Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 15 - As Soon possible


__ADS_3

Seharusnya Risa tidur dikamarnya atau paling tidak dikamar Kevin, setelah acara menangisnya dalam pelukan Lian dengan tidak elitnya, kini dia tengah berbaring di ranjang milik Lian, tidur bersama?


Kata-kata itu terus mengiang dikepala Risa hingga dia sulit untuk memejamkan matanya, sementara Lian sudah jatuh kedalam mimpi dengan lengan yang memeluk posesif tubuh Risa, bahkan kaki panjangnya mengapit kaki Risa hingga gadis bersurai coklat itu sangat sulit bergerak ditambah nafas yang tidak beraturan.


‘bagaimana aku bisa tidur jika dia memelukku’ 


Risa mendesah frustasi, kelopak matanya sudah memberat ingin terpejam menyeberangi alam mimpi, tapi degup jantungnya tidak bisa diajak bekerja sama.


“kenapa belum tidur?” suara serak Lian sayup-sayup menyapa telinga Risa, gadis itu membulatkan matanya.


“aku--,” Risa menggigit bibirnya bawahnya erat “aku tidak bisa tidur karena detak jantungku berisik sekali”


Tawa Lian nyaris meledak mendengar jawaban polos Risa, sebenarnya berapa usia Risa? Kenapa perempuan di depannya lebih mirip remaja yang baru saja mengenal cinta.


Lian mencubit hidung Risa dengan gemas “kamu ini”


Tanpa melanjutkan ucapannya Lian lebih memilih mengecup bibir Risa, membuat tubuh Risa semakin mematung.


Tangan panjangnya menyelinap masuk kebalik kaos yang dikenakan Risa, mengusap punggung Risa.


“Risa” panggil Lian, tanganya masih sibuk menjelajahi punggung Risa.


“kamu tidak memakai bra?”


What?


Risa terkejut mendengar pertanyaan Lian, saking kesalnya dia menggigit dada Lian hingga kaos yang Lian pakai meninggalkan jejak saliva miliknya.


“kamu ternyata agresif!” bisik Lian dengan suara nakalnya, tangannya menyentuh bagian kaosnya yang basah.


Wajah Risa merah, itu hanya reaksi reflek karena kesal “dasar pria menyebalkan”


“tapi kamu menyukai pria tampan ini kan!” Lian kembali mendaratkan bibirnya di bibir Risa, kali ini bukan hanya sekedar kecupan.


Lian masih betah bermain di atas bibir Risa, sementara tangannya menjelajah sempurna setiap inci tubuh Risa merasakan lembutnya kulit Risa.


“Risa” Lian menghentikan tangannya yang tengah menyentuh kulit Risa “Hm--bisakah kita?”


“Tidak” Risa menjawab tegas ketika kesadarannya mengambil alih “aku tidak mau mengecewakan ayahku!”


Risa tahu kemana tujuan pertanyaan Lian, 'Making Love' Risa tidak mau itu terjadi sebelum ada ikatan pernikahan, dia tidak mau menghianati kepercayaan ayahnya.


“tapi bolehkan aku menciummu?” tanya Lian, matanya masih terselimuti gairah, Risa mengangguk malu dengan wajah yang memerah.


Yang ada pikiran Risa adalah Lian akan kembali menciumnya di bibir atau area wajahnya, namun pikirannya itu seketika tersapu angin saat Lian tengah menaikan kaos yang dipakai hingga sebatas dadanya.


Risa hampir memekik ketika Lian menggigit pelan perutnya, lalu memberi kecupan kecil di sana.


“kamu menyukainya?” seringai yang tercetak di wajah Lian hanya membuat rona merah di wajah Risa semakin menjadi.


Sepertinya malam ini akan menjadi malam panjang, dimana Lian akan lebih fokus menciumi sekujur tubuh Risa yang menegang dibanding tidur menyebrangi alam mimpi.


Beberapa hari kemudian ….


“Hei! Berhenti marah seperti itu” Lian masih dibuat tidak tenang dengan sikap Risa, sejak tadi gadis itu hanya diam dan merenggut, sesekali berbicara pun hanya menanggapi celotehan Kevin.


Setelah mengantar Kevin pergi ke sekolah Lian tidak langsung mengantar Risa ke kantornya, pria itu dengan seenak hatinya mengajak Risa ke kantornya, meski beberapa protes Risa layangkan karena tidak suka, tapi Lian tetap memaksa Risa ikut dengannya.


Setelah menghabiskan waktu dua puluh menit duduk di sofa yang ada di ruangan Lian, akhirnya Risa mau bicara, matanya masih menatap Lian dengan tidak percaya.


“Why?”

__ADS_1


“as soon as possible, Risa”


“ini terlalu mendadak” geram Risa, selalu saja seperti ini, lagi-lagi Lian melakukan sesuatu dinalar Risa.


“jika kamu sudah tidak marah? Kita harus segera bergegas ke butik untuk fitting baju pengantin” pria itu dengan santainya berucap tidak peduli raut wajah Risa yang kembali menegang.


“setelah mengunjungi keluargaku tanpa memberitahuku, lalu kamu meminta izin menikahiku kepada ayahku, sekarang apalagi? Kenapa kamu melakukannya sendiri? Kenapa tidak ada kompromi antara kita? Memang hanya kamu yang kamu menikah?”


Kali ini Risa benar-benar meluapkan emosinya, tadi pagi ayahnya menelpon Risa membicarakan kedatangan Lian dua hari lalu ke rumah mereka di Deagu, Lian meminta izin ayahnya untuk menikahi Risa.


Ketika perempuan lain akan tersenyum bahagia mendengar penjelasan ayahnya, Risa justru langsung kesal kenapa Lian melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuan Risa, hingga bisa mengantongi izin ayahnya dan kakaknya untuk menikahi Risa.


“Hei--He--” Lian menepuk-nepuk pipi Risa, jari telunjuknya menarik sudut bibir Risa “aku hanya ingin memberimu kejutan, aku sungguh tidak bermaksud melakukannya sendiri, aku hanya membuatmu tidak terbebani”


Risa menarik nafas dalam “tapi ini terlalu cepat, pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan Lian”


“sesuatu yang baik memang harus dipercepat” bibir Lian tersenyum melihat Risa yang kini terlihat gugup 


“lagi pula siapa yang mau bermain-main dengan pernikahan, hm?”


“Lian--,”


“Lian sayang” potong Lian “mulai sekarang kamu harus terbiasa memanggilku, Lian sayang”


Jemari Lian bertengger manis dagu Risa memaksa gadis itu menatapnya dalam sayup-sayup rona merah.


“kita sedang tidak membahas itu, permasalahannya adalah pernikahan”


“jadi, kamu menganggap pernikahan kita sebuah masalah?” wajah Lian menegang, terlihat jelas ketidaksukaan atas kata yang terlontar dari mulut Risa


“jika kamu anggap semua ini masalah, maka batalkan saja”


Suara Lian meninggi, kali ini keduanya diliputi kekesalan, Risa nyaris mengeluarkan bulir-bulir air matanya saat Lian mencoba meluapkan emosinya.


air mata Risa lolos begitu saja melewati pipinya.


“sesuatu yang pertama kali akan selalu memberikan ketakutan dan rasa gugup berlebihan, aku takut dan kamu tidak mengerti”


Inginnya Risa keluar dari ruangan Lian sekarang ini, tapi yang terjadi pasti kegiatan saling mengejek layaknya drama korea yang sering ditonton Cinta, kali ini Risa butuh penyelesaian dari rasa takut yang menyelimuti hatinya.


Sementara Lian masih terdiam mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut Risa, gadis itu justru semakin teriak pelan memikirkan nasibnya.


Menikah? Bukannya Risa tidak mau menikah dengan Lian, dia justru sangat ingin, tapi hatinya masih belum siap, dia masih takut.


Apa dia bisa menjalani hidupnya sebagai istri dari seorang Lian? Bagaimana kehidupannya nanti? Apa yang bisa dia banggakan dari dirnya sendiri.


“No need to worry, Risa” entah bagaimana caranya Lian sudah bersimpuh di depan Risa, mengecup pelan setiap jemari Risa yang saling meremas erat.


“aku tidak butuh ketakutanmu, please Trust me”


mata Lian menatap Risa, jarinya mengusap pelan sisa air mata di pipi Risa. Bukannya mereda, tangis Risa malah semakin pecah.


********


“aku tidak menyangka jika hubungan kalian bisa berkembang jauh secepat ini” Ucap Jennie.


Pandangannya menerawang ke sisi kaca yang menyuguhkan pemandangan macet kota Seoul, senja mengintip malu-malu, membiarkan sinar rembulan sebentar lagi menggantikannya.


Risa masih diam, dia berusaha merangkai kata dalam mulutnya agar tidak salah berucap ketika berbicara dengan Jennie.


Tadi siang Jennie mengirimkannya pesan hanya untuk sekedar mengajak ngopi santai setelah pulang kerja, Risa menyetujuinya begitu saja karena tidak mungkin mereka hanya sekedar menyesap kopi, pasti ada sesuatu yang ingin Jenny bicarakan.

__ADS_1


“sepertinya memang tidak ada tempat untukku di hatinya” Jennie tersenyum lirih, Risa bisa melihat jelas guratan keputus asaan yang tergambar jelas di wajah Jennie.


Sejenak, Risa merasa jika dia adalah perempuan jahat yang mematahkan harapan Jennie untuk kedua kalinya, Risa masih belum menemukan rangkaian kata yang pantas dilontarkan kepada Jenny, dia membiarkan Jennie meluapkan isi hatinya.


“aku seperti bulan, dan dia mataharinya, selalu mengaguminya, meski aku tahu kami takkan pernah bertemu di satu poros yang sama”


Jennie mendengus lalu tertawa ringan, menertawakan kebodohannya yang selama ini selalu berharap bahwa Lian akan mencintainya.


“aku tahu, mungkin ini akan terasa menyakitkan untukmu” Risa menelan ludahnya susah payah.


“ketika urusan cinta kita tidak bisa egois, semakin kita memaksakan kadang malah akan semakin menyakiti diri sendiri” Jennie melirik Risa sekilas, gadis itu masih menampilkan wajah datar tanpa beban.


“cinta bukan perkara memiliki dan tidak, cinta itu tentang kebahagiaan hakiki” seulas senyuman menghiasi wajah Risa.


“jika kita tidak menemukan cinta pada satu orang, mungkin cinta yang kita tunggu ada dihati yang lain, kita tidak harus terpaku pada satu hati, kurasa mulai membuka hati untuk jatuh cinta pada lain bukan hal sulit”


risa menarik nafas dalam, dia mencoba mengutarakan pikirannya,


“semuanya berawal dari diri kita sendiri, mulailah yakin pada diri sendiri bahwa cinta yang lain akan hadir setelah kita melepas cinta lainnya”


“sepertinya ucapanmu terdengar mudah” Jennie kembali menyesap kopi americano miliknya.


“tapi ketika kamu yang berada di posisiku, mungkin akan sulit”


“aku tahu rasanya” ingatan Risa melayang ke masa-masa keluarnya, saat dia pertama kali jatuh cinta dengan seorang atlet kebanggan universitasnya,


“saat dibangku kuliah aku jatuh cinta pada seorang pria bersama Tommy, tapi sayangnya ketika aku begitu mencintainya, dia hanya tidak lebih menganggapku dari temannya, meski kami sudah mencoba menjalin hubungan lebih dari sekedar teman, ternyata kami tidak cocok menjadi sepasang kekasih”


Risa sangat mengingat jelas masa itu, Jennie merasa Risa tidak tahu bagaimana rasanya sakit saat cinta bertepuk sebelah tangan Jennie salah.


Perasaan sakit itu, Risa sangat mengenalnya dengan jelas, ketika setiap hari dia terluka hanya karna cinta, ketika hatinya tidak pernah mau berpaling dari Tommy, hidupnya bahkan nyaris berantakan ketika dengan bodohnya Risa mengurung diri di Flatnya setelah Tommy mengakhiri kisah cintanya.


Sampai akhirnya Risa sadar, bahwa dia terlalu egois jika memaksakan seseorang mencintainya, cinta bukan tentang paksaan, dia akan datang dengan sukarela tanpa isyarat.


Saat itu Risa berpikir, jika cintanya kali ini tidak berakhir bahagia mungkin cinta lainnya akan datang memberikan kebahagiaan untuknya, dia hanya perlu bersabar dan membuka hatinya bukan malah jatuh dalam keterpurukan.


**********


“kamu terlihat lebih kurus”


Risa hanya tersenyum ringan mendengar ucapan Keira, hari ini dia memutuskan untuk menginap di apartemennya setelah meminta izin pada Lian tentunya.


Awalnya Risa ingin mengajak Kevin menginap bersamanya, tapi Lian melarangnya.


“memikirkan pernikahanmu?” tanya Keira, tanganya menyodorkan segelas susu hangat sebelum dia duduk bergabung bersama Risa menonton acara talk show malam.


“entahlah” Risa meneguk pelan susu hangat yang Keira berikan hingga habis tidak tersisa.


“Aku tidak tahu apa yang ku takutkan, perempuan dan segala ketakutan yang tidak beralasan”


“kamu meragukan Lian?”


Risa menggeleng sepat membantah ucapan Keira, dia sama sekali tidak meragu pada Lian, dia hanya takut jika dia tidak bisa menjadi seperti apa yang Lian harapkan, dia takut tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuk Kevin, dia takut jika rumah tangganya tidak berakhir bahagia.


“Risa” Ucap Keira pelan.


“percayalah jika mau berusaha, semua akan baik-baik saja, pernikahan memang tidak semenyenangkan kelihatannya, tapi kita pasti akan mengalami masa itu, akan ada seorang di samping kita yang memberi semangat, akan ada pria yang dengan senang hati melindungimu, pernikahan bukan aku dan kamu, tapi kita, kamu dan Lian akan menjadi keluarga kecil bahagia, hanya perlu berbagi, Lian pasti akan dengan senang hati membuka tangannya lebar-lebar memelukmu ketika kamu merasa lelah”


Risa tersenyum mendengar ucapan Keira, hatinya sedikit menghangat membayangkan bagaimana Lian akan selalu memeluknya saat dia merasa lelah.


Bahkan pria itu tidak pernah mengeluh ketika sifat kekanak-kanakan Risa muncul, dengan sabarnya Lian menahan egonya hanya untuk seulas senyum diwajah Risa.

__ADS_1


“jika Lian saja sudah percaya padamu, kenapa kamu tidak lakukan hal yang sama? Kamu hanya perlu mempercayakan segalanya pada Lian, bahwa dia akan memberikanmu kebahagiaan”


__ADS_2