Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 50 - My Wedding


__ADS_3

Beberapa hari kemudian ....


Hari demi hari berganti dengan jalannya waktu yang tidak pernah mundur, hanya tinggal menunggu waktunya berganti hari maka keesokan harinya seseorang akan berhadapan di depan Tuhan untuk mengucapkan janji suci, semua persiapan sudah sangat sempurna, acara pernikahan yang akan diselenggarakan secara tertutup yang dihadiri oleh kerabat dekat dan jauh saja, Kevin pun hanya mengundang beberapa teman akrabnya dan juga Sona.


Sona, gadis itu sedang duduk di depan jendela melihat ke arah yang langit, satu hari lagi dia akan meninggalkan kamar kesayangannya, satu hari lagi kebiasaan bangun siang akan dia berubah, saat bangun yang akan pertama kali dia lihat bukan lagi wajah sang ibu melainkan sang suami, Sona menerapkan lututnya untuk dia peluk, dia menanti fajar yang belum menunjukan dirinya, hari ini dia terbangun sangat pagi karena mimpi buruknya yang membuatnya takut untuk memejamkan kedua matanya, Sona bermimpi melihat sang ibu pergi meninggalkannya dengan ayahnya, mereka meninggalkan Sona sendirian.


Mengingat setiap mimpi itu membuat hati Sona terasa lebih gelisah dari biasanya, jantungnya akan terus berdebar saat memikirkan sang ibu yang pergi meninggalkannya, Sona rasa diri akan kehilangan sesuatu yang membuat dirinya hancur. Ketakutan akan kehilangan membuat Sona takut untuk membayangkan apa yang akan terjadi, sifat ibunya juga akhir-akhir ini membuat Sona khawatir dan juga bingung.


Satu jam sudah berlalu dia menatap kearah jendela, matahari sudah menampakan dirinya sedikit demi sedikit, hari ini Sona memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama ibunya, dia melangkah untuk keluar dari kamarnya, Sona ingin membuat sarapan untuk sang ibu yang tidak pernah dia lakukan.


Namun saat melangkah untuk membangunkan sang ibu, betapa terkejutnya Sona melihat sang ibu yang sudah tergeletak di lantai kamarnya, gadis itu berlari mendekati sang ibu yang sudah tidak sadarkan dirinya.


“Mom!”


“Mom?”


“Mommy! No ... Jangan tinggalkan aku”


“Mommy bangun!”


Sona segera berlari keluar untuk meminta pertolong pada tetangganya, untungnya pada tetangga segera membawanya kerumah sakit dan Sona sempat untuk menghubungi keluarga Jung. Air mata mulai membasahi pipi Sona secara bergantian, Sona menatap wajah sang ibu yang terlihat sangat pucat dan dingin.


'Mimpi itu tidak mungkin menjadi kenyataan,kan? Tuhan, tolong jangan ambil ibuku aku sangat menyayanginya, aku belum bisa melepaskan dirimu'


Hingga akhirnya mobil mereka sampai di rumah sakit terdekat, para bantuan medis segera membantu Sona untuk membawa sang ibu ke dalam ruangan UGD, untuk kedua kalinya dia harus melihat ibunya masuk ruangan yang sangat ditakuti.


“nona harap tunggu diluar” ucap suster yang kini mulai menutup pintu ruangan UGD.


Tak lama keluarga Jung datang, disana ada Kevin yang langsung menghampiri Sona dan memeluk gadis itu dalam pelukan hangatnya. Air mata itu berubah menjadi tangisan yang cukup keras, Sona menumpahkan semua tangisannya pada Kevin.


“menangislah aku disini, untukmu Sona” ucap Kevin, pria itu mengusap kepala Sona dan berbicara dengan lembut pada gadis yang akan menjadi teman hidupnya esok hari.


“Kevin--Mommy tidak akan meninggalkanku,kan?” tanya Sona, dia membalas pelukan Kevin saat erat seperti pria itu adalah sandaran yang baik untuknya.


“Sona, jangan pikirkan itu, aku ada disini untukmu sayang, aku akan menjagamu, tidak akan ada meninggalkan dirimu”


Secara perlahan usaha yang dilakukan Kevin membuat Sona tenang dan mulai berhenti menangis. Lisa, Lian dan Risa, mereka tidak ada satupun yang berbicara atau bertanya pada Sona apa yang terjadi mereka bertiga tidak mau membuat Sona semakin bersedih jika pada akhirnya memang takdir berkata lain.


Tak lama dokter keluar dari ruangan dengan wajah sedih, dokter itu berjalan pada mereka yang berkumpul di kursi tunggu dan berkata dengan sangat kecewa.


“kami sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya tapi seperti memang tuhan sudah berkehendak lain, jantung pasien terlalu lebih hingga akhirnya pasien meninggal dunia” ucap dokter itu, dia membungkukan badannya sebagai tanda izin meninggalkan mereka.


Sona, gadis itu berlari ke dalam ruangan UGD, saat melihat sang ibu yang tergeletak di ranjang rumah sakit dengan alat-alat yang sudah dilepaskan di tubuhnya, dunia seakan melambat membuat Sona sulit untuk berjalan mendekati sang ibu, tubuhnya bergetar hebat saat suster menutup wajah itu dengan kain putih, melihat itu Sona segera berlari dan melarang suster itu untuk menutup wajah sang ibu.


“Tidak! Mom”


“Mommy bangun, Mommy janji tidak akan meninggalkan Sona sebelum menikahkan?” ucap Sona, dia memegang wajah sang ibu yang sudah pucat, mencoba membangunkannya dengan berbagai cara.


“Mom! Buka matamu Mom, jangan membuat Sona takut Mom”


“Mommy!!!!”


Sona berteriak sangat keras, tangisannya kembali membasahi pipinya dan juga pakaian sang ibu.


“Mommy!!! Bangun!!”


“Sona sudah cukup ...” ucap Kevin, pria itu menarik Sona untuk menjauh dari sang ibu, dia kembali memeluk tubuh Sona yang langsung melakukan perlawanan saat dirinya menjauh dari sang ibu.


“Tidak! Aku mohon Kevin lepaskan aku, Mommy hanya tertidur, dia ... dia”


Rasanya tubuh Sona sudah tidak mampu untuk menumpuk semua beban tubuhnya, hingga dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai saat melihat sang ibu yang mulai dibawa keluar oleh para suster.


“Mom ... ” Detik itu juga Sona pingsan dalam pelukan Kevin.


********


Kenyataan yang tidak bisa dihindari oleh setiap makhluk hidup adalah kematian, semua yang bernyawa akan pergi jika masanya sudah tiba sesuai dengan garis takdir, sekarang Sona hanya bisa menatap makam sang ibu yang sudah dipenuhi dengan bunga, satu persatu orang mulai meninggalkan makam, hanya tersisa Kevin dan Sona yang masih setia disana.


“apa sekarang Mom bahagia? Bisa bertemu dengan ayah?” ucap Sona, dia mengusap batu nisan yang bertuliskan nama sang ibu. Disebelah makam sang ibu ada makam sang ayah.


“Sona, ayo kita kembali” ucap Kevin, pria itu tidak sedikit pun meninggalkan Sona.


“Mom, sekarang aku harus bagaimana? Aku sendirian di dunia ini, aku juga ingin ikut bersama kalian”

__ADS_1


“Sona, aku ada disini, aku tidak akan meninggalkanmu, ayo kita kembali”


Kevin membantu Sona untuk bangkit, menggandeng tangan gadis itu untuk berjalan meninggalkan makam sang ibu dan kembali kerumah Sona. Ibu, ayah dan Lisa sudah menunggu disana.


Selama diperjalanan kembali pulang hanya tatapan kosong yang Sona tunjukan pada dirinya,  saat sampai rumah pun gadis itu hanya lebih banyak diam dari biasanya, dia berjalan ke kamar sang ibu, memeluk bantal yang selalu digunakan sang ibu dan mulai menangis lagi.


“Mommy, aku takut” ucap Sona, dia melihat ada surat yang tergeletak di atas laci disamping ranjang, dia mengambil dan membacanya secara perlahan.


' putriku ....


Jika kamu sudah membaca surat ini itu berarti aku sudah bergandengan tangan dengan ayahmu, jangan bersedih sayang ... Tugasku sudah selesai sekarang, aku yakin jika Kevin adalah pria yang pantas untuk dirimu ...


Maaf, sebenarnya Mom sudah lama mengetahui penyakit yang sedang Mom derita selama dua tahun terakhir .... Kamu harus menjadi istri yang baik untuk suamimu nanti .... Maaf Mommy harus pergi sebelum bisa melihatmu menikah ....


Sona, ibu tahu jika dirimu belum siap untuk menikah, namun Mommy lebih takut untuk meninggalkanmu sendirian, rasanya lebih baik Mommy pergi lebih awal daripada melihatmu takut untuk pergi meninggalkan Mommy sendirian..


Sona, jangan pernah menyesali apapun yang terjadi nantinya, jadilah seorang istri yang selalu mengerti, jangan banyak menuntut sesuatu pada suamimu...


Rasanya Mom sudah cukup bahagia selama hidup bersama Sona, bolehkan Mommy pergi? Ingatlah satu hal jika Mommy akan selalu ada dihati Sona ... Rasanya tangan ini sudah tidak mampu untuk menulis hal yang ingin Mom sampaikan padamu sayang, selamat tinggal ... '


Sona menyesali semua hal yang telah terlewatkan dalam hidupnya, jika Sona lebih awal ibunya mengidap penyakit maka dia akan lebih memilih untuk bekerja daripada harus berkuliah, rasanya hari ini sudah banyak air mata yang Sona keluarkan, entah sudah berapa kali dia menyesali semua yang terjadi.


Kevin datang ke dalam kamar ibu Sona, dia membawa makan malam untuk gadis itu, jika diingat Sona belum makan apapun hingga sekarang.


“Sona, kamu harus makan” ucap Kevin, dia meletakan makannya di meja dan berjalan mendekati Sona.


“Kevin, maukah kamu berjanji satu hal padaku?” tanya Sona, kini gadis itu sedang menatap Kevin dengan wajah yang pucat dan dipenuhi dengan sisa air mata.


“jika aku mampu, aku akan melakukannya Sona”


“berjanji-lah untuk tidak meninggalkan diriku”


Kevin mengangguk pada Sona, dia menarik gadis yang dia cintai ke dadanya, menyuruh gadis itu untuk bersandar dan menyalurkan semua kehangatan yang belum pernah Kevin berikan pada gadis manapun, rasanya Kevin tidak bisa berbuat apa-apa saat Sona terpuruk dalam kepergiaan sang ibu, hanya dengan seperti Kevin bisa mengurangi kesedihan Sona walau hanya sedikit.


“terima kasih” ucap Sona sebelum rasa kantuknya membawanya pergi ke alam mimpi.


Mendengar nafas Sona yang sudah teratur, secara perlahan Kevin menidurkan Sona diranjang sang ibu, menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis itu, lalu dia mengecup kening Sona sebagai ucapan selamat tidur untuknya, lalu secara perlahan meninggalkan sang gadis untuk beristirahat karena keesokan harinya dia harus menghadapi para undangan walau dirinya belum siap.


'menikah? akankah aku bisa bertahan tanpa adanya cinta didalam kehidupan rumah tangga kita? atau pada akhirnya aku hanya akan menyusahkan Kevin selama hidup bersama di satu atap yang sama'


Ku paksakan diriku untuk menatap kearah jendela, menanti bangunnya sang fajar yang mungkin akan menjadi kebiasaan baru untuk Sona, kehidupan ini akan terus berjalan sesuai dengan apa yang kaki kita langkah, jika menikah bukan jalan terbaik untuk Sona dan Kevin mungkin perpisahan masih bisa menjadi pertimbangan.


Hari ini, setiap detik yang berlalu akan menjadi menit yang tidak berhitung, hari ini cuaca seperti mendukung mereka untuk mengikrarkan janji suci, sesuai dengan keputusan keluarga Kevin, mereka akan mengikrarkan janji mereka di sebuah gereja sederhana dan satu pesta yang dilaksanakan di rumah Kevin.


“kamu sudah bangun Sona?” Risa bertanya saat dirinya baru saja ingin membangunkan Sona, dia langsung mendekati Sona yang layaknya seperti ibu.


Sona tersenyum sebagai jawaban untuk pertanyaan yang tidak sulit untuk dikatakan, Risa dengan lembut mengusap kepala Sona dan tersenyum padanya.


“mandilah, aku yang akan membantumu”


Satu anggukkan lagi Sona berikan, dia tidak bisa mengeluarkan satu suara saat Ibu Lisa bertindak seperti, membuat rasa sedih sekaligus senang yang Sona rasakan ingin meledak saat itu juga.


Tak lama Risa meninggalkan Sona begitu saja tanpa adanya satu ucapan yang dikeluarkan sebagai tanda dia akan pergi, Sona kembali menatap kearah jendela kamar yang di luarnya masih tampak gelap dengan satu cahaya lampu yang menerangi jalan, namun dia memutuskan untuk berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Memandangi cermin yang memberikan gambaran pada Sona yang sudah memakai gaun pengganti yang hanya dipakai satu kali dalam seumur hidupnya, dia menatap dirinya yang akan mengubah dirinya keesokan harinya, besok tidak lagi Choi Sona, tidak ada lagi namanya seorang gadis dan tidak ada lagi yang akan menanyakan kapan dirinya akan menikah.


Para penata rias sibuk mempercantik dirinya di depan cermin, setelah membuka kedua mata dari tidurnya kepribadian Sona menjadi lebih tenang dan cenderung diam, dia seperti pasrah menyerahkan dirinya pada apa yang akan terjadi tapi bukan berarti Sona menyesali telah apa yang terjadi, dia hanya berpikir untuk menjalankan, banyak sekali pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya setiap kali dirinya melihat ke arah cermin.


'apakah aku bisa mencoba membuka hati untuk pria yang sudah lebih dahulu mencintainya? apakah semua akan baik-baik saja saat aku hanya melakukan kewajiban sebagai istri tanpa ada rasa cinta? bagaimana dengan Kevin?


Mungkinkah rumah tangga ini menjadi satu kecanggungan yang aku rasakan?'


Hingga akhirnya satu persatu para perias meninggalkan ruangan, Sona menatap dirinya yang sudah sangat cantik dengan semua hiasan yang dipakai di tubuhnya, Lisa sahabatnya masuk kedalam kamar untuk mengajaknya berangkat menuju gereja, waktu juga sudah menunjukan pukul 8 pagi.


“Sona selamat untuk pernikahanmu, kamu sangat cantik hari ini, ayo kita harus segera berangkat” ucap Lisa dia berjalan dengan gaun yang diberikan oleh Han, gaun yang cukup memperlihatkan tubuh Lisa, dia membantu Sona untuk berjalan keluar menuju mobil yang sudah disiapkan.


Sebelum meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan bersama ibu dan ayah, Sona menyempatkan dirinya untuk menatap rumah itu, dia mengusap air mata yang mengalir saat membayangkan melihat wajah sang ibu dan ayah yang melambaikan tangan padanya sebagai salam perpisahan.


Mobil berjalan meninggalkan halaman rumah Sona, semua terasa begitu menyakitkan di setiap langkah meninggalkan rumah, Sona menatap buket bunga yang ditangannya, itu adalah buatan ibunya sebelum dia meninggalkan, ada sepucuk surat di dalam sela-sela bunga, Sona mengambilnya lalu membawanya.


'lembaran baru akan terjadi didalam hidupmu, setiap langkahmu dan dimana dirimu berada, Mom selalu menyayangimu, selamat untuk pernikahanmu'


Sona kali ini tersenyum saat melihat surat itu, dia tidak bisa terus bersedih dan memaksakan semuanya, 'mom, i miss you and thank, harapku semoga aku bisa bahagia, apa mom senang melihat diriku yang sudah memakai gaun ini?'

__ADS_1


Tak lama mobil itu sudah sampai di depan gereja yang didalam sudah banyak para undangan menunggu sang mempelai wanita, saat kaki Sona menginjak di karpet merah pandangannya langsung tertuju pada Kevin yang sudah menunggu di depan penghulu. Di Depan pintu masuk sudah ada ayah Lisa yang siap membawa Sona kedalam. Semua pemandangan itu membuat semua rasa dihati Sona semakin meluap, dibantu oleh Lisa dia mulai berjalan mendekati ke pintu masuk.


Sona merangkulkan tangannya ke tangan Lian, secara perlahan mereka berjalan melewati semua para undangan yang langsung berdiri dan menatap Sona yang berjalan begitu tenang namun tetap ada ketegangan di dalam hatinya, langkah demi langkah dia lewati hingga terdengar suara musik yang menjadi pengiring Sona, itu adalah lagu yang seperti mewakili setiap perasaan Sona.


'I Love you thousand year'


'Heart beats fast


Colours and promises


How to be brave?


How can I love when I'm afraid to fall?


But watching you stand alone,


All of my doubt suddenly goes away somehow .... '


Setiap lirik yang terdengar dari alunan musik itu membuat kegugupan Sona semakin jadi, dia menggenggam erat buket bunga yang ada di tangannya, lalu itu memiliki makna yang sangat dalam jika diarti bagi Sona.


'one step closer ....


I have died every day waiting for you


Darling, don't be afraid.


I have loved you for a thousand years


I'll love you for a thousand more .... '


Sona menatap semua para tamu yang menatap ke arahnya, lalu tatapannya teralihkan pada pria tampan yang sudah siap mengulurkan tangannya untuk Sona saat wanita itu sudah sampai di altar.


'Time stands still


Beauty in all she is


I will be brave


I will not let anything take away


What's standing in front of me


Every breath


Every hour has come to this ... '


Tatapan Kevin selalu tertuju pada Sona yang kini mulai melangkah mendekatinya, pria itu mengulurkan tangannya pada sang gadis lalu secara perlahan menggandeng tangan sang gadis untuk berdiri didepan pendeta dan musik pun berhenti, semua orang terdiam untuk menyaksikan kedua orang yang akan mengikrarkan janji suci mereka.


Tubuh Sona bergetar hebat saat dirinya sudah berada di altar, tangan Kevin terasa begitu hangat saat tangan mereka saling bergandengan, membuat segalanya menjadi lebih tenang, pak pendeta mulai membacakan dan hingga akhirnya janji suci itu terucapkan dari mulut Kevin lalu Sona, semua para undangan bertepuk tangan saat menunggu kedua mempelai melakukan ciuman mereka.


Sona tampak gugup saat tangan Kevin yang melingkar di pinggang, kemudian pria itu menarik tubuh Sona untuk merapat dengannya, lalu pria itu memegang kepala Sona dan mencium bibir itu pada detik berikutnya, itu hanya ciuman biasa yang tidak berlangsung lama namun cukup membuat Sona sampai membulatkan kedua matanya saat suara ketikan dari para undangan yang membuatnya malu.


“Sona, kamu sangat cantik hari ini dan aku tidak tahu harus mengatakan bagaimana bahagianya diriku sudah memilikimu secara seutuhnya”


“aku harap kamu tidak--”


Secara tiba-tiba Kevin mencium kening Sona yang membuat gadis itu tidak melanjutkan ucapannya, ini pertama kalinya Sona merasakan dicium kening nya, dia sampai menyentuh bagian keningnya yang masih terasa, entah kenapa dia jadi tersenyum karena perbuatan manis Kevin.


Semua mulai meninggalkan ruangan, Sona dan Kevin pun sudah mulai meninggalkan altar dan berjalan menuju rumah Kevin untuk merayakan pesta mereka, buket bunga itu masih ada ditangan Sona, dia ingin memberikan pada seseorang saat waktunya tiba.


Kali ini Sona dan Kevin satu mobil, semua orang membiarkan mobil pengantin untuk pergi lebih dahulu dan sisanya menyusul di belakang, mereka berdua melambaikan tangannya pada semua orang sana.


“Sona” panggil Kevin, dia mengambil tangan Sona yang terdapat cincin pernikahan mereka, dia lalu mencium telapak tangan itu dan tersenyum pada Sona.


“Ya .. Kevin” ucap Sona, entah kenapa semua ini membuatnya cukup canggung.


“Can't l touch your heart?” tanya Kevin


“aku tidak tahu tapi aku akan mencobanya” jawab Sona.


“tidak apa-apa, aku akan menunggu”


Kali ini Sona yang lebih dahulu mendekati Kevin, wanita itu menyandarkan kepalanya pada Kevin, sudah saatnya Sona menerima semua ini dengan lapang dada, setidaknya jika memang sulit untuk mencintai Kevin maka Sona masih bisa percaya padanya untuk menempuh masa depan bersamanya, Sona juga membalas genggaman tangan Kevin, dia tersenyum saat merasakan jantung Kevin yang berdetak sangat kencang dari dekat, mereka menikmati waktu yang ada bersama dalam ikatan yang baru saja mereka bangun dan akankah berjalan dengan baik tanpa menyakiti satu sama lain atau sebaliknya, semua itu tergantung pada mereka dan garis takdir.

__ADS_1


__ADS_2