![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
keesokan harinya di pagi yang mulai dingin seperti negara lain.
Kali pertama membuka kedua mata Lisa langsung diberikan sebuah pemandangan wajah Han yang tenang didalam nyenyak tidurnya, Lisa pikir saat dia terbangun dan melihat kearah lain dia tidak akan menemukan sosok Han di sampingnya namun kali ini setelah menghabiskan banyak waktu tinggal bersama baru rasanya Lisa bisa melihat wajah Han yang biasanya tidak setenang ini.
Pria itu kembali sangat larut malam dan mungkin bisa dihitung jika Han baru memejamkan kedua matanya beberapa jam lalu, Lisa tersenyum murung ada segelintir perasaan tidak mengenakkan di hatinya antara sedih dan juga merasa bingung, Lisa jelas mengingat jika Han tidak menyadari jika cincin pernikahan mereka terlepas begitu saja dari jari manisnya saat pria itu melepaskan genggaman tangannya.
Lisa memang tidak terlalu percaya dengan mitos yang sering dikatakan orang lain tapi saat melihat cincin itu terlepas saat mereka melepaskan tangan mereka ada perasaan terkejut diikuti perasaan sedih yang masih membekas di hati Lisa hingga saat ini, entah itu pertanda buruk atau memang tidak ada kaitannya dengan apapun, tapi tetap saja naluri seorang wanita dalam diri Lisa terus mempertanyakan sebenarnya apa yang sedang terjadi.
Tak ada keganjalan apapun dari Han, semua berjalan baik seperti biasanya dan semua hal tidak ada yang bisa membuat Lisa curiga pada Han.
Lalu perasaan apa ini?
Kekhawatiran dan kecemasan berlebihan membuat Lisa tidak tahan untuk hanya diam saja, dia ingin melakukan hal yang mungkin bisa membuat Han tidak nyaman tapi butuh bukti yang kuat untuk meyakini jika ada sesuatu yang berbeda dari Han.
Jam sudah menunjukan pukul 6 pagi, Lisa harus segera bersiap untuk berangkat kerumah sakit dan menyiapkan segala kebutuhan Han sebelum pria bangun.
Baru saja satu kaki menyentuh lantai, tubuh Lisa sudah harus kembali keranjang akibat tarikan dari Han yang begitu tiba-tiba hingga Lisa merintih kesakitan dengan pelukan erat yang Han lakukan. “Ahk!!”
“Lisa, kenapa kamu hanya menatapku?” ucap Han, dengan suara seraknya yang membuat Lisa langsung terdiam ketika terasa begitu dekat ditelinga, membangkitkan rasa gugup dan juga ketegangan dalam diri Lisa.
“aku tidak mengerti apa yang kamu bicara Han?” ucap Lisa, dari jarak yang begitu dekat dengan dada Han membuat Lisa bisa mendengar nada nafas Han yang tenang, pria itu masih mengantuk tapi memaksa untuk bangun.
“kamu akan pergi kerumah sakit?”
“kenapa lagi aku akan pergi?”
“aku masih mengantuk Lisa, bisakah temaniku hingga rasa lelah ini hilang?” ucap Han, dia kembali menarik tubuh Lisa hingga bisa bersandar di lengan besarnya.
Lisa sedikit malu melihat tubuh Han yang tidak memakai pakaian, mengekspos tubuh berototnya dihadapan Lisa. “kamu kenapa?”
Han sedikit menarik alisnya keatas, dia menunduk untuk melihat wajah Lisa “apakah aku tidak boleh memeluk istri? Apakah aku harus izin dulu? Aku sangat merindukanmu Lisa”
“setiap hari kita bertemu, kau berkata seperti kita akan berpisah lagi”
“aku hanya takut itu terjadi” ucap Han, dia masih memikirkan cara terbaik untuk menjelaskan semua masalah yang tidak bisa dianggap remeh, pasalnya jika Han salah berbicara akan banyak menimbulkan kesalahpahaman di antara dirinya maupun Lisa, namun jika sampai Lisa yang mengetahui sendiri itu semakin mempersulit dirinya.
Lisa terdiam, dia bungkam untuk mengutarakan perasaannya saat ini bukan Lisa tidak mampu tapi dia punya satu alasan untuk mencurigai sikap Han yang aneh akhir-akhir ini, Lisa tidak ingin salah paham dimasa lalu kembali lagi di kehidupan mereka saat ini, sudah cukup bagi Lisa mempersulit perasaan Han dan kondisi yang serba salah, tapi jika Lisa hanya diam dan berpura-pura tidak mengerti apapun.
bukan akan semakin membuat Han sulit membuka masalahnya pada Lisa?
Lisa memutuskan untuk membiarkan Han kembali tidur untuk beberapa jam, mungkin Lisa akan menghubungi sekretarisnya untuk mengatakan jika Han akan datang telat, setelah beberapa saat di keheningan suasana sekarang tiba-tiba saja notifikasi dari ponsel Han bersuara, Lisa yang mendengar itu berpikir jika itu mungkin dari sekretaris Han yang jadi tanpa berpikir panjang Lisa langsung mengambil ponsel lipat Han.
« Yeri
Aku baru saja kembali dari rumah sakit, terimakasih sudah membantuku, jika kamu ada waktu luang bisakah kita berbicara? »
Tangan Lisa bergetar, dia tidak tahu sejak kapan Han menyimpan nomor wanita selain dirinya dan Hana, sejak kapan Han sering bertemu dengan wanita lain?
Satu bukti bisa menjelaskan semua situasi ini, jantung Lisa berdebar dengan kencang dan pikirannya mulai memikirkan hal yang diluar harapan Lisa, secepat itukah Han mendekati wanita lain? Wanita mana lagi yang ingin Han perdulikan? Apakah dia masa lalu Han setelah Keira?
‘kenapa kamu tidak pernah jujur padaku Han?’
‘aku harus bagaimana percaya atau hanya diam? Apakah aku harus Menganggap tidak terjadi apapun?’
Lisa meletakkan kembali ponselnya tanpa perlu membuka pesannya, karena dari layar ponsel sudah bisa terbaca semua. Dia mengusap wajahnya dan mengikat rambutnya asal-asalan, pikiran sangat kacau dan hatinya begitu hancur, seakan-akan semua pertahan dan kepercayaan runtuh begitu saja seperti Lisa benar-benar tidak ingin memperdulikan apapun yang terjadi.
Setelah membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian seragam kerjanya, Lisa terus berdiri disamping Han yang masih tertidur, dia tidak ingin mengetahui fakta apapun untuk saat ini namun perasaan sangat takut akan kehilangan pria itu, Lisa ingin sekali menampar wajah Han dan ingin berteriak dengan segala kekecewaan dalam dirinya. Namun cintanya terhadap Han membutakan Lisa dalam kehancuran dirinya.
‘itulah alasan kenapa kau selalu pulang malam?’
Dengan cepat Lisa menyekat air matanya, dia akan mencoba mencari tahu sendiri jika Han tidak mau menceritakan apapun padanya, jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Dengan cepat Lisa mengambil ponsel dan jas putihnya, dia ingin menghindari pembicaraan dengan Han untuk hari ini, jadi lebih baik Lisa tidak membangunkan pria itu daripada hatinya terus terluka, berpura-pura tidak terjadi apapun sangat sulit daripada harus melampiaskan semua ini.
******
“dokter Lisa ini laporan dari operasi--”
“Lisa?”
“Lisa?”
“Lisa, kamu mendengarku?” ucap Heejin, dia terkejut melihat Lisa yang sejak pagi selalu melamun dan tidak berkonsentrasi pada pekerjaan kali ini, wanita itu bahkan menghindari makan siang dengan alasan tidak ingin bertemu dengan siapapun.
Dengan sedikit tidak sopan Heejin memukul meja kerja Lisa untuk segera menyadarkan Lisa dari permasalahan yang mungkin sulit untuk Lisa terima. “Lisa! Setidak menjawab lah saat aku memanggilmu!”
__ADS_1
“Ah? Heejin ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?”
“ingin minum bersamaku nanti malam?”
“Ya, baiklah”
“oke, ini laporan yang kau butuhkan, beristirahatlah hari tidak banyak jadwal yang mengharuskanmu diluar ruangan” ucap Heejin.
“terimakasih Heejin”
Lisa menghela nafas, dia tidak bohong jika tidak bisa mengabaikan pesan itu seharusnya dia tidak hanya diam saja melihat pesan itu, seharusnya dia menghubungi wanita itu dan mengatakan banyak hal padanya, namun lagi-lagi Lisa dibuat menjadi seorang pengecut oleh pendiriannya.
Saat Lisa sedang mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan tiba-tiba saja ruangan Lisa didatangi oleh Hyun, seperti biasa dia akan membawakan makanan untuk Lisa jika saat makan siang mereka tidak bertemu.
“aku dengar kamu tidak ingin makan siang, jadi aku membawakan makanan untukmu” ucap Hyun, dia mengeluarkan topi dan sekotak susu dari plastik yang dia bawa. Dia duduk di seberang Lisa yang menatap ke arahnya sejak tadi, wanita mencoba menyibukkan dirinya padahal Hyun tahu itu hanya sebuah pengalihan agar Hyun segera pergi.
“aku berbicara padamu Lisa, setidaknya terima makanan ini” seperti biasa sikap Hyun memang memaksa, dia langsung menyerahkan makanan ditangan Lisa langsung, dia tidak peduli jika Lisa tidak mau menatapnya.
“kau sangat keras kelapa! Kau tahu? Kau membuatku kesal Lisa! Jika makanan ini tidak segera kau habiskan, jangan berbicara apapun denganku saat kau punya masalah!”
“Hyun ...” ucap Lisa, dia menahan tangan Hyun untuk saat pria itu ingin pergi, Lisa memang keras kepala namun jika Hyun berkata seperti entah kenapa Lisa malah ingin menceritakan segalanya pada pria itu.
“Lisa, aku tidak mau kau menjadi wanita lemah karena perasaan rumitmu, tapi ingatlah satu hal jika kehidupan ini semua orang butuh keberanian untuk mengambil keputusan walau harus mengorban segalanya daripada menjadi pengecut akan kehilangan sesuatu, aku tidak bisa terus membiarkan hatimu terluka seperti ini” ucap Hyun, dia melepaskan tangan Lisa saat wanita itu terus menahan.
“kau menyukaiku?”
“aku memang menyukai sebagai adikku tapi sebagai seorang wanita aku sudah menyukai wanita lain, jangan menjadi sepertiku yang belum berani melangkah jauh dalam hubungan karena buah kejadian dimasa lalu”
“aku akan kembali nanti, pastikan untuk menghabiskan makananmu”
Waktu terus berjalan, hingga malam-pun tiba begitu cepat.
Kedai pinggiran jalan yang menyajikan berbagai makanan dan aneka minum beralkohol, Lisa dan Heejin memilih untuk ke sebuah kedai yang tidak terlalu banyak pengunjung, seperti orang lain mereka akan pesan Sohu dan juga Wine yang yang dikombinasikan rasanya akan sangat enak. Baru beberapa menit disana, Lisa sudah menghabiskan satu botol soju tanpa dituang di gelas yang tentu saja cara minumnya di teguk secara langsung dari botol.
“Lisa, aku tahu kau sedang ada masalah bisakah ceritakan dulu baru melampiaskannya?” ucap Heejin, dia mengambil botol yang ingin Lisa minum lagi.
Saat itu juga Lisa mulai menangis seperti anak kecil saat permennya diambil, dia tidak tahu harus memulai darimana belum lagi kata-kata Hyun terus menghancurkan pendirinya untuk tetap diam, Lisa butuh waktu untuk itu dia tidak mudah untuk langsung mengungkapkan semua itu pada Han.
“Heejin, aku tidak pernah berpikir jika Han akan melakukan itu, aku--aku--pikir dia tidak akan berani untuk menyukai wanita lain! Tapi apa? Aku bahkan melihat ponsel dan menemukan ada kontak seorang wanita! Mereka bahkan seperti sudah mengenal lama! Aku benci Heejin, aku ingin tahu segalanya namun aku takut akan terluka”
Tangisan Lisa semakin pecah ketika Heejin mengatakan fakta baru yang menguatkan segalanya jika memang Han menyembunyikan sesuatu darinya. “aku harus bagaimana Heejin? Untuk apa mereka ke rumah sakit? Lalu untuk apa wanita itu minta bertemu dengan Han? Dia bahkan mengatakan ingin mengatakan suatu pada Han!”
“Lisa tenanglah, aku akan membantumu, kamu tidak bisa langsung mengunduh apa yang belum tentu benar bukan? Bukankah kamu selalu berkata semua itu belum tentu benar jika hanya dengan melihat?”
“tapi orang akan percaya jika melihat secara langsung daripada menunggu penjelasan”
“baik, kamu bisa bertanya apa yang terjadi pada Han saat kembali, ayo kita pulang, aku akan mengantarmu”
“tunggu, apa yang harus aku katakan Heejin?”
“itulah yang aku maksud Lisa, kamu tidak bisa langsung menghadapi Han jika hanya dengan fakta yang kau miliki sekarang, kita harus membuat Han yang menjelaskan semuanya”
Dengan hati-hati Heejin membantu Lisa untuk kembali pulang, untung saja hari ini Heejin membawa mobil dan bisa memulangkan Lisa tanpa perlu merepotkan Hyun yang mungkin akan mencoba ikut campur dari masalah Lisa.
“kamu masih marah padaku?” tanya Han di sela-sela dirinya sedang membukakan pintu mobil untuk Lisa, bukan ingin memancing kemarahan Lisa tapi Han bertanya karena dia benar-benar belum bisa memastikan jika Lisa memaafkannya pasalnya selama perjalanan kembali pulang Lisa benar-benar hanya terdiam dengan menatap ke sepanjang jalan, dan tak punya minat untuk menoleh atau sedikit melirik kearah sang suami.
Lisa hanya menggelengkan kepalanya, entah kenapa sekarang tubuhnya terasa lebih lemas dari biasanya, dia juga sedikit mual hingga saat berada di luar mobil wanita itu memuntahkan semua isi perutnya yang terasa begitu bergejolak didalamnya, terlalu banyak yang Lisa muntahkan hingga membuatnya tumbang di sela-sela dia ingin masuk kedalam rumah.
Tubuh Lisa jatuh tak jauh dari tempat dia memuntahkan isi perutnya, dia jatuh tepat di sebuah batu besar hingga membentur kepalanya dengan sangat kencang.
Han yang kala itu sedang memasukkan mobilnya kedalam garasi dan baru akan masuk setelah beberapa menit terkejut melihat Lisa yang sudah tergeletak di tanah dengan sedikit ada bercak darah di dekat area kepalanya, Han langsung berlari menghampiri Lisa. “Lisa!!!”
“Lisa! Bertahanlah!!”
Dengan udara yang semakin dingin ditambah lagi kondisi malam yang sudah diprediksikan akan turun badai salju membuat tubuh Lisa mudah sekali mengalami penurunan suhu secara perlahan, Han langsung menghubungi rumah sakit terdekat untuk segera menjemput mereka.
“Lisa, tolong bertahanlah”
Han melakukan pertolongan pertama dengan alat ala kadarnya, hal pertama dilakukan adalah menutup daerah yang terluka bertujuan menghentikan pendarahan yang bisa berakibat fatal apalagi belum ada genap setahun Lisa lepas dari operasi kini kepalanya kembali terluka, tapi Han masih bersyukur luka itu tidak mengenal tempat Lisa melakukan operasi.
Dalam hitungan menit, bala bantuan datang ketika Han sudah selesai menutup luka Lisa dengan piyama yang Han gunakan, dia bersama dengan tenaga medis langsung menuju rumah sakit terdekat. Di Dalam ambulan Han terus memerintahkan para perawat memberikan alat dibutuhkan untuk mencoba mempertahankan suhu tubuh Lisa, jika tidak segera dilakukan akan banyak resiko yang terjadi.
“tenanglah aku mantan seorang dokter, kalian tidak perlu khawatir, istriku juga seorang dokter” ucap Han, dia seperti memang memahami pikiran kedua perawat yang mungkin berbisik membicarakan dirinya yang terlalu menguasai Lisa hingga tidak membiarkan kedua pria itu menyentuh Lisa.
__ADS_1
“Lisa, sebenar apa yang terjadi hingga kau seperti ini? Tolong bertahanlah sebentar lagi” ucapKan lagi, dia menggenggam tangan Lisa penuh dengan keyakinan, kejadian ini tidak terlalu mencemaskan Han karena ini hanya luka biasa namun jika tidak dilakukan pertolongan pertama mungkin akan memiliki banyak resiko.
Tak lama kemudian ambulan itu berhenti di rumah sakit dimana Han pernah membawa Yeri dan bayi kesini, dia dengan para perawat mendorong ranjang menuju IGD.
“Tuan anda harus tunggu diluar, walau ada mantan dokter, saat ini anda tidak punya Id Card Dokter”
Han mengangguk mengerti, dia berharap tidak terjadi apapun pada Lisa.
Hari sudah menunjukkan satu dini hari hingga tidak Han sadari pria itu tertidur di kursi penunggu, padahal Lisa audah berhasil melewati masa kritisnya satu jam lalu namun tidak ada yang ingin membangunkan Han dari tidurnya, lorong rumah sakit itu begitu sepi dan sangat jarang ada seorang yang lewat itu mungkin kenapa Han bisa ketiduran disana.
Hari ink merupakan hari yang panjang untuk dirinya, dia belum sempat menyentuh makanan apapun sejak siang dan belum lagi Han harus menyelesaikan masalah itu yang tentu saja menguras tenaga dan juga pikirannya, itu kenapa Han bisa tertidur disana.
Perawat pria yang tadi menjemput Lisa dan Han, berjalan mendekati Han dan terpaksa membangunkan pria itu. “Tuan Kim!! Tuan!?”
“Ah? Ya?”
“anda harus mengisi data untuk wali istri anda”
“Oh baiklah, apakah istriku masih didalam?”
“Tidak, Istri anda sudah dipindahkan di ruang rawat di kamar 509”
“terimakasih” Han segera mencari kamar yang tadi perawat itu katakan, ketika pria itu membuka pintu kamar itu dia melihat kepala Lisa yang sedikit diberi perban namun tidak mengurangi kecantikan dirinya.
Han berjalan mendekati Lisa yang mungkin sedang beristirahat, dia sedikit sedih kenapa dirinya tidak tahu jika ini akan terjadi apalagi penturan di kepala benar-benar tidak bisa remehkan olehnya, itu bisa membuat Lisa mengalami seperti dulu. “maafkan Lisa, aku tidak mengerti kenapa kita menjadi seperti ini, aku sedih mengatakan jika aku tidak bisa menjagamu dengan baik tapi itulah kenyataannya ”
“Han … jangan terus menyalahkan dirimu, seharusnya aku tidak minum Soju saat itu mungkin sekarang kita bisa beristirahat di rumah” ucap Lisa, suaranya begitu lemas sama seperti wajahnya yang sangat pucat sampai bibirnya mengering.
“sudah merasa baikkan? Kamu ingin makan suatu? Lambungmu juga terluka karena disaat kosong kamu malah minum banyak soju, sekarang perut itu harus di isi”
Lisa tersenyum, dia mengelus punggung tangan Han “kamu berbicara seperti seorang dokter sekarang, apa sekarang Tuan Kim beralih profesi?”
“Tidak aku berbicara sebagai suamimu Lisa, tolong jangan seperti ini lagi, kamu tahu betapa takutnya aku melihatmu tergeletak disana? Tidak bisakah berhenti melukai dirimu karena ku Lisa? Aku tidak bisa memaafkan diriku jika kamu seperti ini lagi”
“jika seperti itu, biar aku yang selalu memaafkanmu”
“Tidak, Lisa kamu berhak untuk tidak memaafkan saat aku salah, jangan terus mengorban segalanya untukku Lisa, aku mohon aku ingin menjadi yang layak untukmu, bisakah kamu memberikanku kesempatan untuk lebih jujur lagi padamu?”
Lisa mengangguk, sudah cukup hanya dengan satu anggukan sebagai persetujuan. “aku lapar, bisakah kita memesan makan?”
“kali ini aku tidak akan melarangmu memakan yang bukan dari rumah sakit tapi setelah itu kamu harus rutin minum obatmu!”
“kau berbicara seperti dokter lagi! Apakah lupa? Kau suami dari seorang dokter!”
Han tersenyum, dia mencium tangan Lisa cukup lama sampai Lisa memaksa untuk minta dilepaskan mungkin bibir itu akan terus menempel disana.
“Tunggu apalagi? Pesanlah aku sangat lapar!”
*******
Satu minggu berlalu …
Tiga hari dirawat dirumah sakit dan empat hari dirawat oleh Han, benar-benar membuat Lisa tidak bisa lepas dari pengawasan pria itu, bagaimana tidak Han memutuskan mengambil cuti setelah mempercayakan perusahaannya pada Sean dengan mudahnya, Lisa sangat diperhatikan mulai dari setiap kegiatan yang akan dia lakukan hingga makan pun Lisa tidak boleh sampai melewatkan satu detikpun.
Namun sudah dua hari berturut-turut Han sering mengalami kejadian aneh hingga membuat pria itu kelelahan dengan apa yang terjadi, dia sudah seorang dokter tapi tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya selama dua hari ini.
Di Pagi hari dia Han selalu pergi ke bathroom untuk memuntahkan semua isi perutnya padahal pria itu tidak mengkonsumsi alkohol selama seminggu terakhir ini belum lagi dirinya tidak bisa minat makan saat nafsu makan Lisa yang lagi tinggi-tinggi hingga membuat Han harus menyetok makanan lebih banyak dari biasanya.
Han juga sangat sensitif terhadap sesuatu yang berhubungan bau-bauan yang bisa membuat perutnya mual tidak wajar, itulah kenapa sekarang situasi yang berbalik dimana seharusnya Han merawat Lisa namun sang istri yang harus merawat dirinya.
“Lisa, aku baik jangan terlalu memaksakan dirimu, bukankah besok kamu harus kerumah sakit lagi?” ucap Han, dia menahan Lisa untuk terus menyuapi dirinya bubur buatannya, Han hanya lemas saja bukan berarti makan saja pria itu harus disuapi.
“satu lagi oke?”
“Lisa…. Aku mohon istirahatlah, tidurlah disampingku”
“aku akan istirahat setelah kamu menghabiskan satu suapin terakhir, kita akan tidur sama-sama oke?”
“baiklah, hanya satu”
Lisa mengangguk, dia menyuapi satu sendok bubur, lalu meletakkan di atas laci berjalan mengitari ranjang dan akhirnya tidur disamping Han.
Han tertentu saja langsung menyambut Lisa dengan mengajak wanita itu untuk bersandar di lengannya, “aku rasa kita akan mendapatkan berita baik”
__ADS_1
“aku akan menunggu kabar baik itu sampai kapanpun”