![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Kevin menepati janjinya, di minggu pagi, dia sudah datang ke rumah Sona dengan pakaian casualnya, pakaian Kevin kali ini membuatnya terlihat sangat tampan, pakaiannya membuatnya terlihat seperti pria yang akan mengajak kencan pacarnya. dengan jas yang berwarna abu-abu dengan kemeja berwarna peach dan tak lupa celana jeans berwarna putih.
Ibu Sona, sangat terkejut saat dia seorang pemuda yang sudah berdiri didepan gerbangnya sambil membawa sesuatu di tangannya, Ibu Sona yang sedang menyiram bunganya langsung meninggalkan pekerjaan dan berjalan ke arah gerbang untuk membukakan pintu untuk Kevin.
“Morning Tante”
Kevin memberikan bingkisan yang ada di tangannya ke Ibu Sona saat wanita itu sudah berdiri di depannya.
“ini masih kamu sudah berkunjung saja, kamu merindukan Sona?”
“tidak juga, aku hanya ingin menepati janjiku saja Tante”
“kurasa sebaiknya kita, berbicara didalam saja”
“apa tidak merepotkanmu? aku takut mengganggu Sona dan Tante”
Ibu Sona tak menjawab pertanyaan Kevin, dia langsung menarik tangan pemuda itu untuk masuk kedalam rumahnya yang sudah dirapikan tadi.
“bagaimana dengan Ibu dan Ayahmu?”
“hari ini mereka akan kembali, aku datang kesini untuk menjemput Sona, karena aku ingin dia menunggu di bandara bersamaku untuk menyambut kepulangan Lisa”
“aku senang mendengarnya, aku belum membangunkan putriku, kamu tunggulah sebentar lagi”
“Baik, Tante”
selagi Ibu Sona membangunkan putrinya, Kevin mencoba memperhatikan rumah yang terlihat sangat sederhana namun terasa sangat nyaman untuk dilihat, rancangan rumah ini saat mengutamakan rasa nyaman dan ketenangan.
“kamu ingin meminum sesuatu? sambil menunggu Sona yang sedang bersiap-siap”
“tidak, usah Tante, aku tak ingin merepotkanmu”
“baiklah, dirumahku hanya ada tea saja, karena tak ada yang menyukai kopi, aku akan ke dapur untuk membuat kue”
“Tante suka membuat kue?”
“Ya, membuat kue adalah hobiku, aku juga mempunyai toko kue, sayang sekali putriku tak bisa mewarisi keahlianku, dia hanya bisa mengagumi oppa-oppanya saja”
“Mom, kenapa kamu menjelekkan anakmu sendiri?”
“aku tak menjelekkanmu, itu memang fakta”
“kenapa kau datang kesini lagi? kau mengganggu tidurku saja!”
“seorang gadis itu harus terbiasa bangun pagi, kamu sudah mau menikah Sona, kamu harus membuang kebiasaan burukmu”
“Mom, aku tidak mau menikah! aku tak bisa melakukan sesuatu tanpa Mommy”
Kevin hanya bisa terdiam menyaksikan kedua wanita itu terus bertukar argumen masing-masing, dalam hati Kevin merasa sedih karena harus memisahkan mereka berdua suatu hari nanti, Ibu Sona akan tinggal sendiri dan mungkin akan kesepian karena Sona akan jarang mengunjunginya.
“kamu harus membiasakan diri Sona”
Sona melangkah mendekati Kevin yang duduk di sofa, pakaiannya kali ini cukup sopan karena dia memakai memakai kaos berwarna putih ditambah dengan cardigan berwarna biru dark dan celana yang tidak ketat. tas selempang yang serasi dengan pakaian dan sepatu berwarna putih, Oh dan jangan lupakan rambut yang dibiarkan terurai membuatnya terlihat seperti wanita dewasa dengan riasan yang tak terlalu mencolok.
“kemana kau akan mengajakku pergi?”
“Tuan Kevin?”
Kevin yang masih terpesona dengan penampilan Sona, dia tak mendengarkan apa yang gadis itu bicarakan, hingga sebuah lambaian tangan membuat Kevin kembali sadar akan apa yang baru saja dilakukan tadi, dengan santai dia mencoba tak terlihat seperti orang yang malu karena berani menatap Sona tanpa berpaling.
__ADS_1
“ke altar mungkin”
“kau datang pagi-pagi hanya membicarakan hal lelucon seperti ini? kau hanya mengganggu waktu liburku saja dan sungguh lelucon itu sangat tidak lucu”
“apa aku salah bicara? suatu hari aku akan membawamu ke depan pendeta, apa aku salah bicara Tante?”
“Tidak Kevin, kapan kalian akan berangkat?”
“mereka akan mendarat pada pukul 11 siang, kita akan berangkat jam 10, apa Tante mau ikut?”
“aku tak bisa, aku harus mengantarkan pesanan kue ke pelangganku”
“Mom, aku lapar, masih ada satu jam lagi, aku ingin sarapan”
Sona meletakan tasnya di sofa, dia berjalan kearah dapur, jika dirumah Sona akan bersikap seperti anak kecil lain perbedaannya dengan saat Sona berada diluar, dia akan menjadi pribadi yang dewasa, dan orang lain tak akan berpikir jika dia adalah anak yang manja.
lagi-lagi Kevin dibuat kagum dengan keharmonisan dari kedua wanita itu, tanpa seorang suami yang sudah tiada Ibu Sona terlihat sangat tegas, dia mengambil alih kepemimpinan di rumah ini, dan Sona, pasti sangat berat saat tak mempunyai sosok Ayah yang selalu menjadi cinta pertama untuk putrinya.
Kevin menghela nafas panjang, dia langsung memikirkan kedua orang tuanya, semenjak usianya 20 tahun, Kevin sangat jarang meluangkan waktu bersama kedua orang tuanya, seharusnya dia merasa senang karna kedua orang tuanya masih lengkap dan memiliki keluarga yang harmonis. Dia memberanikan dirinya untuk ikut bergabung dengan mereka di dapur.
“apa kamu membutuhkan bantuan Tante?”
“tidak usah Kevin, pakaianmu bisa kotor jika kamu ikut membantu”
“tak perlu mencari perhatian pada Mom, sampai kapan pun aku tak mau menikah denganmu”
“Sona, kamu tak boleh berbicara seperti itu pada calon suamimu”
“Oh, sekarang Mom, lebih berpihak pada dia? aku anakmu Mom”
“semakin kamu menolaknya semakin aku ingin cepat menikahimu Sona”
Ibu Sona dan Kevin tertawa secara bersamaan melihat Sona yang sangat lucu, gadis itu sangat menentang pernikahannya tapi tak mampu berbuat apa-apa karena semua pihak melawan dirinya yang membuatnya tak berdaya.
“apa sarapanmu sudah selesai? kita harus segera berangkat, Sona”
“Ya”
“Tante, aku akan membawa putrimu dan akan segera mengembalikannya”
Kevin memutuskan untuk keluar lebih dahulu, dia perlu menyalakan mesin mobilnya.
“Mom, aku pergi dulu”
Sona berjalan mendekati sang Ibu dan memberikan satu kecupan di pipi sang Ibu, sebelum dirinya pergi menyusul Kevin yang sudah diluar.
“hati-hati”
Ibu Sona melambaikan tangannya kearah mereka yang sudah meninggal-kan rumah mereka, Ibu Sona tersenyum bahagia, rasanya seperti sebentar lagi dia akan melepaskan puterinya untuk dibawa pergi oleh orang lain.
Kevin dan Sona masih dalam perjalanan menuju ke bandara, Keduanya masih sibuk dengan urusannya masing-masing yang satu sangat fokus pada ponselnya dan satu lagunya fokus pada laptopnya, tapi kadang-kadang keduanya akan saling melirik satu sama lain.
Seperti saat ini, Kevin yang sedang melihat ke arah Sona yang lupa memakai sabuk pengaman, kemudian Kevin segera mendekatinya dan langsung memasangkan sabuk pengaman itu ditubuhnya.
“Hei! Kau bisa mengatakannya padaku, tak perlu sampai harus memasangkannya juga”
“apa aku tidak boleh melakukannya?”
“Tidak! Itu sangat tidak sopan!”
__ADS_1
“baiklah, aku tak akan mengulanginya”
Kevin kembali pada pekerjaannya semula, awalnya dia ingin membicarakan sesuatu pada Sona, jika dirinya akan pergi ke paris dua bulan lagi, tapi setelah dipikir untuk apa Kevin mengatakan itu pada Sona, toh mereka saja tak memiliki perasaan apapun satu sama lain dan pernikahan itu akan terjadi karena kedua orang tua mereka yang menginginkannya.
Kevin pun tak mempermasalahkan hal itu karena Kevin pun merasa jika dirinya sudah merasa terbiasa dengan Sona, Kevin juga berfikir jika dia tak punya waktu untuk mengenal banyak wanita dan memilih siapa yang akan pantas untuknya, jika memang mereka tidak cocok satu sama lain saat nanti sudah menikah, Kevin tak akan pernah memaksa Sona untuk bertahan padanya, Kevin sendiri yang akan mengajukannya sendiri tanpa Sona minta.
Kevin tak sadar jika pikirannya telah melampaui batasan, tidak biasanya Kevin sepertinya, dia pun bingung pada dirinya sendiri apa yang terjadi pada dirinya.
Hingga tak terasa mereka sudah sampai di bandara, waktu sudah menunjukan pukul 10.30 waktu korea, jika dilihat dari waktu jepang seharusnya Lisa dan Ibunya sudah dalam pesawat dan sebentar lagi pesawat segera sampai.
Kevin mengulurkan tangannya pada Sona untuk bermain menggandeng wanita itu sampai kedalam, namun Sona hanya terdiam dan menatap tangan Kevin dengan bingung.
“apa?”
“kamu sangat tidak peka”
Tak mau menunggu Sona memberikan tangannya, Kevin langsung mengambil tangan Sona, lalu menggendong gadis itu ke dalam bandara.
“kita tidak sedang menyebrang untuk apa menggandengku?”
“apa kita akan menyebrang? Aku cuman ingin kau tak hilang saja”
“aku bukan anak kecil!”
“kau memang bukan anak kecil Sona”
Sona hanya bisa pasrah saat pria yang ada di depannya menyeretnya seperti koper, dengan susah payah Sona mengimbangi jalan Kevin yang sangat cepat.
“sudah cukup! Kau ingin membawaku kemana? Kita tunggu saja disini”
Mereka berdua memutuskan untuk menunggu Lisa dan Risa, di kursi yang disediakan di sana, mereka duduk bersamping-sampingan.
“kau ini kenapa? Disini masih banyak kursi yang kosong, kenapa harus duduk disampingku!”
Dengan terpaksa Sona menggeser posisi duduknya untuk menjauh dari Kevin, namun pria itu ikut juga menggeser posisi duduknya sehingga keduanya menjadi duduk berdampingan lagi, Sona bergeser lagi dan Kevin mengikuti, hingga mungkin karena kesal Kevin menahan Sona dengan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Sona untuk mencegahnya menggeser posisi duduknya.
Sona langsung menatap Kevin, dia sangat terkejut dengan apa yang pria itu lakukan padanya, tatapan Sona langsung bertemu dengan wajah tampan Kevin yang cukup dekat, jika salah satu memajukan wajahnya mungkin hidung mereka akan saling bersentuhan.
Kedua larut dalam tatapan masing-masing, degup jantung Sona berdetak lebih cepat dari biasanya, baru kali ini dia mengakui jika Kevin memang tampan, wajah putih mulus itu membuat Sona ingin menyentuhnya, dan jangan lupa dengan mata yang berwarna coklat itu.
Kevin dengan usil meniup wajah Sona yang tidak berkedip saat menatapnya, dia saat suka menggoda wanita yang kini ada dihadapannya, dengan cara seperti Kevin jadi mengerti jika Sona memanglah wanita yang pemalu namun dia tidak pernah mau menunjukan, dia sangat menutup rapat sifat itu dengan sifat cuek dan ketuanya.
Beberapa menit kemudian, sosok yang ditunggu pun akhirnya sampai di bandara, Lisa dan Risa mulai berjalan kearah Kevin dan Sona yang menunggu mereka.
Kevin dengan cepat mengambil barang-barang yang ada di tangan Ibu, dia juga memberikan pelukan hangat pada ibunya, dan saat ingin memeluk sang adik, Kevin melihat Sona dan Lisa yang masih berpelukan, menyaksikan kejadian ini membuat hatinya menghangat, berapa kuatnya persahabatan mereka.
“Ibu lebih baik kita ke mobil dulu, biarkan mereka berdua berbicara”
Kevin dan Risa berjalan bersama, sambil membawa koper yang cukup banyak karena barang yang mereka gunakan di jepang memang banyak apalagi pakaian dan koleksi boneka Lisa.
“Sona, aku senang bisa kembali ke korea, namun aku juga sangat sedih harus berpisah dengannya”
“kamu sudah berbaikan dengan Dokter Han?”
“Ya, kamu sudah kembali, tapi aku tak bisa bertemu dengannya lagi, butuh beberapa bulan untuk bisa bertemu”
“Baiklah, kamu bisa menceritakannya nanti saat kita di mobil, sekarang jangan menangis Lisa”
Sona menuntun Lisa untuk segera ke mobil karena pasti tahu jika Kevin dan Ibu Lisa sudah menunggu mereka di dalam mobil.
__ADS_1