![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
di ruang operasi …..
ketegangan mulai terasa saat Lisa mulai berbaring diranjang ruang operasi, dia ruang yang terasa lebih dingin dan juga sangat sepi, hanya beberapa orang di dalam sana seperti dokter Han, doctor Park dan beberapa suster yang membantu mereka.
detak jantungnya berpacu lebih kencang dari biasanya, tangannya mulai gemetar dan rasa gugup terus menyelimuti hatinya, dalam hati Lisa terus berkata jika dia pasti bisa melewati semua ini dengan baik namun jika memang tuhan sudah menghendaki dirinya untuk pergi maka Lisa rela untuk dipanggil karena hidupnya sudah cukup merasakan kebahagian, Lisa tak mau egois untuk semua yang sudah di takdirkan Tuhan.
Dokter Han, kali ini aku lebih wajahnya yang berbeda dari biasanya, pria itu terlihat sangat tertekan dan juga gugup, dia bahkan tak mau menatap mata Lisa yang kini sudah ada di hadapannya, dengan wajah yang tertutupi masker.
“Lisa, kamu akan disuntik bius, beberapa jam kamu akan tertidur dan tak akan merasakan sakit saat di operasi” ucap Dokter Han.
dia memberanikan dirinya untuk menatap Lisa yang kini wajahnya mulai pucat dan terlihat sangat lemas, Han menatap mata itu dengan sedih. Han hanya bisa berharap dia bisa melakukan semua ini dengan benar tanpa adanya kesalahan sedikit pun.
“bolehkan aku meminta sesuatu sebelum aku di suntik?” Tanya Lisa.
“katakanlah”
“genggamlah tanganku saat aku di suntik bius dan lepaskan saat aku tertidur” ucap Lisa, dia tersenyum pada Han dengan satu air mata yang mengalir.
“biar aku yang menyuntik Lisa” ucap dokter Park.
dia berjalan mendekati Lisa sambil membawa suntikan yang ada di tangannya, dia memegang tangan kiri Lisa dan membiarkan Han untuk menggenggam tangan kanan Lisa.
Han mengangguk, dengan sigap dia langsung menggenggam tangan Lisa sambil menatap gadis yang sebentar lagi akan berjuang dengan hidup dan matinya.
“aku selalu ada disini untukmu Lisa” ucap Han.
setelah selesai disuntik beberapa detik kemudian Lisa mulai menutup kedua matanya dan secara perlahan tangan itu terlepas dari genggaman Han, Lisa sudah mulai tertidur.
“baiklah langsung saja kita mulai, tolong kerjasamanya dokter park dan suster” ucap Dokter Han.
dia menerima sarung tangan yang diberikan oleh suster dan langsung memakainya, dia juga menerima barang-barang yang akan dipakai untuk operasi Lisa.
satu jam telah berlalu, di luar ruangan ketegangan yang dirasakan Risa, Lian, Kevin, Sean dan Sona. membuat mereka tak bisa berbicara satu sama lain, mereka hanya menatap ruang operasi yang masih tertutup rapat, dalam diri mereka masing-masing terus berdoa untuk selamatan Lisa dan juga keberhasilannya dalam menjalankan operasi.
namun sepertinya tak cukup hanya tegang, Risa juga merasa jika ini membuatnya sangat gugup dan takut, Risa terus memeluk sang suami, mencoba untuk menepis rasa takutnya akan kehilangan Lisa.
“Risa, tenanglah, semua akan baik-baik saja, jangan pikirkan hal lain” ucap Lian, dia terus mengelus punggung sang istri yang gemetaran.
“Lian aku takut, putriku ada di dalam memperjuangan hidup dan matinya, tapi aku disini hanya diam tanpa bisa menyemangatinya”
“jika harus percaya pada Lisa”
kembali ke ruangan operasi ....
Dokter Han dan Dokter Park terus bekerja sama untuk menjaga kestabilan jantung Lisa dan darahnya, karena operasi ini cukup menguras darah Lisa, Han sedang mencari benjolan yang ada di kepala Lisa, Han tanpa gugup hingga membuatnya tangan gemetaran dan juga berkeringat.
'Han kamu harus bisa melakukan ini'
suster yang ada di samping Han terus menghapus keringat yang ada di dahi ataupun di wajahnya, suasananya benar-benar sangat tegang dan juga sunyi karena dari mereka tak ada yang mau mengusik konsentrasinya dokter Han dan Juga Dokter Park.
“aku butuh penjepit dan pisau” ucap Han.
dengan sigap suster yang ada di samping langsung memberikannya pada Dokter Han.
“aku sudah menemukan benjolannya, tolong pastikan detak jantungnya tetap stabil Dokter Park”
“Ya, dokter Han”
dengan sudah payah Han mengambil benjolan itu dan segera meletakkan pada wadah yang sudah disediakan oleh suster, Han menghela nafas panjang saat dirinya sudah berhasil mengambilnya.
“dokter Han, detak jantung pasien lemas dan kita kekurangan pasokan darah pasien” ucap dokter Park.
__ADS_1
“bukankah aku sudah bilang untuk mengontrol detak jantung dan juga darahnya! cepat ambil darah tambahan”
“pak, di rumah sakit ini kita kehabisan darah dengan golongan darah pasien” ucap salah satu suster.
“apa golongan darahnya?”
“A+, Dokter Han”
“darah A+ , ambilan sesuai dengan kebutuhan pasien, dokter Park, anda bisa melanjutkan menjahit di bagian ini?”
“serahkan padaku Dokter Han”
“silahkan ikuti saya dokter Han, kita akan mengambil darah anda”
Han mengikuti suster itu ke sudut ruangan, dia duduk dikursi dan membiarkan suster itu mengambil darahnya, dia menatap tubuh Lisa yang masih berbaring di ranjang.
'kita berhasil Lisa, kamu tak akan menderita lagi dan kesakitan lagi, dan aku juga memberikan sedikit darahku untukmu, setidaknya diriku sekarang ada dalam dirimu, semoga kamu bahagia, aku mencintaimu Lisa'
kata-kata itu hanya terlintas dari pikiran dan hati Han, kata-kata itu tak akan keluar dari mulut Han dan tak akan terdengar oleh Lisa, hanya tuhan dan Han yang tahu itu.
suster itu segera memberikan kantong darah Han dan memberikannya pada Dokter Park, tak lama kemudian kestabilan jantung dan darah kembali normal, dokter park juga sudah selesai menjahit bagian yang tadi dibuka.
“kamu hebat Han, kamu bisa melawan rasa trauma dan menyelesaikannya dengan baik, aku bangga padamu, Keira pasti akan bahagia melihat dirimu yang sekarang” ucap dokter Park, dia mengelus rambut Han dan mulai melangkah pergi keluar untuk memberikan kabar bahagia ini.
para suster juga sudah selesai merapikan semua barang yang tadi digunakan, dan mulai meninggalkan ruangan operasi, menyisakan Han dan Lisa yang belum sadar.
“aku selalu mencintaimu Lisa”
Han tersenyum bahagia, namun disisi lain dia juga bersedih, waktu semakin singkat karena perpisahan yang terjadi nanti setelah Lisa dinyatakan bisa kembali pulang, dia melangkah mendekati Lisa dan menundukan sedikit badannya, lalu mencium kening sang kekasih.
para suster kembali keruangan untuk memindahkan Lisa keruangan rawatnya, dan Han, pria itu tak mengikuti para suster, dia hanya tak mau muncul di depan keluarga Jung saat ini.
suasana diluar tanpanya lebih baik dari sebelumnya, mereka semua menghela nafas panjang dan merasa lega, air mata Risa semakin menjadi-jadi, dia berterima kasih pada tuhan yang selalu mengabulkan doanya.
Lian dan Risa, mereka berdua dipanggil keruangan dokter Park dan Kevin, Sona, Sean mereka pergi untuk menghabiskan makan siang mereka.
Di ruangan Tuan Park.
“sebelumnya kami ingin berterima kasih pada Dokter Park yang sudah merawat Lisa dengan baik, kami bersyukur karna putri kami bisa melewati ini dengan sangat baik” ucap Lian yang memulai percakapan lebih dahulu sebelum Dokter Park berbicara.
Dokter Park terdiam sesaat, dia berpikir jika semua ini harusnya mereka sampaikan pada Han buka pada dirinya, karena disini peran Dokter Park hanya membantu mengawasi dokter Han, Han lah yang sepenuhnya memegang penanganan di ruang operasi. Dokter Park mengambil ponselnya, lalu dia memberikan pesan pada Dokter Han untuk segera ke ruangannya.
“aku tak pantas untuk menerima rasa terimakasih kalian, Dokter Han-lah yang berhak untuk menerimanya, bahkan saat kali krisis darah dalam ruangan operasi Dokter Han dengan suka rela memberikan darahnya di saat semua ketegangan yang dirasakan kalian diluar”
Risa dan Lian saling menatap satu sama kalian, mereka sempat tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut dokter Park, tapi itulah kenyataannya seorang Dokter Park tak akan berbohong.
Saat suasana yang sedang hening, suara ketukan pintu dan suara pintu terbuka mengalihkan pandangan yang ada di dalam ruangan Tuan Park, Dokter Han berdiri didepan pintu dengan wajah yang sedikit pucat karena Han hari belum memakan sesuatu dari pagi. karna Han ingin menyemangati Lisa dengan itu menjalankan puasa.
Dokter Han berjalan memasuki ruangan, semua orang terus memandangnya sampai Han berdiri di depan mereka semua. Dengan hormat dia menundukan badannya untuk memberikan salam pada mereka yang ada di sofa.
“kemarilah nak Han”
Tuan Park menepuk ke sofa yang kosong di sampingnya, memberikan isyarat pada Han untuk duduk disampingnya yang berseberangan dengan Tuan Lian dan Nyonya Risa.
“kalian harusnya berterima kasih pada Han”
“terimakasih Dokter Kim, berkat anda putri kami bisa melewati semua ini dengan baik”
“Nyonya Risa tak perlu seperti itu ini sudah menjadi tugas seorang dokter, semua ini berhasil karena usaha dari Lisa sendiri yang tak pantang menyerah”
“Dokter Park, apakah putri kami sudah bisa kembali dalam minggu ini?”
__ADS_1
Lian, pria itu tak pernah mau berterimakasih pada Ham, dia bahkan mengalihkan pandangannya pada Han dan lebih memilih menatap Dokter Park, sebegitu tidak suka Lian terhadap Han, karena kesalah pahaman yang telah terjadi.
“kita masih butuh beberapa hari untuk memastikan jika Lisa benar-benar sembuh, bukankah begitu Dokter Han?”
“Ah--Ya, aku perlu untuk memastikan kondisi Lisa”
semenjak masuk ruangan ini Han sudah mulai kehilangan fokus, kepalanya terasa sedikit pusing dan juga tubuhnya terasa begitu lemas, mungkin ini efek karna saat mengambil darah, perut Han masih kosong.
“Han, kamu terlihat pucat? apa yang terjadi?”
“aku baik-baik saja, seperti aku harus pergi, aku lupa memberikan vitamin untuk pasien lain”
Han mencoba untuk terlihat baik-baik, dia harus segera mengambil infusan dan membeli beberapa roti untuk mengganjal perutnya, namun saat akan mencapai gagang pintu, tiba-tiba penglihatannya menjadi buram dan detik berikutnya Han terjatuh di lantai.
semua yang ada di ruangan Tuan Park segera berlari mendekati Han yang sudah tergeletak dilantai dengan wajah yang sangat pucat, dengan cepat dokter Park langsung memeriksa kondisi Han.
“apa yang terjadi dokter Park?”
“bocah ini! dia pasti belum makan apapun saat pengambilan darah, ceroboh sekali, Nyonya Risa bisakan anda memanggil suster untuk keruanganku”
Risa segera keluar dari ruangan Tuan Park, sedangkan Lian membantu dokter Park mengangkat tubuh Han untuk diletakkan di sofa.
tak lama kemudian Suster datang keruangan Tuan Park.
“tolong ambilkan infusan untuk Dokter Han”
“baik Tuan”
Lian menarik Risa untuk meninggalkan ruangan Tuan Park, tak tahu kenapa rasanya Lian tak suka berdekatan dengan Han.
“kami izin untuk meninggalkan ruangan ini Dokter Park”
Tuan Park hanya mengangguk, dia masih sibuk memasangkan infusan di tangan Han, bagaimanapun juga Han sudah seperti putranya sendiri, jadi jika terjadi sesuatu padanya maka Dokter Park pasti akan khawatir.
“pasti saat sulit berada di posisimu Han, kamu harus berjuang lebih keras untuk bisa mendapatkan cintamu, harus melawan ketidaksukaan orang lain pada dirimu dan mencoba meyakini mereka jika kamu layak untuk bisa bersama Lisa”
Risa dan Lian memutuskan untuk kembali keruangan Lisa, mereka tidak sabar untuk melihat sang putri mereka bangun dari tidurnya.
“kamu sangat tidak menyukai Dokter Han?”
“Tidak!”
“cuman hanya satu kesalahan yang pria itu lakukan pada Lisa membutakanmu pada seribu kebaikan Dokter Han? kenapa kamu jadi berubah Lian? kamu bukan Lian yang aku kenal!”
“kenapa kamu membelanya? apa kamu menyukainya?”
“apa kau gila? lebih baik kau renungkan semua ucapan itu!”
Risa memilih untuk memimpin jalan, dia tak pernah berfikir Lian akan mengatakan hal itu padanya, Risa sudah memiliki anak dua yang usia bahkan sudah dewasa bagaimana bisa dia melirik pria lain!
saat sampai di ruangan Lisa, Risa mencoba untuk mengatur ekspresinya, putrinya tak boleh mengetahui apa yang baru saja terjadi, namun Risa tetap menjaga jarak dengan Lian.
“Ibu, rasanya aku sangat merindukanmu”
“aku senang melihatmu bahagia sayang”
Risa memeluk Lisa dengan senang, dia bahagia melihat putrinya yang tersenyum bahagia, walaupun kepalanya masih ditutupi dengan perban yang cukup tebal.
“apa kamu tak merindukan Ayahmu juga?”
“aku juga merindukanmu Ayah, juga Kakak kevin, dan sahabatku Sona & Sean”
__ADS_1
mereka semua bahagia dalam hangatnya sebuah ikatan, walaupun di luar sangatlah dingin karena salju tak melunturkan kehangatan di ruangan Lisa, mereka semua tersenyum bahagia, menceritakan apa saja yang mereka rasakan selama Lisa menjalani operasi.