Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 61 - My Ceo Jung


__ADS_3

Enam bulan berlalu ….


Suatu pagi yang indah di kota Islan, di sebuah perkotaan masih daerah Korea selatan. Hiduplah sepasang suami istri yang hidup sangat bahagia di rumah sederhana yang mereka bangun baru beberapa bulan lalu, perumahan yang dibangun terdiri dari dua lantai yang mencakup begitu banyak halaman dan juga tempat pribadi yang sangat disayangkan hanya hidup dua orang saja.


Kevin dan Sona, keduanya hidup di Islan tiga bulan lalu. Bukan alasan lain mereka berdua memutuskan tinggal jauh dari rumah orang tua Kevin. Kota ini merupakan kota yang tak kalah indahnya dengan kota Seoul, Busan atau kota lainnya.


Setelah mengambil alih perusahan Jung, lima bulan yang lalu kini Kevin sudah bisa mengurus perusahan itu yang pusatnya memang ada di kota Islan. dia menjadi Ceo muda yang begitu dikagumi oleh para karyawan yang menjadi naungan Grup Jung. Kevin sangat kompeten dan profesional dalam bidang perhotelan yang sudah dijalan oleh sang ayah beberapa tahun lalu, walau Kevin masih baru menjabat  beberapa bulan Kevin tidak langsung menjadi semena-mena pada jabatan kali ini, justru sebaliknya dia mencoba menyesuaikan dirinya dengan baik di kantor sang ayah.


Karena sang ayah dan ibu masih tinggal di luar negeri untuk kontrak kerjasama yang akan terjalin sampai 3 tahun kedepan membuat keluar mereka berpisah untuk beberapa kedepan, Kevin dan Sona bahkan sangat jarang mendapatkan kabar Lisa dan Han yang mereka tahu kini sudah berpisah karena urusan yang begitu mendesak, kadang setiap sebulan sekali Kevin dan Sona akan berkunjung ke rumah Han yang hanya ditinggali oleh Lisa dan beberapa pelayan disana.


Cahaya matahari, masuk kedalam ruangan yang didominasi oleh warna peach dan putih, dari cela-cela gorden kamar bisa dilihat sepasang suami istri yang masih tertidur lelap dibalik selimut berwarna abu-abu itu, rasanya terlalu sibuk bagi matahari untuk membangunkan mereka dari alam mimpi yang sulit untuk dilepaskan atau sekedar ditinggalkan walau hanya sesaat.


Kevin dan Sona, kedua tidak akan bangun jika suara alarm jam tidak berdering membisingkan seisi ruangan kamar pasangan itu, mereka berdua juga tidak sempat untuk melakukan honeymoon saat usia pernikahan mereka yang baru berjalan tujuh bulan, karena satu alasan yang membuat keduanya menunda untuk menjalankan honeymoon mereka, karena Sona harus melakukan pelatihan untuk menjadi seorang pengacara dan Kevin yang harus mengelola Grup Jung sendirian, membuat keduanya jarang bertemu walau hanya banyak yang dilewatkan bersama bahkan hari libur mereka jugakan untuk sekedar memeriksa laporan dan menghafal pasal-pasal untuk Sona.


Hingga tetap pukul 7 pagi, saat itulah juga alarm jam berdering tetap disamping telinga Kevin yang membuat pria itu terkejut sehingga mendorong Sona yang ada di dalam pelukannya, pria itu terlalu kencang hingga membuat sang istri terjatuh ke lantai dengan sadisnya, Kevin yang menyadari itu segera turun dari ranjang dan menemui sang istri yang terlihat sangat marah.


“maaf Sona” ucap Kevin, dia mencoba mengulurkan tangannya untuk membantu Sona untuk bangun dari posisinya walau mungkin akan ditolak oleh wanita itu.


“jika Kau tidak suka aku tidur disampingmu! Aku bisa tidur diruang tamu!” ucap Sona dengan nada tingginya, kejadian ini hampir terjadi setiap hari hingga membuat Sona rasanya sangat kesal jika Kevin seperti itu terus seperti harinya, dia bangun sambil memegang pinggangnya yang terasa sangat sakit. Dia tidak memperdulikan Kevin yang ingin membantunya.


“Sayang, aku benar-benar tidak tahu akan mendorongmu, salahkan alarm yang berdering begitu kencang hingga mengagetkanku” 


Kevin langsung membantu Sona untuk duduk ditepi ranjang sambil membantunya mengelus pinggangnya yang mungkin terasa sakit, “lain kali aku akan memindahkan jam ini disampingmu agar kamu bisa mendorongmu”


Sona yang tadinya kesal dengan kini dia tersenyum dengan perkataan sederhana Kevin yang meluluhkan hatinya, dia mengelus surai Kevin yang sudah mulai gondrong dan tidak terawat dengan bagus, lalu dia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mencium kening sang suami.


“aku maafkan, jika terjadi lagi aku yang akan menendang bokongmu!” ucap Sona, setelah mencium kening sang suami kini dia mencubit telinga Kevin dengan sedikit kencang.


“kau sangat suka melakukan hal romantis lalu setelah itu memukulku lagi!” 


“ini baru memukul, yang tadi itu aku mencubitmu bodoh!”


Dengan sengaja Sona memukul pipi Kevin yang tentu saja membuat pria itu terkejut dengan apa yang dilakukan.


“Bodoh? Berani sekali kau berkata seperti itu pada suamimu? Kau ingin diberi hukuman ehm?” 


Kevin, menarik tubuh Sona hingga membuat wanita itu kembali berbaring di ranjang, lalu dengan cepat Kevin menggelitik perut Sona hingga membuat wanita itu tertawa dengan tangan yang mencoba mendorong Kevin untuk berhenti melakukannya atau sekedar menjauhkan dirinya dari tangan Kevin.


“Kevin, baik! Baik! Hentikan sekarang!”


“katakan yang harus dikatakan Sona” 


“Maafkan aku”


Saat kata aman itu keluar dari mulut sang Istri Kevin segera menghentikan kegiatannya, di pagi yang indah ini memang sangat menyenangkan melakukan hal sederhana yang mampu meningkatkan rasa saling mencinta antara keduanya, pertengkaran lalu saling memukul hingga akhirnya hanya ada acara saling menatap satu sama lain dengan sisa-sisa tawa akibat kegiatan mereka lakukan.


Dengan posisi Kevin yang berada diatas tubuh Sona, dari atas sana dia bisa melihat jika semakin hari kehidupannya semakin dipenuhi kebahagiaan dan juga warna dalam setiap maknanya, semenjak perjalanan waktu dan juga berganti kehidupan Kevin belajar banyak dalam lembaran kehidupan rumah tangga dalam artian yang sesungguhnya, dia belajar memahami Sona yang kini masih bersikap kekanak-kanakan dan juga terkadang sikapnya berubah-ubah, Kevin juga jadi tahu artinya kata mencintai yang sebenarnya dan saling menghargai dalam setiap keputusan yang mereka ambil bersama.


“aku mencintaimu” ucap Kevin, dia mencium kening Sona lalu mencium kelopak mata dan terakhir mencium bibir Sona sebagai tanda jika dia benar-benar mencintai wanita itu dan sangat takut untuk kehilangan dirinya.


“aku juga mencintaimu”


Sona juga membalasnya dengan mencium singkat bibir tebal Kevin, lalu tangannya memegang wajah Kevin yang begitu dekat dengan jarak mereka, dari bawah disini dia bisa melihat Kevin yang semakin dewasa dengan kumis tipisnya dan juga wajah tampannya, betapa beruntungnya Sona bisa diberi kesempatan untuk bisa menjadi miliknya untuk seumur hidupnya dan menjalani kehidupan rumah tangga yang selalu menjadi hal yang Sona sepelekan dan juga dia takuti.


“rasa aku sangat malas untuk pergi bekerja hari ini, bagaimana jika kita pergi untuk honeymoon? Tidak kamu ingin membuat rumah ini berisik dengan tangisan bayi?” tanya Kevin yang masih posisi yang sama tanpa ada niat ingin mengubah posisinya atau menggeser walau hanya satu senti saja.


“aku ingin, tapi Kevin--”


“aku tahu, seperti aku harus mandi, bisakah menyiapkan sarapan dan pakaianku?”


“Ya”

__ADS_1


Dengan perasaan yang tidak enak Kevin meninggalkan Sona begitu saja, ini suatu hal yang sangat Sona ingin hindari dari percakapan panjang yang biasa mereka lakukan jika pada akhirnya keduanya akan canggung dengan pertanyaan yang sama yaitu Sona yang belum yakin untuk mempunyai seorang anak, bukannya Sona tidak mau tapi banyak sekali hal yang akan dia lakukan ketika Sona mulai menerima tugas barunya sebagai pengacara sebenarnya, Sona takut akan lalai menjadi seorang ibu hingga tidak dapat membagi waktunya untuk mengurus anak dan juga pekerjaannya.


Dan Kevin, dia sebenarnya sangat keberatan saat Sona memutuskan untuk menjadi pengacara, itu berarti keduanya akan semakin jauh dengan kesibukan masing-masing yang tentu saja berbeda dalam bidang maupun pemahaman, Kevin hanya ingin Sona tinggal dirumah entah itu dia mulai belajar memasak atau melakukan hal yang biasa dilakukan seorang istri, Kevin juga ingin ketika dia kembali bisa melihat Sona yang menunggu kepulangannya dengan wajah yang bahagia dan tentu saja dengan bayi mereka, tapi memang begitu beresiko bagi Sona untuk lahiran di usianya yang belum menginjak 20 tahun.


Beberapa menit kemudian Kevin keluar dari bathroom dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya, di dalam kamar dia tidak melihat Sona dan hanya melihat seragam kerjanya di tergeletak di ranjang yang sudah dirapikan oleh sang istri, Kevin segera memakai semua yang sudah disiapkan oleh Sona dan segera berjalan menuju dapur untuk menemui sang istri.


Hingga 20 menit kemudian Kevin baru turun dan langsung memberikan pelukan pada sang istri dari belakang, suatu hal yang sudah menjadi kebiasaan Kevin di pagi hari atau malam hari ketika dia pulang. 


“aku minta maaf untuk yang tadi, mari kita lupakan itu dan aku janji akan mencoba mengerti dirimu lagi” ucap Kevin saat dirinya mencoba menghentikan Sona yang sedang membersihkan piring.


“Kevin, sampai kapan kita akan seperti ini? Aku merasa jika menikah bukan untuk mencari satu tujuan yang sama tapi pernikahan ini malah seperti kita saling menyakiti”


“Sona, bisakah kamu berpikir dewasa? Maksudku ini hal wajar terjadi, kita sudah sering seperti ini bukan?”


“Ya, tapi aku merasa takut Kevin, aku tidak bisa menjadi istri yang kamu harapkan dan --”


“tidak Sona, kamu istri yang sempurna, kita coba lagi untuk saling mengerti oke?”


“baiklah”


Sona membalik tubuhnya untuk memastikan jika Kevin memakai jas dan dasinya dengan benar, ketika Sona membalik tubuhnya dia melihat Kevin yang sudah mulai pandai memakai dasinya dengan benar “kurasa mulai hari ini aku tidak perlu memakaikan dasi untukmu”


Kevin yang tidak suka mendengarkan itu segera menarik dasi berwarna biru itu hingga membuatnya terlihat tidak rapi seperti sebelumnya, yang tentu saja membuat Sona tertawa dan segera merapikan dasi itu seperti semula.


“kamu sangat manja Tuan Ceo Jung”


“kamu seharusnya senang karena hanya padamu aku seperti ini, jika sudah di kantor aku tidak akan membiarkan wanita lain melakukan itu” ucap Kevin, dia menarik Sona kedalam pelukannya.


“kamu sangat percaya diri sekali!”


“tapi kamu menyukai pria ini bukan?”


Perselisihan dan pertengkaran kecil yang terjadi di kehidupan rumah tangga Kevin dan Sona adalah salah satu kekuatan dari cinta mereka, walau banyak perselisihan yang terjadi pada mereka dalam satu hari tapi ada banyak cara untuk menyelesaikannya tanpa solusi.


Bukankah itu wajar terjadi? 


Mereka baru saja menikah tujuh bulan lalu, hal yang aneh dan belum pernah terjadi akan menjadi satu perselisihan atau mungkin kesalahpahaman yang akan terjadi, semua itu hanya butuh satu kunci yaitu kepercayaan, jika Kevin dan Sona saling percaya maka sebesar apapun perselisihan itu akan hingga jika keduanya percaya dengan apa yang mereka katakan, mungkin memang sangat sulit untuk menjauhkan perselisihan itu namun seiring berjalannya waktu semua itu akan segera berlalu digantikan dengan persoalan lainnya bukan?


Jika sarapan pagi sudah mereka lakukan bersama, maka waktunya untuk berpisah karena ketika mereka akan berangkat pada pekerjaan mereka masing-masing Kevin dan Sona akan berpisah bahkan ketika mereka ingin berangkat ke kantor masing-masing, Sona dengan sopir pribadi yang sang suami siapkan dan Kevin dengan mobil sport pemberian sang ayah sebagai kado pernikahan mereka.


Sebenarnya Kevin sangat tidak suka jika Sona di supir  oleh orang lain tapi tempat kantor Kevin dan Sona yang berbeda arah yang butuh waktu lama untuk bisa kembali ke kantornya, Kevin sudah pernah mencoba melakukan itu dan hasilnya dia harus menunda rapat paginya karena dia hampir terlambat hingga 1 jam.


Keputusan itu diambil bersama dengan Sona dan wanita malah setuju dengan dirinya yang diantar jemput orang lain daripada dengan suaminya sendiri, keputusan yang Sona ambil memang benar karena secara tidak langsung dia membantu Kevin untuk memprioritaskan pekerjaannya daripada dirinya, tapi menurut Kevin tidak ada yang lebih berharga daripada keselamatan sang istri, disinilah Sona bisa tahu jika sikap posesif Kevin yang begitu teritorial, jika itu adalah wilayah Kevin maka tidak ada siapapun yang bisa menyentuhnya atau bahkan menginjaknya satu sencipun.


Dan Sona? Wanita hanya bisa tersenyum bahagia saat Kevin begitu posesif pada dirinya, membuat Sona yakin jika pria itu sangat mencintainya hingga wanita manapun tidak mampu untuk menggodanya, jika kalian berpikir Sona tidak memiliki sikap posesif kalian salah besar, Sona sama seperti wanita lain sebenarnya dalam dirinya dia juga begitu khawatir dengan Kevin yang pekerjaan akan lebih banyak berinteraksi dengan banyak wanita belum lagi kabarnya baru-baru ini Grup Jung baru saja merekrut seorang sekretaris untuk membantu Kevin.


Tentu saja Sona kecewa dengan keputusan Kevin yang lebih memilih wanita daripada merekrut seorang pria, tapi Sona juga tidak boleh egois karena Kevin akan kesulitan jika mengerjakan sesuatu sendiri, tapi kenapa harus seorang wanita? Bahkan dari biodata yang Sona baca jika wanita itu sudah berusia lebih tua dari Sona, dia juga begitu cantik dan sangat sempurna memakai pakaian kantor.


“haruskan aku juga melamar menjadi sekretarisnya?” ucap Sona, dia berbicara sendiri ketika dirinya sedang dalam perjalanan menuju ruang kantornya, yang tentu saja membuat orang yang ada di dekatnya sampai menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.


“Nona Kim maksudku Nona Sona anda baik-baik saja?” tanya rekan kerja yang kebetulan satu lift dengan Sona, dia adalah park Jihoon hye dia juga pengacara sama dengan Sona namun dia bisa dibilang seniornya.


“ah? Senior park, apa kabar? Aku baru melihat anda lagi” ucap Sona, dia sedikit menunjukan badannya sebagai tanda hormatnya pada seniornya. 


“aku baru menyelesaikan kasus hari ini, jadi akan kembali ke kantor untuk membuat laporan” jawab Jihoon dengan senyuman manisnya, dia pria yang tampan di usianya yang baru menginjak 26 tahun, dia juga termasuk kedalam pengacara yang begitu disukai para kaum hawa.


“senang mendengarnya, aku belum menerima kasus apapun untuk tugas pertamaku” ucap Sona dengan sedih.


“aku yakin sebentar lagi kamu akan menerimanya hanya perlu menunggu saja, baiklah sampai jumpa Nona Sona” ucap Jihoon saat dirinya sudah ingin keluar dari lift, hanya dengan menunjukan senyuman manisnya saja sudah membuat para wanita yang ada di dalam lift begitu terpana dan mungkin bisa langsung pingsan.


Tak lama kemudian ponsel tipis Sona berdering, sebuah panggilan masuk dari sang suami membuat Sona mau tidak mau mengangkatnya walau dia belum sampai di ruangan kantornya. 

__ADS_1


“ya, Tuan Jung”


“aku sedang dalam lift, kamu sudah sampai?”


“oh masih dalam perjalanan ke-hotel? Tunggu! Hotel?”


“kenapa kau sangat suka bertemu dengan klien di hotel!”


Semua yang satu lift dengan Sona langsung melebarkan telinga mereka untuk mendengarkan apa yang sedang terjadi, dan Sona yang menyadari itu segera mengecilkan suaranya kembali.


“aku akan menghubungimu lagi!”


“apakah pekerjaan kalian disibukkan untuk menguping pembicaraan orang lain?” ucap Sona dengan kesal, diperusahaan ini dia terkenal dengan wajah jutek dan juga nada ucapan yang begitu tinggi, tidak banyak orang yang mau berdekatan dengan dirinya.


“kau baru saja bergabung dengan perusahaan ini tapi gayamu sudah seperti pemilik perusahaan ini saja, kau bahkan mendekati pria tertampan di perusahaan ini? Lihat bukankah dia patut dicurigai?” tanya salah satu karyawan wanita dengan pakaian mencoloknya mulai dari dandannya hingga pakaian yang dia kenakan dan bahkan sepatu heelsnya itu.


Sona yang tidak mau mendengarkan ucapan yang dikatakan oleh wanita itu memutuskan untuk keluar dari lift padahal masih ada satu lantai lagi untuk sampai di ruang kantornya, tapi daripada membuat rumor yang tidak jelas jelas  dipagi hari lebih baik Sona memilih untuk menghindarinya.


********


Kesebuah gedung dengan lantai hampir mengampai langit yang dipimpin oleh Ceo muda yang baru enam bulan ini mengantikan posisi sang ayah, dia adalah putra pertama dari keluarga jung yaitu Jung Kevin. Menjadi Ceo di usia yang masih muda tidaklah mudah karena banyak rintangan dan hal baru yang harus dia pelajari selama menjadi pimpinan perusahaan yang sudah berjalan lebih dari 35 tahun lamanya. Perusahaan yang sudah menjadi warisan yang tidak boleh sampai hilang ini membuat Kevin mau tidak mau harus perputar otak untuk memiliki strategis yang bagus untuk memajukan industri perhotelan milik sang ayah.


Setiap harinya dia akan lebih banyak menghabiskan waktu diluar kantor untuk bertemu dengan para investor yang akan bergabung dan juga beberapa klien untuk memperluas kerjasama perusahaan itu, pekerjaan yang membuat Kevin harus menunda dirinya untuk melakukan honeymoon bersama sang istri untuk memberikan penerus dari Jung. Jika dipikir-pikir seharusnya sang ayah sudah kembali ke korea lagi dan Kevin bisa mengambil beberapa bulan cuti untuk pergi keluar negeri bersama sang istri.


“Tuan Jung, kita sudah sampai” ucap sekretaris Hana, dia adalah wanita yang tadi Sona pikirkan selama didalam lift, nama lengkap dari Hana adalah Song Hana Ryu, gadis yang telah lulus dari universitas terbaik di kota Islan dan dia bahkan sudah sangat baik dalam melakukan tugasnya, bahkan dia baru saja bekerja 2 minggu yang lalu.


Dengan jas berwarna hitam dengan kemeja putih dan dasi birunya, Kevin menelusuri lorong hotel dengan kelas teratas, dia memang akan bertemu dengan para kliennya bukan berarti dia memiliki tujuan yang lain karena bagi Kevin, Sona sudah cukup untuk memberikan segala kebutuhannya, dia memang hotel untuk para kliennya yang baru saja datang dari prancis. 


Lagipula hotel yang dia pesan juga merupakan anakan dari Grup Jung dalam artian dirinya juga merupakan pemegang saham di hotel ini, dengan jalan yang tegas dan langkah yang berwibawa Kevin terus berjalan hingga langkahnya membawa dirinya berhenti di sebuah restoran bergayakan cina. 


“Tuan Jung, mereka ada dilantai dua” ucap Hana sekali lagi, suara yang begitu lembut dan sikap yang sangat anggun membuat dirinya terlihat sangat cantik dengan kemeja pink dan rok yang diatas lutut, jangan lupakan kacamata dan rambut yang dibiarkan terurai, membuat yang melihatnya tidak bisa berpaling lama.


“sekretaris Hana, dokumenku” ucap Kevin,


Kini dirinya sudah duduk dengan para klien yang ada dihadapannya, dan tentu saja sekretaris Hana yang ada disampingnya, bagi Kevin pelayan untuk para klien dan investor adalah hal pentingnya, itulah alasan kenapa Kevin sangat pandai dalam bahasa inggris dan bahasa lainnya, pembicaraan itu berlangsung lama karena diiringin oleh sajian yang di berikan oleh hotel ini dengan baik.


Hingga waktu sudah menunjukan makan siang barulah diskusi itu berakhir dengan baik, para klien itu setuju untuk perjanjian yang Kevin buat dan mereka lakukan kontrak untuk enam bulan kedepan.


“Tuan Jung, apakah ada ingin makan siang disini?”


“baiklah, siapkan saja”


Kevin memilih untuk menghubungi sang istri, sejauh apapun mereka berpisah akan terus membuat Kevin selalu ingin cepat-cepat bertemu dengan Sona, jadi Kevin segera menghubungi Sona dengan ponsel tipisnya.


“Hai sayang, kamu sedang apa?” 


“aku bertemu klien di hotelku, apa kamu takut aku akan tergoda dengan wanita lain?”


“kamu lucu sekali Sona, tingkahmu seperti remaja yang baru saja berpacaran, aku tidak akan tergoda oleh wanita lain karena aku sudah memiliki wanita yang begitu seksi dan sangat--”


“Halo? Sona?”


“apa ponsel ini sudah rusak? Kenapa dia sangat suka menutup panggilan sesukanya?”


Kevin terpaksa menghubungi Sona kembali, namun bukannya diangkat oleh wanita itu Sona malah memilih mematikan ponselnya yang tentu saja membuat sedikit kecewa tapi Kevin akan tetap menyukai itu karena dia tahu jika Sona sangat cemburu dengan dirinya.


“Tuan Jung, ini makan siang anda” ucap Hana, dia kembali kemeja dimana Kevin berada sambil membawa makan yang dibawakan oleh para pelayan 


“kamu makan bersamaku saja sekretaris Hana” ucap Kevin, dia segera menikmati makan siangnya, menu makanan cina adalah makan favorit kesukaan Kevin sejak dirinya sering berada diluar negeri.


Hana yang mendengar itu segera mendudukkan dirinya disebrang Kevin, dan memesan beberapa makan untuk dirinya, dia begitu canggung setelah dua minggu bekerja dia bisa makan bersama atasannya dengan suasana yang begitu nyaman.

__ADS_1


__ADS_2