![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
“Lian lebih memilih Lisa meskipun saat itu aku sudah mengatakan perasaanku padanya, bahkan aku mencintainya, aku menganggapnya lebih dari sekedar sahabat“
Jennie menertawakan kebodohannya yang saat itu berhadap Lian akan memilihnya dibandingkan Lisa.
“Dan aku hanya bisa menjadi sahabatnya, orang yang paling dekat dengannya, apa menurutmu adil? Ketika dia sudah memilih Lisa, Lian ingin aku tetap bersikap biasa saja layaknya pertemanan kami sebelumnya, hatiku sangat sakit, tapi apa yang bisa kulakukan selain menuruti keinginannya, karena aku begitu mencintainya.”
Hati Risa terenyuh, bagaimana Jennie bisa bertahan begitu kuatnya perasaan Jennie pada Lian begitu dalam.
“Lian menikahi Lisa tetap setelah lulus dari universitas, kupikir kisah Lian dan Lisa akan menjadi kisah bahagia seperti dongeng, ternyata aku salah, Lisa meninggal saat melahirkan Kevin, Lian terpuruk saat itu, dia menyalahkan Kevin atas meninggalnya Lisa“ Jennie menatap Risa dengan lembut ketika wajah Risa menegang.
“Lian bahkan tidak mau menerima kehadiran Kevin selama berbulan-bulan, dia memupuk kebencian pada anaknya”
Bagaimana Jung Lian bisa begitu terjahat pada putranya, Risa sedikit tidak percaya pada Jennie, melihat bagaimana Lian begitu menyayangi Kevin.
“saat itu Lian hanya seorang lelaki yang begitu mencintai Lisa, dia tidak mau kehilangan Lisa hanya demi orang asing, seorang pemuda yang dimabuk cinta lebih menikmati kebersamaan dengan orang terkasih, dia bahkan mengalami depresi berbulan-bulan, karena kepergian Lisa, selama itu pula aku menyemangatinya, mendampinginya, agar dia tidak jatuh lebih terpuruk“
“Kevin menjadi pelampiasan kebencian karena kehilangan Lisa?“ tanya Risa tidak percaya.
“lalu bagaimana dengan sekarang? Lian terlihat begitu menyayangi Kevin?”
“rasa bersalah menyadarkannya satu hal, bahwa sebesar apapun kebenciannya pada Kevin takkan pernah mengembalikan Lisa, aku menyadarkannya jika dia tidak lagi bertanggung jawab pada kehidupannya sendiri, tapi juga pada putranya”
Lalu kemana Jennie? bukankah jika Jennie memang begitu dekat dengan Lian seharusnya Jenny bisa saja mendominasi kehidupan ayah dan anak itu.
“aku sangat mencintai Lian, sampai sekarang, Aku selalu berada disampingnya, tapi sejak awal Kevin tidak pernah menyukai kehadiranku, karena dia pikir aku menbuat Lian melupakan Lisa atau ibunya”
“bisakah aku meminta sesuatu padamu?”
Jennie menatap Risa dengan pandangan yang begitu penuh harapan yang begitu penuh harap, dia tidak peduli jika dirinya menjadi wanita tidak tahu diri.
“jika aku bisa“ Risa mengangguk, semoga saja permintaannya bukan hal yang aneh.
“tolong jangan jatuh cinta pada Lian?“
Tubuh Risa menegang, wajah memohon Jennie membuatnya semakin gugup.
“aku sudah banyak menggantung-kan harapan pada kisah kami, bolehkah aku berharap akhir yang bahagia untukku dan Lian“
Jennie layak mendapatkannya, Risa tahu dengan jelas itu, Jennie pantas bahagia dengan cintanya pada Lian, Risa hanya orang asing yang berada di antara mereka.
“aku tidak memintamu menjauhi Kevin atau apapun, hanya satu hal, tolong jangan jatuh cinta pada Lian"
Ada rasa sakit yang menyapa, tapi jika dipikirkan lagi rasa sakitnya tak sebesar sakit hati yang dialami Jennie.
“tentu saja, aku akan mencoba melakukannya” ucap Risa dengan seulas senyum tulusnya meski hati bergetar
“kamu pantas bahagia dengannya”
Mulai saat itu dia harus menjaga hatinya agar tak jatuh pada Lian, meski getaran itu sudah menyapa dia harus menyingkirkannya.
Langit malam begitu pekat, angin berhembus begitu dingin sehingga membuat Risa menggigil, dia pulang kerumah Lian, awalnya dia akan pulang apartemennya tapi mengingat Kevin, Risa jadi mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Risa meletakkan sepatunya di rak sepatu, beberapa lampu sudah dimatikan, hanya ada beberapa lampu temaram yang menyala, sepertinya penghuni rumah sudah terlelap mengingat ini sudah pukul sebelas malam.
Risa menarik nafas dalam-dalam, sebelum melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk mengambil segelas air.
“kemana saja kamu?”
Risa tersentak terkejut nyaris menjerit, Lian berdiri di ujung dapur dengan tangan yang dilipat di depan dadanya.
“pergi bersama temanku“
“sampai selarut ini? kemana?”
Risa mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin, dia melirik Lian dari sudut matanya, pria itu mengenakan piyama tidur berwarna abu-abu, sejak kapan Lian suka memakai piyama?
Risa menggelengkan kepalanya, kenapa harus pertanyaan seperti itu yang muncul.
“kurasa aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjelaskan kemana aku pergi dan dengan siapa“
Risa menyimpan gelas yang dia pakai, berpikir bagaimana cara melewati Lian.
Lian menyerah, sepertinya Risa sedalam suasana yang buruk terlihat dari wajahnya yang sejak tadi ditekuk, bahkan gadis itu menarik nafas dalam berkali-kali. “besok kuharap kamu mau menjadi partnerku pergi ke resepsi pernikahan Bisma“
Risa hanya terdiam, ada raut ketidakpercayaan di wajahnya. “aku sudah janji akan pergi dengan temanku“
“baiklah, pergilah tidur“
Lian meninggalkan Risa dalam diam tidak mau melanjutkan ajakannya atau sekedar bertanya dengan teman yang mana Risa pergi, pria itu bahkan tidak berbalik melangkah lebar-lebar meninggalkan dapur.
Tubuh Risa merosot terduduk di lantai, memeluk lututnya erat hingga isakan tangisan halus terdengar.
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali Risa sudah memasak untuk sarapan Kevin dan Lian, para pelayan hanya membantunya memotong beberapa sayuran dan hal kecil lainnya, asap yang mengepul dari panci sup mengeluarkan aroma yang menyengat, Risa sudah mencicipinya dia hanya perlu menyajikannya di meja makan.
“Ibu...” suara kevin terdengar dari luar dapur, Risa mematikan kompornya, dia menyuruh beberapa pelayan untuk merapikan sisa pekerjaannya di dapur.
Setelah membuka appron itu, Risa berjalan ke arah dimana Kevin berada, dalam blatung piyama motif kelinci Kevin bersandar di atas sofa dengan tangan yang mengucak pelan kelopak matanya.
“Ibu...” ulangi Kevin melihat Risa mengambil langkah untuk duduk disampingnya, suaranya sedikit serak seperti suara orang bangun tidur.
“hm?”
lengan Risa memeluk erat anak berusia enam tahun itu, Kevin bukan puteranya tapi entah mengapa Risa merasa sudah mengenal sejak lama.
“pergi ke taman bermain besok?“ tanya Kevin dengan mata yang mengerjap, dia menyusupkan kepalanya ke bahu Risa, mencoba mencari kesadaran karena sisa kantuk yang enggan pergi.
senyum lembut terlihat diwajah Risa
“tentu saja!“
“aku akan pergi makan malam bersama Jennie nanti“ ujar Lian yang tiba-tiba saja muncul di ruang tamu, tangannya sedang sibuk mengancingkan lengan kemeja, jam tangan rolex melingkar tepat di pergelangan tangan Lian, pukul 9 pagi dan hari ini adalah hari sabtu, kemana Lian akan pergi sepagi ini?
__ADS_1
Risa tidak tahu harus berkata apa, bibirnya seperti terjahit rapat enggan mengucap, apa yang sebenarnya dia inginkan, ketika mulutnya mengizinkan Lian dengan Jennie lalu mengapa hatinya terasa sakit, seperti ada sesuatu yang menghamtamnya tetap di-dasar hatinya.
“kamu jangan pulang terlalu larut!" lanjut Lian, ujung matanya melirik Kevin yang tertidur kembali dalam pelukan Risa dengan nyamannya,
‘Lalu kamu sendiri? Apakah kamu akan menghabiskan sisa malammu bersama Jennie?‘
“aku bukan lagi anak kecil, aku tahu kapan aku harus pulang!“ akhirnya deretan kata itu mampu keluar dari mulutnya sebagai bentuk konfrontasi jika Lian tidak berada dalam teritori mampu mengatur dirinya.
Layar ponsel Risa menyala menandakan ada pesan masuk, seketika matanya teralihkan menatap deretan kata yang menghiasi layar ponsel.
‘kalau Lian menyukaimu, itu karena dirimu sangat mirip dengan Lisa, yang dia inginkan bukan Risa, tapi Lisa, menyedihkan bukan? Disukai karena menjadi bayang-bayang orang lain' By : XXXXXXX
Dahi Risa terangkat membaca pesan itu, siapa itu, siapa yang mengirimkannya pesan seperti ini? Tidak bisa dipungkiri ada luka yang tergores membaca deretan kata itu.
“kamu memang bukan anak kecil!“ ucap Lian, safirnya menatap wajah Risa yang tiba-tiba saja menekuk, ada sesuatu yang terjadi.
Lian yakin itu, rasanya ingin bertanya, kenapa? apa kamu baik-baik saja? Tapi pertanyaan itu hanya mampu terbungkus di ujung lidahnya tanpa terlontar.
“tapi kamu seorang perempuan akan sangat berbahaya jika pulang larut“
“aku pergi“
sebelum pergi Lian menghampiri Kevin yang berada dalam dekapan Risa, menundukkan kepalanya hanya untuk sekedar memberikan kecupan pada Kevin, Risa bernafas dengan resah saat helaian rambut itu menggelitik dagunya, semoga Lian tidak bisa mendengar degup jantungnya yang mengumandangkan keresahan.
Ponsel Risa terus berdering, dia masih sibuk dengan adonan cookies yang sedang dia buat bersama Kevin.
“ Halo “ Risa menempelkan ponselnya di telinganya, sementara tangannya menuntun Kevin untuk duduk diatas kursi, memberi cetakan cookies pada Kevin, agar dia bisa membuat adonan sesuka hatinya.
“tidak bisa Kim Keira, aku rasa aku takkan sempat untuk pergi ke salon lebih dulu“
ini sudah pukul dua siang dan takkan cukup waktunya jika dia harus pergi ke salon lebih dulu, lagi pula dia tidak perlu merias diri terlalu mencolok, Keira mengajaknya untuk pergi ke salon untuk melakukan perawatan sebelum pergi ke resepsi pernikahan bosnya.
“Ya, kamu pergi saja sendiri“
Risa menyunggingkan bibirnya mendengar Keira mengeluh karena pacarnya tidak mau menemaninya.
“Lian akan pergi bersama Jennie“
Risa menunduk sejenak tersenyum getir saat Keira mengomentari kebodohannya yang membiarkan Lian pergi bersama Jennie.
“aku akan pergi dengan Johan, katanya urusannya selesai lebih awal cepat, jadi jam tujuh malam nanti dia bisa menjemputku“
“ya, sampai jumpa“
Setelah menutup sambungan teleponnya Risa mulai membantu Kevin membentuk cookies.
“kenapa bentuk bintang semua?”
“karena aku suka bintang, mereka bersinar begitu terang di malam hari,” Kevin terlihat fokus menata choco chip diatas adonan yang sudah dicetak.
“waktu itu temanku pergi ke Planetarium, bisakah kita pergi kesana? Aku ingin melihat jejeran tata surga yang mengagumkan“
__ADS_1
“mungkin kita atur jadwalnya nanti okey?“ bibir Kevin mengkurva, wajahnya mengangguk penuh antusias.
“tentu saja“