Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 44 - Bookstore


__ADS_3

Sona dan Kevin, kedua orang itu masih di toko buku, hingga siang hari gadis itu masih sibuk mencari buku yang menurutnya belum sesuai dengan yang dia inginkan, dan akhirnya setelah menelusuri semua semua rak buku, dia menemukan buku yang sudah cukup lama dan berdebu, itu buku sangat cocok dengannya.


Sona mencari keberadaan pria itu, dia lupa jika dia kesini bersama Kevin, saat langkahnya sudah didepan meja dimana tempat yang disiapkan untuk semua pengunjung membaca buku, dia melihat sosok Kevin yang tertidur di meja.


Dengan hati-hati Sona meletakkan buku-buku yang ada di tangannya, lalu berjalan mendekati Kevin yang tertidur dengan posisi kepala yang bersandar di satu tangan, dan satu tangan lainnya memegang buku yang sudah lepas dari genggamannya, dia terlihat lebih tenang jika diperhatikan dari dekat dan juga sangat lucu.


Sona ingin sekali mencubit pipi yang menggemaskan itu, tapi jika diingat-ingat ini sudah tengah hari itu berarti sudah waktu untuk makan siang.


'kenapa pria ini tertidur? Apa dia merasa bosan karena menunggu? Atau memang dia kurang tidur?'


Memang, lingkaran hitam dibawah matanya terlihat sangat jelas, Kevin juga terlihat lebih seperti depresi, Sona terpaksa memilih untuk membiarkan pria itu tidur, dia kembali mengambil buku-bukunya dan berjalan ke kasir untuk membayarnya.


Detik berikutnya Kevin sudah bangun, dia melihat ke segala arah untuk mencari dimana keberadaan gadis itu namun matanya tidak menemukan apapun, Kevin terkejut kenapa dirinya bisa tertidur disini padahal dia tipe orang yang tidak mudah tertidur.


“kamu sudah bangun?” ucap Sona, gadis itu kembali lagi ketempat tadi Kevin tidur, sambil membawa buku-buku yang banyak.


“Ya, kamu sudah selesai mencari buku?” Kevin bertanya, dia mengusap-usap matanya untuk memperjelas penglihatannya yang masih buram, dan melakukan gerakkan ringan untuk memberi respon pada tubuh untuk kembali bekerja.


“sudah aku juga sudah membayarnya, bagaimana kalau kita makan siang saja?”


“kamu sudah membayarnya? Bukannya membangunkanku, lain lagi biar aku yang membayar, ayo kita makan siang”


Kevin mengambil buku yang ada di tangan Sona, lalu tangan lainnya menarik gadis itu untuk keluar dari toko buku dan berjalan ke parkiran untuk mengambil mobil, Sona hanya diam, dia tidak mau membuat suasana Kevin buruk lagi karena dirinya yang terus menolaknya.


'apa aku mulai menyukainya?'


Di dalam mobil, baru saja Kevin ingin menyalakan mesin mobil tiba-tiba ponselnya berdering, awalnya dia ingin membiarkan saja namun saat melihat siapa yang menelpon dia segera mengangkatnya.


Kevin : “Hallo, Ayah ada apa?”


Lian : “kau dimana? Cepatlah ke kantor, jika ada meeting setelah makan siang”


Kevin : “apa aku harus ada disana?”


Lian : “jika tidak penting aku tidak akan menghubungimu, cepatlah”


Kevin : “baiklah Ayah”


Kevin menatap Sona yang ada di sampingnya, dia bingung harus berkata apa pada Sona padahal dirinya ingin lebih lama di dekat Sona.


“kamu bisa mengantarku pulang, makan siangnya bisa kita tunda dihari lain” ucap Sona.


“baiklah”


Kevin kembali menyalakan mesin mobilnya, dan melajukan mobilnya menuju ke rumah Sona namun jalanan tampak macet karena mengingat ini waktunya makan, banyak orang yang mungkin juga baru keluar kantor untuk mencari restoran untuk makan siang.


“jika seperti ini aku bisa telat untuk ke kantor, Sona bagaimana kalau kamu ikut ke kantorku dan kita makan siang disana”


“aku--Aku takut mengganggumu saja, aku bisa naik taksi kalau tidak bus”


“tidak apa-apa, lagipula kamu akan terbiasa ke kantorku nanti setelah menikah”


“kamu selalu saja membahas pernikahan, aku tidak bisa menikah jika bukan dari diriku sendiri yang ingin, dan pernikahan harus dilandasi oleh keinginan kedua pihak bukan hanya satu pihak”


“Baiklah, setidaknya kita masih punya waktu untuk saling mengenal dan memahami bukan? Keputusan sudah ditetapkan kita akan ke kantorku”

__ADS_1


Kevin memutar balik mobilnya, dengan laju yang sedang dia segera menyetir menuju ke kantornya, tak lama kemudian mereka sampai di depan kantor Grup Jung, Sona menatap kagum pada gedung pencakar langit itu yang hampir seluruhnya bagian luar adalah kaca, dulu ayahnya pernah mengatakan jika perusahaan ini adalah perusahaan yang pernah menyelamatkan kantor ayah, Sona juga pernah berharap bisa bekerja disini.


“Sona, ayo masuk, aku sudah memesan makan untukmu”


Sona mengikuti Kevin dari belakang, dia menunduk malu saat semua pasang mata menatapnya dengan bingung, ini pertama kalinya dia kesini, mungkin orang yang ada disana terkejut melihatnya datang dengan atasan mereka.


“kamu malas sekali”


Kevin mengambil tangan Sona dan mengajak gadis itu segera masuk ke dalam lift pribadi yang hanya bisa digunakan oleh Lian dan Kevin saja, Kevin menekan pada nomor 10 yang berarti mereka akan ke lantai 10. Di Dalam lift Kevin dan Sona hanya terdiam.


Beberapa menit kemudian lift berhenti di lantai 10, dan lagi-lagi Sona dibuat kagum pada ruangan yang ada dilantai ini, hanya ada beberapa ruangan, dan selebihnya adalah ruang untuk beristirahat. Kevin menggenggam tangan Sona menuju ruangannya. Ruangan Kevin terlihat sangat luas jika hanya untuk satu orang saja.


“Sona, nanti Tuan Kim yang akan mengantarkan makanan untukmu, aku harus segera berganti pakaian dan pergi ke ruang rapat”


“Tunggu! Kau tidak mengganti pakaianmu disinikan?”


“aku sudah terbiasa mengganti pakaian disini, apa kamu ingin melihatku berganti pakaian?”


“Tidak! Maksudku kamu bisa berganti di toilet atau ditempat lain, tidak harus di ruangan ini, bagaimanapun juga kita belum menikah”


“apa yang kamu pikirkan Sona? Aku akan berganti pakaian di ruangan pribadiku, kamu kira aku akan membuka pakaianku di depanmu?”


Sona tertunduk malu, bagaimana dia bisa berfikiran seperti itu seharusnya dia tahu jika pria itu juga mempunyai ruang pribadi disini.


Kevin meninggalkan Sona dengan senyuman di wajahnya, dia berjalan ke sudut ruangannya yang terdapat pintu disana, Ya kevin sengaja membuat ruangan pribadi untuknya didalam ruang kantornya.


Waktu berjalan begitu cepat hingga sore pun sudah berganti dengan malam, Sona saat lelah karena mengerjakan tugasnya hingga dia tertidur di sofa, dan Kevin pria itu baru saja keluar dari ruang rapat, ini merupakan rapat yang paling panjang menurutnya.


Kevin kembali dengan wajah lelahnya, namun saat dirinya melihat Sona yang tertidur rasa lelahnya hilang begitu saja, Kevin menelpon Tuan Kim untuk menyiapkan mobilnya di depan kantor, lalu pria itu berjalan mengambil selimut untuk Sona.


Beberapa hari berlalu ...


Ibu Sona mendatangi rumah Jung saat beberapa hari lalu Sona pergi tidak mengabarinya dan membuatnya khawatir karena Sona tidak biasanya seperti itu, Ibu Sona datang kesana karena di pikir mungkin Sona pergi bersama Lisa atau mungkin keduanya sedang mengerjakan tugas bersama.


Karena kejadian itu akhirnya Lian selalu kepala keluarga Jung memanggil Ibunya Sona dan putrinya untuk ke rumahnya, Lian mengetahui jika Kevin Lah yang selama satu harian itu bersama Sona, Lian kira jika Ibunya Sona memang tahu jika putrinya pergi bersama hingga pulang larut malam.


Di ruangan tamu itu sudah berkumpulnya keluarga Jung dan juga Ibunya Sona dan putrinya. Risa, Lisa, dan Sona mereka terdiam disana, mereka bertanya-tanya dalam dirinya apa ada masalah apa hingga membuat mereka harus berkumpul di pagi hari di hari minggu ini, dimana seharusnya orang lain akan menikmati indahnya hari libur sebelum esok kembali melakukan rutinitas seperti biasanya.


Kevin, pria itu juga bingung dengan apa yang terjadi namun jika sudah ada Sona dan Ibunya itu berarti ada suatu hal yang harus dibicarakan.


'apakah mereka akan membahas pernikahan?'


Kata-kata itu tiba-tiba terlintas dipikiran Kevin dan Sona, hingga keduanya tanpa sengaja bertatap muka disaat orang lain masih saling menundukan pandangannya, detik berikutnya kedua langsung mengalihkan pandangan mereka.


'aku tidak mau menikah!'


Ingin rasanya Sona melarikan dirinya dari sini, usianya masih sangat muda, bagaimana bisa dia harus menjadi seorang istri yang bahkan dia sendiri tidak tahu, Sona masih belum mengerti apapun menjadi istri dan mengurus seorang suami.


“Ibu Sona sebelumnya aku minta maaf atas nama putraku yang sudah lancang membawa putrimu hingga larut malam”


“aku mengerti jika mereka berdua akan menikah! Tapi--Ingin rasanya aku menampar putramu! Aku disini sebagai seorang Ibunya Sona tidak terima! Aku tidak bisa membiarkan istriku pergi bersama pria sampai selarut itu! Aku tahu Kevin pria baik, tapi bagaimana pun dia juga seorang pria 'dewasa'”


“Mom, kamu salah paham awalnya aku--”


“Ibu tahu jika kamu memintanya mengantarnya ke toko buku, tapi bagaimana kau bisa pulang dengan keadaan dirimu diselimuti! Ibu tidak pernah mengajarimu menjadi gadis yang bodoh!”

__ADS_1


“Ibu Sona--Maksudku Tante, anda salah paham, saat aku ingin menghantar Sona kembali kerumah jalanan sangat macet, aku yang memaksa untuk ikut denganku ke kantorku dan akhirnya aku yang salah karena aku tidak tahu jika rapat itu akan berlangsung lama hingga membuat Sona tertidur di ruangan dan selimut itu aku gunakan untuk menutupi tubuh Sona agar tidak terkena angin malam”


“Mom, itu benar, Tolong jangan seperti ini Ayo kita kembali kerumah, Sona janji akan menjadi anak yang penurut”


“sudah diputuskan pernikahan kalian akan dilaksanakan dua minggu lagi”


Kevin & Sona berteriak secara bersamaan “Apa?”


Risa dan Lisa hanya bisa menatap satu sama lain dengan tatapan yang aneh, ibu dan anak ini seperti hanya bisa mengikuti alur cerita yang akan terus berlangsung ini.


“Mom--Sona tidak mau nikah!”


“Ayah, kenapa Ayah mengambil keputusan secara pribadi tanpa persetujuan dari yang lain”


“Risa, Lisa, aku dan ibu sona sudah setuju, kalian akan kalah dengan kami berempat”


“Mom, No--Mommy tahukan jika nanti Sona menikah, Sona tidak akan bertemu dengan Mommy lagi dan juga Sona masih mau melihat konser oppa-oppaku Mom ... ”


“Sona, Kamu ingin melihat Mom bahagiakan? Hanya dengan melihatmu menikah itu adalah sebuah kebahagian yang tidak bisa tergantikan”


“Ayah, Aku akan pergi ke paris untuk beberapa bulan, tidak bisakah Ayah menunggu aku kembali?”


“Sona dan Kevin, sekeras apapun kalian menolak pernikahan ini tidak bisa dibatalkan ataupun ditunda, keputusan sudah bulat! Kalian akan menikah dua minggu lagi!”


Lian, memutuskan untuk meninggalkan ruang tamu itu setelah berbicara, wajah kesalnya tidak pernah hilang dari awal diskusi itu dimulai, dan Risa hanya bisa mengajak Ibu Sona untuk berbicara didepan lain, Kevin pun menyusul untuk pergi meninggalkan ruang tamu dan berjalan ke arah kamarnya.


Hanya Lisa dan Sona yang masih menetap sofa ruang tamu, secara perlahan Lisa mendekati Sona yang mulai sedih, Lisa sangat tahu jika Sona bukanlah anak yang tidak peduli dengan kebahagiaan Ibunya, apalagi sosok Ayah yang sudah meninggalkan mereka terlebih dahulu dan Ibunya adalah sosok yang Sona ingin buat bahagia.


“Lisa, untuk pertama kalinya Mom meminta sesuatu padaku, selama hidupnya dia tidak pernah membuatku merasa kesepian dengan sosok ayah, saat mendengar itu hatiku dan tubuhku rasanya hancur, kenapa Lisa?” tanya Sona, dia menatap Lisa dengan mata yang sudah berkaca-kaca


“Sona, kamu seharusnya merasa beruntung bisa menikah, aku? Aku bahkan tidak tahu kapan Han akan menikahiku”


“Lisa, aku bukan seperti dirimu, aku ingin menjadi wanita yang hebat dimata Ibuku, aku juga ingin dia merasakan kebahagian bersamaku, aku tidak mau meninggalkannya sendiri Lisa”


“Sona, kita tidak bisa menentang jika garis takdir sudah ditentukan, lagi pula Ibumu sendiri yang bilang jika kebahagiaannya adalah melihatmu menikah, dia tidak ingin apapun darimu selain melihatmu bahagia”


“tapi--Lisa aku tidak mencintainya bagaimana bisa aku bahagia? Lisa ini bukan harapanku”


Lisa menarik Sona, untuk masuk ke dalam peluk-kan, Lisa mengerti jika ini sangat berat untuknya, Risa dan Ibu Sona kembali ke dalam ruang tamu, Lisa melihat wajah Ibunya yang menatap sedih kearah putrinya, dan tiba-tiba rasa sakit menjalar keseluruh tubuhnya yang berpusat di jantung.


Sontak Risa segera berteriak memanggil Lian Dan Kevin, Sona yang mendengar suara sang Ibu yang merintih kesakitan segera menghampiri Ibunya yang sudah dibawa ke dalam mobil.


“Mom--Mom--Why?”


Sona segera menaiki mobil yang didalamnya sudah ada Lisa dan sang kakaknya, mereka semua langsung menuju ke rumah sakit yang tidak jauh dari jarak rumah mereka, Sona mulai ketakutan dalam pelukkan Lisa, air matanya sudah membasahi pakaian Lisa.


“Lisa--Aku tidak bisa berpikir jernih, aku taku--”


“Sona jangan berfikir seperti itu kamu harus tenang”


Tak lama kemudian mobil Lian sudah berhenti didepan rumah sakit, pria itu segera memanggil petugas rumah sakit untuk membantunya membawa Ibu Sonanya ke ruang UGD.


Kevin, Lisa dan Sona menyusul, mereka sampai saat Ibu Sona sudah di dalam ruangan UGD, yang langsung ditangani oleh banyak dokter dan juga suster, sangat terlihat jelas di wajah Sona jika dirinya merasa sangat khawatir, Sona tidak pernah tahu apa-apa tentang penyakit Ibunya.


'Mom--Tolong jangan tinggalkan aku, aku janji akan menikah jika itu keinginan Mom--Tapi tolong biarkan Sona bersedih melihat kondisi Mom'

__ADS_1


__ADS_2