![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Entah sudah berapa kali Risa mengumpat karena Lian.
“jangan terlalu sering menyembunyikan sesuatu”
pria itu masih duduk di sisi ranjang setelah memberi Risa obat, “kamu selalu menyimpangnya sendirian tanpa ingin membaginya ke orang lain”
Apa ada yang salah dengan pria di depannya? Memang Risa menyembunyikan apa darinya?
“seperti hari ini, kamu bahkan tidak memberitahuku jika kamu sedang sakit”
mata Lian menatap Risa penuh keseriusan, sementara yang diberikan tatapan hanya bisa menunduk.
“aku hanya tidak ingin Kevin tertular”
“lalu kenapa tidak bilang jika Jennie mengajakmu bertemu di Cafe saat itu? Kamu sudah tahu soal Lisa,kan?”
Shit!
kenapa Lian bisa tahu soal itu, pasti dia sudah menyewa orang untuk membuntuti Risa.
“aku hanya merasa tidak perlu memberitahumu”
bohong!
Risa hanya merasa tidak cukup percaya jika Lian akan mempercayai ucapannya, dia hanya orang asing yang kebetulan berada di kehidupan mereka.
“apa yang sudah kamu ketahui selain Lisa?”
Risa bisa melihat jelas, jika tatapan Lian yang terfokus padanya.
“tidak terlalu banyak, selain Jennie yang sangat mencintaimu dan kalian sudah bersahabat sejak kuliah, hanya itu saja”
ada rasa sesak saat Risa mengucapkan kata-kata itu. “kurasa kalian serasi”
“kamu tidak percaya?”
Lian membawa Risa kedalam dekapannya, membiarkan kepala Risa bersandar di dada bidangnya, “bahwa aku benar-benar menyukaimu”
“mungkin ini terlalu cepat untuk di katakan cinta, aku hanya takut perasaanku itu semu“
Risa menikmati dekapan Lian yang semakin mengerat, saat helaan nafas hangat Lian menyapu lehernya semuanya terasa begitu nyaman.
“menurutmu ini masalah waktu?”
Dan Risa menganggukan kepalanya membenarkan ucapan Lian.
“waktu dan hati, kamu lebih percaya mana? Waktu yang lama ketika saling mengenal tidak menjamin jika hati kita akan terpaut satu sama lain, bukan waktu yang menentukan. tapi hati, saat orang lain butuh waktu untuk menyadari perasaannya, sebenarnya itu bukan masalah waktu. Tapi masalahnya hati, hatinya masih tidak mau mempercayai apa yang kamu yakini, bahwa Jung Lian telah jatuh cinta padamu“
hati Risa menghangat saat kecupan di kepalanya terasa begitu intens.
“tidurlah“
Lian melepaskan pelukannya, membiarkan Risa berbaring tanpa berucap satu kata pun setelah rentetan ucapan yang dia lontarkan.
*********
__ADS_1
“Kevin!”
Risa menatap Kevin yang sedang merajuk tidak mau berangkat sekolah. “Ibu baik-baik saja, jadi Kevin pergi sekolah okey?”
Kevin masih saja memeluk erat pinggang Risa, menelusupkan kepalanya di perut Risa.
Saat Risa turun kebawah untuk mengambil minum, Kevin sudah rapi dengan seragam yang melekat di tubuhnya, Risa pikir Kevin sudah berangkat ke sekolah.
Kevin langsung menerjang Risa dengan segala rentetan pertanyaan, bocah itu terlihat khawatir melihat wajah kusut Risa dengan hidung yang masih merah.
“kevin ingin menemani Ibu saja, Kevin tidak mau sekolah” rengek Kevin, dia tidak peduli dengan ucapan Risa.
“Ibu baik-baik saja, sayang, Kevin bisa menemani Ibu setelah pulang sekolah“
Risa masih mencoba membujuk Kevin meski terlihat sia-sia, karena Kevin masih bersikeras dengan keinginannya.
“Kevin”
Lian ikut mendudukan dirinya di sofa, pria itu menarik Kevin kedalam dekapannya, “Ibu hanya butuh istirahat, jadi ayo kita berangkat ke sekolah, biarkan Ibu beristirahat supaya cepat sembuh”
Kevin menunduk dalam mendengar ucapan Ayahnya, dia hanya khawatir pada Ibunya yang sedang sakit.
“Kevin ingin Ibu cepat sembuh bukan?” tanya Lian.
Kevin mengangguk berulang kali.
“bagus, kalau begitu kita sekolah, setelah itu Kevin tidak boleh mengganggu Ibu, biarkan Ibu istirahat”
Risa menunjukan senyuman, saat Kevin akhirnya mau pergi sekolah, dia mengecup pipi Kevin pelan.
“anak pintar”
“istirahatlah”
Risa hanya mengangguk pelan, wajahnya merona saat tangan Lian mengacak surai kecoklatannya.
Beberapa jam berlalu …..
Risa sudah tidur hampir setengah hari, rasa bosan menyerangnya saat dia hanya berbaring di dalam kamar, akhirnya dia memutuskan untuk pergi berkeliling rumah Lian, meski sudah cukup lama Risa tinggal disini dia jarang sekali melihat ke setiap bagian rumah Lian.
“Nona mau pergi kemana?” tanya perempuan paruh baya yang memakai pakaian maid berwarna hitam, perempuan itu terlihat sangat mengkhawatirkan Risa.
“aku hanya ingin jalan-jalan saja”
Risa menunjukan senyuman hangatnya, berharap bibi tidak menghalangi niatnya hanya untuk sekedar berjalan-jalan meregangkan otot-otot di tubuhnya.
Langkah Risa menelusuri lorong kecil menuju lemari buku yang berjejeran, sepertinya bukan pilihan buruk menghabiskan waktunya di ruangan penuh buku.
Ruangan ini rasanya tidak cocok dikatakan perpustakaan yang kesannya sangat melekat dengan tempat sunyi dan sedikit temaram.
Lemari-lemari putih menjulang tinggi, dinding ruangan berwarna biru pastel terlihat cerah hampir disetiap sudutnya, dinding sebelah selatan yang terbuat dari kaca yang mengarah langsung ke taman belakang dari sini bisa terlihat hampir seluruh taman belakang dipenuhi tanaman hias.
Ruangan ini ditata sedemikian rupa agar terasa nyaman, pasti yang mengisinya mempunyai sifat yang lembut, melihat bagaimana kombinasi warna yang terkesan kalem atau selembut sifat wanita.
Risa mengambil novel karangan Johanna Lindsey, membacanya di sofa yang menghadap ke arah keluar.
__ADS_1
Lama menyelami bacaannya, akhirnya Risa selesai membaca novel itu, kakinya melangkah pada satu lemari kecil berwarna coklat bertulisan 'Our' diatasnya.
Ada beberapa album foto, tangan Risa menarik satu album foto bersampulkan bunga Azalea, foto-foto Kevin saat masih balita tercetak jelas di sana.
Bibirnya menunjukan senyum saat melihat foto Kevin yang masih berada dalam inkubator, dalam foto itu terdapat caption.
[the best gift ever].
Kevin tumbuh tanpa seorang Ibu di sampingnya, Risa tidak pernah membayangkan bagaimana Kevin menjalani kehidupannya, apalagi saat teman-teman sekolahnya membanggakan sosok Ibu mereka, sementara Kevin tidak pernah mengenal sosok Ibunya.
Air mata Risa nyaris menetes mengingat Kevin, tangannya terulur mengambil satu buku catatan bersampulkan bunga matahari, mungkin itu buku milik Lian, tapi rasanya terlalu feminim untuk dimiliki seorang pria.
{ 14th Januari 20XX }
'Tuhan, terimakasih untuk semua kebahagian ini, aku tidak pernah menyesal dengan segala keputusan yang kubuat, dokter bilang kehamilanku akan berdampak buruk padaku, dia menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku, karena dia masih belum sanggup kehilanganku.
Aku begitu sangat mencintainya, tapi aku juga menyayangi puteraku, semoga aku mampu berjuang menyelamat-kan puteraku.'
Tubuh Risa terpaku, pikirannya masih samar-samar membayangkan tulisan yang tidak diketahui milik siapa, sampai akhirnya rasa penasaran menguasainya, membuat dia membuka lembar demi lembar nya.
{ 16th April 20XX }
'Kandunganku sudah menginjak bulan kedelapan, semakin hari tubuhku terasa semakin nyeri, dia masih berusaha menyakinkanku, dia ingin aku tetap hidup. Dan aku tidak mau itu, aku ingin anakku tetap hidup meski aku harus kehilangan nyawaku.'
{ 12nd Mei 20XX }
'Hari yang kutunggu akan segera tiba, hari kelahiran anakku, tapi anehnya aku tidak sedikitpun melihat raut kebahagiaan di wajahnya, dia semakin terlihat sedih.
Tuhan, salahkah jalan yang kupilih?
Aku hanya ingin anakku melihat indahnya dunia, mengenal bagaimana sosok ayahnya yang begitu aku cintai, rasanya aku sudah cukup banyak kebahagiaan yang ku reguk terlebih memilikinya sebagai seorang suami.
Aku tidak mau menjadi orang egois yang mementingkan kebahagiaanku, aku ingin anakku bahagia nantinya meski tanpa sosok Ibu di sampingnya.'
{ 20th Mei 20XX }
'Dear Kevin.
Jung Kevin Eun, apa kabar?
Ibu menulis ini saat kamu lahir kedunia, rasanya sangat bahagia mendengar tangisanmu untuk pertama kalinya dan mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya.
Kevin putera Ibu, kamu tahu ibu sangat menyayangimu nak, berapa usiamu sekarang? rasanya Ibu ingin sekali menemani Kevin, melihat Kevin belajar berjalan, membuatkan bubur untuk Kevin, mengantar Kevin kesekolah, tapi Ibu tidak bisa melakukan itu, Tapi Ibu bahagia karena sudah melahirkanmu ke dunia.
Bagaimana ayahmu? Apa dia masih manja? Sejujurnya ayahmu-lah yang paling terluka saat ini, bukan Kevin ataupun Ibu.
Saat itu Ibu melihat Ayah menangis, dia berulang kali menyalahkan dirinya sendiri, dia merasa gagal menjadi seorang kepala keluarga karena tidak bisa menjaga Ibu, dia juga takut tidak bisa menjadi Ayah yang baik.
Tapi Ibu yakin, Ayahmu pasti bisa menjadi ayah terbaik, Iyakan Kevin?
Tangan Ibu mulai lelah, rasanya juga sekarang mulai mengantuk, maafkan Ibu tidak bisa menulis banyak kata-kata untuk Kevin, jadilah matahari untuk ayahmu.'
Ibu menyayangimu.
[ Park Lisa Eun ]
__ADS_1
Risa yakin ini buku milik Lisa, dia juga yakin bahwa Lian sudah membaca buku catatan milik Lisa yang terselip diantara album foto, yang Risa tahu saat ini bahwa Lisa adalah sosok yang sangat Kuat.
Perempuan itu berjuang melawan kesakitannya setiap harinya agar putranya lahir, padahal sejak awal dia tahu jika kehamilannya membahayakan nyawanya, tapi Lisa masih bersikeras ingin melahirkan Kevin meski nyawanya yang akan menjadi penggantinya.