Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 51 - Family Meet up


__ADS_3

Seberapa hari yang lalu ayah Lisa mengajak sang gadis berbicara disaat sang ibu dan kakaknya sedang sibuk menyiapkan berbagai persiapan untuk pernikahan mereka, hal yang sulit ditentukan adalah masalah dekorasi yang selalu menjadi perdebatan dengan sang ibu, hingga akhirnya Kevin hanya bisa mengalah mengikuti kemauan sang Ibu.


Dan saat Lisa dan ayah sedang berdiskusi ada banyak hal yang ayahnya tanyakan padanya namun ujung-ujungnya ayahnya akan membahas pertemuan yang akan ayahnya adakan pada pernikahan Kevin dan Sona nantinya, ayahnya mengatakan jika putra rekan bisnisnya akan menemuinya besok jika putra tekan bisnisnya setuju maka mereka akan langsung menentukan tanggal pertunangan mereka berdua.


Sejak saat itu Lisa lebih banyak mengurung dirinya, dia menghindari sang ayah dan juga ibunya, setelah berdiskusi dengan ayahnya, Lisa langsung menghubungi Han dan menceritakan semua pada pria itu, namun reaksi yang pria itu berikan malah semakin membuat Lisa terpuruk.


'aku tidak mengerti, mengapa begitu sulit untuk bersatu dengan Han? Tidak cukupkah, Lisa dan Han harus menjalani hubungan jarak jauh? Kenapa ayahku selalu mempersulit segalanya?' Semua pertanyaan itu terus berulang dalam ingatan Lisa.


'kenapa hanya aku yang merasa semua ini sudah sangat keterlaluan! Kenapa hanya aku yang takut jika aku harus meninggalkan Han? Tuhan. Kenapa kamu tidak adil dengan diriku? Kamu mempermudah kakakku dengan gadis itu dalam pernikahan yang jelas-jelas jika mereka tidak saling mencintai, tapi aku dan Han .. Kami saling mencintai, kita berdua bahkan sulit untuk mengungkapkan hubungan kami didepan orang tuaku, kenapa Tuhan? Aku takut jika pada akhirnya aku kehilangannya' ucap Lisa, dalam diamnya, boneka pemberian Han tidak pernah lepas dalam pelukannya.


Suara dering ponsel menyadarkan Lisa dari kesedihan yang dia rasakan, hari ini Han lebih sering menghubungi Lisa dari hari biasanya, dia bahkan secara diam-diam mengirimkan Lisa barang-barang yang tidak pernah Lisa harapkan dari Han.


Lisa memasang wajah tersenyumnya pada saat Video Call-nya dimulai, dia melihat Han yang ada di sebuah kantor di jam yang sudah menunjukan pukul 9 malam, pria itu terlihat cukup lelah.


Han : “kamu belum tidur sayang?”


Lisa : “kamu juga kenapa belum pulang?”


Han : “kamu mengalihkan pembicaraan, kamu masih marah padaku?”


Lisa : “aku masih tidak mengerti kenapa kamu bisa setenang ini disaat dua hari lagi aku akan bertemu dengan orang yang akan dijodohkan olehku! Han apa kamu sudah tidak mencintaiku?”


Han : “jika aku ada didekatmu mungkin aku sudah membungkam mulutmu itu, mengapa kamu berpikir seperti itu? Aku selalu menyakitimu bahkan jika aku mencintaimu, Lisa .. Kamu harus yakin padaku jika kita pasti akan melangkah ke jenjang pernikahan”


Lisa : “tapi .. Han, perasaan wanita tidak semudah dengan perasaan pria, sekeras apapun aku mencoba mengabaikannya, pemikiran itu tidak bisa meninggalkan diriku”


Han : “Lisa ... Aku tahu jika kamu sangat khawatir dan takut pada akan yang terjadi, tapi jika kita saling menyakiti maka usaha tidak akan menghianati keberhasilan”


Lisa : “Han, aku ingin segera bertemu denganmu, kamu tahu ayah selalu memaksaku untuk membaca profil pria yang akan dikenalkan padaku, namun aku tidak sanggup untuk melihat”


Han : “jika memang kamu tidak sanggup, jangan memaksakan dirimu Lisa, aku yakin pria itu tidak akan bisa mengalahkan ketampananku”


Lisa : “aku menyesal menerima telepon darimu”


Han : “ayolah Lisa, setidaknya sedikit tersenyum padaku, aku yakin saat kamu bertemu dengan pria itu kamu akan langsung menyetujui tanpa memprotes apapun”


Lisa : “jadi kamu mau bilang jika kamu setuju jika aku aku bersama pria itu! Menyebalkan! Sudahlah aku malas melihat wajah jelekmu”


Han : “Lisa, aku hanya bercanda sayang, ayolah aku sangat merindukanmu jangan menutupi wajah cantikmu dengan selimut”


Lisa : “I don't care Han!!”


Han : “baiklah, aku minta maaf, aku tidak akan mendukungmu jika kamu tidak sanggup, aku akan membawa lari dan kita akan menikah secara diam-diam”


Lisa : “kamu janji?”


Han : “janji sayang, tidurlah besok pagi kamu akan sibuk bukan?”


Lisa : “kapan kamu akan pulang?”


Han : “aku akan pulang setelah selesai berbicara dengan dirimu”


Lisa : “jangan berbohong!”


Han : “tidak akan, kamu harus tidur Lisa”


Lisa : “baiklah selamat malam Han”


Han : “happy nice dream honey and good night”


Selalu saja, jika sudah berbicara dengan Han semua rasa cemas dan khawatir nya menghilang begitu saja, pria itu tahu pasti bagaimana cara menghilangkan semua itu hanya dengan perkataannya, Lisa meletakkan kembali ponselnya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan boneka panda kesayangannya, setelah itu tangannya mematikan lampu utama kamarnya menggantikannya dengan lampu tidur.


Keesokan harinya ...


Hal yang tidak terduga menimpa Sona, sahabatnya Lisa harus menelan pil pahit lagi dalam hidupnya, setelah kehilangan sosok sang ayah, kini akhirnya Sona kehilangan sosok ibunya yang menjadi teman bagi dirinya dan sekaligus sebagai ayah.


Lisa tidak bisa membantu apapun saat berkali-kali sahabatnya menangisi kepergian sang ibu yang begitu cepat saat tinggal satu hari sebelum gadis itu melangkah ke altar pernikahannya, sebelum melihat sang putri mengucapkan janji suci dihadapannya memasang cincin pada pasangan hidupnya.


Lisa, dia sangat ragu untuk mendekati sahabatnya, karena dalam lubuk hati Lisa dia merasa sangat iri pada Sona yang begitu mudah menikah tanpa harus melewati rintangan dan juga cobaan, Lisa memutuskan untuk menjaga jarak pada sahabatnya sebelum ibunya meninggalnya, namun Lisa hanya bisa menyesali itu semua karena seharusnya dia tidak menaruh perasaan iri pada sahabatnya.


Karena semua orang mempunyai tantangannya masing-masing dalam memperjuangkan cintanya mungkin sahabatnya belum diberi cobaan seperti dirinya namun bukan berarti pernikahan itu bukan sesuatu hal yang mudah diterima itu bisa jadi sebuah tantangan baru untuk Sona.


Lisa terus memperhatikan betapa sabarnya sang kakak menghadapi Sona yang sulit untuk menerima kenyataannya, sang kakak tidak pernah meninggalkan gadis itu untuk sendirian, bahkan tanpa ragu sang kakak sampai menggenggam tangan Sona di hadapan orang lain yang masib mempertanyakan sosok siapa yang dirinya.


Hingga hari berjalan begitu cepat, hari sudah menunjukan pukul 10 malam, seharian lebih Lisa benar-benar tidak mau menatap sahabatnya, malam ini Lisa dan ibunya memutuskan untuk menginap di rumah Sona karena besok gadis itu akan menikah namun dia tidak memiliki seseorang yang akan membantunya mengurusi segala kebutuhannya besok.

__ADS_1


By : Han


Aku sudah mengirimkan gaun ke alamat rumah sahabatmu, pakailah besok untukku ..


Lisa yang sedang melamun menatap kamar sahabatnya yang dipenuhi dengan poster dan foto-foto dirinya dan keluarganya, suara dering dari ponselnya mengejutkan dirinya.


By : Lisa


Aku sudah melihat gaun yang kamu berikan, tapi aku sudah mempunyai gaun yang dipilih oleh ibu karena warnanya selaras dengan tema pernikahan.


Kali ini suara dering panggilan bukan suara pesan masuk, di malam seperti ini pria itu masih saja mengganggu Lisa untuk tetap tenang, Lisa tidak ingin mengganggu tidur Sona.


Lisa : “Hallo Han”


Han : “kenapa suara terdengar seperti sedang berbisik?”


Lisa : “Sona sudah tertidur”


Han : “oh aku tidak tahu, aku mengganggu?”


Lisa : “sudah tahu kenapa masih bertanya, ada apa? Aku harus segera beristirahat”


Han : “pakailah gaun yang aku berikan, aku mohon Lisa pakailah, setelah itu akan mematikan telepon ini jika kamu setuju”


Lisa : “baiklah aku akan memakainya”


Han : “oke, goodnight sayang, dan sampai bertemu besok, aku mencintaimu”


Lisa tersenyum bahagia saat Han mengucapkan kata yang selalu diucapkan setiap hari, Lisa segera mendekati sang ibu yang sudah tertidur dan ikut menyusul ke dalam alam mimpi.


Keesokan paginya ....


Lisa bangun tetap pukul tujuh pagi, diluar kamar banyak sekali orang yang berbicara atau menyebutkan hal yang tidak terdengar dari dalam kamar, suara keributan itu membuat Lisa penasaran dengan apa yang terjadi hingga dia memutuskan untuk membuka pintu kamar milik Sona dan melihat apa yang sedang terjadi.


Itu hanya perdebatan antara ibunya dengan salah satu penata rias untuk Sona, hari ini Lisa sedikit bingung untuk memilih untuk memakai gaun dari Han atau gaun yang sudah dibeli bersama ibunya beberapa hari yang lalu.


“apa yang sedang kamu pikirkan?” Risa bertanya saat melihat Lisa yang berada di depan pintu kamar Sona.


“itu ... ibu, Han memberikankan gaun, dia memintaku untuk memakainya di pernikahan Sona hari ini, tapi aku bingung karena sebelumnya aku sudah memiliki gaun yang kita beli beberapa hari yang lalu dan apa--”


“pakailah ibu tidak merasa keberatan dengan keputusanmu”


Lisa tersenyum pada sang ibu, kemudian dia kembali kedalam kamar Sona, dia harus segera membersihkan dirinya dan Lisa sangat tidak sabar untuk melihat gaun itu dikenakan pada tubuhnya.


Tak lama kemudian, Lisa sudah memakai gaun yang sepenuhnya mengekspos punggung putih mulus Lisa, gaun berwarna putih itu memiliki panjang selutut dan di dalam kotak gaun terdapat perhiasan yang sudah sepaket dengan gaun yang Lisa gunakan, satu persatu perhiasan itu mulai Lisa kenakan pada tubuhnya, gaun ini merubah dirinya menjadi wanita yang berbeda, Lisa terlihat seperti wanita yang sangat elegan dan juga mengagumkan, Lisa menatap dirinya tidak percaya dengan apa yang cermin itu pantulkan.


“aku terlihat berbeda” ucap Lisa, dia sampai memutar tubuhnya untuk melihat jelas gaun yang dia kenakan. Jam dinding sudah menunjukan pukul delapan, itu sebuah peringatan dimana Lisa harus segera membantu Sona.


Lisa dan Sona keduanya sedang dalam perjalanan ke gereja dimana tempat dia akan .mengikrarkan janji sucinya, hingga ritual pengucapan janji suci berjalan dengan sangat baik, selama acara berlangsung Lisa terus mencari sosok sang kekasih yang belum menampakan dirinya di sana, padahal Lisa ingin sekali bertemu dengan pria dan mendengarnya memuji penampilan Lisa.


Hingga akhirnya di acara pesta pernikahan Kevin dan Sona, hanya ada rasa bosan yang mulai Lisa rasakan, banyak teman-teman yang mengajaknya untuk mengobrol suatu hal yang akan mereka rencanakan dimasa depan namun Lisa sedang tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.


Lisa hanya memilih untuk untuk mengambil tempat yang cukup sepi dari para tamu atau teman-temannya, sambil menikmati hidangan yang ada disana, Lisa terus menatap kearah dimana sang ayah mulai berbincang-bincang dengan Tuan Kim yang Lisa tahu dia adalah ayah Sean, rasa takut mulai menyelimuti hati Lisa. "dimana kamu Han”


“Lisa, ayah ingin mengajakmu bertemu dengan rekan kerja ayah” ucap Lian.


Kemunculan sang ayah membuat Lisa sangat terkejut, Lisa sampai menghamburkan minuman yang ada di mulutnya, namun dia segara mengusapnya dan dengan sedikit menunduk mengikuti langkah sang ayah.


'apa yang harus aku lakukan sekarang?'


Karena terlalu menunduk Lisa sampai tidak memperhatikan sekitarnya, dia menabrakkan tubuhnya pada sang ayah yang sudah berhenti sedari tadi, dibalik punggung sang ayah, Lisa mencoba mengintip apa yang ada di hadapannya, matanya membulat sempurna saat melihat Han  yang sedang duduk di hadapannya bersama dengan Tuan Kim dan Sean!


'apa yang sebenarnya terjadi? Oh jangan bilang dia adalah putra pertama Tuan Kim yang akan dijodohkan denganku?'


“Lisa, duduklah” ucap sang ayah, dia menarik kursi yang ada disampingnya.


Tiba-tiba Lisa merasa gugup saat sepasang mata coklat itu menatapnya dengan sangat inter, memperhatikan Lisa dari atas sampai bawah, Lisa pun sampai mengalihkan pandangannya saat melihat pria yang ada di hadapannya, di dalam hatinya dia mengutuk Han yang selama ini mencoba merasakan jika dirinya adalah putra tuan Kim, ingin rasanya Lisa menarik pria itu dan menyuarakan kekesalannya pada pria yang ada di hadapannya, pakaian yang Han kenakan terkesan lebih rapi dan sejak kapan pria itu sangat tampan saat mengenakan jas berwarna hitam ditambah dengan dasi berwarna abu-abu, bahkan pria itu menata rambutnya membuat dirinya terlihat seperti CEO muda dan bukan lagi seorang dokter.


“Lisa? Hari kamu sangat cantik hingga paman bingung berhadapan dengan siapa” ucap Tuan Kim.


Di Meja yang berbentuk lingkaran itu sudah seperti tempat dimana orang akan melakukan perundingan, dengan posisi Lisa yang berseberangan dengan pria yang kini tersenyum manis hingga dimple itu terlihat sangat menusuk pipinya, Lisa melirik sang ayah yang sebenarnya juga bingung dengan adanya Han diantara Sean dan Tuan Kim.


“Ayah, aku belum memberikan hadiah untuk Sona, aku izin meninggalkan kalian” ucap Sean, itu hanya alasannya untuk bisa pergi dari suasana yang sangat canggung dan membosankan.


“Tuan Jung mungkin kamu belum melihat putraku yang satu ini, selama lima tahun terakhir dia sedang ada di jepang, Han ayo perkenalkan dirimu” ucap Tuan Kim.

__ADS_1


“aku rasa tidak perlu ayah karena aku mengenal mereka dengan sangat baik, bukankah begitu Tuan Jung dan Lisa” ucap Han, walaupun kata-katanya cukup menyindir Lian namun secara halus dia menyampaikannya.


“benarkah?” tanya Tuan Kim.


“Ya, dia adalah dokter waktu putriku di rumah sakit” ucap Lian sedikit dengan nada kesal.


“ayah lupa aku ini kekasihnya” ucap Lisa, dia juga tidak ingin kalah memberikan keterangan tentang hubungan mereka.


“Wah ... Ini sangat bagus, kita tidak perlu lagi memaksa kalian untuk dekat, kita hanya perlu menentukan tanggal pertunangan mereka atau pernikahan” ucap Tuan Kim penuh dengan keyakinan.


“Ya silahkan paman dan ayah saling berdiskusi dengan Han, aku ada keperluan sedikit dengan ibuku” ucap Lisa, itu hanya alasan dia bisa pergi dan hari ini Lisa ingin membuat Han menceritakan semuanya tanpa Lisa minta, dengan sopan dia menundukkan badannya dan berjalan dengan sangat elegan.


Lian, Tuan Kim dan Han melanjutkan diskusi mereka, hingga saat Lisa kembali untuk melihat pria berjas hitam itu lagi, tapi disana hanya ada Tuan kim dan Ayahnya yang sedang menikmati minuman di tangan mereka masing-masing.


Sebuah tangan menyentuh pinggang Lisa, membuat wanita itu siap untuk melayangkan tamparan pada seorang yang ada di belakang tubuhnya, namun saat mendengar suaranya itu malah membuat jantung Lisa berdebar dengan sangat kencang.


“mencariku?”


Satu kalimat itu membuat semua pertahanan di hati Lissa hancur begitu saja, dengan posesif Han memeluknya dari belakang dan memberikan tatapan dingin pada pria-pria yang sedang menatap Lisa. Dan gadis itu hanya tertunduk malu dan Lisa merasa jika pipinya mulai memerah.


“menjauhlah, aku malu” ucap Lisa, dia mencoba melepaskan tangan Han yang ada di pinggangnya.


“kamu milikku, Lisa”


“aku bukan barang yang bisa dimiliki oleh orang lain”


“kamu marah padaku?”


“sepertinya aku harus ke suatu tempat, maaf Tuan Kim, aku harus pergi”


“sayang, baiklah aku minta maaf” ucap Han, dia membalik tubuh Lisa untuk menghadap ke arahnya. “kamu tahu, hari kamu sangat cantik hingga rasanya aku ingin mengurungmu dari tatapan pria lain yang juga mengagumimu”


“menyebalkan! Itukah alasanmu kenapa dirimu terlalu tenang saat aku akan bertemu dengan orang yang ingin dijodohkan padaku?” ucap Lisa, dia lupa misinya sendiri yang harusnya Han yang menjelaskannya.


“dimana wanita yang angkuh dan elegan tadi?”


“kau mengalihkan pembicaraan!”


Dengan kesal Lisa berjalan meninggalkan Han, dia mencari tempat yang bisa menyembunyikan dirinya, namun saat melihat ke arah belakang Lisa tidak melihat Han yang mengejarnya melainkan dia melihat Han dengan Sona yang sedang mengobrol.


Lisa menarik kursi ditempat yang tidak jauh dari Han berdiri, semua rencananya gagal hanya karena  pria itu sangat mudah mengalihkan pembicaraan. Han berjalan mendekati Lisa dengan sebuket bunga yang ada di tangannya, tadinya pria itu ingin mengejar Lisa namun langkahnya terhenti saat Sona menyerahkan ke buket bunga pada Han dan berkata.


'aku harap kamu bisa segera menjalin hubungan kalian lebih serius, tolong jangan menyakiti sahabatku, dan tolong jaga dia seperti kamu takut akan kehilangannya'


Han sedikit berlutut di depan gadis yang menatapnya bingung, Han menyerahkan buket bunga itu di hadapan Lisa hingga membuat sebagian dari para tamu melihat ke arahnya.


“mau menikah denganku?” tanya Han.


Lisa sangat terkejut hingga rasanya sulit sekali baginya untuk menjawab 'Ya, aku ingin' tapi itu hanya bisa dia tahan di dalam pikirannya, dia menerima buket bunga itu dan berkata.


“kamu terlalu memaksa hingga membuatku takut untuk menolaknya”


“jadi kamu menerima karena paksaan?”


“tidak, aku menerimanya karena aku mencintaimu”


“kamu sangat pintar berbicara, siapa yang mengajarimu?”


“pak dokter yang mencuri hatiku”


Han tersenyum manis, rasanya begitu bahagia dengan kehadiran Lisa yang mengisi semua kekurangannya selama hidupnya, gadis yang awalnya hanya bertemu di sebuah area taman sehingga bisa menjadi pelengkap hidupnya, rasanya sudah cukup kebahagian yang Han rasakan hingga ingin menghabiskan hidupnya bersama Lisa.


“aku mencintaimu Lisa”


“Ya, aku tahu”


Han menarik kursi yang ada di dekat Lisa, senang rasanya bisa menunjukan hubungan mereka di depan orang tua Lisa dan orang lain, Han memeluk Lisa dengan erat, lalu kemudian dia membuka jasnya untuk menutupi tubuh Lisa yang membuatnya merasa terganggu.


“lain kali aku tidak mau membelikan gaun ini padamu”


“kamu sangat berlebihan” ucap Lisa, dia kembali menarik Han untuk memeluknya, Lisa sangat suka dengan pelukan Han yang terasa begitu hangat dan tentu saja aroma Han yang membuat Lisa tidak bisa jauh dari pria itu.


“aku hanya tidak suka, pria lain melihatmu dengan tatapan aneh mereka”


“baiklah, Tuan posesif, lain kali jangan mengirim gaun seperti ini lagi”

__ADS_1


“itu tidak akan pernah terjadi”


Pesta pernikahan Sona dan Kevin berjalan lancar, hari itu juga ayah Lisa secara resmi menyetujui hubungan Lisa dan Han, hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan, biarkan waktu yang berjalan menjadi saksi dalam hubungan mereka, baik Han dan Lisa tidak ingin buru-buru untuk menyusul Sona dan Kevin, mereka punya misi tersendiri untuk bisa bersatu nantinya, yang terpenting dari itu adalah tidak ada lagi halangan bagi mereka untuk bersatu. Cinta adalah hal yang sederhana namun sulit untuk ditentukan.


__ADS_2