Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 8 - Be Mine!


__ADS_3

“kemana?” tanya johan saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


Kening Risa mengerut sebelum akhirnya sadar maksud dari pertanyaan johan, karena entah kenapa ada sebersit perasaan yang menuntunku untuk pulang ke rumah Lian.


“kamu yakin?” tanya johan untuk kedua kalinya, dia sedikit khawatir melihat Risa yang sejak tadi termenung, mungkin pulang ke apartemennya miliknya lalu mengistirahatkan tubuhnya itu pilihan terbaik, tapi gadis itu bersikeras ingin pulang kerumah Lian.


“Ya” ucap Risa. Hembusan nafas yang panjang keluar dari mulut Risa, bahu Risa yang terbuka kini tertutupi jas yang johan pinjamkan.


Tangannya mulai menekan angka kombinasi sandi untuk membuka pintu rumah, dengan gerak pelan dia membuka heels yang dia kenakan lalu meletakkannya di pojok biasa dia menyimpan sepatu miliknya lalu, gadis bersurai kecoklatan itu bahkan lupa menggantinya dengan sandal rumah yang biasa dia kenakan.


Lian pernah beberapa kali memarahinya karena masalah alas kaki, bukan marah yang penuh emosi, mungkin sedikit geram dengan kebiasaan Risa.


Entah sudah beberapa kali Lian mengingatkan Risa untuk mengenakan sandal rumah, bahkan jika Risa mau dia bisa mengenakan sepatunya didalam rumah, seperti yang biasa Lian lakukan.


Tapi ini Risa, gadis yang dididik hidup  penuh kesederhanaan sejak kecil oleh ayahnya, Apa Lian sudah pulang?


Dengan kaki telanjang tanpa alas Risa melangkahkan kakinya, melewati ruang tamu dengan pencahayaan yang minim.


Sepertinya para pelayan sudah tertidur mengingat ini sudah lewat tengah malam, Risa tersentak saat sebuah lengan besar menariknya, tubuhnya terhempas tepat di sofa berwarna coklat pastel.


“kenapa?” suara serak itu melantun dari nafasnya terdengar sedikit menggebu.


Risa masih berusaha memejamkan erat-erat kelopak matanya, Risa tahu konsekuensinya jika dia membuka matanya saat ini iris mata itu sedang menatapnya lekat seolah sedang menguliti.


“aku tidak tahu--”


Lian, ya pria yang sekarang tengah menindihnya adalah Jung Lian, dahinya menempel erat dengan dahi Risa, menopang tubuhnya dengan tangan kirinya agar berat tubuhnya tidak menekan Risa.


“tidak tahu jika kamu begitu dekat dengan justin”


Kelopak mata Risa seketika terbuka begitu mendengar nama Justin keluar dari mulut Lian, sejak awal Lian mengetahui segalanya, tanpa harus dia yang menceritakan.


Risa sangat yakin jika Lian mengetahui semua tentangnya, mengingat bagaimana saat itu Lian sangat-sangat tahu soal Risa, jika bukan hal mustahil jika Lian, mengetahui apapun tentangnya tanpa diucapkan.


“Do you love me?”


Shit!! 


perut Risa tiba-tiba menegang? Tadi siapa yang berkata seperti itu? Dirinya atau Lian?


Apa Risa sudah dengan tidak sadarnya menanyakan hal seperti itu dengan tidak tahu dirinya, Risa meraba bibirnya, dia ingat betul jika dia masih menutup mulutnya sejak tadi.


“Be Mine!”


Kali ini Risa yakin itu bukan suaranya, iris mata itu menatapnya lekat memancarkan keseriusan yang begitu mendalam, sekarang bukan hanya perutnya yang tegang, aliran darahnya sepertinya berhenti, membekukan setiap sarafnya.


“Risa” Lian menunduk berbisik tepat diatas telinganya, suaranya terdengar berat.


“Ya” hanya dua Kata itu yang mampu keluar dari mulut Risa sementara matanya kini terpaku pada bibir milik Lian.


“aku tidak ingin mengulangi ucapanku” Lian mengecup wajah Risa, setiap senti tidak ada yang terlewatkan, dia mengecup Risa penuh kasih seolah sebagai bentuk pernyataan ucapan yang tidak ingin diulangi.


Be Mine?


Mine!


Mine!


Mine!


Eh--,

__ADS_1


Risa tersentak dari lamunan panjangnya saat lengan Lian menyisir rambutnya.


“pergilah!” bisik Risa, dia tidak yakin bisa menekan perasaannya jika Lian terus bersikap lembut seperti ini.


Bodoh memang ketika Risa berpikir Lian akan menuruti ucapannya, padahal dia tahu dengan jelas jika Lian adalah pemuda otoriter yang tidak suka diperintah, pria itu akan bertindak sesuai intingnya.


“dan membiarkan diriku tersiksa?” Lian berguling diatas tubuh Risa, sebagai gantinya pria itu berbaring di sampingnya.


Ternyata sofa ini cukup lebar untuk dijadikan tempat berbaring dua orang, Risa melirik cemas takut-takut ada pelayan bangun dan memergokinya dengan Lian. Jangan lupakan posis mereka yang saling menempel erat ketika kaki panjang Lian, melilit kaki Risa untuk menahan pergerakan kakinya.


“karena apa?” tanya Risa, dan mengundang dengusan kesal dari Lian.


“kelinci bodoh”


“jangan katakan itu” bibir Risa merenggut kesal.


Lian tertawa ringan, dia kadang tidak mengerti dengan jalan pikiran Risa, padahal Lian  sudah dengan begitu jelas berkata, tapi gadis bodoh di depannya masih saja tidak mengerti.


“justin, dan pria lainnya”


Setelah itu tidak ada lagi kata yang terucapkan dari mulut Lian, kini bibirnya tengah mengulum lembut bibirnya Risa, mengecap pelan setiap rasa yang disuguhkan dari bibirnya manis Risa.


Tangannya mulai meremas erat bokong Risa, yang demi apapun hampir membuat Risa melenguh panjang.


Ini bukan ciuman pertamanya dengan Risa, Lian sudah beberapa kali mengecap bibir Risa dan selalu saja bisa membuat Lian penasaran dengan bibirnya.


“Lian--” tubuh Risa menggelinjang, jas johan sudah jatuh tergeletak tidak lagi menutupi bahunya.


“hm”


Lian sendiri tidak begitu memperdulikan mulut Risa yang meracau, dengan sangat lembut dia mengecup bahu Risa yang terekspos membiarkan gairahnya yang sejak tadi dia tahan.


Jelas saja tidak suka, Lian takkan pernah sudi memamerkan keindahan tubuh Risa dinikmati oleh pria lain.


Risa mengendap melangkah diam-diam, entah kenapa sejak kejadian semalam perasaannya jadi tidak terkendali, dia malu, sangat malu, jika bertatapan dengan Lian.


*********


Pagi ini niatnya Risa ingin mengajak Kevin pergi keluar, sesuai janji seharusnya Risa dan Kevin pergi ketaman bermain bersama Lian.


Tapi Risa memutuskan untuk pergi berdua saja bersama Kevin, dia tidak yakin bisa menikmati acara jalan-jalan bila bersama dengan Lian, rasa canggung pasti bisa mencekiknya. Sudut mata Risa melirik pintu Mahoni coklat yang cukup besar, sepertinya tidak ada tanda-tanda Lian akan bangun pagi.


Gadis itu menarik nafas lega, sepertinya rencana untuk pergi berdua dengan Kevin berjalan lancar. Risa harus segera bergegas membangunkan Kevin, agar bisa pergi secepatnya.


Jauh dalam kepalanya, Risa sudah menyiapkan berbagai alasan jika Lian nanti bertanya kenapa tidak mengajaknya, katakan saja Lian sedang tidur dan Risa tidak tega membangunkannya sementara Kevin sudah merengek ingin pergi.


Risa tersenyum lebar, dia pasti bisa menikmati hari liburnya dengan tenang tanpa rasa canggung.


“Ibu” Kevin termenung melihat Risa yang sejak tadi tidak henti-hentinya tersenyum.


“ayo cepat pakai baju ini saja ya?” Risa menunjukan kaos lengan panjang bergambar iron man.


Kevin hanya mengangguk karena sudah kedinginan, tubuh kecilnya hanya terbalut handuk putih.


“kenapa ayah tidak ikut?”


“ayah sedang tidak enak badan, pergi bersama Ibu saja, okey?”


Setelah selesai merapikan baju Kevin, Risa mengambil tas kecil milik Kevin, memakaikan topi berwarna merah untuk menutupi rambutnya.


“apa ayah baik-baik saja?”

__ADS_1


Risa bisa melihat ada rasa khawatir yang terpancarkan dari mata kevin, dia jadi menyesal membuat bocah polos ini sedih.


“ayah hanya kelelahan karena pekerjaannya, istirahat juga pasti sembuh”


tangan Risa terulur mengusap pelan pipi Kevin, berharap Kevin bisa menunjukan sebuah senyuman.


“kalau begitu kita temani ayah istirahat dirumah saja bagaimana?” tanya Kevin dengan begitu polosnya.


Risa menepuk pelan dahinya sendiri.


”Kevin tidak ingin pergi jalan-jalan? bukannya Kevin ingin pergi taman bermain? Atau planetarium?”


“Kevin ingin pergi bersama Ayah dan Ibu”


wajah kevin merenggut sedih sesaat sebelum safirnya menemukan sosok yang jadi objek pembicaraan bersama Risa sejak tadi.


“ayah--”


Rasanya tubuh Risa kembali membeku, tidak berani berbalik hanya untuk memastikan, kevin sudah berada dalam gendongan Lian, pria itu terlihat rapi dengan setelan kasual yang dia kenakan, hanya kaos armani dengan blue jeans.


“ayo, tunggu apa lagi? Bukankah kita mau pergi ketaman bermain?”


Risa bisa mendengar jelas tawa yang terselip di setiap kata yang terlontar dari mulut Lian.


“Ibu bilang ayah sedang sakit” celoteh kevin saat Lian mendudukannya di kursi belakang, memberikan kecupan singkat dipipi puteranya.


“Ya, Ayah memang sedang sakit” dahi kevin mengerut bingung, kenapa tetap pergi jika ayahnya sedang sakit. "Ayah sakit karena Ibumu tidak mau membuat baby bersama ayah”


Rasanya Risa ingin menjedotkan kepalanya ke dashboard saat ini juga, Risa yakin jika Lian mendengar semua ucapannya bersama kevin tadi saat di ruang tamu.


Dan kenapa dia harus terjebak dengan pria yang sudah membuat hatinya tak karuan semalaman.


Wajah Risa sudah merah, Lian hanya tertawa ringan melihat Risa sebelum akhirnya dia menyalakan mesin mobilnya dan mulai membelah jalanan kota Seoul.


“kamu masih berhutang sebuah penjelasan padaku” Lian menekan dahi Risa dengan telunjuknya.


Bibirnya Risa merenggut tidak suka, inilah yang menjadi alasannya menghindari Lian, dia tidak mau bertemu dengan pria otoriter yang sejak semalam meminta penjelasannya.


Padahal Risa sudah bangun pagi sekali, terlampau pagi malah agar bisa pergi tanpa Lian, Tapi ya, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya Risa pergi dengan Lian juga. Risa menggigit bibirnya bawahnya, apa yang harus dia katakan.


“kamu yakin ingin mengikat rambutmu seperti ini?” tanya Lian.


Risa mengangguk yakin sebelum sadar dengan safir Lian yang melirik lehernya, Risa memang memaka kaos V neck dengan leher rendah lalu apa salahnya?


Dengan gerak reflek Risa memajukkan tubuhnya menatap kaca spion yang merefleksikan dirinya, tanda merah sepanjang leher Risa memperjelas semuanya.


Lian brengsek!


"kau!"


Risa segera menatap Lian dengan tatapan tidak suka, pria ini tidak tahu diri! berani sekali dia tersenyum dengan semua perbuatan yang dia lakukan pada Risa.


"kenapa?" tanya Lian dengan senyum bangganya.


"menyebalkan!"


dengan terpaksa Risa Membuka ikatan pada rambutnya membuat rambutnya terurai, sebisa mungkin Risa menutupi tanda kemerahan di lehernya dengan rambutnya.


"tapi kamu menyukai pria menyebalkan inikah?" Tanya Lian sedikit menengok ke samping untuk melihat Risa sebentar.


"Tidak! kau pria menyebalkan! aku peringatkan untuk menjauh dariku!" Ucap Risa yang langsung menatap jendela dengan pipi yang merah Merona saat mengingat kejadian tadi malam.

__ADS_1


__ADS_2