![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Di pagi yang cerah ini Lisa membuka dua matanya dengan sangat malas karena suara ponsel yang terus berdering, ingin rasanya Lisa berteriak pada seseorang yang masih pagi tapi berani mengganggu dirinya, Namun melihat nama 'Han' yang tertulis di layar ponselnya membuat Lisa hanya bisa menarik nafas panjang sebelum menekan tombol terima.
Han : “Hallo, Tuan putri pemalas kau harus bangun!”
Lisa : “Halo juga pak dokter, apakah kamu tidak punya pekerjaan hingga mengganggu orang lain!”
Han : “ini sudah siang Lisa”
Lisa : “jam 6 pagi kau bilang siang? Apa kau tidak bisa membedakan siang dan pagi pak dokter!”
Han : “terlalu banyak memikirkan dirimu aku sampai lupa membedakan pagi dan siang”
Lisa : “aku tidak tertarik dengan rayuanmu”
Han : “kamu marah?”
Lisa : “tidak!”
Han : “baiklah kita bertemu di taman di dekat rumahmu pukul 8 pagi kamu sudah harus disana jika tidak datang aku akan--”
Lisa : “akan apa? Di rumahku sedang banyak orang! Jangan coba-coba membuat keributan disini”
Han : “baiklah, jangan sampai lupa pukul 8 pagi”
Lisa tersenyum saat Han mematikan sambungan telepon itu, pria itu jika sudah bertemu sifat memaksanya pasti akan muncul, tapi Lisa sangat bahagia akhirnya dirinya bisa bertemu dengan pria itu lagi.
Dia segera berlari kamar mandi, untuk membersihkan dirinya, setidaknya dia harus bersih untuk berdiri di hadapan pria itu, setelah sekian lama akhirnya mereka akan berkencan lagi.
Lisa memilih pakaian musim dingin yang sempat dibeli beberapa hari yang lalu bersama ibunya saat mereka sedang mencari gaun untuk pernikahan Sona, hari ini Lisa juga ingat jika kakaknya dan Sona sedang mencari gaun pengantin untuk mereka.
Lisa menatap pakaian yang sudah dia kenakan di tubuhnya, dia mencoba mengamati melalui cermin yang tingginya tidak jauh berbeda dengan dirinya, semenjak kembali dari rumah sakit gaya pakaian Lisa saat berbeda dengan sebelumnya, biasanya dia akan lebih suka memakai pakaian seperti gadis remaja tapi sekarang dia memakai pakaian seperti wanita dewasa.
Lisa melirik ke arah jam yang sudah menunjukan pukul 7 pagi, dia harus segera merias dirinya, lalu dia juga harus memberitahu ibunya jika dia akan pergi.
Setelah selesai dengan semua urusannya Lisa segera menuruni anak tangga, menuju ke dapur yang dimana hanya ada sang ibu, Lisa bernafas lega karena tidak ada sang ayah disana.
“hari ini kamu ingin kemana? dengan pakaian rapi” tanya Lisa,
“ibu, hari aku ingin menemui seseorang dan baru kembali nanti sore” ucap Lisa, dia menarik kursi dan mendudukkan dirinya.
“siapa? han?”
“bagaimana ibu bisa tahu?”
“pergilah, kembalilah sebelum ayahmu pulang, ini kasihlah undangan untuknya, dia harus mendatangi pernikahan Kevin dan Sona”
“terimakasih, ibu memang yang terbaik”
Lisa dan Risa memutuskan untuk sarapan bersama, dirumah yang besar ini hanya ada dua wanita saja, tapi mungkin beberapa tahun kedepan rumah ini akan menjadi tempat yang ramai yang dipenuhi dengan suara tawa anak-anak atau tangisan bayi.
******
“sudah lama menunggu?” tanya Han, dia memberikan sebuket bunga kepada Lisa yang ternyata sudah datang lebih awal darinya, rasanya sangat senang bisa melihat gadis ini yang begitu cantik dan sederhana.
Kedatangan Lisa kedalam hidup Han memberikannya satu hal yang selama ini belum pernah dia mengerti, semua jawaban dalam pertanyaan selalu saja menemukan solusi saat melihat gadis itu.
Lisa yang melihat Han segera bangun dari posisi, tangannya menerima bunga yang sama saat terakhir pria itu berikan padanya, harum bunga itu juga masih sama, dengan malu-malu Lisa memberikan kecupan pada pipi Han sebagai rasa terima kasih.
“aku ingin memberitahu sesuatu, Lisa setelah Kevin dan Sona menikah, aku akan pergi ke paris selama setengah tahun”
“tapi kamu baru saja kembali, untuk apa kamu kesana Han?”
Han menarik Lisa untuk duduk dibangku taman lagi, pembicaraan kali ini akan sangat menyulitkan Lisa karna Han tidak bisa mengungkapkan identitasnya, Han ingin semuanya akan terungkap saat ayahnya bertemu dengan keluarga Lisa.
“untuk dirimu, Lisa dengarkan aku, aku akan menceritakan semuanya pada padamu tapi tolong jangan mencela atau aku akan menciummu”
“baiklah”
“Lisa aku datang kemari karena ayahku yang meminta, sebenarnya sudah sangat lama dia ingin aku kembali dan mengambil alih semua perusahaannya, sebelum mengenalmu aku selalu menolaknya tapi saat ada dirimu aku langsung menerimanya, karena setelah aku fikir sejauh apapun aku menghindari aku akan selalu ditarik kembali, alasan aku pergi karena ada perjanjian yang harus diselesaikan disana ayahku sudah tidak mampu untuk bepergian”
“bolehkah aku ikut denganmu?”
__ADS_1
Satu kecupan mendarat di bibir Lisa, gadis itu terlihat malu karena telah melanggar apa yang dikatakan Han.
“kamu harus menjadi dokter Lisa, aku tidak akan melirik wanita lain disana, aku juga akan membawa asisten bersamaku, lagi pula wanita di sana tidak cantik dan juga selimut dirimu”
“bagaimana perasaanmu pada Kaira?”
“kaira, setelah berpikir aku salah mengartikan jika diriku mencintainya nyatanya aku hanya menyukainya tapi tidak bisa mencintainya, kamu tahu Lisa, selama aku menjalin hubungan dengannya saat berbeda dengan dirimu”
“itu karena dia cinta pertamamu”
“bukan, kamulah cinta pertamaku, aku menyukainya karena dia gadis yang lembut, namun saat aku tahu dia sakit perasaanku berubah padanya perasaan itu seperti rasa kasihan, dan saat Keira pergi hanya ada penyesalan padanya, bukan rasa takut kehilangan, Lisa aku harap dirimu tidak sedih karna kamu adalah cinta pertamaku, keira dia hanya masa lalu”
Han menarik Lisa untuk masuk ke dalam pelukannya, seperti dinginnya cuaca hari ini membuat tangan Lisa menjadi keriput dan dingin, Han menggenggam kedua tangan itu mencoba menormalkan kembali suhu tangannya.
“Han, terlalu banyak usaha yang kamu lakukan untukku, aku takut tidak bisa menerimanya dan bisa hidup bersamamu”
“itu karna aku mencintaimu Lisa, tidak ada yang bisa membandingkan cintaiku dengan semua usaha yang aku lakukan untuk bisa memilikimu”
“setelah 6 bulan kamu pergi, tetaplah tampan seperti biasanya”
“Ya, aku tahu”
“jagalah kesehatanmu Han”
“Ya, aku tahu”
“dan tetap menjadi Han kesayanganku”
“Ya, aku tahu”
“menyebalkan!”
“tapi kamu menyukai pria menyebalkan ini bukan?”
“tidak, aku mencintaimu”
Han dan Lisa, mereka melewati hari ini dengan menggenggam tangan satu sama lain, untuk bisa menyatukan cintai mereka tidak membutuhkan orang lain untuk melibatkan dirinya, cinta. Itu adalah hal sederhana namun memiliki arti yang berbeda dan makna yang hampir sama, pertemuan kali ini membuat kedua perasaan mereka semakin yakin dan dewasa, Han yang selalu menyakiti Lisa tentang perasaan dan Lisa yang selalu menunggu Han kembali, mereka adalah satu cinta yang saling melengkapi.
Lisa begitu senang melihat banyak sekali buku yang tersusun rapi di dalam rak, rasanya sudah lama Lisa tidak pergi kesini bersama temannya, Lisa menarik Han untuk masuk kedalam toko buku.
“Han, kali ini aku ingin membayar sendiri” ucap Lisa, pada Han yang masih menunjukan wajah cemberutnya.
“Tidak! Aku kekasihmu, aku masih mampu untuk membeli semua buku yang ada didalam sini”
“Han, kali ini saja aku ingin membeli dengan uang ku” ucap Lisa, dia menunjukan wajah imutnya pada Han, dia juga melipat kedua tangannya seperti meminta permohonan.
“satu buku satu ciuman” ucap Han, dia mulai mengikuti setiap Lisa melangkah melewati lorong-lorong rak buku. “diam berarti setuju”
“Ya! Terserah padamu Tuan Han”
Lisa memilih untuk mengunjungi tempat novel-novel yang terbaik, dia membaca satu persatu sinopsi disetiap buku, mencoba mencari yang menurutnya ceritanya sangat menarik dan juga bahasa yang mudah dimengerti, hingga tidak terasa jika Lisa sudah mengabaikan pria yang ada dibelakangnya.
Diam-diam Han memotret Lisa yang hari ini terlihat sangat cantik dari biasanya, Han butuh foto-foto Lisa untuk mempersiapkan sesuatu untuk ulang tahunnya nanti, sudah ada beberapa foto yang dia ambil saat mereka di jepang.
“apa yang membuatmu tersenyum?” tanya Lisa, saat gadis itu ingin bertanya pada Han, dia melihat pria itu yang tersenyum saat melihat layar ponselnya.
“tidak ada, apa sudah selesai? Kita belum makan siang Lisa” tanya Han, dia buru-buru menaruh ponselnya kedalam saku celana.
“belum, apakah kamu jika melihat aku baru saja memilih tiga buku, aku butuh setidaknya lima sampai tujuh buku” ucap Lisa, dia masih sibuk memilih buku yang belum sempat baca.
“apakah kamu lapar?”
“aku sedikit lapar, tapi bisakah kamu menunggu setengah jam lagi, aku masih harus memilih buku lagi Han"
“baiklah, pilihlah semua buku yang kamu sudah, jika sudah setengah jam berlalu aku yang akan menyeretmu keluar”
Lisa segera memilih buku yang ingin dia baca, sebagian buku yang dia ambil adalah tentang kedokteran dan juga novel remaja pada umumnya yang cerita selalu mengandung unsur romantis dan fantasi, Lalu gadis itu berjalan menuju kasir.
“jika membutuhkan bantuan apa sulitnya untuk meminta bantu” ucap Han, pria itu langsung mengambil buku yang ada ditangan Lisa.
“terima kasih” ucap Lisa, dia memberikan Han untuk jalan lebih dahulu menuju kasir
__ADS_1
“aku ingin membawa semua buku ini” ucap Han, dia menaruh semua buku di depan kasir.
“totalnya 150.000 Won, Tuan”
Han mengeluarkan kartu black card miliknya, lalu menyerahkan kepada kasir yang menatapnya dengan sedikit terkejut, hanya orang-orang tentu di negara korea yang memiliki black card.
“terimakasih telah berkunjung ke toko kami”
Setelah selesai mereka memilih untuk makan siang di salah satu restoran ramen yang tidak terlalu ramai karena hari sudah menunjukan pukul jam 2 siang, Han menggenggam tangan Lisa di sepanjang jalan sampai masukin restoran pun pria itu masih menggendongnya.
Han dan Lisa mereka menikmati makan siang mereka yang sudah terlewat beberapa jam, keduanya saling bertukar makanan, menyuapi secara berganti, keduanya tidak malu untuk menunjukan kemesraan yang membuat setiap orang melihatnya merasa iri pada mereka.
Setelah kenyang dengan makan ramen, sekarang waktunya untuk memenuhi keinginan Han, yaitu bermain Ice Skating, sebenarnya Lisa tidak terlalu pandai bermain ice skating karena dirinya sangat takut berdiri di salju dengan sepatu yang membuatnya sulit membuat keseimbangan tubuhnya.
“kita bisa menaruh buku-bukumu di loker, ini gantilah pakaianmu dan juga sepatu, kita akan bertemu disini setelah berganti pakaian” ucapan, dia menyerahkan peralatan ice skating pada Lisa.
Kedua berjalan berlawan arah, karena tidak mungkin mereka berganti pakaian bersama, butuh sekitar 15 menit untuk berganti pakaian. Lisa sampai lebih awal karena dia tidak tahu cara memakai sepatu itu, jadi dia menunggu Han untuk membantunya memasang sepatu itu.
“menunggu lama?” tanya Han, pria itu sudah rapuh dengan pakaiannya dan juga dengan santai dia berjalan mendekati Lisa dengan sepatu yang sudah dia kenakan.
“tidak, Han aku tidak tahu cara memakai sepatu ini”
“kasian sekali tuan putri, baiklah biar pangeran ini yang membantumu”
Lisa tersenyum bahagia saat Han dengan sangat sabar membantu memasang sepatu itu dengan baik agar dirinya tidak merasa sakit dan mempermudah dirinya menyimbangi tubuhnya saat berdiri disalju.
“untuk sekarang menggenggamlah tanganku, kamu harus belajar berjalan menggunakan sepatu itu”
Han membantu Lisa untuk berdiri di salju yang sangat menakutkan untuk Lisa bergerak, jika dia salah langkah dalam mengatur kesimbangan maka dia akan terus jatuh dan mungkin akan membuatnya malu.
“Han! Aku takut! Kamu saja yang bermain, aku tidak mau”
“jangan takut Lisa, lihat mataku, kamu harus yakin jika kamu bisa, sangat menyenangkan saat kamu sudah bisa menguasai kesimbangan tubuh”
Percobaan demi percobaan Lisa lakukan untuk bisa menguasai keseimbangan tubuhnya hingga dirinya jatuh berkali-kali, membuat orang yang bermain di sana menatapnya dengan berbagai ekspresi, namun usaha jika pernah menghianati hasil pada akhirnya sedikit demi sedikit Lisa bisa berjalan di atas salju tanpa bantuan Han.
Mereka berdua berjalan mengitari area permainan, Han tidak lupa untuk mengabadikan momen itu dengan foto bersama Lisa, mereka membuat kenangan banyak di sana sama seperti saat mereka di jepang, Lisa tampak bahagia seperti biasanya walau dinginnya ruangan tidak mematahkan semangatnya dalam bermain ice skating.
Mereka juga bermain saling melemparkan bola satu, Lisa akan marah jika Han melemparinya begitu keras namun dia tidak suka jika Han marah padanya karena Lisa terlalu keras melempar bola, wajah Lisa sudah memerah karena kedinginan, dan Han yang melihat itu segera memberikan kehangatan pada gadis itu.
“ayo kita pulang, kamu sudah kedinginan”
“tapi aku masih ingin bermain dan menghabiskan waktu lebih lama bersamamu Han”
“kita sudah bersama dari pagi hingga sore, kamu harus pulang sebelum ayahmu kembali”
Han menarik Lisa untuk kembali pulang, memaksa gadis itu untuk berganti pakaian, Han mampir ke Cafe untuk membeli Coffe untuk dirinya dan Lisa.
Sekarang mereka sedang dalam perjalanan kembali pulang, Han tersenyum saat melihat Lisa yang sedang menikmati Coffee kesukaannya, rasanya hari berjalan begitu cepat hingga waktu yang mereka habiskan terasa begitu cepat.
“apa kamu senang?” tanya Han.
“aku sangat senang, terimakasih untuk hari ini”
“sama-sama sayang, hari ini aku senang bisa menghabiskan waktu bersama dirimu”
“setelah kita menikah kita harus lebih sering berkunjung ketempat yang belum kita kunjungi, aku ingin pergi ke hawaii, ayah dan ibuku pernah berlibur kesana dan disana saat indah”
“baiklah, kemanapun kita pergi akan selalu indah jika kita berdua ada disana”
Han kembali menggenggam tangan Lisa ketika mereka sudah sampai di depan rumah Lisa, pria itu memberanikan diri untuk menghantar Lisa kembali sampai kedepan rumah, dia juga membawakan buku-buku yang tadi Lisa beli.
“sampai jumpa Han” ucap Lisa.
Han melepaskan menggenggam tangannya, dia sedikit mendekati Lisa untuk memeluk gadis itu, lalu memberikan satu kecupan di kening Lisa dan berkata.
“aku mencintaimu, jagalah kesehatanmu, kita akan bertemu di pernikahan Sona nanti”
Lisa mengangguk, dia melambaikan tangannya pada Han yang sudah mulai kembali masuk kedalam mobil dan Lisa juga berkata.
“jika sudah sampai jangan lupa untuk menghubungiku dan aku juga mencintaimu Han”
__ADS_1
Setelah mobil Han meninggalkan rumahnya, Lisa baru melangkah masuk kedalam rumah yang sambil membawa buku-buku yang cukup berat.