![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Seperti sebuah keajaiban yang tidak pernah Lisa harapan ini mulai membuat dirinya percaya jika selama ini memang dirinya harus lebih berani untuk menyatakan cintanya pada Han dan kepeduliannya terhadap area sekitar, dulu jika Lisa hanya perduli pada rumah sakit dan para pasien kini perhatian harus lebih difokuskan pada Han.
Kepergian sang ayah membuat pria itu kembali merasakan jika dirinya gagal menjadi anak yang berbakti, kematian Tuan Kim saja sudah membuat Han kehilangan semangat untuk menunjukan jika Han mampu menjalankan Grup Kim walau dia tidak pernah mempelajari bidang itu namun kini hanya butuh enam bulan untuk mengatasi semua kebangkrutan dan korupsi di perusahaannya bisa diatas tentu saja dengan dukungan Lisa dan bantuan dari ayahnya.
Itu juga merupakan satu alasan kenapa Han begitu hancur sekarang, perasaan di masa lalu tentang sang ayah kembali menghantui pikirannya, dia memang lemah dalam hubungan perasaan dan juga sebuah kejadian yang bisa dibilang ini merupakan traumanya sejak kecil.
Pasalnya sebelum Han diangkat oleh keluarga Kim, masa kecil sangatlah tidak bisa dikatakan bahagia. Saat usianya masih 5 tahun dia harus terpaksa pergi dari panti asuhan karena tempat itu sudah tidak beroperasi lagi dalam kata lain panti asuhan itu sudah tidak punya sponsor untuk kehidupan mereka, hingga akhirnya dia dipindahkan ke gangnam ke yayasan yang lebih baik.
Di sana Han didik dengan keras oleh pemilik panti asuhan itu hingga Han harus melihat teman-teman kesakitan karena tekanan yang diberikan pemilik menjadi Han begitu membenci sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan, dua tahun tinggal disana benar-benar bagaikan tinggal didalam sangkar emas memang terlihat bagus namun didalamnya seperti neraka untuknya.
Saat usianya 7 tahun, Han diasuh oleh seorang pria yang awalnya Han pikir adalah seorang ayah yang baik untuknya namun setelah enam bulan tinggal bersama lagi-lagi kekerasan di terima oleh Han disaat usianya yang seharusnya menikmati dunia persekolahan, Han memang diberikan fasilitas terjangkau seperti sekolah dan kebutuhan lainnya, namun dia harus belajar dengan baik dan tidak boleh membuat satu kesalahan. Jika itu terjadi maka pukulan disekujur tubuhnya akan diberikan oleh ayahnya.
Hingga akhir Han percaya jika suatu hari nanti akan ada seorang yang baik mau merawatnya dengan baik tanpa ada kekerasan, dan itu benar saat usianya 9 tahun, Han saat itu memutuskan untuk kabur dari rumah itu dan bertemu dengan nyonya Kim. Pertemuan mereka terjadi saat Han ingin pergi menggunakan kereta namun dia tidak mengerti dan Nyonya Kim-lah yang membantunya. Hingga melewati proses yang lama Han resmi menjadi anak angkat keluarga Kim, yang memang saat itu belum memiliki seorang putra atau anak.
Saat itu hidup Han jauh dari kata sebuah kekerasan atau tekanan seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu, Han sangat senang tinggal bersama dengan Tuan Kim dan Nyonya Kim namun sebuah kecelakaan terjadi saat mereka akan berlibur ke pulau jeju, dimana Han harus kehilangan ingatannya dimana dia lupa jika pernah hidup di panti asuhan atau tempat lainnya, dia hanya tahu jika dia itu anak dari Tuan Kim dan semua itu disetujui oleh ayah dan ibunya hingga menyuruh orang lain untuk bungkam tentang kehidupan Han di masa lalu.
Hingga saat akan memasuki ke sekolah menengah atas atau SMA, Han sangat menyukai kegiatan di bidang olahraga di sekolah dan dia juga beberapa kali ikut perlombaan, saat Han akan menghadapi kelulusannya dan menjelang dirinya akan mengikuti perlombaan basket tingkat internasional tiba-tiba kepalanya terbentur bola basket cukup kuat dan tetap mengenai kepala yang dulu bekas kecelakaan.
Tiba-tiba saja memori tentang masa lalu Han kembali berputar secara terus menerus hingga rasa sedih akan trauma mulai menghantui kehidupan Han, pria itu berubah 180° dari sebelumnya, sikapnya menjadi lebih pendiam dan selalu menghindari keluarganya, Han takut jika semua itu akan terjadi lagi.
Semua itu menjadi semakin buruk ketika kematian sang ibu yang saat itu masih Han butuhkan kasih sayang dan sandara terakhir bagi Han, pria itu begitu sedih dan kehancuran kehilangan sosok ibu yang selalu memberikan kehangatan yang jarang didapatkan sejak lahir, masalah itu semakin dipersulit saat Han tahu jika ayahnya memiliki kekasih lain di belakang sang ibu angkatnya, wanita itulah yang sebenarnya ibunya Sean.
Setelah masalah yang begitu banyak dan terlalu sulit untuk Han tanggung sendiri, setelah lulus pria itu memutuskan untuk pergi dari rumah dan melanjutkan pendidikannya di negara sakura, bertemu dengan keira juga merupakan satu hal yang Han syukuri karena pria itu bisa melewati sama sulit hidupnya dan trauma mendalam.
Hingga akhirnya tujuan yang selama ini Han cari akhirnya memiliki titik terang dalam perjalanan hidupnya, bertemu dengan Lisa. Gadis yang dia temui tanpa sengaja dan pertemuan lainnya yang menumbuhkan benih cinta hingga dirinya bisa memiliki Lisa seutuhan dalam ikatan sehidup semati dan satu cinta untuk satu kehidupan.
Hari berlalu begitu saja …
Sudah tiga hari Lisa dan Han tidak dirumah sang ibu kandung, pria itu banyak sekali berbicara dengan sang ibu tentang segala hal yang bisa Han ceritakan pada ibunya, awalnya Han ingin langsung kembali namun Lisa terus meyakini Han jika pria itu butuh pendekatan dengan sang ibu, jika dia tidak bisa menjadi anak bagi keluarga Kim dan ayah kandungnya, setidaknya dengan tersisanya ibu kandungnya Han masih bisa membuktikan jika dirinya juga seorang anak baik.
Ada banyak sekali masalah di dunia ini dan juga persoalan yang belum tentu memiliki cara penyelesaian, namun jika seseorang terus mengikuti ketakutan akan masa lalu kehidupannya bukankah itu sama saja menyakiti diri sendiri jika sedikitpun tidak ada keberanian dalam hidupnya.
Itu hal selama ini Han ingat dalam hidupnya setelah bertemu Lisa, ibarat kata Lisa bagaimana seperti satu titik cahaya yang mampu menghilangkan sejuta kegelapan dalam hidupnya, jika dikatakan Lisa seperti gadis pada umum itu benar namun jika permasalahan hati atau melibatkan banyak aspek kehidupan, Lisa bisa dikatakan wanita dewasa di usianya yang akan menuju 20 tahun.
Seperti sekarang Lisa dan Han sedang duduk di bukti dihalaman yang langsung terhubung dengan kebun anggur milik sang ibu, keduanya sedang melewati dinginnya udara sambil melihat indahnya langit malam, dengan Lisa yang selalu menyandarkan kepalanya di bahu lebar Han dan kedua tangan yang tidak pernah lepas, selalu terikat seperti seutas tali atau benang merah.
“Lisa?”
“Hm?”
“terimakasih”
Lisa sedikit mengecek posisi kepalanya untuk menatap Han, dia juga sedikit bingung hingga secara tidak sengaja mengangkat alisnya. “terimakasih untuk apa?”
“terimakasih telah menyakiniku untuk tetap disini, terima kasih telah percaya jika kita bisa bersama dan terimakasih telah mencintaiku setulus ini”
“aku rasa perjuanganmu untuk bisa menikahiku, setimpal dengan cinta yang kuberikan bahkan kamu bilang cintamu tidak bisa dihitung dan diukur dengan apapun, bukankah itu lebih besar daripada cintaku?”
Han menggelengkan kepalanya, dia mengambil tangan Lisa untuk mengecup punggung tangannya, di tangan kiri Lisa terlihat jelas cincin pernikahan mereka dan gelang yang pernah Han berikan pada wanita itu saat di jepang.
“cinta, kamu tahu Lisa kenapa cinta itu kadang menyakitkan dan terkadang juga begitu indah?”
“tidak, memang kenapa?”
“karena cinta tidak bisa diprediksi akan sangat menyenangkan atau sebaliknya akan sangat sakit, cinta satu kalimat lima huruf dan sejuta makna, itulah kenapa cinta tidak pernah sama dalam satu pendapat walau kita mengatakan saling mencintai karena setiap orang punya pengertian sendiri tentang cinta, jadi daripada menentukan cinta siapa yang lebih besar akan lebih baik jika kita percaya cinta kita itu akan selalu sama dan tak akan berubah, aku selalu membuat harapan jika cinta kita akan selalu abadi hingga 7 kali reinkarnasi kita” ucap Han, tatapan pria itu hanya benar-benar tertuju pada tangan mereka yang terdapat cincin pernikahan di jari manis masing-masing.
“Han, kau tahu kenapa saat itu aku lebih memilihmu daripada Sean?”
“aku tidak tahu” ucapan, dia sedikit menatap kearah Lisa karena rasa penasarannya.
“karena--”
__ADS_1
“karena apa?”
“karena kau adalah jodohku” ucap Lisa, dia tersenyum pada Han.
Dengan gemas Han mencubit pipi Lisa lalu mencium keningnya hingga lebih dari 10 detik.
“l love you more and be mine”
Han menarik Lisa untuk segera memeluk dirinya karena Han masih jarang melakukan, dia mengecup bibir Lisa beberapa kali hingga akhirnya keduanya terbawa suasana indahnya malam dengan kehangatan yang menutupi dingin udara malam.
“l love you too Han, ayo kita kembali”
Lisa mengulurkan tangan pada Han bermaksud untuk membantu pria itu bangun dari posisinya.
“salju?”
Saat Han baru saja bangun, tiba-tiba saja salju turun di sekitar mereka dengan butiran kecil seperti kepingan atau seperti dedaunan bunga sakura berguguran.
Lisa, dia begitu bahagia bisa melihat salju pertama turun di tempat yang indah itu bersama orang cintai, tangan mungilnya menyentuh salju yang turun di sekitarnya, bahkan beberapa kali Lisa menunjukan senyum bahagia penuh antusias. Namun semua itu menjadi lebih indah saat Lisa menatap mata Han yang hanya tertuju pada dirinya.
Di tengah-tengah jauhnya salju, Lisa bisa merasakan satu hal jika semua ini sudah jauh lebih baik dari hal yang diharapkan, berpisah selama enam bulan dan sekarang semua yang mereka lewati begitu indah hingga Lisa merasa tidak membutuhkan liburan kemanapun.
Dia kembali memeluk tubuh kekar Han, dia menghirup aroma khas Han hingga rasanya begitu membuat Lisa seperti berada di dalam dunia dirinya. Dan Han, dia juga melihat semua keindahan ini sampai seperti mengucapkan kata pun tidak akan cukup untuk mengatakan jika Han benar-benar yakin saat ini dan seterusnya cintainya hanya milik Lisa dan seterusnya dia akan selalu membahagiakan dirinya.
Han dan Lisa tidak bisa menghantar keberangkatan pasangan Kevin dan Sona saat mereka akan melakukan honeymoon, pasalnya Han dan Lisa baru saja kembali dari rumah sang ibu setelah mengambil cuti selama tiga hari, jadi ketika Sona dan Kevin pergi Han dan Lisa harus kembali pada pekerjaan mereka yang setiap saat selalu membutuhkan mereka berdua walau terkadang tidak, tapi kali ini Han memang benar-benar sibuk dengan tender barunya yang akan melakukan pertemuan dengan para investor.
Padahal seharusnya Han lebih memikirkan untuk mengajak Lisa melakukan honeymoon untuk kelangsungan dari junior Kim namun seperti itu hanya akan menjadi masalah kedua bagi Han, dia pria yang sibuk jika sudah memasuki musim Winter akan banyak sekali perusahaan yang mengajaknya bekerja sama dan banyak juga yang ingin menaruh saham di Grup Kim.
Tapi kenapa saat sibuk-sibuk dia dengan setumpulkan persetujuan dari banyak perusahan, Han bisa meninggalkannya begitu semua itu dengan satu panggilan masuk dari wanita yang bersama ‘Yoon Yeri Ahn’ pria itu bahkan tanpa berpikir panjang langsung meninggalkan kantornya dan segera pergi ke apartemen lamanya, padahal dia baru saja tiba di kantor satu jam lalu.
Panggilan itu begitu membebani pikirannya seperti suatu hal yang tidak bisa dianggap remeh, seperti memang itu layak untuk di prioritaskan, Han melajukan mobil di kecepatan 120 km/jam di jalanan kota Seoul yang sedang banyak sekali mobil juga ikut melintas, dia begitu gelisah sehingga secara tidak sadar menggigit jari telunjuknya selama perjalanan.
Sesampainya Han langsung membuka pintu itu dengan id card miliknya, dia berlari menuju kamarnya dimana Yeri berada, Han terdiam untuk sesaat melihat apa yang terjadi pada wanita itu, dia sedikit gugup saat melihat Yeri yang sedang memberikan ASI pada bayinya, dengan ragu dia melangkah mendekati wanita itu.
“Tuan, kamu sudah datang, aku tidak mendengar kedatanganmu” ucap Yeri, dia menaruh bayinya dan merapikan pakaiannya.
“aku memang tidak membunyikan bel, kita bisa berbicara diluar?”
Yeri mengangguk, dia membiarkan Han untuk melangkah lebih dahulu setelah itu dia mengikuti dari belakang, kini keduanya duduk diruang tamu dengan posisi saling berseberangan, Yeri terlihat gugup sambil dia memainkan jari-jari. Dia tahu jika tindakannya begitu gegabah hingga membuat menyeret pria itu yang dia tahu pasti sibuk dalam urusan kantornya.
“Yeri, aku yakin kamu tahu jika aku ini sangat sibuk, jadi tolong jangan mengulur waktu” ucap Han, dia menatap Yeri dengan sedikit kesal dan dia juga begitu bodoh langsung sama pergi tanpa memikirkan apapun.
“beberapa hari yang lalu s-saat aku ingin membeli beberapa bahan makanan, aku bertemu dengan orang-orang yang mengincar diriku, mereka sudah tahu dimana aku tinggal dan mereka mengikuti hingga ke apartemenmu, s-saat ini aku begitu takut, aku tidak mau bertemu dengan mereka, jadi aku langsung menghubungimu, maafkan aku Tuan Kim” ucap Yeri, dia bukannya wanita yang tidak tahu diri namun jika wanita merasa terancam dia akan cenderung mencari pertolongan pada pria yang menurutnya mampu membantu itu juga alasan kenapa Yeri langsung menghubungi Han.
“baiklah, jangan menangis seperti itu aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, sudah berapa kali mereka kesini?”
“selama seminggu ini sudah tiga kali mereka mendatangi apartemen ini”
“baiklah aku akan berbicara dengan keamanan di apartemen ini untuk memberikan keamanan khusus untukmu”
“terimakasih Tuan Kim” ucap Yeri.
Satu detik berlalu, tiba-tiba saja bayi Yeri kembali menangis hingga membuat Han tidak jadi mengajukan pertanyaannya, dia membiarkan wanita itu untuk melihat bayinya. Namun setelah Yeri masuk tangisan bayi itu semakin kencang saja hingga membuat Han harus ikut mencampuri urusan mereka.
“kenapa suhunya bisa begitu panas? Sudah berapa hari?” tanya Han saat dia menyentuh kening bayi di gendongan Yeri.
“baru pagi ini tubuhnya begitu panas Tuan Kim, tujuanku menghubungi aku minta diantarkan kerumah sakit untuk memeriksa kondisi bayiku, aku terlalu takut untuk pergi sendiri, bisakah Tuan Kim menghantarku? Aku tidak mengerti apapun jika bayiku sudah sakit”
“baiklah”
Han menghubungi sekretarisnya setelah mereka di dalam mobil.
__ADS_1
“Hana aku akan kembali setelah makan siang, bisakah kau saja menghadiri rapat nanti?”
“baiklah, aku akan menghadiri pertemuan malam ini, jadi siapkan juga dokumen yang dibutuhkan”
Dengan secepat dia menaruh ponselnya di dalam saku jasnya, tak lama kemudian pria itu melanjutkan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Di Dalam mobil itu bayi itu terus menangis hingga rasanya Han begitu sedih melihatnya, semua ini membuat dirinya menjadi mengerti kesulitan yang Yeri rasakan tanpa adanya seorang suami disisinya, walau Han tidak tahu apapun tentang masalah wanita itu namun untuk keadaan seperti ini siapapun pasti akan memiliki pemikiran tersendiri.
Tak lama mereka berhenti didepan rumah sakit, Han dan Yeri membawa bayi itu langsung pada ruangan khusus bayi yang tentu saja langsung ditangani oleh ahlinya.
Yeri tanpa seperti menahan tangisannya saat duduk disamping sang bayi yang kini sudah tertidur di ranjang, dia hanya wanita yang jatuh cinta lalu hingga hamil diluar pernikahan dan memiliki banyak masalah dengan banyak rentenir, lalu dirinya diberikan sebuah satu anak yang membuat dirinya menahan untuk tidak bunuh diri karena tiba-tiba hati dan nurani seorang ibunya keluar hingga akhirnya dia menjalani kehidupan yang sulit, dia memang tidak tahu apapun tentang gejala yang bisa mengakibatkan bayinya sakit namun dia akan terus belajar agar menjadi ibu yang baik sekaligus ayah untuk bayinya sampai dia dewasa.
“minumlah, apa uang yang kuberikan tidak bisa membuatmu makanan dengan baik? Lalu pakaian ini …. Bukankah aku sudah membelikan beberapa pakaian padamu” ucap Han, dia memberikan segelas kopi yang dibeli di depan rumah.
“kamu tidak membeli untukmu?” tanya Yeri saat dia menerima kopi itu.
“oh itu, kopiku tumpah saat berpapasan dengan seorang dokter di lobi tadi, bagaimana dengan kondisinya”
“dia sudah membalik, dia mengalami demam untung saja kita-- maksudku dia cepat ditangani” ucap Yeri, dia tidak mengerti kata itu keluar begitu saja dari mulutnya hingga dengan gugup dia meminum kopi panas itu. “Ahk ..” tentu saja lidahnya langsung mengeluarkan kopi itu lagi.
Han yang melihat itu langsung mengambil kopi itu dan segera mengambil tisu lalu memberikannya pada Yeri.
“kopi ini masih panas, bisakah lebih berhati-hati? Yeri aku tahu kamu begitu gelisah dalam banyak hal tapi jangan mencoba mengabaikan dirimu dan bayimu, jika seperti ini aku semakin takut untuk meninggalkan kalian” ucap Han, walau dia berbicara dengan Yeri tapi tatapannya hanya tertuju pada bayi Yeri.
‘jika anda seperti ini terus bukankah bisa membuatku menjadi jahat Tuan Kim? Aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan lain namun keegoisan selalu menyakitiku’ ucap Yeri dalam hatinya, dia bukan gadis polos yang tidak tahu arti dari sebuah perhatian namun bukan berarti dia juga wanita yang mengerti sebuah hubungan pernikahan dan tentu saja perasaan wanita lain, tapi situasi seakan-akan terus mendorongnya untuk membuat sebuah pilihan sulit.
Tak lama kemudian dokter datang bersama dengan satu suster disampingnya, keduanya berjalan dekati Yeri dan Han yang kala itu sedang terdiam.
“apakah kamu suaminya?” tanya dokternya tersebut.
Han mendengar itu tentu saja terkejut, dia sampai menatap dokter itu sambil mengangkat satu alisnya.
“aku--aku bukan suami, aku hanya mengantarnya saja”
“kalian tampak serasi, baiklah ibu Yeri, bayi baru bisa kembali setelah suhu turunnya kembali normal, aku tahu jika ada baru menjadi seorang ibu jadi ingin memberikan buku panduan padamu, aku harap itu berguna” ucap dokter itu. Dia memberikan buku yang cukup tebal pada Yeri, lalu izin meninggalkan ruangan itu.
“terimakasih dokter”
“aku rasa itu bagus untuk dirimu, kau harus lebih menjadi seorang ibu yang hebat kedepannya dan didiklah anakku menjadi seseorang yang kuat” ucap Han. Walau dia berkata seperti dirinya mengerti kerasnya hidup mengurus anak sendirian tapi memberikan motivasi pada seseorang bukankah itu hal baik?
“terimakasih untuk segalanya Tuan Kim, aku harap kehidupan rumah tangga kalian selalu bahagia karena telah menolong diriku” ucap Yeri.
“sudah waktunya makan siang, ayo makan siang bersama, dan membeli pakaian baru untukmu”
*******
Han baru saja kembali pada pukul 11 malam, pria itu sibuk dengan urusannya setelah kembali dari rumah sakit dan melakukan pertemuan pada malam harinya, doa begitu telah hingga melewatkan makan malamnya yang dia janjikan pada Lisa, dia kembali kerumah dengan suasana yang sudah gelap.
Han melangkah mendekati Lisa yang sudah tertidur, dia membuka sepatu dan jasnya, lalu duduk disamping Lisa yang tertidur.
“maafkan aku, aku lupa jika memiliki janji makan malam diluar” ucap Han, dia mengecup kening Lisa hingga beberapa detik, kemudian saat dia ingin meninggalkan ranjang tiba-tiba saja tangan Han ditarik oleh tangan Lisa yang langsung membuat dirinya membalik tubuhnya lagi.
“Han, kamu baru kembali?”
Han tersenyum, dia kembali duduk disisi Lisa dan menggenggam tangan sang istri “ya, aku memiliki banyak pertemuan hari ini, aku begitu lupa menghubungimu, maafkan aku sayang, aku janji tidak akan melakukannya lagi”
Lisa menggelengkan kepalanya, “tidak perlu, aku mengerti jika kamu sibuk Han, jadi jangan merasa bersalah seperti ini”
“baiklah, istirahatlah, aku ingin mandi dulu”
Han melepaskan genggaman tangannya Lisa, diiringi dengan jatuhnya cincin pernikahan yang Han pakai di lantai namun pria itu tidak menyadari dan hanya Lisa yang mendengar itu, saat Han pergi Lisa mengambil cincin pernikahan itu yang tiba-tiba saja membuat hatinya sedih entah karena Han yang tidak merasa cincinya jatuh atau akan terjadi sesuatu yang buruk.
“aku harap ini bukan pertanda buruk”
__ADS_1