguk.
Lisa mengerti, ini adalah rumah milik ibunya wajar jika rasa kesedihan itu kembali mendatanginya, Lisa memutuskan untuk mencium Han lebih dahulu, walau ciuman masih tidak sehebat Han namun dari buku yang Lisa baca jika pria suka jika wanita yang menciumnya lebih dahulu, dan benar saja sedetik berganti kini Han yang memimpin ciuman itu dengan kehebatannya yang bisa membuat Lisa kehabisan nafas.
Ciuman itu berubah menjadi ******* yang begitu menggairahkan sampai rasanya Lisa tidak bisa menahan dirinya lagi, dia mencoba untuk menjauhkan dirinya dan menatap Han.
“aku tidak bisa menahannya lagi Lisa, bisakah kita melakukannya dimeja ini?”
Lisa sedikit bingung, dia juga tidak bisa berkata-kata jadi dia mengangguk kepalanya.
Han yang melihat persetujuan itu segera mengangkat tubuh Lisa dan membaringkan tubuh Lisa dimeja makan yang tentu saja sudah dibersihkan oleh mereka berdua, disana juga sudah tidak ada pelayan jiak dilihat dari jam yang sudha menunjukan pukul 11 malam.
“tunggu! Han aku belum mandi”
“bagiku kau tetap cantik Lisa, jadi jangan mencoba menghentikanku”
ini pertama kalinya Lisa melakukan disana, tapi baginya ini sesuatu yang baru untuk dirinya dan juga Han, selagi mereka masih bisa memahami satu sama lain dan mencintai, Lisa akan terus menjadi istri yang baiknya.
Dua minggu berlalu ….
Lisa dan Han kembali mendapatkan keharmonisan dari sebuah hubungan rumah tangga yang telah lama menghilang untuk beberapa waktu lalu, kedua melewatkan kesibukan mereka masing-masing dengan selalu memberikan kabar.
Keduanya juga lebih banyak melakukan pertemuan saat Lisa atau Han memiliki waktu luang yang sama, seperti keduanya akan bertemu saat makan siang dan sangat Lisa tidak memiliki jadwal malam dia akan menjemput Han atau sebaliknya jika Lisa punya jadwal malam Han akan menghantarkan makanan untuknya.
Sama seperti sekarang Lisa sedang menemani Han yang masih harus menunda kepulangannya saat tugasnya begitu banyak dikantor, Lisa membantunya sebisa mungkin walau terkadang dia akan bertanya pada Han jika dia tidak mengerti.
Han dan Lisa keduanya memiliki kepentingan masing-masing, Han sibuk dengan banyak monitor dan Lisa yang sibuk dengan tumpukkan dokumen, hingga waktu terus berjalan yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Banyak sekali hal yang harus Han buat di kantor lamanya sebelum dirinya akan mengambil cuti lagi untuk melakukan honeymoon yang sudah keduanya rencana, Han senang karena akhirnya pria bisa membagi pekerjaan dengan sang adik yang sudah mulai memiliki ketertarikan dengan dunia sang ayah.
“akhirnya!!”
Han menekan enter untuk mengakhiri semua tugasnya hari ini, dia juga melakukan semua peregangan tubuh untuk melemaskan kembali tubuhnya yang kaku karena terlalu banyak duduk di kursinya, namun saat dia menatap kearah Lisa dia tidak menemukan keberadaan wanita itu. Lalu pria itu mengeluarkan ponselnya untuk mencari kemana perginya Lisa.
“Lisa kamu dimana?”
“kamu kembali ke rumah sakit? Kenapa tidak memberitahuku? Siapa yang menjemputmu?”
Han sedikit terkejut dengan kepergian Lisa yang begitu mendadak, pasalnya wanita itu belum beristirahat dan belum makan malam tapi dia harus kembali bertugas, saat Han menjadi dokter dia tidak pernah sesibuk ini.
“dengan pria itu lagi?” Han menghela nafas saat Lisa mengatakan jika yang menjemputnya pria yang menghantarkan mobil waktu di bandara.
“baiklah, kamu harus makan Lisa, pekerjaanku sudah selesai jadi aku akan langsung kembali”
“Ya, hubungi aku jika kamu ingin kembali”
Han mengambil jasnya yang tergantung di kursi, dia juga mengambil kunci mobil Lisa yang diletakkan di meja dekat Sofa, seperti Lisa meninggalkan tasnya juga disana.
__ADS_1
‘sebegitu pentingnya hingga lupa membawa tasnya?’ tanya Han, dia terpaksa membawa tas Lisa pulang.
Saat menutupi pintu ruang kerjanya, di seberang dia bisa melihat ruangan sekretaris Hana yang masih menyala, padahal waktu sudah menunjukan pukul 10 malam apa yang dilakukan wanita itu, jika dia sedang mengerjakan tugasnya bukankah masih hari esok untuk melanjutkannya lagi?
Sebagai seorang pimpinan yang baik Han mendekati ruangan Hana, sebelum masuk dia mengetuk pintu lebih dahulu sebelum membuka pintunya “sekertaris Hana, kamu belum kembali? Sebentar lagi kantor aku di kunci”
Hana yang menyadari kehadirannya langsung bangkit dari kursi dan menundukkan sedikit tubuhnya pada Han, Hana bingung untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi yang membuat dirinya harus menunda kepulangannya “Tuan Han, maafkan aku, tidak segaja aku telah menghapus dokumen untuk presentasi besok, saat ini aku sedang membuat ulang”
“tidak perlu terburu-buru sekertaris Hana, lagipula rapat akan dimulai setelah makan siang” ucap Han.
“tapi--tapi Tuan Han, bukankah rapat akan dilakukan pagi hari?”
“tidak, rapat ditunda hingga setelah makan siang, jadi kamu beristirahatlah dengan baik dan keesokan harinya perbaiki semua tetap waktu”
Hana membuang nafas lega, dia pikir besok dirinya akan dipecat atau mungkin akan dimarahi oleh atasannya, namun seperti Tuhan masih memberikan kesempatan untuknya. Dengan bahagia Hana merapikan meja kerjanya, mematikan layar monitornya.
“sampai bertemu lagi Tuan Han” ucap Hana, dia segera mengambil jaket dan juga tasnya untuk segera kembali pulang, namun baru saja ingin melangkah meninggalkan ruangannya sekertaris Hana dihentikan langkahnya oleh Han.
“dimana rumahmu?” tanya Han, dia tidak sengaja menarik pergelangan tangan sekertaris-nya, namun itu hanya berlangsung selama 5 detik.
“aku tinggal di gangnam” ucao Hana, dia sedikit melangkah menjauh dari Han saat pria itu melepaskan tangannya, situasi yang begitu canggung untuk mereka berdua di ruangan yang hanya ada dirinya dan juga Han.
“kita satu arah, bagaimana jika aku mengantarmu? Ini sudah malam tidak baik jika kamu pulang menggunakan kendaraan umum”
“uh? Terimakasih, tidak perlu Tuan Han, aku bisa memesan Taksi online atau meminta ayahku untuk menjemputku”
“baiklah”
Apa yang dipikirkan Han?
Dia seperti sedikit memaksa, seperti kejadian dimana dirinya seperti sedang jatuh cinta pada asisten seperti di novel-novel, dengan cepat Han segera meninggalkan ruangan itu dan pergi menggunakan lift pribadi.
Hana, dia terpaksa menunggu Tuan-nya untuk turun lebih dahulu, lagi-lagi situasinya seperti ini bagaimana bisa Hana tidak bersikap tegas padanya, padahal wanita itu akan segera menikah. Tapi dihadapan Han dia seperti tidak bisa mengatakan mengerti perasaannya sendiri.
******
Sesampai dirumah, Han kembali merenungkan segala hal entah itu pekerjaan atau hal lain, pria itu mendudukan dirinya diranjang kamar mereka, satu persatu dia membuka pakaian seragam kerjanya yang selalu didominasi oleh warna abu-abu, mulai dari dasi, jam dan kemeja.
Dia membiarkan dadanya terekspos begitu saja, Han perjalanan menuju dapur rumahnya untuk mengambil sesuatu untuk menghilangkan rasa hausnya yang tiba-tiba saja mengganggu tenggorokannya, Han memilih meminum sekaleng bir.
Saat dia ingin kembali untuk membersihkan dirinya, tiba-tiba suara dering bel membuat Han harus melihat siapa yang malam-malam berkunjung kerumahnya, dari sebuah CCTV dari dalam rumahnya Han bisa melihat jika yang ada di depan rumahnya ada keranjang dan sebuah teriakan bayi.
Tak lama kemudian Han langsung membuka pintu rumahnya dan dia tak langsung melihat isi keranjang itu tapi dia malah mengejar wanita yang mencoba untuk pergi dari rumahnya. Han tidak peduli jika tubuhnya dilihat orang lain yang jelas dia harus mengejar wanita itu terlebih dahulu.
“Tunggu!!” ucap Han, dia menahan tangan wanita itu untuk berhenti melangkah menjauh, dengan terpaksa Han membuka selendang yang menutupi wajahnya.
“anda tidak bisa meninggalkan bayi anda disini Nona”
Wanita itu langsung terduduk di jalan dan menyentuh kaki Han, dia juga menangis “jika seperti itu bisakah anda menikahiku? Aku juga bersedia menjadi jalangmu jika kamu mau, apapun akan aku lakukan untuk bisa membuat bayiku hidup bahagia”
Han yang melihat itu langsung menarik tubuh wanita itu yang dia yakin usianya tidak jauh berbeda dengan Lisa, wajahnya begitu penuh dengan lebam bekas pukulan dan tubuh kurus yang menjelaskan semuanya jika wanita ini butuh sebuah pertolongan, tapi bukan berarti Han bersedia menikahinya.
“Nona, anda masih muda, kamu masih bisa bekerja dan merawatnya sendiri, aku sudah menikah dan aku tidak butuh wanita lain, jadi bisakah kamu membawa bayimu pergi”
“aku akan membawa bayiku pergi tapi tolong jadikan aku simpananmu, aku tidak punya pendidikan yang baik, akan sulit bagiku pekerja, aku mohon hanya dirimu yang bisa membantuku Tuan”
“baiklah, kamu tunggu disini dulu, dan ambil bayimu”
Han berlari masuk kedalam rumahnya untuk mengambil mengambil kunci mobil dan mengambil dompetnya, hingga hanya butuh waktu 10 menit untuk mengambil semua itu.
Dia membantu wanita yang tidak diketahui namanya untuk masuk kedalam mobilnya bersama bayinya, yang terpenting sekarang Han harus memberikan tempat tinggal untuk mereka, karena Han tahu rasanya bagaimana sakitnya harus berpisah dengan bayinya dan Han tidak mau bayi itu bernasib sepertinya.
Han membawa wanita itu ke sebuah apartemen terbaik di pinggiran kota Seoul yang tidak jauh dari kantornya, disana dia sempat mempunyai apartemen yang sedang sudah tidak dia tempat.
“kamu bisa tinggal disini, dan tolong jangan mengatakan hal itu, anggap saja aku hanya membantumu bukan ingin menjadimu wanitaku, ada beberapa pakaianku di dalam untuk sementara, dan ini membeli makanan dan juga susu untuk bayimu” ucap Han, dia memberikan beberapa Won pada wanita itu dan juga memberitahu kunci apartemennya.
“Tuan terimakasih, untuk semuanya, aku akan melakukan apapun jika kamu membutuhkan sesuatu”
“baiklah berhenti menangis, aku akan kembali nanti”
__ADS_1
Han segera kembali ke rumahnya, ini sudah pukul 11.30 malam, dia seharusnya sudah berada dirumah untuk menunggu kepulangan Lisa atau setidaknya membersihkan dirinya sebelum tidur, kekacauan apa yang sebenarnya sedang terjadi, kemunculan bayi dan juga wanita itu bukan suatu hal yang kebetulan pasti ada seseorang yang ingin menghancurkan rumah tangganya atau emang benar jika dia membutuhkan bantuan.