![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Lisa tersenyum bahagia, dia tak pernah menyangka akan bertemu dengan pria yang begitu hangat seperti Han dan tentu saja baik, Lisa hanya diam diatas ranjang rumah sakit, sebentar lagi dia akan segera berangkat, tapi pria itu belum menunjukan dirinya di hadapan Lisa, padahal pria itu sudah berjanji akan menghantar Lisa sampai ke bandara.
Tak lama kemudian Ibu Lisa kembali keruangan, jika Ibunya sudah kembali itu berarti Lisa akan segera pergi. Lisa tertunduk sedih, dia semakin erat memeluk boneka yang ada di kedepannya, Lisa hanya berharap jika Han datang saat dirinya belum masuk ke dalam pesawat.
'apa tidak ada salam perpisahan untukku? Setelah aku kembali kita pasti akan sulit bertemu, Han dimana kamu'
“Lisa, ayo kita segera berangkat, nanti kita bisa ketinggalan pesawat”
“Baiklah, Ibu”
Dengan lemas Lisa turun dari ranjang rumah sakit, berjalan membantu sang Ibu membawa barang-barang miliknya, mereka berdua mulai melangkah keluar dari ruangan.
Diluar kamar sudah ada Dokter Park yang menunggu mereka, Lisa tersenyum dan menunduk ke Dokter Park, dan berjalan mengikuti sang Ibu yang sudah ada didepan.
Kini mereka sudah ada didepan sebuah mobil yang memang disiapkan Han untuk Lisa, namun saat didepan mobil, Lisa tak melihat Hanada disana, lagi-lagi Lisa mulai mengkhawatirkan pria itu, yang kini keberadaannya tidak diketahui padahal Lisa sudah menghubunginya dan mengirim beberapa pesan pada pria itu.
“Lisa apa yang kamu tunggu? Cepatlah masuk, kita harus segera berangkat”
Lisa menghela nafas sebelum masuk kedalam mobil, didalam hanya ada pak supir dan Ibunya yang sudah menunggunya, setelah menutup pintu mobil pun mulai meninggalkan rumah sakit dan menuju ke bandara.
Di luar jendela, pemandangan kota Tokyo terlihat sangat jelas, jalanan kota Tokyo terlihat cukup sepi, banyak toko yang tutup dan hanya beberapa orang yang lalu lalang di jalan, jalan masih ditutupi salju, suhu semakin hari semakin dingin saja.
Padahal pria yang sedang Lisa cari sudah berada didepan mereka sejak tadi, Ya.. Han menyamar menjadi seorang supir untuk memberikan kejutan pada Lisa, dari balik kaca Han terus menatap Lisa yang terlihat sangat sedih dan juga bingung, rasanya ingin sekali Han mencubit pipi itu dan menertawakan Lisa tapi jika dia melakukan itu maka rencananya akan terbongkar.
Di sepanjang perjalanan hanya ada kesunyian yang terasa di dalam mobil, tak ada satupun yang mau memecahkan kesunyian, seakan-akan mereka menyukai kesunyian itu dan lebih memilih untuk mementingkan keinginan masing-masing.
Hingga tak terasa mereka semua sudah sampai di bandara, Han langsung membantu Ibu Lisa untuk menurunkan semua barang bawaan mereka.
“mau sampai kamu menyamar seperti ini Han? Tidakkah kamu kasihan dengan Lisa”
“setelah mengantar barang ini untuk dicek aku akan menunjukan diriku pada Lisa”
Han lebih memilih untuk berjalan lebih dahulu, dia harus segera menaruh barang-barang milik Risa dan Lisa.
“Ibu harus mengurus beberapa paspor kita, kamu bisa menunggu disini Lisa?”
“aku akan menunggu disini”
Risa pergi meninggalkan Lisa di bangku yang bisa orang gunakan untuk menunggu atau pun beristirahat sejenak.
Han segera berjalan mendekati Lisa dengan langkah kaki yang tak bersuara, setelah berdiri di belakang Lisa, tangan Han langsung meletakan buket coklat di hadapan Lisa.
“Han”
“Kamu menyukainya?”
“aku terkejut karena aku kira kamu tidak akan mengantarku, terimakasih sudah datang kesini Han”
Kini Han sudah berada di hadapan Lisa dengan sedikit berjongkok di hadapan gadis yang kini menundukkan pandangannya.
“aku sudah disini, kenapa kamu malah menangis sayang”
“aku tak menangis, ini air mata bahagia”
Han menghapus setiap air mata yang mengalir dari matanya, gadis ini sangat mudah menangis, kadang mudah sekali berubah-ubah sifatnya, Han seperti harus lebih sabar menghadapi Lisa nanti jika mereka menikah.
“aku punya sesuatu untukmu, tutuplah matamu”
Lisa langsung menutup kedua matanya dan Han segera mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah yang berisi kalung dengan liontin sepasang panda, Han bangkit dari posisinya, dia memasangkan kalung itu di leher Lisa.
“kamu bisa membuka kedua matamu”
Saat Lisa membuka kedua matanya, tatapannya langsung tertuju pada kalung yang sudah ada di lehernya, kalung itu sangat indah.
__ADS_1
“apa artinya?”
“panda adalah hewan yang setia pada pasangannya, aku juga ingin menunjukan kesetiaanku padamu Lisa, sejauh apapun nanti kita berpisah, kuharap hati kita selalu bersatu, aku akan selalu menjaga hatiku dan selalu mengingat cintai kita”
Lisa langsung bangun dari bangku itu dan memeluk Han dengan sangat erat, ada rasa sedih yang menusuk hatinya, dan juga ada kebahagia disana, semua menyatu membuat tangisan Lisa semakin pecah, Lisa tak mengerti kenapa sangat berat untuknya meninggalkan pria yang kini sedang dia peluk, Lisa tak membutuhkan apapun di dunia ini asalkan bisa bersama Han selamanya.
“pengumuman untuk semua para calon penumpang, untuk mempersiapkan diri anda, karena penerbangan Jepang ke Korea akan segera berangkat, tolong perhatikan barang bawaan anda dan terimakasih”
Pengumuman itu menandakan perpisahan mereka akan segera terjadi, Lisa masih ingin meluangkan waktu bersama Han lebih lama, namun dia juga tidak bisa menentang semua ini, dengan berat hati dia melepaskan pelukannya.
“Han, aku ingin bersamamu, tapi aku tak bisa egois, aku ingin melihatmu mengejar cita-citamu dan aku juga ingin kamu melihat diriku menjadi seorang dokter yang hebat, tapi ini sangat berat Han”
“Lisa, ini adalah ujian untuk hubungan kita, kamu percayakan pada cintai kita? Jika pun memang kita tak berjodoh suatu hari nanti, setidaknya kita pernah saling mencintai, walaupun bukan aku yang menjadi pendamping hidupmu, aku akan mengantarmu”
Han menggenggam tangan Lisa, mereka berdua berjalan bersama ke tempat dimana Lisa akan menaiki pesawatnya, sampai di depan sana Han menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah Lisa.
“kita akan segera berpisah, belajarlah dengan baik, jangan lupa untuk menjaga kesehatanmu Lisa”
“Han, aku pasti akan merindukanmu”
Han menarik gadis itu dalam pelukannya, Han mencoba untuk tidak menangis di hadapan Lisa, dia tak boleh menunjukan kesedihannya pada gadis yang ada didalam pelukanmu yang sudah membasahi kaos hitamnya.
“Lisa, kita harus segera masuk”
Risa memanggil Lisa yang belum melakukan pengecekan tubuhnya, dia menunggu didepan pintu masuk pesawat.
“aku mencintaimu Lisa, aku akan lebih sering menghubungimu, kamu harus segera pergi”
“Han--”
“aku sungguh mencintaimu Lisa”
Han melepaskan pelukannya, dia menghapus air mata Lisa dan tersenyum manis didepan Lisa, sebelum melangkah pergi, Lisa menjijit untuk mencium bibir Han.
Lisa berjalan meninggalkan Han yang masih setia menunggunya disana, Lisa melambaikan tangan pada Han sebelum dia masuk kedalam pesawat, air matanya masih terus membasahi pipinya. Dan pria itu hanya bisa diam sambil menunjukan senyuman manisnya, dia tak akan melangkah pergi sebelum Lisa masuk kedalam.
“Han, I Love you” teriak Lisa, gadis itu sudah masuk kedalam pesawat.
“I Love you too, Lisa”
Han membalikkan tubuhnya, dia melangkah meninggalkan bandara, tanpa sadar air mata Han mengalir membasahi pipinya, jika Han bisa egois dia juga ingin menahan Lisa disini, bahkan jika Han mau dia sudah menarik gadis itu ke depan penghulu, tapi Han sudah berjanji pada Ibu Lisa untuk membiarkan gadis itu menjadi seorang dokter dan Han juga sudah berjanji akan menjadi pria yang mapan didepan ayah Lisa.
Lisa duduk didekat jendela, dia melihat kota tokyo yang terlihat sangat kecil dari atas, sambil memeluk boneka pandanya, Lisa berhadap jika dia bisa melewati semua ini dengan tegar dan sabar.
Setelah sampai dirumah, Lisa lebih memilih untuk langsung menuju kamar tidurnya, dia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya di kamar yang sudah lebih dari bulan tidak dia tinggali, kamarnya masih seperti dulu ketika dia meninggalkan kamar ini, Lisa meletakan boneka pandanya di dekat boneka doraemon miliknya.
Dengan sangat malas dia membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya, mata tertuju pada langit-langit kamar yang berwallpaper doraemon, dalam pikirannya dia terus berbayang sosok pria hangat yang senyumannya selalu membuat hatinya berdebar dengan kecang, pria dengan jas putih yang sudah menjadi bagian dari hidupnya, pria yang kini baru beberapa jam yang lalu berpisah dengannya.
Han, pria itu tak pernah lepas dari pikiran Lisa, rasa ingin sekali Lisa langsung menghubunginya dan menanyakan apa dia merindukannya? Bagaimana rasa berpisah?
Tangan Lisa terulur untuk menyentuh kalung yang diberikan Han, dia bangkit dari ranjang, lalu berjalan mendekati meja rias menarik kursi itu lalu menatap dirinya sendiri. Dari balik cermin yang ada di hadapannya Lisa bisa melihat dengan jelas bentuk dari liontin di kalung, itu sangat indah dan berkilau, ini pertama kalinya Han memberikan barang yang berbeda dari biasanya, Han biasanya hanya memberi Lisa boneka, coklat ataupun Ice Cream.
'apakah Han ingin aku menjadi wanita dewasa? Mungkin mulai sekarang aku akan merawat diriku, belajar menjadi wanita yang bisa diandalkan oleh Han, aku harus mulai merias diri, melakukan perawatan dan tentu juga menjadi sosok istri yang baik untuk Han'
Lisa terkejut dengan apa yang ada dalam benaknya, Lisa tertawa dengan apa yang baru saja dia pikirkan, dia benar-benar malu.
'menjadi sosok istri yang baik untuk Han? Oh ayolah Lisa, khayalanmu terlalu tinggi! Baru juga berpisah, kau sudah berpikir untuk segera menikah dengan Han?'
Lisa tidak mau terlalu larut dalam memikirkan Han, Lisa memilih untuk merapikan semua barang-barang yang masih didalam koper yang belum sempat dia buka, Lisa tidak mau menghubungi Han lebih dahulu, dia ingin Han yang menghubunginya agar tak mengganggu pekerjaannya.
**********
Setelah kembali menghantar Lisa ke bandara, Han langsung bergegas menuju rumah sakit, hari ini Han memiliki jadwal yang cukup pada karna Dokter Park sedang ada urusan yang membuat Han mengambil ahli rumah sakit itu.
__ADS_1
Jika sudah berusaha dengan pekerjaan, maka sifat akan lebih serius dan bersikap profesional, semua yang ada disekitarnya akan merasa kagum dengan jiwa dokter dalam diri Han, tak jarang banyak suster yang ingin berkencan dengannya, Han sudah seperti kepala rumah sakit yang handal dalam mengurus semua masalah rumah sakit.
Waktu berjalan begitu cepat, fajar telah berganti dengan rembulan, sore sudah berganti dengan malam yang berhiaskan bintang-bintang, Han masih sibuk dengan dokumen yang sepertinya tidak berkurang sedari tadi, Han tidak berpikir gimana nanti jadinya jika dirinya sudah menjadi Ceo, akankah dia menghabiskan waktu lebih banyak di kantor? Dan melupakan istrinya yang mungkin menunggu kepulangannya.
Pikiran Han langsung tertuju pada Lisa, dia lupa untuk menanyakan kabar sang kekasih, selama seharian penuh ini dia tidak sempat untuk memang ponselnya yang ada disatu jas kerjanya, Han menghentikan aktivitasnya. Dia mengeluarkan ponselnya dan segera mencari kontak sang kekasih, namun sangat ingin menelpon Lisa, Han melihat jam yang ada di layar ponselnya, ini sudah cukup malam untuknya mengganggu Lisa.
Pria itu memutuskan untuk mengirim pesan pada Lisa saja, setidaknya dia masih bisa mengabari Lisa walaupun mungkin gadis itu sudah terlelap dalam mimpinya.
by : Kim Han Hyung
Lisa apa kamu sudah tidur?
Aku bingung untuk menelponmu atau tidak, mengingat jam disini sudah menunjukkan pukul 11 malam, aku memutuskan untuk mengirimkan pesan pada untukmu.
Bagaimana dengan hari ini?
Maafkan aku sayang, jika aku baru memberi kabar padamu, pekerjaanku hari ini lebih banyak dari hari biasanya hingga membuatku melupakan dirimu, aku pun lupa untuk makan siang dan makan malam.
Hari ini aku merasa ada yang berbeda saat melewati kamar yang dulu kamu tempati, biasanya aku akan mengganggumu atau hanya melihat dirimu dari pintu.
Setelah dipikir memang berat untuk berpisah denganmu, Lisa aku tidak bisa berjanji satu hal padamu tapi aku pastikan dalam satu bulan sekali kita akan bertemu ..
Selamat malam mimpi yang indah sayang, aku selalu mencintaimu ....
Han mencoba untuk menunggu sampai beberapa menit berlalu, jika dalam 15 menit Lisa tidak membalas itu berarti gadis itu memang sudah tidur, Han lupa jika besok Lisa harus kembali kuliah dan beberapa bulan lagi kekasihnya akan segera merasakan kelulusan.
Sejenak Han berfikir untuk melakukan apa saat nanti Lisa sudah wisuda, Han hanya berharap jika dirinya bisa hadir disana menyaksikan gadisnya memakai pakain wisuda dan memberikan ucapan selamat padanya.
15 menit sudah berlalu, Han kembali meletakkan ponselnya ke dalam saku jas putihnya, dia tidak ada niat ingin tidur sebelum pekerjaan ini selesai atau memang jika dirinya sudah sangat lelah.
Tiba-tiba ponsel Han bergetar dan membuat terkejut, itu adalah sebuah panggilan masuk dari sang ayah, Han mencoba mengatur nafas dan meyakini dirinya jika dia berani untuk berbicara dengan ayahnya setelah lima tahun tak bertatap muka ataupun berbicara satu kata dalam telpon.
Ayah : “Han?”
Han : “Ya, Ayah”
Ayah : “putraku, kupikir kamu tidak akan menjawab panggilanku”
Han : “Ayah belum tidur?”
Ayah : “Han, kapan kamu kembali, bisakah kita menyelesaikan masalah ini secara baik-baik?”
Han : “Ayah, aku akan segera kembali, aku perlu mengurus sesuatu disini”
Ayah : “kamu sudah tidak marah padaku?”
Han : “bagaimanapun seorang anak tak akan pernah bisa marah pada Ayahnya”
Ayah : “baiklah, aku menunggu kabarmu”
“kamu akan pulang ke korea?” Dokter Park bertanya, dia berjalan mendekati Han yang ada di ruangan sambil membawa dua kotak besar di tangannya.
“Ya, aku tidak bisa terus lari dari masalahku, apa urusan anda sudah selesai?” ucap Han
“Ya, semua berjalan lancar, itu keputusan yang sangat baik Han, aku membawakan makanan untukmu, ke-marilah”
Han berjalan mendekati Tuan park yang sedang duduk di sofa, “tapi aku tidak tega meninggalkan anda”
“hidupmu masih panjang Han, kamu harus bahagia dan berarti mengambil langkah untuk setiap keputusan, apapun keputusanmu aku selalu mendukungmu Han”
“aku sudah memutuskan untuk kembali ke rumah minggu depan”
“lebih cepat lebih baik, cepatlah selesaikan masalahmu dengan ayahmu, sudah makanlah kamu pasti belum makan sesuatu dari siang”
__ADS_1
Han dan Tuan Park, menikmati acara makan malam yang jarang terjadi di keduanya, mereka bercerita tentang pengalaman hari ini yang terjadi di diri mereka masing-masing, tak lama lagi Han akan meninggalkan rumah sakit yang penuh dengan kenangan manis dan pahit dalam kehidupannya