Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 75 - Tell Me!


__ADS_3

Dengan segala kesedihan dan semua kehancuran sebuah hubungan yang baru berjalan 7 bulan itu memberikan luka dalam untuk Sona, dia pikir segala sesuatu permasalahan dalam rumah tangga tidak akan pernah melibatkan kekerasaan apalagi sampai harus benar-benar melukai harga diri seorang wanita. 


dia memang terlalu terburu-buru dalam mengambil pilihan dan terlalu takut untuk kembali.


Sona tiba di bandara Incheon pada pukul 5 sore, selama didalam pesawat dirinya terus mengingat betapa kasarnya Kevin pada dirinya hingga meninggalkan luka fisik dan luka internal dalam hatinya, Sona sudah tidak tahu apa yang terjadi setelah dirinya menangis dalam pesawat mungkin wanita itu tertidur setelah menangis lebih dari beberapa jam.


Dengan kacamata hitam yang berguna menutupi mata lebamnya, wanita dengan pakaian musim dingin itu menyeret koper untuk segera meninggalkan bandara, dia tidak ingin mau menghubungi siapapun saat ini entah itu Lisa ataupun Risa orangtua Kevin. 


Setelah menunggu taksi selama 10 menit, Sona memutuskan untuk tinggal dirumah lama milik Sona yang kini dibiarkan kosong, sekarang wanita hanya butuh kesendirian untuk segala masalah yang membuat dirinya tidak berdaya menerima fakta jika Kevin melakukan hal itu padanya. 


“Nona kita sudah sampai” ucap pak supir saat dia menegur Sona yang kembali melamun.


“terimakasih pak”


Pada akhirnya sejauh apapun wanita melangkah pergi dari rumah tempat dia dibesarkan, pada satu kesempatan dia akan kembali kesana dengan berbagai cara yang berbeda seperti ingin berkunjung atau seperti Sona yang ingin bersembunyi pada kepahitan dari sebuah perpisahan.


Sona berhenti didepan pintu yang mulai tertutupi oleh butiran salju, tangannya seperti tidak mampu untuk membuka pintu rumahnya, ada perasaan sedih bercampur dengan rindu akan sebuah pertemuan dengan sang ibu membuat Sona kembali menangis hingga tanpa mampu untuk berdiri.


Dia berjongkok di depan pintu rumahnya sambil mencoba menahan tangisan yang semakin kencang, ini bukan soal tentang kekecewaan Sona pada Kevin tapi lebih dia menyesal tidak memberikan Kevin kesempatan untuk berbicara.


Aku harus bagaimana? 


Ketika keegoisan membutakan Sona dengan semua kesabaran Kevin tentang segala hal. Tapi Sona juga tidak salah dalam pertengkaran mereka wanita manapun akan seperti dirinya jika pria begitu kasar, padahal Sona tidak mengerti masalah apa yang Kevin sedang hadapi, setidaknya pria itu lebih terbuka padanya walau itu akan menyakiti Sona juga. 


Tak lama Sona segera membawa masuk kopernya saat malam sudah tiba.


******


Setelah mendengar kabar dimana keberadaan Yoona berada.


Bukannya mengejar Sona yang sudah sampai di south korea, tapi pria itu malah memilih penerbangan lain menuju dimana Yoona berada. 


Ini semua terjadi saat Kevin sedang merapikan kekacauan yang dia buat sendiri, tiba-tiba saja ponsel Kevin terus berdering hingga beberapa kali tanpa pria itu sadari. 


Kevin tidak langsung menanggapi panggilan masuk diponselnya, dia lebih memilih untuk memasukkan semua pakaian dan juga beberapa barang yang dia bawa, mungkin setelah satu jam berlalu barulah Kevin menanggapi panggilan yang terus mengganggu kegiatannya. 


“jika bukan masalah penting aku akan memecatmu Tuan Joon!!”


Disaat situasi yang seharusnya Kevin mengejar Sona, kegiatan itu harus dihentikan karena asistennya terus menghubunginya, tanpa memberitahu apa tujuannya.


“apa?!! Kau mencoba membohongiku? Bagaimana mungkin!!”


“aku akan mencari penerbangan kesana, kau mengusulkan setelah mengambil dokumenku”


“baiklah, aku akan menghubungimu nanti”


Seperti sedang dalam keadaan yang begitu mendesak Kevin segera membawa koper keluar, dia juga segera menghentikan taksi yang kala itu sedang melintas di jalan.


Dipaksa, Kevin-pun tak diam, pria mengeluarkan ponselnya dan memesan penerbangan secara online agar mempermudah waktunya untuk segera menuju dimana Yoona berada.


Namun tiba-tiba saja nomor tak dikenal menelpon Kevin saat dirinya sedang sibuk mencari penerbangan yang hanya perlu menunggu beberapa menit atau setidak satu jam. Dengan ragu pria itu mengangkatnya dan ketika mendengar suara itu benar-benar membuat Kevin membulatkan kedua matanya.


“Tuan Kevin, tolong aku!!” 


itu adalah suara Yoona, terdengar sangat jelas jika wanita itu seperti sedang menahan rasa takut dan juga suara tangisannya. 


“Yoona? Dimana kau?” 


“aku tidak tahu, bisakah--kau menolongku? Aku sangat--akh” 

__ADS_1


Dari ponsel yang Kevin genggam bisa terdengar suara pistol yang baru saja dilepaskan, hingga membuat Yoona berteriak sangat kencang.


“Yoona? Yoona? Kau baik-baik saja? Katakan sesuatu?”


Tentu terkejut pistol itu begitu kencang, namun yang menjadi permasalahannya adalah keadaan Yoona saat ini, Kevin takut nyawa wanita itu terancam karena sesuatu yang menyangkut dirinya.


Namun tidak ada jawaban dari Yoona setelah beberapa menit dan detik berikutnya terdengar rintihan tangisan dari Yoona yang terus meminta dilepaskan.


“Hai, Tuan Jung atau haruskah aku memanggilmu Tuan Kevin?” 


“Tuan Min?” 


“kau masih mengingat suaraku? Atau suara wanita ini?”


“akh!! Sakit!! Kumohon lepaskan aku!!”


Untuk sesaat Kevin dibuat ragu untuk mengatakan sesuatu, dia masih belum bisa memahami kenapa Yoona bisa berada ditangan Tuan Min, seingat dirinya tidak ada masalah saat mereka meninggalkan jepang lalu kenapa perkataan Tuan Min seakan dia memiliki dendam pada dirinya.


“jika kau ingin tahu kenapa sekretaris ku berada disini, segeralah datang ke jepang, jika tidak ingin orang lain akan terseret kesini juga”


“Tunggu--”


Terlambat, panggilan itu sudah diakhiri oleh Tuan Min secara tiba-tiba, membuat Kevin dengan kesal ingin semakin melempar ponsel itu namun dia masih membutuhkannya.


 Tetap saat itu juga Kevin sampai di bandara.


Tidak punya pilihan lain Kevin langsung memesan penerbangan ke jepang walau terdengar memaksa, dia hampir saja memesan satu pesawat jika tidak ada penerbangan kesana, tapi untung saja disana ada walau Kevin harus menunggu satu jam. Waktu yang masih tersisa Kevin gunakan untuk menghubungi asistennya. Feelingnya mengatakan jika akan terjadi sesuatu pada Sona jika dirinya tidak menanyai kabar Sona.


“Tujuan kenapa Sona kembali? Apakah dia pulang ke rumah lamanya?” 


“kirim orang untuk berjaga di sekitar rumahnya, tapi jangan sampai membuatnya curiga, aku punya feeling buruk jika Tuan Min akan menculik Sona”


Entah apa yang akan terjadi jika Kevin tiba di jepang, tapi dia tidak bisa membiarkan orang lain menghancurkan hidup yang masih menjadi tanggung jawabnya, apalagi kini Kevin yakin jika chips berharga itu sudah ditangan Tuan Min.


Didalam pesawat.


“bolehkan aku meminta kertas dan pulpen?” ucap Kevin, dia saat ini sedang merancang sebuah rencana yang mungkin bisa membahayakan nyawanya, itulah kenapa Kevin memutuskan untuk menulis surat.


Setelah menulis pesan yang begitu panjang sehingga butuh dua lembar untuk menyampaikannya, karena penerbangan ini cukup memakan waktu yang lama Kevin jugakan untuk mengatur strategis dan juga dia gunakan sepenuhnya untuk beristirahat.


Dibalik jendela kamar dengan suasana begitu sepi dan redup akan pencahayaan, Sona memandang sedih pada jendela kamarnya sambil bersembunyi dibalik selimut tebalnya, seakan-akan jika dia melangkah keluar semua bahaya akan terus mengejarnya, Sona tahu jika turunnya hujan malam ini bukan satu hal yang tidak biasa namun entah kenapa hujan sengaja turun disaat dia ingin mencari kehangatan untuk dirinya sendiri.


Jika hujan adalah kegembiraan untuknya kini sudah berbeda hujan hanya memberikan kenangan tentang dirinya dan Kevin.


Seperti sebuah ilustrasi dari pikirannya, Sona dibuat teringat dengan satu kenangan manis saat bersama Kevin yang bisa dia lihat dari jendela kamarnya. Ada bayangan kedua orang sedang menikmati hujan dengan saling tertawa dan berpelukkan.


Dimana hal kecil bisa menjadi kenangan manis namun pahit untuk dikenang, diluar jendela terlihat sangat jelas jika saat itu Sona begitu bahagia di dalam pelukkan Kevin saat hujan turun membasahi tubuh mereka, itu lucu. Kenangan itu terbentuk karena sebuah insiden saat Sona sedang berada di atap untuk mengambil pakaian mereka tapi siapa tahu di cuaca yang begitu cerah bisa tiba-tiba hujan beras hingga Sona tidak sempat untuk pergi.


Awalnya wanita itu ingin pergi dan membiarkan jemurannya basah tapi saat itu Kevin datang membawakan payung untuknya, bukan menerima pemberian payung itu Sona malah melemparnya dan menarik Kevin untuk ikut basah sepertinya, seperti anak kecil yang baru diberikan kebebasan Sona dan Kevin berlarian menikmati deras hujan menerpa mereka, Kevin berhasil menangkap Sona hingga keduanya tertawa bersama dibawah derasnya hujan.


“brengsek!!” ucap Sona, dia sedang cepat menarik gorden untuk menutupi kenangan itu, setiap hal dan setiap kegiatan yang Sona lakukan selalu ada satu kenangan bersama Kevin, padahal itu hanya hal kecil tapi berpengaruh besar dengan kehidupan kita, benar-benar seperti seorang baru putus akan selalu teringat dengan kenangan bersama mantan.


Sona berjalan mendekati ranjang dengan selimut yang masih menutupi tubuhnya, hari ini terlalu pagi untuk melakukan suatu kegiatan namun tidak baik juga jika dirinya kembali tidur. Jadi memutuskan untuk duduk di ranjangnya sambil menunggu hujan berakhir.


Walau Sona tidak bisa pergi bekerja karena dia masih mengambil cuti setidaknya pergi ke suatu tempat bisa menghilangkan rasa sedih dan hampa yang selalu menghampiri dirinya baru-baru ini, dia melipat kedua tangannya untuk berpangkuan pada lututnya lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian leher dan kepalanya. Sona menyandarkan kepala pada tangannya.


Dalam hatinya, Sebenarnya Sona terus memikirkan Kevin, Segelintir pertanyaan tentu saja terus melintas di dalam pikirannya. 


Apakah dia mencariku?

__ADS_1


Dimana dia sekarang?


Entah itu memang benar atau bukan, setiap kali memikirkan Kevin bayangan tentang mimpi selalu terlintas seperti sebuah film, bukan hanya itu jantungnya akan ikut berdebar dan kedua tangannya akan terus bergetar seperti memberikan reaksi nyata seperti respon dari mimpi itu.


“aku takut”


Dirumah yang tidak terlalu besar itu hanya ada Sona sendiri disana, dia merasa begitu hampa dan benar-benar sendiri, tanpa adanya siapapun yang ingin menemaninya.


“tapi, aku juga tidak mengerti, sulit untuk dimaafkan namun aku ingin melihatnya sekarang” Sona menghela nafas sejenak “Mom, apa yang harus aku lakukan sekarang?”


“aku tidak tahu apapun arti pernikahan yang sesungguhnya, aku hanya merasa begitu mencintainya tapi juga terlalu egois dalam segala hal, aku pikir ini memang harus aku lakukan ketika segalanya menjadi lebih buruk jika aku hanya diam, tapi juga salah jika aku terlalu takut untuk menerima kenyataan”


Sona kembali menenggelamkan kepalanya di tangannya, dia hanya ingin bersembunyi sampai waktunya dia berkata siap, walau itu terdengar egois tapi akan lebih egois lagi jika kenyataan Kevin menyembunyikan suatu yang bisa menyakiti hatinya.


********


Baru saja menginjakkan kakinya di negara bunga sakura setelah menghabiskan waktu lebih dari 12 jam berada diatas awan, Masalah kembali datang ketika Kevin baru saja keluar dari bandara. Diluar kendali Kevin kantor yang baru saja akan dia buat dibakar habis oleh orang tidak dikenal, membakar habis seluruh kantor berlantaikan lima itu dan semua bukti hilang karena bangunan itu masih dalam proses pembangunan.


Di Dalam taksi.


Ponsel kembali berdering di sela-sela Kevin sedang melihat foto-foto sisa gedungnya yang terbakar.


“Kau sudah sampai?” terdengar jelas jika yang menghubungi Kevin itu adalah pria yang membuat Yoona ketakutan dengan pistol yang dia lepaskan.


“kemana aku harus pergi?” ucap Kevin, suara itu begitu tegas dan penuh dengan penekanan di setiap kalimatnya.


“kurasa kau tahu kenapa tujuanmu datang kesini Tuan Jung!”- Tuan Min.


“dimana Yoona?”


“kau begitu mencemaskannya…. Apakah dia kekasihmu? Sayang sekali aku sudah pernah tidurnya”


“brengsek!! Berani sekali kau melakukan itu pada sekertarisku!”


“baiklah, kau bisa memarahiku nanti Tuan Jung, waktumu hanas tinggal setengah jam untuk segera sampai kesini, sampai jumpa”


Sekali lagi jika Kevin tidak membutuhkan benda itu mungkin dia melemparnya keluar jendela mobil, namun dia hanya melampiaskan amarahnya dengan memukul kaca mobil yang tidak terlalu kencang.


“pak, bisakah anda lebih cepat?” ucap Kevin dengan gelisah, itulah alasan kenapa saat itu Yoona bertanya apakah telah terjadi sesuatu antara dirinya dengan wanita itu?


Pikiran negatif mulai memenuhi Kevin, pertemuan pertama mereka memang membuat Yoona tidak begitu nyaman karena Tuan Min terlaku fokus menatap wanita itu daripada mendengarkan kejelasan dari kerjasama mereka, belum lagi dia terus memaksa Yoona untuk meminum minuman yang memang sudah dipesan oleh Tuan Min sebelum mereka datang.


Namun Yoona tidak mau meminumnya hingga membuat Kevin yang menawarkan diri untuk meminum anggur beras itu, Kevin akui setelah pertemuan itu selesai dirinya keadaan sangat mabuk tapi dia tidak bodoh melakukan hal yang terlarang, dia kembali dengan baik ke hotel dan mengunci diri di sana tapi dia tidak tahu dengan Yoona.


Setelah pertemuan itu Yoona berubah drastis seperti orang yang mengalami kejadian tidak baik, dia begitu takut bertemu dengan siapapun kecuali Kevin, dia mengunci dirinya selama tiga hari di hotel dan selalu menolak untuk bertemu dengan Tuan Min.


Jika benar! Kevin tidak akan bisa memaafkan pria brengsek itu!


Sepuluh menit sudah berlalu, tingga dua puluh menit lagi tapi perjalanan Kevin masih sangat jauh untuk segera sampai di hotel milik Tuan Min, jika dia terus menunggu sampai macet ini berakhir mungkin satu jam kemudian Kevin baru akan sampai disana, tapi sekali lagi nyawa seseorang sedang dipertaruhkan disana. 


Kevin tidak bisa melihat Yoona menjadi korban disana apalagi dia hanya Sekretarisnya bukan siapa-siapa bagi Kevin jika memang Tuan Min memiliki dendam pada dirinya, kenapa harus menggunakan wanita jika ingin mengancam seseorang.


“pak, saya akan turun disini, anda bisa mengantarkan koper sana kesana?”


“bisa Tuan”


“baiklah, langsung berikan saja pada pelayan hotel”


Setelah membayar, Kevin segera berlari seperti dianya sedang mengikuti perlombaan maraton, dia berlari tidak kenal takut akan jatuh apalagi pria itu berlari saat hujan sedang turun deras disana, dia tidak peduli jika tubuh akan mudah sakit.

__ADS_1


“15 menit aku akan segera sampai disana, tunggulah sebentar lagi Tuan Min, kita akan bertemu!”


__ADS_2