Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
- IMPL S2 - [ Bab 02 : The Day ]


__ADS_3

“kamu masih ingat? Hal apa yang harus dikatakan nanti saat wawancara?” tanya Sona, dia sangat menyayangi Lisa lebih dari perasaannya pada Eonnie Risa, itu wajar karena baginya Lisa sudah dia anggap sebagai adik perempuan yang selalu dia bimbing, belum lagi Sona tahu jelas bagaimana perjalanan hidup Lisa sampai gadis itu bisa berada di titik ini.


“Ya, Eonnie. Masih tertulis jelas di dalam otakku” Lisa memakan sarapan paginya dengan lahap, jika Lisa akan menghadapi sesuatu yang berbau hal baru dia cenderung gugup dan lebih memilih untuk melampiaskannya pada makanan.


Lihatlah sekarang gadis itu hampir saja mengotori kemeja putih dan jas hitamnya, melihat hal itu Sona hanya bisa menghela nafas, dia mengambil tisu dan mengulurkan ke arah Lisa, “bersihkan mulutmu dan cepatlah Lisa, bus keberangkatan menuju akan segera tiba, kita butuh lima menit untuk sampai di halte”


Lisa mengangguk mengerti, dia membersihkan area wajahnya, lalu mengambil tas dan sedikit berlari mengambil sepatunya. “Eonnie, tunggu”


“cepatlah Lisa, kita bisa terlambat sampai di kantor”


Dan benar saja saat berhenti didepan halte Oji-Gun. Bus menuju ke daerah Seoul tiba ketika Lisa dan Sona baru menginjak kakinya disana, karena apartemen yang berada di kota Daecheon,  mereka tinggalin cukup jauh dari pusat kota, mangkanya baik Lisa, Sona maupun Risa harus menempuh jarak yang jauh dan cukup memakan waktu jika sampai telat.


Sona menarik tangan Lisa untuk melangkah masuk kedalam bus.


“untuk dua orang” ucap Sona, dia menempelkan kartu busnya.


“Eonnie selalu begitu, aku bisa membayarnya sendiri” 


Sona tak langsung menjawab ucapan Lisa, dia lebih mementingkan tempat duduk yang membuat keduanya bisa duduk bersama, sampai akhirnya Sona memutuskan untuk duduk di belakang bersama dengan seseorang anak muda yang memakai seragam SMA dan Earphone di telinganya, pria muda itu tampak sibuk menatap keluar arah jendela dengan wajah dinginnya.


“simpanlah tabunganmu, suatu hari itu akan sangat berguna saat kamu sedang keadaan sulit”


“Eonnie, saat makan siang bisakah kita bertemu?” tanya Lisa, ada banyak sekali keraguan untuk memulai sesuatu yang baru, Lisa memiliki kepribadian yang sangat tertutup, dia sulit bergaul dan sangat tidak bisa terbiasa untuk sendiri. 


Tapi kali ini, Lisa mencoba membuka diri pada dunia tanpa didorong oleh Sona ataupun Risa. Usianya sudah tidak layak harus bersembunyi dipunggung mereka terus, belum lagi seorang wanita akan menjalani kehidupan rumah tangga dan harus bisa terpisah dengan suasana kehidupan sebelumnya.


Sona mengangguk, dia sedikit tersenyum namun itu segera hilang dalam seperkian detik, jika Lisa lebih jujur dalam hal perasaan atau kehidupan Sona adalah kebalikan dari itu semua dia sangat pandai bersembunyi soal perasaan lagi kehidupannya. Hal itu sudah terjadi sejak kecil akibat masalalu kelam yang merenggut kebahagiannya.


Lisa lebih nemilih untuk mengeluarkan buku kesukaannya “Angel Of Death and The Siren Prince” buku yang baru-baru ini dia beli, entah kenapa novel romance fantasi lebih dia sukai daripada novel lainnya, novel itu seperti sebuah negeri dongeng dengan kehidupan jaman modern, belum lagi Visual-nya mengunakan anggota BTS, idol yang baru-baru ini menarik perhatian kaum hawa dan juga segala hal yang berkaitan dengan indutri permusikan.


Lain berbeda dengannya, Sona lebih banyak menghabiskan waktu untuk memperdalam tentang kehidupan Psikiater, Sona sempat bercita-cita ingin menjadi Psikiater namun niatnya terurung saat melihat Lisa yang sulit bergaul di bangku kuliah dan akhirnya Sona mengambil jurusan yang sama dengan Lisa. 


Sampai butuh waktu 45 menit perjalan untuk berhenti didepan halte Kyong, yang dibelakangnya terdapat dua gedung pencakar lain yang saling terhubung, walau di tengah-tengah gedung itu memiliki label sendiri yaitu ‘Grup Nam’ dan ‘Grup Joon’.


Kedua mata gadis itu seakan mencoba menghitung ada berapa lantai, betapa tinggi dan besarnya gedung yang sedang mereka tatapan dan seberapa menyilaukan gedung yang hampir di penuhi kaca. Tak lama Sona melihat waktu yang sudah menunjukan pukul 8 pagi dari jam tangannya, sebentar lagi wawancara akan segera dimulai!


“Lisa, ayo cepat!” ucapnya, dia menarik tangan Lisa untuk segera mendekati pintu utama, Sona tak langsung menuju Grup Joon tapi dia lebih memilih untuk mengantar Lisa walau hanya sampai didepan pintu utama.


“Eonnie, aku takut” 


Sona tersenyum, dia merapikan penampilan Lisa dengan baik, kemudian melingkarkan ID-Card nama Lisa “Lisa, kamu yakin bisa melewati dengan baik, setelah selesai, aku akan menunggumu disini” 


Lisa mengangguk, dia belakang memasuk kedalam sambil melambaikan tangan kearah Sona dan berteriak “Eonnie, Semangat!”

__ADS_1


Lisa menghentikan langkahnya sejenak, matanya dibuat kagum pada pemandangan perkantoran, banyak sekali orang yang berlalu lalang didepannya, dan banyak sekali orang-orang yang berlain saling memperebutkan lift. 


Dia menatap layar ponselnya, Lisa ingat harus pergi kelantai 7 untuk sesi wawancara dengan Tuan Do-Hae Jun . Sebelum kembali melangkah Lisa mengatur nafas lebih dahulu dan penuh keyakinan dia melangkah mendekati lift.


‘Lisa, kamu pasti bisa! Semangat! Tunjukan pada Eonnie Risa dan Sona, jika kamu pasti bisa!'


Dia berjalan mendekati lift sambil memeluk sebuah dokumen persyaratan yang ajukan Grup Nam pada dirinya, didepan sana memang cukup banyak orang yang menunggu sehingga Lisa harus sedikit berdekatkan dengan beberapa orang.


Lisa tak terlalu nyaman berada di keramaian, tapi sebisa mungkin dia menahan itu saat lift terbuka dan tetap berhenti di lantai 7.


Dia berjalan mengikuti arahan yang tertuliskan diponselnya, hari ini Lisa lebih memilih untuk mengikat rambutnya dan mengunakan kacamata, dia tidak terlalu pandai seperti Sona dan Risa dalam urusan berpakaian apalagi menata diri. 


Sampai akhirnya Lisa berdiri didepan sebuah ruangan bertuliskan ‘Room Tuan Do-Hae’, sekali lagi dirinya terus menyakini dan sedikit rasa takut dirinya membuka pintu ruangan itu. 


“selamat pagi Tuan Do-Hae, saya Moon Lisa Seo, siap untuk diwawancara” ucap Lisa, dia membungkukkan tubuhnya didepan meja Tuan Do-Hae. Dia berani dia menatap pria dihadapannya dan menunjukan ssnyumannya.


“baiklah, kamu bisa duduk” ucapnnya, dia meletakkan dokumen ditangannya. Jika dilihat wajahnya sangatlah tegas dan berkarisma, bisa dilihat usianya mungkin berbeda 7-10 tahun dengan Lisa.


Dia menerima dokumen yang Lisa berikan sebelum gadis itu menarik kursi dan duduk dihadapannya.


“Moon Lisa Seo, Universitas Seoul--” Pria bernama Do-Hae, itu membaca profil biodata secara terperinci, tak ada satu kalimatpun lepas dari pandanganya.


“kamu tinggal di kota Daecheon? Bukankah cukup jauh dari Seoul?” 


Lisa mengangguk “Ya, aku tinggal di Kota Daecheon bersama kedua saudara saya, dan saya akan mengusahkan untuk datang tepat waktu”


Lisa terdiam, dia sudah diajarin oleh Sona jika ada pertanyaan seperti itu, tapi entah kenapa dia lebih gugup dari Sona yang bertanya, Lisa bahkan menundukkan pandangannya dan memainkan jarinya “Eomma dan Appa--aku di besarkan di panti asuhan” 


“maaf soal itu, aku akan mengirimkan dokumen ini pada Tuan Nam” ucap Tuan Do-Hae, dia mengambil beberapa dokumen dan juga dokumen milik Lisa.


“maaf Tuan Do-Hae menahan anda, bolehkan aku bertanya sesuatu?” 


“Ya, katakanlah”


“aku harus menunggu disini atau diluar?” tanya Lisa.


“aku akan menghubungimu jika sesi selanjutnya, kamu bisa kembali nanti, hari ini kami memiliki tamu dari luar, jadi untuk sesi wawancara dipersingkat dan akan beritahu hasilnya, secapat mungkin”


“Terimakasih Tuan Do-Hae”


Lisa tersenyum sambil menggengam tali tasnya saat akan meninggalkan ruangan tersebut, tidak seburuk yang dibicarakan oleh Eonnie Risa dan Sona, Lisa pribadi bisa dengan mudah beradaptasi saat sesi wawancara tadi, dia berjalan sambil mengeluarkan ponselnya.


Brukk-- 

__ADS_1


Tubuh Lisa bersentuhan dengan lantai, dia tidak memperhatikan jalan sampai menabrak seseorang sampai banyak sekali kertas berserakan dilantai. “Maaf! Maaf--”


Lisa melupakan ponselnya, dia segera membantu pria dihadapannya untuk kembali mengambil kertas tersebut, sampai dilembaran terakhir tidak sengaja tangannya bersentuhan dengan pria berjas blue sofe.


Saat itu juga keduanya saling menatap, baik Lisa maupun pria itu sama-sama tidak tahu jika hal itu malah menambah kesan yang membingungkan. 


“Nona, bisakah anda melepaskannya?”


“Ah!? Ah--ya, maaf. Ini milik anda Tuan” ucap Lisa, dia memberikan kertas ditangannya dan melepaskan genggaman tangannya, bagaimana bisa Lisa yang lebih dahulu mengenggam tangan pria itu. 


“kau cepatlah” ucap seseorang yang melewati mereka, dia berbicara pada pria dihadapan Lisa.


“terimakasih Nona”


Lisa mempersilakan pria itu pergi, dia baru ingat nasib ponselnya.


Dia menemukan ponselnya hampir saja akan terinjak oleh seseorang yang sedang menelpon. “Tidak!”


“Hei! Ka--”


Terlambat, layar ponsel itu sudah terinjak oleh pria tersebut. Tak terima Lisa mengejar pria itu dan bermasuk meminta ganti rugi namun dia ingat dengan nasehat Eonnie Sona, jika dia tidak boleh menimbulkan masalah apapun jika ingin tetap berada di Grup Nam. 


Lisa menatap sedih pada layar ponselnya sambil berjalan mendekati lift.


“aku belum memiliki uang untuk menggantinya, Eonnie pasti akan menggantinya jika melihat ini” ucap Lisa, dia mengusap layar ponselnya yang sedikit kotor, Lisa harus pintar-pintar menyembunyikan ponselnya yang rusak, sudah cukup banyak hal yang tidak bisa Lisa terima lagi dari ke dua Eonnienya, dia tidak mau lagi menghabiskan tabungan mereka untuk dirinya.


Saat Lisa akan melangkah masuk kedalam lift, dirinya bertatapan dengan seorang pria tampan yang akan melangkah keluar, baru bertemu saja pria itu sudah menujukan senyuman manisnya dan sikap ramahnya yang membiarkan Lisa melangkah masuk lebih dahulu.


“terimakasih” ucap Lisa, dia menundukkan pandangannya pada pria yang baru saja melangkah keluar dari lift.


“aku tidak bisa menghubungi Eonnie, baiklah aku akan menunggunya”


Note : barang kali bisa membantu, ini Nama-nama untuk panggilan dalam bahasa korea  yang akan lebih sering digunakan untuk cerita musim kedua. 


Appa \= panggilan Ayah dalam bahasa korea


Eomma \= panggilan Mama dalam bahasa korea


Hyung \= panggilan dari adik laki-laki untuk kakak laki-laki dalam bahasa korea.


Noona \= panggilan dari adik laki-laki untuk kakak perempuan dalam bahasa korea.


Oppa \= panggilan dari adik perempuan untuk kakak laki-laki dalam bahasa korea, (tapi tidak semua pria di korea suka dipanggil ‘Oppa’)

__ADS_1


Eonnie \= panggilan dari adik perempuan untuk kakak perempuan dalam bahasa korea.


 Ahjussi \= panggilan untuk seseorang yang bisa dibilang seperti paman atau Om.


__ADS_2