![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Matahari sudah menenggelamkan dirinya, digantikan oleh bulan yang ditemani indah bintang-bintang, angin malam cukup kencang hingga membuat dedaunan berhamburan, itu menandakan tidak sudah memasuki musim dingin, musim semi akan berlalu diganti dengan hamparan salju.
Satu bulan telah berlalu .....
Mungkin bulan sudah berganti, musim pun akan segera berganti, tapi semua perubahan itu! Tak dapat mengubah kesedihan seorang gadis yang masih harus menahan dirinya di rumah sakit yang bagaikan penjara yang membuat gadis itu terus terkurung disana. Hanya wajah kebingungan yang selalu menghiasi wajah gadis itu kepada siapa orang yang ada di sekitarnya, wajah pucat dan tubuh yang semakin kurus membuat siapapun bersedih untuk melihat.
Gadis itu kehilangan kehidupannya yang bahagia, keseharian yang dia lakukan, dan kebersamaan teman yang sangat dia rindukan, seandainya Lisa mampu untuk bisa melawan semua ini?
“Lisa?”
“apa kamu terbangun?”
Yang menanyakan itu adalah Risa, dia baru saja kembali setelah membeli beberapa buah di supermarket, selama Lisa dirawat hanya Ibunya yang terus menemaninya, dalam hati Lisa dia merindukan sosok Ayah dan Kakak yang selalu menggodanya ataupun membuatnya tertawa.
Dengan tatapan yang sendu, Lisa mencoba untuk tersenyum kepada sang Ibu yang kini dalam mendekati Lisa dengan membawa beberapa buah yang sudah di irisnya.
“Ya, Ibu”
“apa kamu mau?” Tanya Risa yang memberikan semangkuk buah yang sudah diiris olehnya.
Lisa hanya mengangguk, dengan tangan yang tak pernah lepas oleh infusan, dia menerima buah itu, lalu memakannya satu persatu buah itu. Sesekali dia tersenyum pada sang Ibu, mencoba menutupi semua kesedihan yang dia rasakan, bagaimana pun Lisa tidak mau Ibunya ikut bersedih. Setidaknya jika Lisa pergi nanti, Ibunya tidak terlalu bersedih karena Lisa sendiri tidak pernah bersedih di depannya.
Ya, perasaan Lisa kini yakin jika dia mengidap penyakit yang akan merenggut nyawanya suatu hari nanti, Lisa juga tahu alasan tidak ingin memberitahu penyakitnya karena mereka tidak ingin Lisa memikirkan penyakitnya, padahal itu malah membuatnya tertekan, tapi semua ini sudah menjadi jalan Tuhan. Lisa rela jika dia harus pergi terlebih dahulu, maka mulai dari itu Lisa mulai rajin menulis surat untuk keluarga tanpa sepengetahuan mereka.
Lisa juga menjaga jarak dengan Dokter Han, dia memutuskan untuk tidak mau lebih lama bersamanya, Lisa takut tidak sanggup untuk pergi karna terlalu mencintainya hingga membuatnya berharap untuk hidup lebih panjang. Ya, Lisa Jatuh cinta pada Dokter Han saat pertama kali mereka bertemu di taman, tapi perasaan itu dia pendam semua. Lisa tidak ingin Dokter Han mengetahuinya, Lisa takut jika Dokter Han juga mencintainya dan akan menyakitinya jika Lisa pergi.
“Ibu, sebentar lagi musim salju, aku berharap aku bisa melihat salju pertama bersama Ayah, Ibu dan Kakak Kevin”
“kita pasti bisa melihatnya bersama sayang, Ayah sudah berjanji akan segera menyelesaikan pekerjaannya” ucap Risa yang membantu Lisa untuk membaringkan tubuhnya kembali dan menyelimuti tubuh Lisa dengan selimut.
“aku harap itu terjadi, selamat malam Ibu” ucap Lisa, sebelum menutup kedua matanya untuk tidur.
Sedangkan Risa, dia memilih untuk beristirahat di sofa, sambil menerima hasil penyakit Lisa yang tadi Dokter Han berikan padanya siang hari, dengan ragu-ragu Risa membuka hasil pemeriksaan kondisi penyakit Lisa selama satu bulan.
Risa menutup mulutnya dengan tangannya, Risa benar-benar terkejut dengan hasil yang ada dalam map coklat itu, rasanya Risa ingin sekali menangis. Dalam hasil pemeriksaan itu memberikan bukti jika gegar otak yang Lisa derita mengalami kemunduran yang sangat parah, bahkan mental dan fisik Lisa pun mengalami kemunduran yang sangat drastis. Dari hasil itu dokter Han menyarankan untuk lebih mendukung Lisa karna benar-benar kemungkinan kecil untuk sembuh.
“Putriku! Kenapa? Kenapa Tuhan?”
“Tidak bisakah kau membiarkannya hidup lebih lama? Aku melihat istriku tertawa bahagia bersama orang yang dia cintai, aku ingin melihatnya menjadi dokter yang sangat dia cita-cita sejak kecil, melihatnya berjalan ke altar, apakah aku tidak bisa Tuhan?”
Hati Risa hancur, perasaan seorang Ibu yang sangat mencintai putri harus melihat semua ini, perasaan seorang Ibu yang harus kuat untuk putrinya, bagaimana Risa bisa menghadapi ini semua?
Seandainya Risa bisa memilih dia mungkin akan memilih untuk menggantikan posisinya yang berada di sana, lebih baik dia yang menderita daripada putrinya. Karna pada dasarnya cinta itu sangatlah dalam terhadap anaknya. Merawatnya mulai dari awal kehamilan hingga melahirkan lalu merawatnya selama 19 tahun, semua Risa lakukan atas dasar karena dia mencintai putrinya, anak yang dihasilkan dari cintanya dan cinta Lian, bagaimana Risa bisa melupakannya begitu saja?
Membiarkan Lisa pergi meninggalkannya?
Risa mencoba menghapus semua air matanya, dia tidak bisa menunjukan sisa air matanya pada Lisa, dia harus menjadi Ibu yang kuat. Beberapa menit kemudian, Dokter Han datang kesana dan mengajak Ibu Lisa untuk berbicara beberapa hal.
“Nyonya Jung, Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, kita bisa berbicara diluar” ucap dokter Han.
Risa segera bangkit dari sofa, lalu berjalan mengikuti Dokter Han. Mereka mengobrol di luar ruangan Lisa,
“apa anda sudah melihat hasilnya
“Aku sudah melihatnya”
“apakah anda puas?”
“..........”
“Nyonya Jung mau sampai kapan anda akan terus menyembunyikan penyakit Lisa? Tidakkah anda lihat? Hasil itu membuktikan jika penyakit Lisa tak menunjukan kemajuan sama sekali! Bahkan kondisi mental dan fisik Lisa menjadi menurun!”
“Dokter Han! Apa anda pikir mengatakan itu mudah?”
“lalu anda ingin membiarkan Lisa tahu dengan sendirinya? Nyonya Jung, ingatlah Lisa bukan boneka anda yang selalu menuruti anda! Anda bahkan membuat saya setiap hari harus berbohong pada Lisa, dan melarangku untuk memberitahunya! Apa itu pantas untuk Lisa?"
“kau hanya seorang dokter, tugasmu hanya merawat! Tak perlu mencampuri urusanku! Kau tidak punya hak untuk itu!"
“ini adalah urusanku juga Nyonya Jung! Karena aku mencintai Lisa! Aku berhak untuk membuatnya bahagia!”
“berani sekali kau mencintaiku putriku! Apa kau pantas untuk mengatakan itu! Pikirkan usia yang sangat jauh dengan Lisa”
__ADS_1
“mencintai seseorang adalah hak setiap manusia, hanya karena perbedaan usia kami yang 10 tahun, anda berkata seperti itu? Nyonya Jung, asal anda tahu! Aku tak akan mau kehilang orang yang aku cintai lagi dalam hidupku! Jika anda terus menjunjung tinggi keegoisan anda jangan salahkan saya jika Lisa pergi karena keegoisan anda!”
Han sudah sangat muak dengan semua ini, dia tidak bisa menahan lagi, Han memilih untuk meninggalkan Ibu Lisa begitu saja, bagaimanapun caranya Han harus memberitahu penyakit Lisa, tapi baru saja beberapa melangkah, suara pecahan gelas menghentikan langkahnya, suara itu berasal dari kamar rawat Lisa, dengan cepat Han kembali.
“Lisa, sayang dengarkan Ibu, tolong lepaskan beling yang ada di tanganmu” ucap Risa yang sangat panik, saat dia membuka pintu dia melihat Lisa yang sedang membaca hasil pemeriksaannya, lalu saat Risa melangkah untuk mendekat Lisa malah mengambil gelas lalu membantingnya dan mengambil serpihan kaca.
“tidak! Menjauh!”
“Lisa, Ibu janji akan menjelaskan semuanya”
“Tidak! Pergi!”
“jangan mendekat atau aku akan melukai tanganku dengan kaca ini!”
“Lisa, Kamu dengar aku? Tolong lepaskan kaca itu yang ada di tanganmu” ucap Han, pria itu melangkah lebih dekat ke Lisa.
“Tidak! Kamu juga berbohong pada Dokter Han! Kamu bilang.. Aku tidak sakit parah!”
“Lisa, lepaskan kaca itu yang ada di tanganmu, tidaklah kamu melihat banyak darah yang mengalir”
Secara perlahan Han mendekati Lisa yang sudah berada di sudut ruangan.
“tidak! Menjauh! Berhenti melangkah!”
Dengan sigap dokter Han langsung meraih tangan yang menggenggam serpihan kaca itu, lalu membuangnya, dia memeluk tubuh Lisa dengan sangat erat.
“tidak!!! Lepaskan aku!! Aku benci seorang pembohong!!”
Lisa terus memberontak, dia memukuli tubuh Han dengan tangan yang terluka hingga membuat jas putih itu berlumuran darah.
“Lisa, tenanglah aku disini” ucap dokter Han, dia terus memeluk Lisa, mengusapkan kepalanya.
“Lisa, aku sangat yakin kamu akan sembuh, kita bisa berjuang bersama”
“jika kamu tidak mempercayai siapapun, aku bisa membuatmu percaya denganku”
“jadi tolong tenang dan terima semua ini dengan lapang dada, kamu harus yakin bisa melewati penyakit ini”
“aku berjanji akan selalu ada di sisimu”
Sedangkan sang Ibu, dia hanya terdiam di sana, menyaksikan sang putri yang begitu menderita akibat dari keegoisannya yang terus dipertahankan, Risa menjatuhkan tubuhnya ke lantai, dia menyesali semua keegoisanku selama ini.
Gadis cantik itu tertidur lelap, Lisa kehilangan banyak darah karena dia terus melukai tangannya, membuat lapisan kulit tangannya semakin melebar dan mengeluarkan banyak darah, dengan keterampilan yang Han miliki, dia mengobati luka dengan sangat hati-hati dan juga tertutup dengan sangat rapi.
Setelah selesai, Han masih duduk disana, menatap wanita yang dia cintai harus begitu menderita karena keegoisan seorang Ibu, Han ingin sekali membawa Lisa pergi dan membuatnya bahagia, tapi jika dia melakukan hal itu sama saja dia mencoba membunuh Lisa, Lisa membutuhkan perawatan dan juga menangan media dari rumah sakit.
Lisa, saat pertama kali mereka bertemu Han sudah merasa memang mereka ditakdirkan untuk bertemu, saat mereka kabur dari rumah sakit itu adalah kenangan yang sangat berharga untuk Han, pria itu menggenggam tangan Lisa sambil berkata.
“Lisa, jika suatu hari nanti kamu sembuh, aku harap kamu bisa menjalani hidupmu dengan baik, aku juga ingin melihatmu bahagia bersama orang yang kamu cintai, walaupun saat Kamu sembuh kita mungkin tidak bisa bertemu lagi, tapi akan tetap mencintaimu”
Sebelum Han meninggalkan Lisa, dia sedikit menundukkan kepalanya untuk mencium kening Lisa, lalu setelah itu dia mendekati sang Ibu yang masih menangis di lantai di mana darah Lisa masih bertebaran di sana.
“Nyonya Jung, anda harus kuat, karena Lisa sudah tahu penyakit, itu berarti anda harus siap menerima semua resiko untuk depannya bagaimana! Jangan menangisi suatu hal yang sudah terjadi” ucap Han, dia membantu untuk membangunkan Risa dan mendudukkannya di sofa.
“dan satu hal lagi Nyonya Jung, sebaik-baiknya anda menyembunyikan bangkai suatu saat nanti bangkai itu akan tercium baunya! Jadi kedepannya bersikaplah lebih jujur pada putri anda!”
Han tidak langsung pergi, sebaliknya dia malah membersihkan semua darah dan juga pecahan gelas itu, tanpa menunggu untuk disuruh dia sudah mengambil inisiatif terlebih dahulu, baru setelah itu dia meninggalkan ruangan itu setelah memastikan jika semuanya sudah bersih.
Risa, wanita itu masih terdiam di sofa, memori tentang kejadian Lisa terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak, dia tidak pernah memikirkan kejadian apa yang akan terjadi jika Lisa tahu tentang penyakit, Risa hanya berpikir jika semua akan berjalan dengan baik sesuai dengan rencananya, tapi pada akhirnya perkataan Han yang benar, Lisa terluka dan hatinya hancur karena kebohongan yang Risa lakukan.
Hingga akhirnya Risa tertidur di sofa setelah telah menangis dan banyak berpikir.
*******
Pagi harinya....
Cahaya matahari sudah mulai menunjukan dirinya, cahaya itu masuk selalu cela-cela hordeng kamar rawat Lisa, satu pantulan cahaya mengenai wajah Lisa, membuat tidur sang gadis terganggu karena silau cahayanya.
Tak lama kemudian kedua mata terbuka karena cahaya matahari seperti membakar kulit wajahnya, hal pertama kali Lisa adalah wajah Han yang tertidur di samping, itu sempat membuatnya terkejut dan sekaligus merasa bersalah. Kepala terangkat sedikit untuk mencari sang Ibu yang ternyata tertidur di Sofa dengan selimut yang menutupi tubuhnya, Lisa sedikit merasa kecewa kepada Risa yang ternyata telah berbohong padanya.
Tapi bagaimanapun Lisa harus bersikap dewasa, dia tahu Ibunya melakukan semua ini karena dia menyayangi Lisa dan melindunginya, kemudian tatapan Lisa teralihkan pada tangannya yang terbungkus oleh perban, dan ada sedikit tulisan kecil di dalam telapak tangannya.
__ADS_1
“kamu pasti akan sembuh, mari berjuang bersama” - Han.
Lisa tersenyum melihat tulisan itu, kapan pria itu menulisnya? Apakah saat dia tertidur? Saat tadi malam Lisa juga merasa jika ada seseorang yang mencium keningnya, Lisa terus memandangi wajah Dokter Han yang tidur sangat nyenyak, diam-diam Lisa merasa malu memandangi wajah dokter Han yang menurut Lisa sangat tampan.
Namun seperti sakit kepalanya tidak bisa melihat kondisi, tiba-tiba kepala Lisa merasa sakit, sakit ini terasa lebih menyakitkan dari biasanya hingga membuat Lisa tidak sanggup untuk menahannya.
“Akh.. Kepalaku sakit!”
“sakit!”
Han yang mendengarkan rintihan kesakitan dari Lisa langsung membuka kedua matanya dan bertanya.
“Lisa? Bagian yang mana terasa sakit?” ucap Han, pria segera bangun dari posisi dan memeriksa kondisi Lisa.
Han bingung harus melakukan apa, dia tidak punya pilihan selain memberikan obat penghilang rasa sakit kepada Lisa, lalu setelah itu menyerahkan semuanya kepada Ibu Lisa, dan segera bergegas pergi meninggalkan ruangan itu. Han berjalan memasuki ruangan dokter Park karna hari ini dia akan mengadakan diskusi pada dokter Park.
“dokter Park! Kapan anda memberi solusi untuk Lisa? Aku sungguh tidak sanggup melihatnya kesakitan seperti itu!” ucap Han yang kini sudah berdiri didepan meja doktër Park yang baru saja datang.
“dokter Han dimana sopan santun anda? Tidak lihatlah? Aku baru saja datang! Jaga sikapmu, apa kau ingin ku lempar keluar dari rumah sakit ini? Ingat jika bukan karena Ibu, kau tak akan bisa berada dirumah sakit ini!”
“Kapan operasi Lisa dilakukan?” ucap Han, dia sedikit menurunkan suara.
“kenapa? Apa kau jatuh cinta padanya? Tidak biasanya dokter Han peduli dengan seorang pasien”
“mana mungkin aku jatuh cinta padanya, aku hanya muak padanya saja, aku sangat ingin bebas darinya”
“Han ingatlah satu hal kau tidak akan bisa bersembunyi dari ayahmu” ucap Tuan Park.
“aku perlu berunding dengan keluarga Lisa baru bisa memutuskan untuk kapan pelaksanaan operasi itu, tugasmu hanya terus menjaga mental dan kondisi tubuhnya agar stabil, sangat beresiko jika melakukan operasi saat pasien dalam tekanan mental” ucap Tuan Park, dia berikan sepucuk surat pada Han yang berasal dari Ayah Han.
“kenapa anda menerima surat dari dia? Aku tidak membutuhkannya”
“apa kau tidak peduli dengan kondisinya Han?
dia sudah tua dan sendirian, dia membutuhkan dirimu, kau putra satu-satunya yang dia miliki”
“aku tidak perduli, aku permisi Tuan Park, tolong kabari aku tentang operasi Lisa” ucap Han yang langsung pamit meninggalkan ruangan Tuan Park tanpa mau mendengarkan penjelasan lainnya.
******
Lian : “Ya, sayang apa kamu merindukanku?”
Risa : “bisakah kamu serius sedikit!”
Lian : “semakin tambah usiamu, kamu lebih suka memarahiku! ada masalah apa Risa?”
Risa : “kapan kau akan kemari Lian? Lisa--”
Lian : “apa yang terjadi pada Lisa?”
Risa : “bisakah kamu kembali sore ini juga, dan sekalian ajaklah Kevin, ini sangat penting untuk Lisa”
Lian : “baiklah, aku akan mencari penerbangan untuk siang hari”
Risa : “aku menunggumu”
setelah itu Risa mematikan sambungan panggilan itu, dan segera keluar dari kamar mandi, berjalan mendekati Lisa yang sedang memakan buah yang sudah Risa siapan sebelumnya.
“Lisa, Dokter Park memanggil Ibu, kamu tidak apa-apakan?”
“aku baik Ibu, pergilah”
“Ibu akan segera kembali, jangan lupa untuk meminum obatmu”
Lisa hanya mengangguk sebagai jawaban, mulutnya masih penuh dengan buah, Lalu Risa mulai melangkah keluar meninggalkan Risa sendirian di dalam.
Lisa, wanita itu. kini mulai menerima penyakitnya yang tidak tahu akankah dia sembuh atau tidak, setidaknya Lisa masih bisa menikmati indahnya dunia, dan menunggu takdir yang menentukan kehidupannya selanjutnya.
jangan lupa juga mampir di cerita aku yang lain :
- Aku bukan takdirmu
__ADS_1
- Angel of death or Siren Prince
- Istri Lugu Presiden Han