![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Keesokan harinya …
Ketika Han membuka kedua matanya dia tidak menemukan sosok Lisa disampingnya, bahkan tempat itu seperti tidak pernah di tiduri oleh Lisa, dengan sedikit masih mengantuk Han mencari ponselnya yang tidak jauh darinya, hal yang pertama dia lakukan melihat apakah Lisa mengirimkan pesan padanya tadi malam atau tidak.
Benar saja, Lisa mengirimkan beberapa pesan padanya pukul 1 dini hari, haruskan wanita itu bekerja satu harian penuh disana? Memikirkan itu semakin membuat Han khawatir pada kesehatan Lisa dan tentu saja pola makan yang mungkin tidak akan teratur.
« Lisa
Han, aku tahu jika aku membuatmu khawatir …
Banyak sekali dokter yang tidak hadir malam ini dan aku tidak bisa membiarkan Hyun sendirian mengurusnya…
Jadi aku memutuskan untuk menemaninya dan keesokan harinya saat kamu membuka kedua matamu, aku pasti akan ada disampingmu tapi jika aku tidak ada itu berarti aku sedang dalam perjalanan kembali pulang »
Han menatap jam yang sudah menunjukan pukul 6 pagi, apa yang sekarang Han lakukan? Dia seharusnya menemui wanita itu sebelum dia sampai ke kantor, tapi dia juga ingin melihat Lisa. Setelah berpikir 1 menit pria itu memutuskan untuk membersihkan dirinya lebih dahulu.
30 menit berlalu, Han sudah rapi dengan pakaian seragam kerjanya dan kini sedang membuatkan sarapan untuk dirinya dan Lisa juga, sangat tidak cocok baginya memakai seragam sambil mengoleskan selai di roti dan juga membuat kopi untuknya. Lalu setelah dia duduk di ruang makan dengan roti dan kopi di hadapannya.
“Hana, bisakah kamu membelikan ponsel untukku dan beberapa perlengkapan bayi dan pakaian wanita?” ucap Han setelah dirinya menggigit ujung roti.
“Hmph!” secara tidak sengaja Han mengeluarkan lagi kopi yang baru saja masuk mulutnya saat mendengarkan kata Hana yang membuatnya terkejut.
“Hana, itu.. Itu untuk saudaraku yang baru saja melahirkan”
“tidak perlu mengantarnya kesini, kita bertemu di kantor saja”
Setelah itu Han memutuskan untuk menunggu kepulangan Lisa dan saat makan siang dia akan pergi mengunjungi wanita itu, mungkin Han harus mengajukan beberapa pertanyaan tentang wanita itu dan memutuskan sesuatu nantinya.
Sampai sarapannya habis pria itu belum menemukan tanda jika Lisa akan segera kembali, pria itu kembali mengeluarkan ponsel lipatnya dan terpaksa menghubungi Lisa.
“Lisa, Ke--”
Han terdiam, dia terlalu terkejut saat yang menjawab panggilannya bukan sang istri melainkan suara orang ditemui di bandara waktu itu.
“Dimana Lisa?”
“jika dia sedang dalam perjalanan pulang, kenapa yang menjawab kau?”
Saat mengajukan pertanyaan itu, tiba-tiba saja panggilan itu diakhiri oleh pihak sana, hal itu semakin membuat Han kesal sehingga dia mengambik kunci mobilnya dan segera mencari keberadaan Lisa, namun saat dia akan mengeluarkan mobil, sebuah mobil hitam bertemu di halaman lebih tepatnya di depan rumahnya.
Tak berpikir panjang pria itu segera mendekati mobil tersebut, dari jarak yang dekat ini dia bisa melihat Lisa yang tertidur didalam, Han langsung mendekati pria bernama Hyun itu yang baru saja keluar dari mobilnya, dengan sedikit kesal Han menarik kerah jas putihnya.
“ku peringatkan untuk berhenti menghantar Lisa, apakah kau tidak tahu jika dia itu istriku! Jangan pernah mencoba mendekatinya lagi!” ucap Han penuh dengan penekan di setiap kalimatnya, jika Hyun bukan rekan kerja Lisa mungkin dia sudah memberikan satu pukulan di wajahnya tanpa ragu.
Hyun yang tidak terima dengan sikap Han yang terlalu terbawa emosi dengan kesal dia melepaskan tangan pria itu untuk berhenti menarik seakan-akan jika Hyun akan takut padanya “jika kau suaminya, seharusnya kau memikir sebuah pemikiran menjemputnya atau setidaknya menghantarkan istrimu makanan! Lisa ketiduran saat perjalanan, aku tidak mengerti kenapa kau membiarkan wanitamu naik kendaraan umum sedangkan suaminya malah menggunakan kendaraannya, apa pekerjaanmu tidak mampu membeli mobil? ”
Ya seperti itulah Hyun, setiap kalimat yang dia ucapkan terasa begitu menusuk namun itu memang faktanya, dia tidak akan berbicara seperti itu jika dirinya tidak melihat Lisa yang begitu mengantuk namun harus menunggu bus datang. Seharusnya jika memang pria di hadapan memang suaminya dia seharusnya tahu jika Lisa membutuhkan bantuannya.
Han terdiam, dia tidak ingat jika Lisa pergi tidak membawa mobilnya dan mungkin itu alasan kenapa dia tidak kembali tadi malam, seharusnya Han tahu itu dan langsung menghubunginya tadi malam tapi pria itu memilih untuk tidur dan semuanya menjadi terasa bodoh jika Han pikirkan.
Dia berjalan mendekati mobil milik Hyun untuk menggendong Lisa, dia tidak mengatakan apapun saat Hyun menatapnya dengan tatapan menantang, yang dikatakan pria itu benar jadi tidak ada satu ucapan untuk membalasnya, Han segera membawa Lisa kedalam rumah mereka.
“itu benar bukan? Kau tidak layak dikatakan seorang suami!” teriak Hyun saat dia melihat Han yang sudah mulai melangkah masuk kedalam rumahnya, dia tak habis pikir Lisa mau menikahi pria angkuh dan bodoh seperti itu padahal dia bisa memilih pria yang lebih baik.
Dengan hati-hati Han meletakkan Lisa di ranjang milik mereka, wanita itu tertidur terlalu pulas hingga sampai dikamar Lisa tidak membuka kedua matanya, setelah itu Han membukakan sepatu heels yang Lisa kenakan bisa dilihat jika kaki Lisa begitu kaku karena seharian memakai heels, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri.
“maafkan aku yang belum bisa menjadi suami yang baik untukmu Lisa, pria itu benar jika aku tidak layak dikatakan suamimu” ucap Han. Sebelum pergi kekantor Han menyempatkan untuk mencium kening Lisa dan membiarkan Lisa untuk beristirahat.
Hari ini pria itu memutuskan untuk tidak menggunakan mobil Lisa lagi, dia harus meminta seseorang mengirimkan mobilnya yang di Busan, hari ini Han akan menggunakan bus untuk berangkat ke kantornya.
__ADS_1
******
Untung saja hari ini dia tidak memiliki jadwal rapat pagi, jadi Han bisa terangkat sedikit terlambat. Sesampainya di kantor dia segera menemuinya sekretarisnya dan menyuruhnya untuk membawakan semua barang yang dia pesan ke dalam kantornya.
“selamat pagi Tuan Han, sesuai dengan perintah aku memberikan ponsel keluaran terbaru, aku membeli beberapa peralatan bayi, pakaian dan juga kebutuhan lainnya, dan untuk pakaian wanita itu belum sempat membeli karena aku tidak tahu model apa yang dia sukai, jadi Tuan Han bisa memesannya secara online dan akan segera dikirim” ucap sekertaris Hana, dia memberikan ipad pada Han membiarkan pria itu untuk memilih pakaian untuk saudaranya.
“baiklah, aku rasa sudah cukup, kamu bisa kembali”
Hana segera membungkukkan tubuhnya dan langsung meninggalkan ruangan Han.
Pria itu segera memilih pakaian apa saja yang menurutnya layak untuk dikenakan pada musim ini, karena sebentar lagi akan musim dingin itu berarti dia harus lebih banyak membelikan pakaian hangat dan juga beberapa syal tebal untuknya.
Setelah itu pria itu kembali pada dunianya dimana perannya sebagai pemimpin disini maka dia akan melakukan tugasnya dengan baik, dia memimpin rapat dan memeriksa semua laporan yang setiap harinya selalu masuk kedalam surelnya. Hingga waktu berjalan begitu cepat hingga tidak terasa tidak waktu sudah menunjukkan waktunya makan siang.
Han yang menyadari itu segera memasukkan semua barang-barang itu ke dalam kotak besar, lalu dia memerintahkan sekretaris Hana untuk menyiapkan mobil perusahaan untuknya, Han keluar dari lift pribadinya dengan kotak besar yang ada di tangannya.
“Tuan Han, apa ingin aku yang mengendarai?” tanya Hana setelah membantu Han memasukkan kotak besar itu kedalam mobil.
“tidak perlu, aku akan pergi sendiri, kau bisa makan siang bersama rekan lainnya” ucap Han, dia mengambil kunci mobil di Hana dan segera mengendarai mobil itu keluar gedung.
Hanya butuh 20 menit untuk sampai di apartemen lamanya, kini pria itu sedang berdiri menunggu untuk dibukakan pintu oleh wanita itu.
“Tuan? Ada hal apa yang membuat anda kemari?” tanya wanita yang tadi malam merengek-rengek di hadapan Han, kini penampilannya sedikit lebih baik dari sebelumnya.
“Aku membawa beberapa barang untukmu dan juga bayimu, apakah dia baik-baik saja?”
“bayiku baik-baik saja, aku baru saja menidurkannya, sebelumnya terimakasih Tuan sudah memberikanku kehidupan yang layak. Aku berjanji akan merawatnya dengan baik dan akan segera mencicil semua ini”
“tidak perlu, jagalah dia dengan baik jangan sampai membuatnya kelaparan apalagi sakit, apakah alat penghangat ruangan masih berfungsi dengan baik?”
“Ya masih berfungsi dengan baik, Tuan ingin mampir?”
“tidak, siapa namamu?”
“Aku, Kim Han Hyung, ini ponsel untukmu, hubungi aku jika terjadi sesuatu dan beberapa barang untukmu dan bayimu”
“terimakasih ,Tuan Kim, aku terlalu banyak merepotkan anda, aku rasa tidak perlu ponsel ini, aku bisa menghubungi anda melalui telepon rumah, aku tidak ingin mengganggu hubungan kalian”
“sudahlah terima saja, aku tidak memiliki banyak waktu untuk memaksamu menerima ini semua, jadi hubungi aku jika terjadi sesuatu” ucap Han, pria itu segera meninggalkan apartemen lamanya. Dia tidak bisa berlama-lama disana walau sekedar melihat bayi itu, karena jadwalnya yang mengharuskan pria itu ada di kantor.
Dipagi yang begitu indah dengan udara yang mulai dingin diikut dengan angin yang menerpa dedaunan yang sudah mengering hingga akhirnya dia terbawa oleh angin itu, langit tanpa cerah dengan sedikit cahaya matahari yang tertutup oleh awan.
Di hari libur ini Han harus mendapatkan kabar duka yang sangat tidak ingin dia dengar sama sekali, tiba-tiba saja kabar kematian ayahnya kandungnya membuat Han tidak bisa menduga itu, baru kemarin dia berencana untuk mengunjungi rumah kedua orangtua kandungnya setelah enam bulan tidak bertemu atau sekedar bertukar sapa dengan mereka, Han berkunjung kesana hanya sekedar menghapus kecanggungan antara dirinya dan kedua orangtuanya yang menurut Han masih banyak tanda tanya dalam setiap perjalanan hidup mereka setelah mereka memutuskan meninggalkan Han disebuah panti asuhan waktu Han baru saja lahir dari dunia ini.
Jika Han marah, tentu saja dia sangat marah! Namun amarahan jika akan bisa mengembalikan kehidupan 30 tahun yang lalu, itu sudah terjadi dan sudah termakan oleh usia. Jadi Han memutuskan untuk menjalin kembali hubungan antara anak dan kedua orangtua yang sudah terputus sejak lama, walau awalnya Han begitu berat memikirkan masalah ini namun semangat dan keyakinan yang Lisa berikan membuat Han kembali membuka hati untuk memberikan uluran tangan bagi kedua orangtuanya.
Tapi, seperti takdir berkata lain, pagi-pagi sekali sang ibu sudah menghubungi dirinya dan mengatakan hal yang tentu saja menyakiti hati Han, saat semua terasa sulit bagi Han selalu saja ada kemudahan disetiap perjalan yang dia tuju, tapi saat dia ingin memulai semua ini dengan baik selalu saja berakhir buruk.
Dalam pelukan hangat Lisa, semua perasaan Han mengalir begitu saja seperti dirinya telah menyesali sesuatu yang tidak bisa dikatakan itu baik, Han belum melakukan hal terbaik dalam hidupnya untuk ayah angkatnya kini pria itu terlambat untuk memperbaiki kehidupannya dengan sang ayah kandung yang sudah lebih dahulu pergi.
“kenapa Lisa?”
“kenapa harus seperti ini?”
“aku tidak tahu, aku tidak mengerti Lisa”
“aku hanya ingin memberikan sesuatu untuk mereka tapi--tapi--”
Lisa mengangkat kepala Han yang bersadar di dadanya, terlihat sangat jelas jika di pipi tersisa air matanya yang mungkin ingin sekali tidak dia tunjukan.
__ADS_1
“Han, jangan menyalahkan sesuatu yang pergi itu berkaitan dengan dirimu, ini sudah garis takdir Tuhan” ucap Lisa, dia mencoba sebisa mungkin untuk menyakini Han untuk berhenti menyalahkan dirinya yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepergian sang ayah kandung.
Tadi pagi ibu Han berkata jika sang ayah meninggal karena penyakit jantung yang sudah lama dia derita, sang ayah sudah beberapa bulan di rawat dirumah sakit dan hari ini sang ayah menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang melawannya selama 5 tahun. Kepergian sang ayah tentu saja tidak ada sangkut pautnya dengan Han, pria itu hanya sedih tidak bisa memiliki waktu banyak di sisa kehidupan sang ayah kandung.
“jika kamu seperti ini, bukankah dia juga akan sedih? Bukan hanya kamu saja Han yang merasakan kesedihan itu, aku bahkan tidak bisa bertemu dengan mertuaku lebih lama, aku terlalu sibuk dengan urusan rumah sakit hingga tidak bisa memberikan mereka sebuah cucu” ucap Lisa, dia menyekat air matanya yang akan mengalir.
Untuk sesaat suasana menjadi lebih baik dari sebelumnya, Han tidak lagi bertanya pada Lisa dengan pertanyaan yang tentu saja tidak bisa Lisa jelaskan karena semua itu sudah jelas, Lisa terus memeluk tubuh sang suami dan mengatakan hal yang bisa membuat suasana hati Han menjadi lebih tenang.
“kita harus pergi sekarang bukan?” tanya Lisa, kini yang lebih banyak berbicara bukan lagi Han melainkan Lisa sang istri yang kini mulai tumbuh dewasa, dia sangat berperan penting untuk masalah ini, jika bukan Lisa lalu siapa yang akan melakukannya?
Lisa membantu Han untuk segera membersihkan dirinya, wanita itu menyiapkan keperluan mereka sebelum mengunjungi rumah orangtuanya, untung saja hari ini Lisa bangun pagi jadi mereka masih sempat untuk mengejar waktu sebelum tubuh sang ayah kandung dimakamkan.
Lisa juga menyiapkan pakaian yang digunakan untuk berziarah, pakaian yang dipenuhi dengan warna hitam sebagai tanda menghormatan untuk sang ayah, setelah selesai kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah sang ibu yang tidak begitu jauh dengan rumah Han.
Hanya membutuhkan waktu sekitar 35 menit untuk sampai disana tanpa adanya kemacetan dijalan, saat mereka sampai suasana rumah sang ibu sudah dipenuhu dengan banyak peziarah yang datang kesana.
“Han, apa yang kamu ragukan? Aku yakin kamu bisa” ucap Lisa, dia sedikit memaksa Han untuk turun dari mobilnya, satu hal yang sulit untuk membujuk Han adalah ketika pria itu tidak mampu menghadapi sebuah masalah seperti dan masalah ketika dia takut mencintai Lisa, jadi sebagai orang yang mencintai Han, Lisa harus lebih banyak mengerti banyak hal tentang dirinya seperti saat ini Lisa tidak boleh membiarkan Han menjadi lemah.
“ayo, ibumu pasti sudah menunggu”
Dengan senyuman terpaksa Han mengikuti langkah Lisa yang membawanya masuk kedalam rumah, bukannya Han tidak ingin menghadirinya tapi takutan selalu menjadi alasan pertama untuk Han, dalam hidupnya banyak hal yang dia takuti jika berkaitan dengan keluarga atau orang terdekatnya, dia akan menjadi lebih mudah berpikir negatif dan sangat posesif dalam aspek lain.
Saat masuk pandangan pertama yang Han tuju adalah wajah sang ibu yang terus menangis didepan peti sang ayah, wajah itu begitu pucat dan dipenuhu dengan air mata yang tak lelah terus mengalir, tidak ada satupun disana yang berusaha mengurangi rasa sedihnya, itulah sekarang peran penting Han ada disini untuk berdiri disampai sang ibu dan menguatkan dirinya dalam lewati cobaan.
“Han, putraku?”
Sang ibu berjalan mendekati Han.
“Han!!!” tangisan itu kembali pecah saat sang ibu langsung memeluk tubuh putranya, tangisan itu sangat mirip ketika ibu Lisa yang sedih melihat putrinya terluka, sebagai putranya Han mencoba membiarkan sang ibu menangis didalam pelukannya, tidak perlu berkata apapun untuk saat ini biarkan tangisan yang menjelaskan semuanya.
Semua berjalan begitu saja, setibanya Han disana semua langsung melakukan upacara pemakaman sang ayah. Han selalu berada disisi sang ibu untuk melewati semua proses hingga akhirnya keduanya sedang duduk ditepi makam sang ayah dan Lisa yang hanya diam dibelakang tanpa niat untuk ikut bergabung, bukannya tidak mau Lisa hanya ingin semua ini berlalu dimana Han harus mengerti semua ini, agar kedepannya dia tidak terus menyalahkan dirinya untuk suatu hal yang tidak ada pautannya dengan dirinya.
“ibu ingin kembali?” tanya Han, dia tidak tega melihat sang ibu yang terlihat begitu hancur dan rapuh, seperti semua harapan hilang terbawa angin begitu saja.
“aku sangat mencintainya, dia adalah cahaya kehidupanku, dia melepaskanku dalam kegelapan dunia” ucap sang ibu, dia menyentuh batu nisan yang tertuliskan nama orang yang dia cintai, kini hanya menunggu waktu mempertemukan mereka lagi yang entah kapan itu akan terjadi.
Han membantu sang ibu untuk bangun dari posisinya, ketiganya mulai meninggalkan makam sang ayah dan segera kembali pulang. Selama diperjalan tidak ada satu kalimat-pun keluar entah itu dari Lisa ataupun Han.
Kini Han sedang duduk disofa bersama sang ibu, ada banyak pertanyaan yang ingin sekali Han ajukan tapi itu begitu sulit untuk disampaikan, dia tidak mengerti apapun tentang kehidupan kedua orangtuanya.
“dia bukanlah ayahmu dan bukan suamiku, aku bertemu dengannya setelah aku lahirkanmu dan menaruhmu disebuah panti asuhan, kejadian itu terjadi setelah ibu melakukan kesalahan besar karena telah melakukan hubungan terlarang dengan kekasihku, aku bertemu dengannya dan dia menawarkan hidupan yang memberikan ibu sebuah harapan”
Han terkejut, dia sampai menatap sang ibu yang menatap kearah sebuah foto di meja, jika pria itu bukan ayahnya dan suaminya lalu siapa pria itu? Kenapa ibunya begitu merasa kehilangan.
“dia pria baik yang menghentikan diriku sangat akan melakukan percobaan bunuh diri, dia berkata kita memiliki masalah yang sama, tapi bunuh diri bukanlah jalan terbaik, setelah itu aku tinggal bersamanya dan kita saling mencintai, dan ibu takut dengan sebuah pernikahan apalagi memiliki sebuah anak, namun saat itu dia tidak pernah melepaskan tangan ibu, dia malah berkata cukup hanya cinta tanpa perlu sebuah ikatan untuk membuat kita tetap bersama, hingga akhirnya semua berjalan begitu saja”
Sang ibu berhenti berbicara, dia menatap kearah Han dan mencium tangan putranya.
“aku hidup bahagia bersama tanpa sebuah ikatan pernikahan, lalu saat itu dia begitu senang saat bisa melihat putraku tumbuh dengan baik, seperti dia memang benar-benar ayahmu Han, itulah kenapa aku begitu mencintai dirinya dan saat ini aku seperti kehilangan nafasku, dia pria sederhana namun begitu pemahamiku dan siap menerima apapun tanpa takut akan sebuah masalah, baginya jika itu layak maka dia akan terus berjuang, itulah kenapa ibu begitu rapuh untik saat ini”
Seperti sebuah kisah cinta yang tidak pernah di pikirkan oleh siapapun namun memang kisah itu ada, sebuah kekuatan cinta yang mempertahankan segalanya dan bisa memberikan cahaya kehidupan, dari kisah ini Han mengerti kenapa begitu sedih dan hancurnya jika kita melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian kehidupan kita, bukan rasa takut yang menjadi dasarnya tapi sebuah kenangan, ibunya mungkin akan terus memikirkan kenangan yang berlalu bersama pria yang dia cinta. Tapi itu tidak akan membuatnya mudah hancur karena cintai itu tetap ada walau seseorang itu sudah pergi.
Setelah mengantarkan sang ibu untuk beristirahat dikamarnya dan melewati banyak waktu yang Han lewati untuk mengerti segalanya tanpa perlu bertanya.
Han menarik tangan Lisa saat secara tidak sengaja mereka berpapasan, menarik tubuh sang istri yang hampir dia lupakan kehadiran disini.
“aku mencintaimu Lisa” ucap Han, kali ini dia tidak akan ragu lagi untuk mengatakan jika dirinya memang mencintai Lisa, sudah seharusnya dia melakukan yang terbaik untuk sang istri, dia kehilangan waktu enam bulan tidak bersamanya kini waktu sudah memberikan dirinya kesempatan maka Han harus memanfaatkannya dengan baik.
“maaf jika aku masih membuatmu ragu dan merasa jika aku pria yang tidak berguna untukmu, aku ingin sekali lagi memperlihatkan jika aku layak untukmu Lisa”
__ADS_1
Lisa menangis saat itu juga, inilah yang sedang lama Lisa ingin dengar dari Han, ucapan perasaan yang begitu tulus dan diri Han yang dulu.
“aku merindukanmu Han”