![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
“kamu menyukainya?” tanya Lian wajahnya terlihat tegang begitu melihat Risa tengah memperhatikan dengan seksama isi dari kotak beludru berwarna putih gading.
“tidak ada musik pengiring, atau untaian kata puitis yang terdengar romantis di telingaku?” Risa menutup kotak itu, membuat kening Lian mengerut tidak mengerti.
“kamu bahkan tidak mengajakku untuk membeli cincin ini, padahal aku belum tentu menyukai cincin ini” ucap Risa lagi.
Jung Lian Cho mengusap wajahnya dengan telapak kanannya, perempuan sangat sulit dimengerti, kemarin saat Lian mencoba merayu Risa yang tengah menangis dengan untaian kata manis, Risa malah memakinya karena dipikir Lian itu tukang gombal pandai merayu. Sekarang ketika Lian tidak berkata apa-apa Risa sudah mulai merenggut juga.
jadi sebenarnya apa yang Risa inginkan?
Apa emosi seorang perempuan yang mau menikah memang seperti ini?
Selalu berubah-ubah layaknya Roller Coaster?
“Well, aku tidak mengerti apa yang ada dipikiranmu, Sayang.”
saat ini mereka tengah duduk berdua di sofa yang berada di ruang tengah, Lian tidak menyewa restoran atau tempat romantis hanya untuk menjadi saksi ketika dia melamar Risa, Lian hanya memilih untuk melamarnya di rumahnya.
“kamu memang tidak pernah mengerti jalan pikiranku” ucap Risa sedikit memajukan bibirnya.
Lian hanya tersenyum ringan sebelum akhirnya dia bersimpuh di depan Risa, mengambil alih kontak yang sejak tadi berada di genggaman Risa.
“maafkan aku jika aku memang tidak romantis, melamarmu di rumahku sendiri bukannya aku tidak mampu menyewa tempat romantis untuk sekedar menyusun acara lamaran seperti yang orang lain lakukan."
Mata Lian menatap tepat pada mata Risa, jarinya mengusap pelan tangan Risa mencoba memberikan kehangatan.
“aku sengaja melakukannya di rumah, agar kita selalu ingat moment membahagiakan ini, ketika orang lain membuat kenangan menyenangkan di luar rumah mereka, aku justru ingin membuat kenangan membahagiakan di rumah kita, mulai dari sekarang maukah Song Risa Ahn membuat kenangan yang membahagiakan di rumah ini? Mengukir kisah kita, maukah kamu menjadi teman hidup seorang Jung Lian?”
Bibir Risa tertutup rapat ketika Lian membuka kotak itu, Cincin solitaire yang terlihat elegan tanpa banyak berlian.
“Will You Marry Me?” ucap Lian
Risa menangis haru, dia hanya mengangguk, ketika tangan Lian memasangkan cincin itu di jari manisnya.
“Yes, I Will” jawab Risa dengan tegas
Dan perasaan ragu itu menguap seketika, bahwa untuk mengarungi sebuah pernikahan bukan hal penting jika pasanganmu tidak bisa bersikap romantis seperti yang lain. Pasti dia punya cara lain untuk membuatmu bahagia di setiap detiknya.
"I Love you Risa, you Be Mine" ucap Lian dia mencium kedua tangan Risa penuh dengan kasih sayang.
"Love You Too so much Lian" ucap Risa, dia sedikit memajukan wajahnya hanya sekedar untuk mencium kening Lian.
********
Jika wanita lain akan membayangkan pernikahan mewah ala disney yang kini tengah menjadi trendsetter di kalangan elite Seoul, Risa justru tidak pernah mengharapkan pernikahan seperti itu.
Meski Lian menyerahkan pada Risa mengenai tempat resepsi, Risa tidak mau menikah ala Disney meski dia penggemar berat 'Beauty And The Beast'.
“Ibu” ucapan Kevin mengambil alih kesadaran Risa yang sejak tadi memandang ke depan, menyusuri setiap jalan Seoul.
“kita akan kemana?”
Kevin duduk tenang di kursi belakang dengan seatbelt yang melingkar sepanjang bahu dan pinggangnya
.
“kita akan bertemu dengan kakek” jelas Risa, dia tahu Kevin tidak pernah mengenal jelas kakek dan neneknya.
Ayah Lian meninggal ketika Lian duduk dibangku SMA, sementara Ibu Lian meningga ketika Usia Kevin menginjak dua tahun.
Risa sudah tahu jelas tentang masa lalu Lian, karena itu dia tidak mau terlalu mengungkap lebih jauh masa lalu Lian yang mungkin bisa melukai hati Lian kapan saja.
“kita akan bertemu paman Nam dan bibi Hye-In“ Risa tertawa ringan membayangkan Naina yang pastinya akan memarahinya ketika di panggil bibi oleh Kevin.
Lian sengaja mengajak Risa pulang ke rumahnya, memaksa mengambil cuti di kantornya.
“kamu senang?” Lian melirik sekilas pada Risa, lalu membenarkan posisi spion dengan untuk melihat Kevin yang mulai mengantuk.
“tentu saja” Ia mengangguk, hatinya menghangat ketika sebelah tangan Lian menyusup mengenggam erat jemarinya.
“Fokus dengan jalanmu, Lian”
Lian hanya menanggapinya dengan senyuman, tapi pada akhirnya dia menuruti perintah Risa sebelum membawa jemari Risa menyapa bibirnya, Lian mengecup pelan tangan Risa penuh kasih.
“tidurlah, aku akan membangunkanmu jika sudah sampai”
Tatapan sejuk Lian sungguh membuat jutaan kupu-kupu di perut Risa semakin bertebangan tidak menentu arah. Memporak-porandakan setiap sel yang membuat tubuh Risa melemas.
“tapi aku tidak mengantuk” gumam Risa pelan.
Alis Lian terangkat, sebelum sebuah ide melintas di kepalanya, dia membawa mobilnya ke kiri hanya untuk menepi sebentar.
Raut kebingungan terlihat jelas di wajah lelah Risa, ketika Lian berhenti, lalu menatapnya lekat.
“calon istriku yang cantik”
Lian menangkup wajah Risa dengan kedua tanganya, jemarnya dengan nakal mengusap pipi lembut Risa.
“kamu harus tidur agar tidak kelelahan, aku tidak mau calon Ibu dari anak-anakku sakit saat menjelang resepsi pernikahan”
Bibir Risa merenggut mendengar ucapan Lian yang terdengar berlebihan, Risa beberapa hari ini memang sibuk mengurusi beberapa hal menjelang hari pernikahannya, bahkan tekanan darahnya sempat turun karena terlalu kelelahan, dan berakhir dengan Lian yang mengurungnya di rumah agar beristirahat total.
__ADS_1
“aku tidak mengantuk!”
“pejamkan matamu” suara Lian sangat lembut, menghipnotis Risa dalam satu nada.
Ketika Lian mengecup pelan kelopak matanya yang tertutup, Risa bisa merasakan kakinya yang mulai melemah, pria di depannya tengah mengecup kelopak matanya Risa secara bergantian.
“mulai hari ini, meski belum diikrarkan di depan tuhan, tapi kita telah saling memiliki satu sama lain” kali ini Lian mengusap pelan kelopak mata Risa, membiarkan rasa kantuk menyerang Risa perlahan, berharap ucapannya kali ini bisa pengantar tidur yang indah.
“hingga cinta itu diikrarkan, kita akan sama-sama ketakutan jika salah satu dari kita pergi lebih dahulu saat menjadi tua, tapi kali ini aku tidak khawatir, karena aku sudah memilihmu menjadi pendamping hidupku, selamanya”
Risa hanya bergumam, sebelum dia mengecup ujung hidung Lian.
“anggap saja itu hadiah karena sudah membacakan dongeng sebelum tidur”
Lian hanya terkekeh, membiarkan Risa membenarkan posisi duduknya, dengan telaten Lian menurunkan kursi Risa sedikit, agar Risa bisa tertidur lelap menyebrangi alam mimpi seperti Kevin.
selama perjalanan Lian hanya fokus menatap ke depan, dia akan sesekali menatap kearah Risa Dan Kevin hanya untuk memastikan kedua benar-benar tertidur lelap.
hingga tidak Terasa mereka sudah sampai di kediamanan Risa, menbuka pengaman Lian mencoba membangun Risa.
"Sayang kita sudah sampai, ayo bangun"
Setelah membangunkan Kevin Dan Risa, kind mereka melangkah bersama, menuju rumah Risa yang sudah disambut Oleh ayah Risa, Song Hye-In (AdiK Risa), Song Cha-yoon (Kakak Risa)
“Kevin!” seruan Hye-In dari dapur, mau tidak mau membuat Risa bangun dari duduknya, mereka sudah sampai dua jam yang lalu tepat pukul 4 sore, setelah mengistirahatkan tubuhnya beberapa jam, Risa memilih menonton TV di ruang tamu.
Lian sendiri masih beristirahat di kamar Risa, dan Kevin sepertinya anak itu sekarang tengah menjadi penyebab Hye-In berteriak.
“Kevin hanya ingin membantu Kakak Hye-In” ucap Kevin dengan tangan yang terbalut tepung, rencananya Niana ingin membuat Tteokbokki, wajar saja Naina itu seperti remaja kebanyakan penggemar drama.
“dia membuat adonannya encer” gerus Hye-In sambil menunjukan adonannya yang memang terlalu banyak mengandung air.
“aku hanya menambahkan sedikit air, kakak Hye-In” Kevin menampilkan deretan gigi putihnya, wajahnya terkena tepung terlihat menggemaskan.
“kakak Risa” regek Hye-In mencoba membujuk Risa agar menjauhkan Kevin dari tempat eksekusi miliknya.
“Ibu” kali ini Kevin tidak mau kalah, dia memanggil Risa dengan nada merajuk, ditambah tatapan nakalnya.
“Kevin hanya ingin membantu, Ibu Guru selalu mengajarkan untuk saling membantu dan Kevin hanya ingin membantu kakak Hye-In”
“Kevin boleh membantu, Bibi Hye-In. Tapi Kevin harus mendengarkan apa yang diucapkan bibi Hye-In, mengerti?”
Tanya Risa, dia hanya mencoba jalan damainya saja.
Sementara itu Lian yang sudah bangun karena teriakan Song Hye-In, tengah menikmati pemandangan yang tersuguh di dapur kediaman Risa.
Mungkin ini adalah anugerah tuhan, hingga Lian berkesempatan dipertemukan dengan Risa, mengenalnya, sejak saat itu, hati Lian selalu dipenuhi harapan bahwa hidupnya akan dipenuhi kebahagian
“ayah setuju” ucap Ayah Risa, pasalnya dia juga tidak ingin jika pernikahan putrinya terlalu dihebohkan oleh publik mengingat siapa seorang Jung Lian.
“hanya kerabat dan teman dekat saja, karena terlalu banyak kamera akan mengurangi berkat dari acara pernikahan kalian”
Lian tersenyum senang saat Ayah Risa sudah menyetujui semuanya, dua hari lagi mereka akan terbang ke Daegu, Donghwasa di kota Daegu akan menjadi saksi Lian mengikrarkan janjinya di depan Tuhan.
“ku rasa kamu orang yang pelit, bukan tidak mungkin denganmu kamu bisa membuat pesta yang cukup mengeger negeri ini, tapi kamu sungguh pelit, hanya sebuah resort?” Nam-Yoon mendecih tidak percaya, dia masih saja kesal tentang resepsi sederhana pernikahan adiknya.
“aku tidak keberatan, Kakak Nam” tangan lembut Risa mengusap pelan punggung tangan Lian yang sejak tadi mengengamnya.
“lagi pula aku tidak mau menghabiskan uang hanya dengan hal-hal tidak perlu, pernikahan bukan tentang seberapa megah resepsinya, tapi tentang sebuah ikatan, yang terpenting adalah janji yang akan kami ikrarkan nanti di hadapan Tuhan tak kami langgar, bahwa aku dan Lian takkan berpisah kecuali maut yang memisahkan”
Hati Lian menghangat mendengar ucapan Risa, jika saja tidak ada ayahnya di sini Lian sudah pasti takkan segan mengecup bibir Risa yang sudah melontarkan kata manis itu.
Lian bukannya tak mampu mengadakan resepsi megah dengan trend abad 21 ini, tapi dia tahu Risa tak akan menyukai ini hal seperti itu, maka dari Lian lebih memilih, Daegu dibandingan Seoul.
Setelah perdebatan itu terselesaikan, mereka semua memutuskan untuk makan malam bersama,
************
hingga tidak terasa hari ini adalah pernikahan yang Risa tunggu sejak lama.
“Ibu” Kevin berlari melepaskan genggaman tangan Keira.
Risa memberi sebuah pelukan pada Kevin, mengucap pelan pipi Kevin “Kevin tampan sekali”
Tuxedo berwarna coklat muda dengan lengkap dasi kupu-kupu membalut tubuh kecil Kevin.
“Ibu juga cantik”
“Kevin benar”
Kim Keira menatap kagum pada Risa, dalam balutan gaun pengantin putih Risa terlihat sangat cantik, gaun pengantin yang Risa kenakan bukan gaun yang bisa menyapu lantai seperti kebanyakan orang lain kenakan
“Lian pasti akan langsung menerkammu, jika melihatmu sekarang ini”
Kekehan ringan mengudara dari mulut Risa, hari ini di Donghwasa di kota Daegu dia dan Lian akan mengucapkan janji suci. Ayahnya berdehem diujung pintu, bersiap mengantarkan Risa ke altar, Lian sudah menunggunya di sana dengan berjuta perasaan bahagia.
“ayo” Ayah Risa mengulurkan tangannya, dengan senyum penuh kebahagian, Risa menerima uluran tangan Ayahnya.
Kali ini tidak lagi menjadi tanggung jawab Ayahnya Risa, kehidupan barunya akan segera dimulai, sesaat janji suci terucap kebahagiaan menunggunya, kehidupan sesungguhnya sebagai seorang wanita.
Karena kita telah jatuh cinta dengan ribuan cara, kita saling mencintai, terbuai hingga apapun yang kita lihat dan kita dengar terdengar indah.
__ADS_1
Lian terus menatap Risa Saat dia melangkah mendekati Altar, Risa terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin.
As i stand here before my mowan
i can’t fight back the tears in my eyes,
How could i be so lucky i must’ve done
something right and i promise to love
her for the rest of my life.”
{ ketika aku berdiri didepan wanitaku,
aku tidak bisa menahan tangisan dimataku, bagaimana aku bisa sangat beruntung,
aku pasti punya sesuatu dan aku berjanji
akan mencintainya selama sisa hidupku }
"aku lepaskan putriku padamu untuk kamu jaga selamanya, aku sebagai ayah Risa hanya bisa berharap bahwa kamu adalah lelaki yang tepat untuknya, buatlah dia bahagia karena telah memilikimu" ucap ayah Risa saat menyatukan kedua tangan Risa dan Lian.
"Ayah--"
"Risa, ayah selalu menyayangimu, bahagia-lah bersamanya, dan jangan menangis aku selalu ada dihati kemanapun kamu pergi"
sebelum ayah Risa turun dari altar, dia mencium kening putrinya yang sangat dia sayangi dan cintai,
"Ayah aku mencintaimu" ucap Risa, satu tetesan air mata kebahagian mengalir dari matanya.
"aku akan selalu mengingat semua pesanmu" ucap Lian.
Lian membawa Risa menghadap pendeta untuk mengikrarkan janji mereka.
"baiklah, kita akan mulai, apa Jung Lian bersedia menerima Risa sebagai istrimu yang akan menemanimu selama hidupmu disaat dia sehat ataupun sakit" tanya pendeta pada Lian
"Aku bersedia" ucap Lian tanpa ada keraguan.
"apa Risa bersedia menerima Jung Lian sebagai suamimu yang akan menemanimu selama hidupmu disaat dia sehat ataupun sakit" tanya pendeta pada Risa
“aku bersedia” Risa dengan tegas saat pastur bertanya.
Ketika pastur meresmikan hubungan mereka, sorak kebahagian tidak dapat dihindari, lonceng gereja berdering seolah sedang menebarkan kebahagian ke setiap penjuru.
Lian menarik Risa kedalam kedapannya, mengecup pelan kening Risa “terimakasih”
Risa mendongak menatap mata Lian, jemarinya membingkai dagu Lian, mengusap pelan sekitar wajah suaminya, ya kini Lian sudah resmi menjadi suami Risa.
Diantara para tamu, Jennie duduk di barisan paling depan, melemparkan senyum bahagia saat Risa bertatapan dengannya, masih ada sedikit garis luka di matanya.
Risa bisa melihat itu, karena melupakan butuh proses, ketika para tamu mulai berteriak agar Risa segera melemparkan bunga digenggamannya, dia justru mempunyai ide lain.
“aku takkan melemparkannya” Risa melepaskan lengan Lian yang masih melingkar erat di pinggangnya, berjalan meninggalkan altar dengan bibir yang terus tersenyum.
“aku akan memberikannya untuk seseorang”
Langkah Risa terhenti di depan Jennie, wajah Jennie merona.
“untukmu, kamu pasti akan bahagia”
Masih dengan senyum tulus yang tidak pernah lepas dari wajahnya, Risa menyerahkan rangkaian bunga itu pada Jennie.
“kebahagianmu bukan tergantung pada orang lain, kamu yang menentukan kebahagianmu sendiri, percayalah, kebahagiaan tengah menunggumu”
Jennie menerima rangkaian bunga dari Risa, lalu memeluknya erat “terima kasih”
“kamu juga, semoga kamu dan Lian selalu dikelilingi kebahagiaan”
“aku bukan pria sempurna, apalagi pria romantis yang mampu merangkai banyak kata puitis”
Suara Lian tiba-tiba saja mytha atensi para tamu, denting piano mulai memenuhi sudut gereja, menjadi pengantar saat Lian memulai ucapannya.
Risa menatap Lian, Jennie mendengus geli melihat bagaimana sikap Lian yang tak seperti biasanya, pria itu tengah mencoba melakukan yang terbaik di hari penuh sejarah ini.
“aku takkan pernah menjanjikan banyak hal, karena pria sejati takkan pernah mengucapkan janji manis, tapi percayalah, Jung Risa”
Jantung Risa berdegup kencang saat Lian mengucapkan namanya, Jung Risa bukan lagi Song Risa, perasaan hangat menyusup menyelimuti hatinya.
“bahwa aku, Jung Lian hanya akan membuatmu bahagia dengan caraku, takkan meninggalkanmu apapun yang terjadi untuk Ibu dari anak-anakku nantinya, aku hanya ingin mengingatkan satu hal, jangan pernah ragu menegurku, jika aku melakukan kesalahan, karena mulai sekarang kita hidup di atap yang sama menjalin rumah tangga penuh kebahagian”
Lagu ‘rest of my life’ Bruno Mars terlantun saat Risa mulai kembali berjalan ke altar.
Seems like yesterday when she first said “hello”, Funny how time flies when you’re in love.It looks worth the wait 'cause i finally found the one nover in my dream did i think That this would happen to me.
“terima kasih telah hadir di kehidupanku” Lian mengecup bibir Risa, menariknya semakin dalam pelukannya.
jangan lupa juga mampir di cerita aku yang lain :
- Aku bukan takdirmu
- Angel of death or Siren Prince
__ADS_1
- Istri Lugu Presiden Han