![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Dari Bandar Udara Internasional Tokyo, Lian dan Kevin langsung menuju ke St. Luke's International Hospital, itu adalah rumah sakit tempat Lisa dirawat. Mereka memutuskan menggunakan taksi menuju kesana, sebelum sampai Lian menghubungi Risa terlebih dahulu.
Lian : “aku sedang dijalan menuju ke rumah sakit”
Risa : “bersama Kevin?”
Lian : “tentu saja, kamu sedang bersama Lisa?”
Risa : “Tidak, aku sedang berada di luar, aku sedang membeli beberapa roti dan susu”
Lian : “baiklah sampai jumpa”
Lian mematikan ponselnya, lalu menyimpannya di saku jasnya. Di Dalam mobil itu hanya ada kesunyian di sana, baik Lian mau pun Kevin sepertinya merasa tidak ada percakapan yang perlu dibicarakan. Kevin terlihat sangat sibuk dengan ponselnya, sedari tadi ponselnya terus berdering dan Kevin selalu langsung membahas pesan itu.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di depan St. Luke's International Hospital, setelah membayar biaya taksi Lian dan Kevin langsung menuju kamar Lisa sambil membawa sesuatu yang sudah mereka siapakan untuk Lisa.
Namun kedua orang berhenti di depan pintu kamar Lisa, mereka menghentikan langkahnya sangat mata mereka melihat Lisa yang tersenyum bahagia saat seorang pria berjas putih itu mengelus kepalanya.
Lian dan Kevin yang melihat itu segera melangkah masuk.
“Hei! Kau jangan sembaran menyentuh putriku” ucap Lian.
“Dan juga adikku!” ucap Kevin yang tak mau kalah dengan ayahnya.
“Ayah? Kakak Kevin?” ucap Lisa yang terkejut saat ayah dan kakaknya menarik dokter Han untuk menjauh dari Lisa.
“jangan seperti itu pada dokter Han!” ucap Lisa lagi, Lisa tidak suka jika Ayah dan Kakaknya yang mulai posesif jika berurusan dengan seorang pria.
“baiklah aku akan pergi, Lisa jangan lupa minum obatmu” ucap Han, dia membungkukkan tubuhnya lalu mulai melangkah pergi.
“Ayah dan Kakak Kevin! Kedepannya lebih sopanlah pada seseorang, dia adalah dokterku" ucap Lisa dengan kesal, dia melipat kedua tangannya di dadanya dan sedikit tersenyum saat mengatakan kata 'dan juga pria yang aku sukai' dalam hatinya.
“Hei! Kau tidak seharusnya menunjukan ekspresi seperti itu Lisa! Kita hanya ingin melindungimu saja” ucap Kevin, dia berjalan mendekati Lisa dan duduk di sisi ranjang Lisa.
“dia bukan orang jahat kakak Kevin!”
“dia menyentuh kepalamu dan lagi pul--.”
“Kevin sudahlah, aku mengajakmu kesini bukan untuk membuat kalian berantem” ucap sang Ayah, dia juga berjalan mendekati sang puteri, memberikan satu kecupan hangat di kening Lisa dan berkata “ayah merindukanmu”
“Ayah, kenapa ayah baru mengunjungi Lisa? Sudah satu bulan Lisa disini, Lisa bosan Ayah”
Tiba-tiba Lisa memeluk tubuh Lian, dan mulai menunjukkan sifat manjanya dan kekanak-kanaknya.
“maafkan Ayah, banyak pekerjaan yang harus ayah selesaikan”
“apa kamu tidak merindukan kakakmu ini?” tanya Kevin.
“Tidak!”
“benarkah? Padahal aku ingin memberikan sesuatu”
“Apa?”
“surat dari seseorang yang merindukanmu”
“apa itu dari Sona?”
“Tidak tahu, lagi pula kamu tidak merindukanku!”
“baiklah, aku sangat merindukan kakakku yang paling tampan ini, bisakah kamu memberikanku suratnya?”
Kevin hanya tersenyum, dia mengeluarkan surat dari saku jasnya, lalu memberikannya pada Lisa.
[ dear my soulmate ]
__ADS_1
Lisa? Apakah kamu membaca suratku?
Hai sahabatku, aku sangat merindukanmu, saat liburan hampir berakhir aku sempat menghubungimu beberapa kali, aku juga sempat berkunjung kerumahmu tapi kelihatan sangat sepi.
Lisa aku menulis surat untukmu karena aku benar-benar merindukanmu, aku sangat kesepian tanpamu, cepatlah kembali ....
Lisa aku yakin kamu bisa melewati semua ini dengan baik, kamu adalah sahabatku yang paling kuat dan tetaplah semangat, aku akan menunggumu sampai kamu kembali ....
Cepatlah sembuh dan kembali, aku menyayangimu
[ salam hangat, Sona ]
“aku juga merindukanmu Sona, aku juga ingin segera menemuimu” ucap Lisa, dia sangat terharu membaca surat dari sahabatnya, dan juga sedih karena mungkin Sona kesepian tanpanya, persahabatan mereka sudah terjalin begitu lama mungkin ini sudah tahu ke 7 tahun, Lisa belum sempat mengucapkan salam perpisahan dengan Sona.
“terimakasih Kakak Kevin” ucap Lisa kepada kakaknya.
Lisa kini yakin jika dia mampu untuk melewati semua cobaan ini, banyak orang yang mendukung dan terus memberikannya semangat, setidak Lisa harus berjuang dulu, baru menyerahkan semua kepada Tuhan.
Waktu berjalan begitu cepat hingga malam pun tiba, Lisa pun sudah tertidur dengan nyenyak.
Kini diruangan Tuan Park, keluarga Jung sedang berkumpul untuk membicara hal yang tentu saja penting, Ruangan Tuan Park menjadi ruangan meeting mendadak, disana ada Lian, Risa, Kevin, Dokter Han dan juga Dokter Park.
“baiklah pertemuan ini akan saya buka, sebelum terima kasih untuk keluarga Jung yang sudah berkumpul di malam ini, saya selaku pemimpin dari rumah sakit akan memimpin rapat ini” ucap Tuan Park.
“Dokter Han silakan untuk memberikan penjelasan tentang Lisa” ucap Dokter Park yang menyuruh Han untuk menjelaskan.
“namaku adalah Kim Han Hyung, aku dokter khusus bagian saraf dan kejiwaan” ucap Han yang memperkenalkan dirinya kepada keluarga Jung.
“baiklah langsung saja saya mulai, kalian semua bisa melihat di layar proyektor, ini adalah gambar otak Lisa, benturan yang terjadi waktu kecil pada Lisa, menyebabkan luka pada otak kanannya, luka itu menggumpal dan mengakibatkan kepala Lisa terus merasa pusing yang berlangsung terus menerus, jika tidak segera diangkat gumpalan itu akan semakin besar dan sangat berbahaya untuk pasien, jadi kesimpulannya dari permasalahan ini adalah melakukan operasi pada pasien dengan syarat pasien harus siap dengan kondisi mental yang kuat, saya selaku perawat dokter Lisa ingin mengatakan jika kondisi mental Lisa cukup memperhatikan, bisa dikatakan jika Lisa dalam masa mental yang menurun, akar permasalahannya adalah stress”
“tapi Lisa, tidak terlihat seperti seseorang yang depresi?” ucap Kevin yang menyela ucapan dokter Han.
“untuk mengetahui seseorang dalam kondisi depresi tidak bisa dilihat dengan kasat mata Tuan Kevin, saya adalah seorang dokter, saya tidak akan berbicara sembarangan tanpa bukti! Anda bisa bertanya pada Ibu anda jika tidak percaya dengan semua perkataan saya” ucap dokter Han.
“seharusnya anda tidak mengajukan pertanyaan seperti itu Tuan Lian, akar permasalahan ini adalah mental Lisa! Mengembalikan kestabilan kondisi tubuhnya! Operasi itu urusan lagi! Operasi bisa dilakukan jika pasien dalam keadaan siap!”
“baiklah, saya rasa penjelasan saya sudah cukup, kalau begitu saya izin pamit untuk meninggalkan tempat ini lebih dahulu” ucapan yang tiba-tiba ingin segera meninggalkan ruangan Tuan Park. Pikirannya terus memikirkan Lisa dan hatinya juga gelisah.
“Dokter Han!” teriak Tuan Park yang sepertinya tidak didengar oleh Han, dia tetap melangkah keluar dari ruangan itu.
“Tuan Park kenapa anda memilih dia sebagai perawat untuk putriku?” tanya Lian yang seperti sudah sangat kesal dengan dokter Han yang tidak mempunyai sopan santun pada yang lebih tua.
“maafkan saya, dia memang seperti itu, tapi dia adalah dokter yang sangat saya percaya dan cuman Hanlah yang mampu membantu Lisa”
“Lian, itu benar, hanya Dokter Han yang bisa membantu Lisa” ucap Risa yang sedari tadi hanya mencoba terdiam, tapi seperti dia harus menyakini suaminya itu percaya pada dokter Han.
“Lian, maafkan aku---semua ini salahku, sejak awal seharusnya aku tak melarang kita untuk memberitahu Lisa tentang penyakitnya, Lisa hampir saja membunuh dirinya sendiri gara-gara aku terus membohonginnya, aku---aku--yang membuat Lisa depresi Lian!” ucap Risa lagi, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis saat mengingat kejadian Lisa kemarin.
Firasat Han tak pernah salah, saat dia berdiri didepan pintu ruangan rawat Lisa, betapa terkejutnya dan tegangnya saat dia melihat Lisa yang kini sedang berdiri didepan jendela yang terbuka lebar, semua pergerakan Lisa menunjukan jika wanita itu seperti ingin melompat keluar jendela.
Han yang tak mau melihat orang yang dicintainya akan pergi lagi, dengan cepat dia berlari mendekati Lisa yang sudah menaikan satu kakinya ke jendela.
“Lisa!” teriak Han, tangan Han langsung menarik tubuh Lisa untuk turun dan memeluknya sangat erat hingga membuat keduanya terbaring di lantai. Han begitu takut hingga dia memejamkan kedua matanya dan tubuhnya yang bergetar hebat, sebisa mungkin Han menolak untuk mengingat kejadian saat dia melihat orang yang dia cintai gantung diri.
Han mencoba mengatur nafasnya, setelah itu dia membalikan tubuh Lisa menjadi berada di bawahnya.
“Lisa--Apa membuatmu berfikir seperti itu? Kenapa kamu ingin bunuh diri? Apakah kamu tak yakin padaku Lisa?” ucap Han, dia mulai memarahi Lisa tanpa menggunakan nada tingginya.
“.......”
Lisa hanya terdiam, Lisa sangat bingung untuk menjawab apa? Dan bagaimana bisa dokter Han bisa mengetahui rencana? Lisa juga terkejut saat melihat tatapan Han yang memancarkan ketakutan dan kekhawatiran yang terlihat jelas disana.
“Lisa, aku sangat takut, kumohon untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi! Lisa--Aku--”
Tak lama kemudian keluarga Jung kembali keruangan Lisa, mereka semua terkejut saat melihat Lisa yang berada dibawah Dokter Han. Sang Ayah dan Kakak yang melihat itu langsung berlari dan mendekati mereka.
__ADS_1
Lian dan Kevin langsung menarik tubuh Dokter Han, Kevin yang terlihat sudah sangat kesal tanpa aba-aba Kevin langsung memberikan satu tinjuan pada wajah kanan dokter Han dan berkata.
“kau dokter brengsek berani sekali kau melakukan itu pada adikku!” ucap Kevin, dia menarik kerah baju Han dan memberikan tinjuan pada wajah kiri dokter Han.
“kakak hentikan!” teriak Lisa, Lisa langsung berlari mendekati dokter Han yang tergeletak di lantai dengan darah yang mulai bercucuran keluar dari mulutnya.
“Lisa! Menjauhlah!” Ucap Lian, dia menarik putrinya untuk menjauh dari Dokter Han.
Kevin yang seperti masih belum puas, dia menarik Dokter Han untuk mendekatinya lalu tangan Kanan Kevin mulai memukul bagian perut Dokter Ha hingga 3 kali.
“Kevin! Cukup! Kita sedang berada dirumah sakit!”
Risa menarik tubuh Kevin untuk menjauh dari Dokter Han, Risa membawa Kevin untuk duduk di sofa, mencoba menenangkan sang putra yang terlihat masih kesal.
“Dokter Han, bisakah anda meninggalkan tempat ini? Anda harus segera diobati” Ucap Risa, dia mencoba membantu Dokter Han untuk berdiri, bagaimanapun juga Risa tidak bisa langsung menuduh Dokter Han hanya dari melihat saja.
“tidak perlu Nyonya Jung, Aku masih--Sanggup untuk berjalan sendiri--” ucap Dokter Han, walaupun tubuh sangat sakit untuk berjalan tapi dia tidak mau membuat masalah ini semakin panjang, lebih baik mereka yang menyalahkan Han daripada menyalahkan Lisa, setidaknya dengan melihat ini mereka akan membenci Han dan akan melarang Lisa untuk berdekatan dengannya, dengan begitu Han bisa pergi tanpa harus menyakiti perasaannya sendiri, karena cintanya yang mungkin tak akan terbalaskan oleh Lisa.
“Tidak! Dokter Han--”
“Lisa! Berhenti membelanya! Dia tidak pantas untuk kamu bela” ucap sang Ayah yang menahan tubuh Lisa untuk tidak berjalan mendekati Dokter Han yang mulai melangkah meninggalkan ruangan.
“Kalian semua salah paham!” ucap Lisa, tiba-tiba tubuhnya terasa begitu lemas hingga membuat Lisa pingsan dalam pelukan sang Ayah.
“Lisa!”
“Lisa! Bangun!”
Lian mencoba terus membangunkan Lisa, Lian terpaksa menggendong tubuh Lisa dan meletakkannya di ranjangnya.
“Kevin, cepat panggil dokter Park!”
Kevin segera pergi, dan berlari mencari keberadaan dokter Park entah itu di ruangan maupun di ruangan lain.
Tak lama kemudian dokter Park sudah berada di ruangan Lisa, dia segera memeriksa kondisi tubuh Lisa.
“Lisa hanya terlalu tertekan hingga membuatnya pingsan, tolong jangan membuat Lisa seperti ini! Ini semakin menunda operasi Lisa” Ucap Dokter Park.
“semua ini karna dokter sialan itu!” ucap Kevin yang mengepal tangannya.
“dokter sialan? Siapa?” tanya Dokter Park.
“Tidak! Dokter Park anda salah dengar, sebelum terima kasih karena sudah memeriksa kondisi Lisa, mari saya hantar anda sampai depan” ucap Risa yang langsung mengalihkan perhatian dokter park, Risa menarik tangan Dokter Park untuk segera keluar dari ruangan. Setelah selesai menutup pintu, Risa langsung mendekati Kevin dan memberinya satu tamparan yang keras di pipi kanannya.
“Ibu tidak pernah mengajarimu untuk berkata tidak sopan pada yang lebih tua padamu Kevin,Hanya dengan melihat kejadian kamu bisa langsung menyimpulkan seperti itu? Kau sudah dewasa Kevin! Seharusnya kamu lebih mementingkan penjelasan Lisa terlebih dahulu bukan langsung memukul orang lain! Lisa seperti itu karena kita semua tidak ada yang percaya padanya!” ucap Risa, entah kenapa perasaan Risa mengatakan jika Dokter Han tidak bersalah.
“sudah, Kevin lebih baik kamu kembali pulang, biar Ayah dan Ibumu yang menjaga Lisa, untuk malam ini dan untuk masalah ini biarkan saja kita selesaikan nanti” ucap Lian.
“kamu juga harus istirahat sayang, kamu terlihat sangat lelah” ucap Lian pada sang istri, dia menarik Risa untuk duduk di sofa setelah Kevin pergi.
“kamu Ibu yang hebat, aku sangat beruntung masih diberi kesempatan untuk bisa bersamamu, aku percaya semua yang kamu lakukan itu benar,jadi sekarang istriku yang cantik ini kamu harus istirahat”
Lian memberikan pelukan hangat pada Risa, dia sangat merindukan istrinya, sudah sangat lama Lian tidak memperhatikan istrinya, dia terlalu sibuk mengurusi pekerjaannya sampai melupakan istrinya yang saat ini sangat membutuhkannya.
“Lian, aku sangat lelah, aku ingin melihat Lisa bahagia, hatiku sangat sakit melihatnya yang terus berada dirumah sakit ini, melihatnya merasakan sakit yang tidak aku bisa aku rasakan, apa aku telah gagal menjadi seorang Ibu? Aku bahkan mengangkat tanganku pada Kevin” ucap Risa, nada suara terdengar begitu sedih dan juga tak berdaya.
“Tidak! Kamu Ibu yang baik dan hebat, semua sudah menjadi garis takdir tuhan, tidak baik menyesali sesuatu yang sudah terjadi! Bukankah seharusnya sekarang kita harus kuat? Jika kita lemah siapa yang akan menyemangati Lisa?”
Lian melepaskan sedikit pelukannya untuk menatap sang istri dan berkata lagi “jangan ada air mata lagi, kamu harus yakin jika Lisa akan sembuh dan kembali sehat, sekarang pejamkan kedua matamu dan genggamkan tanganku”
Lian menaruh bantal di belakang tubuh Lisa, lalu secara perlahan mendorong tubuh Lisa untuk berbaring dan tak lupa untuk memberikan selimut untuk Risa.
“aku mencintaimu, tidurlah dengan nyenyak, aku akan selalu ada di samping” ucap Lian, pria itu duduk di lantai dekat sisi sofa, satu tangannya masih tetap menggenggam tangan Risa, dan menunggu sampai sang istri tertidur.
Sedang seseorang yang sedang menahan semua rasa sakit yang ada di wajah dan perutnya masih setia menunggu di depan pintu, Ya setelah Kevin pergi Han kembali untuk memastikan jika orang tua Lisa tidak menyakiti Lisa ataupun bertanya pada Lisa, Dokter Han tidak memperdulikan jika nanti keluarganya Lisa melarang untuk mendekati Lisa, selagi itu baik untuk Lisa maka Han akan tetap diam tapi jika menjauhnya Han membuat Lisa semakin tertekan maka Han tidak akan menjamin jika dia bisa menjaga jarak dengan Lisa.
__ADS_1