![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Hari sudah menunjukan pukul tiga sore ....
Setelah berbincang dengan dokter Park, pikiran Han mulai terbuka, selama ini dia menganggap jika semua ini adalah masalah yang begitu rumit, padahal hanya perlu memahami inti dari semua masalah adalah Han yang tidak pernah yakin pada apa yang terjadi dan selalu melarikan diri dari akar permasalahan.
Han hanya melangkah tak tahu kemana tujuan kakinya akan berhenti belakang, tapi di sepertiga perjalan Han baru menyadari satu hal yang selama ini dia tinggalkan.
'setelah kematian Kaira aku benar-benar melupakan jika aku masih mempunyai hati, aku hanya mengikuti rasa takutku tanpa memikirkan inginkan hatiku. Aku terlalu memikirkan masa lalu, Han seharusnya kamu lebih berani untuk melangkah bukan semakin menarik diri karena masa lalu, mengambil pelajaran dari setiap pengalaman'
Langkah itu terhenti di depan ruangan Lisa, dengan keyakinan yang Han miliki dia mencoba ingin menyelesaikan semua masalah ini dengan Lisa, dengan semangat dan keyakinan yang Han miliki dia memegang gagang pintu itu lalu membukanya dan melangkah masuk.
“Lisa...” ucap Han, untung saja panggilan tidak terlalu kencang, mungkin Lisa tak akan mendengarnya
Dan Tenggorokan Han tiba-tiba terasa begitu kering hingga membuatnya sulit untuk melanjutkan memanggil Lisa, saat mata Han melihat Sean yang ada di dalam ruangan Lisa, Han begitu terkejut hingga saat melangkah mendekati Lisa, dia terlihat gugup dan kebingungan.
“ka--”
Dia menempelkan jari telunjuknya pada Sean, memberinya tanya untuk tidak memanggilnya kakak didepan Lisa dan berpura-pura tak saling mengenal, Untung saja Sean langsung mengerti dan dia mengurungkan niatnya untuk memanggil Han.
“kamu ingin berbicara apa Sean?” tanya Lisa, gadis itu tak menyadari jika Han ada di belakangnya, posisi tubuhnya sedang menghadap Sean jadi dia tidak bisa melihat kedatangan Han.
“ah--Itu sepertinya tenggorokanku terasa begitu kering, jadi sepertinya aku perlu minum” ucap Sean, dia cepat dia memegang lehernya, menunjukan jika tenggorokannya memang terasa kering.
“Lisa ....” panggil Han, mungkin kali ini Lisa bisa mendengarnya karena jarak mereka yang tidak terlalu jauh.
Tubuh Lisa tiba-tiba terasa menegang saat mendengar suara pria yang selama ini tidak dia dengar suaranya atau melihat wajahnya, dengan ragu-ragu Lisa menolehkan kepalanya ke belakang untuk memastikan jika pria yang ada di depannya itu benar Han.
“Dokter--Han!”
Ada raut bahagia di wajah Lisa saat dia melihat Han yang berjalan mendekatinya dengan mengenakan jas putih miliknya, rasa Lisa ingin sekali memeluk pria itu dan berkata jika.
'aku merindukanmu Han, tak ada satu haripun yang aku lewatkan tanpa memikirkanmu Han' tapi kata-kata ini hanya tersimpan di otaknya tanpa bisa diungkapkan, Lisa tak akan mungkin mengatakan hal itu kepadanya, rasa kecewa di dalam hatinya lebih besar dari rasa rindukan pada Han.
“aku perlu berbicara dengan pasienku berdua, jika tidak keberatan bisakah kamu meninggalkan kami sebentar” ucapan kepada Sean yang masih terdiam di samping Lisa.
“ah--,Seperti aku akan membeli sesuatu untuk menghilangkan kekeringan tenggorokanku, aku akan kembali nanti lagi Lisa”
Tak mau lama-lama menatap Han dengan cepat Lisa mengalihkan pandangannya dari pria yang sedang berjalan untuk berhenti dihadapannya dan berkata dengan nada yang tak peduli.
"ada hal penting apa yang ingin anda bicarakan?”
“senang mendengar kabarmu semakin baik Lisa”
“Ya, terimakasih”
“aku kesini hanya mau melihat keadaanmu saja”
“hanya itu? Untuk pada kau sampai mengusir orang lain!”
“apa dia kekasihmu?”
“apakah seorang dokter berhak bertanya pada pasiennya tentang apakah dia memiliki kekasih atau tidak? Jika anda kesini hanya untuk bertanya tentang itu, anda hanya membuang waktuku saja dokter Han”
“baiklah, aku hanya memberitahumu jika sebelum melakukan operasi, pasien dianjurkan untuk puasa satu hari sebelum operasi”
“apa itu puasa?”
“itu maksudnya satu hari sebelum operasi, pasien tidak akan diberi makan dan hanya diberi minum saja”
“apa itu harus?”
“itu hanya anjuran saja, yang terpenting kamu menjaga kesehatan dan mental, jangan tertekan saat kamu akan menghadapi operasi Lisa, kamu harus yakin jika banyak orang merindukanmu untuk kembali, hanya itu saja yang ingin aku sampaikan, karna hari ini turun salju pertama aku ingin memberikanmu coklat untuk menyemangatimu”
Han memberikan sebungkus coklat yang cukup besar kepada Lisa sambil menunjukan senyum manisnya pada Lisa. “aku sudah selesai, aku akan pergi jadi jaga kesehatanmu”
__ADS_1
Setelah itu Han langsung melangkah meninggalkan Lisa, niat awalnya Han ingin menceritakan semuanya kepada Lisa tapi dia urungkan niat saat dia tahu jika yang akan dinikahi Sean adalah Lisa, jadi menurut Han semua itu tidak penting lagi, dengan berat hati Han harus menekan hatinya untuk jujur pada Lisa dan membiarkannya bahagia dengan bersama adiknya.
Sedang Lisa hanya menatap coklat yang di tangannya dengan sepucuk kertas kecil yang bertuliskan 'kebahagiaanmu adalah hal penting' , Lisa merasa sedih dan ingin rasa dia menarik Han, memaksanya untuk menjelaskan kenapa dia seperti itu, setiap ucapannya berisi salam perpisahan yang akan mereka berdua lakukan.
Satu tetesan air mata membasahi kertas yang ada di tangan Lisa. 'kenapa dia sangat sulit untuk dimengerti? Kenapa hatiku terasa begitu sakit dengan sikapnya? Kenapa Han? Aku sungguh mencintaimu tapi juga sangat sakit untuk melihatmu, setiap bertemu denganmu selalu saja diriku terasa seperti memegang pisau yang rasa sakit tak bisa artikan, aku lelah Han!'
Lisa menangis dalam diam, tak ada isakan ataupun teriakan dalam tangisannya, Lisa hanya berharap suatu hari nanti setelah dia keluar dari rumah sakit ini dia tak ingin bertemu dengan pria seperti dia lagi.
'seperti aku akan menerima perjodohan yang ayah ajarkan padaku' ucap Lisa, dia tak mau menerima coklat itu, dengan kesal dia membuangnya ke tempat sampah, Lisa juga mencoba menghapus air mata yang tersisa di pipinya.
Yang terpenting dari ini adalah Lisa harus segera pergi dari rumah sakit ini dan melupakan semua tentang Han.
Setelah Han pergi tak lama kemudian Sona kembali, dari raut wajahnya terlihat begitu bahagia setelah pulang dari makan siangnya bersama Kevin, selama perjalanan menelusuri ruangan menuju kamar Lisa, di senyum di wajah Sona tidak pernah hilang.
Saat ingin melangkah mendekati Lisa yang terdiam di atas ranjang sambil menatap ke arah jendela yang sudah tertutup oleh salju, dengan pelan Sona melangkah mendekati Lisa.
Sona menatap bingung pada punggung Lisa yang bergetar dan postur tubuhnya menggambarkan seperti seseorang yang sedang menangis, urat wajah bahagia itu berganti dengan raut kesedihan saat melihat sahabatnya yang menangis dalam diam.
“Lisa menangis? Siapa yang membuatnya menangis?” Sona bertanya.
dia menatap bingung pada Lisa yang hanya terdiam dalam tangisannya, dia bahkan tak menyadari keberadaan Sona yang sudah ada di depan hadapannya.
“Lisa? Kenapa kamu menangis?” ujar Sona, dia menarik dagu sahabatnya.
“Lisa! Katakan padaku apa yang terjadi?” Sona bertanya lagi, dengan kesal dia menaiki ranjang itu dan langsung memegang wajah Lisa yang terus mengeluarkan air.
“tak apa, menangislah sebanyak yang kamu mau, aku disini untuk Lisa”
Sona menarik Lisa kedalam pelukannya, dengan lembut dia mengusap punggung Lisa, membantu Lisa untuk tenang dan mencoba memahami apa yang sedang Lisa rasakan.
“kamu sedih karena semua orang meninggalkanmu sendirian disini?” Sona bertanya dengan nada yang pelan.
“Tidak, Sona”
“Aku ingin menjelaskan semuanya padamu, tapi--,”
“tapi apa Lisa? Apa ada yang mengancammu?”
“Tidak! Sona ini masalah lain!”
“apa kita harus ke tempat lain, agar kamu bisa merasa tenang saat menjelaskannya?”
“kemana kita akan pergi?”
“aku lupa jika sekarang sedang musim salju, semua taman mungkin tertutup salju, Tunggu---Kita bisa pergi ke kedai ramen yang ada di dekat disini"
“apa kamu yakin? Aku sedikit ragu, Karena ingin aku yakin membutuhkan waktu yang sangat panjang, aku tak mau menyusahkan orang lain”
“kalau begitu berbicaralah padaku disini Lisa, kita sudah lama bersahabat tapi kamu masih ingin menyembunyikan masalahmu? Kamu menganggapku seperti orang asing”
“Sona, kenapa kamu berpikir seperti itu? Aku hanya bingung untuk memulainya dari mana”
“kalau begitu jelaskan padanya, kenapa kamu menangis?”
“karena ... Seorang pria”
Lisa langsung menundukan pandangannya dari Sona,
“jangan bilang yang membuatmu sedih adalah Sean, pria itu! Berani sekali! Jika aku tahu dimana keberadaannya sudah kuhabisi dia!”
“Sona, kamu salah paham bukan Sean tapi pria lain”
“Tunggu! jangan bilang kamu jatuh cinta pada salah satu dokter disini, kan Lisa?”
__ADS_1
“Itu kenyataan Sona”
“kamu tidak menyukai Sean? Siapa pria itu? Apa dia sudah memiliki istri?”
“aku tidak tahu Sona, tapi permasalahan bukan itu!”
“lalu seperti apa Lisa? aku tidak mengerti!”
“aku juga tidak mengerti Sona, aku bingung dengan semua ini, aku tidak tahu siapa yang dipihak menyakiti dan tersakiti, dia terlalu tertutup untukku, aku bahkan tidak bisa mengerti kenapa dia bisa berubah-ubah sikapnya”
“apa kamu mencintainya Lisa?”
“cinta? Aku tak tahu apakah aku mencintainya atau tidak, yang jelas aku hanya takut untuk berpisah dengannya”
“aku tahu, ini sangat berat untukmu Lisa, tapi jika memang kamu tak sanggup untuk menanggungnya lepaskan saja, toh cinta akan datang pada waktu yang tepat saat dirimu siap”
“tapi? Aku bahkan belum memulai sesuatu hubungan dengannya tapi kenapa harus segera berakhir dengan begini Sona”
“aku juga tak tahu Lisa”
*******
Di sebuah Cafe yang tak jauh dari rumah sakit …
Han dan Sean, memutuskan untuk menghabiskan sore hari mereka di Cafe sederhana, yang pengunjungnya tak terlalu banyak.
“jadi kakak dokter yang merawat Lisa?”
Kali ini yang memulai pembicaraan adalah Sean, setelah bertanya, dia meminum Ice americano yang tadi dia pesan.
“Ya, Dokter Park yang menugaskan untuk merawatnya” jawab Han, dia sangat menikmati Coffe mocca latte miliknya.
“aku tak tahu jika kakak bekerja di rumah sakit tempat Lisa, bukan kakak tidak pernah bercita-cita menjadi seorang dokter?”
“kadang apa yang kita harapkan tak sepenuhnya bisa menjadi kenyataan Sean, itu malah menjadi kebalikannya, jadi Lisa adalah gadis yang ingin dijodohkan denganmu?”
“Ya, aku sebenarnya tak ingin menerimanya kakak, tapi selama seumur hidupku ayah tak pernah meminta sesuatu padaku, ini pertama kalinya dia meminta padaku, aku tak bisa menolaknya”
“Aku yakin itu adalah yang terbaik untukmu, Ayah melakukan itu karena dia yakin kamu bisa menjaga apa yang Ayah amanahkan padamu”
“tapi kenapa harus aku kakak? Aku masih ingin menggapai impianku untuk bisa pergi keliling dunia”
“bukan itu malah bagus! Kamu bisa travelling dengan istrimu, jadi kamu tak akan sendirian”
“lalu bagaimana dengan kakak? Ayah bahkan ingin aku mengambil ahli perusahaannya”
Untuk sesaat Han tertegur dengan ucapan Sean, yang seakan-akan dia mengetahui perasaan Han.
“aku? Aku baik-baik saja disini”
“aku iri dengan dirimu yang bisa bebas dari semua tanggung jawab”
“tak ada hal yang bisa kamu irikan dari diriku Sean, hidupku hanya akan berwarna hitam dan putih tanpa adanya warna lain”
“kamu terlalu mencintai mendiang Kakak Keira hingga tidak mau merasakan jatuh cinta lagi? Kakak berhentilah, relakan kepergiannya, kakak harus bahagia”
“melihatmu akan menikah sudah membuatku bahagia Sean, dengan begitu tugasku sebagai kakak sudah selesai, aku harap kamu selalu bahagia bersama, waktu sudah habis, aku harus bertemu dengan dokter park, ada hal yang perlu kita diskusikan”
Sean hanya terdiam, dalam diam dia berpikir keras dengan semua yang kakaknya ucapkan, mencoba memahami setiap kata demi kata.
'ada yang aneh dengan sikap kakak, dia mencoba terlihat tegar tapi sebenarnya hatinya sangat rapuh, dan raut wajahnya yang menjelaskan ada masalah yang mencoba ditutup-tutupi' ucap Sean dalam hati.
Setelah itu dia kembali kedalam dunia kenyataan, berlari sedikit untuk mengejar sang kakak yang sudah jauh di depannya.
__ADS_1