![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
“Aku merindukanmu“
johan berada di depan pintu saat Risa membuka pintu apartemennya, Risa sengaja berangkat dari apartemennya karena perlengkapan untuk pergi ke pesta ada di apartemennya.
Bibir Risa tersenyum, tanganya menyapa dada bidang Johan. “terlalu banyak hal yang ingin aku ceritakan“
Nanti Selama perjalanan Risa manfaatkan untuk berbagi keluh kesahnya bersama Johan, mungkin bisa dimulai dengan detak jantungnya yang terus berdebar sangat bersama Lian.
“kamu sangat cantik“ ucap Johan saat dia melihat penampilan Risa.
Sapuan merah menghiasi pipi gembul Risa, dia tertunduk malu, gaun dark bluenya terlihat begitu terang begitu kontras dengan warna kulitnya yang sedikit pucat, johan sendiri mengenakan jas coklat dengan dasi kupu-kupu yang melekat pas dileher kemejanya. “kamu juga tampan“
“kita berangkat sekarang?“ johan mengulurkan tangannya, menunggu Risa menggamit lengannya.
“aku akan menjadi pria yang sangat beruntung membawa perempuan yang begitu cantik malam ini“
“semoga saja pacarmu tidak memarahiku“ Risa tertawa ringan mengingat kekasih Johan yang berada di jepang. “mengajak kekasih tampannya“
“tentu saja tidak“
Johan menuntun Risa menuju mobil hitam miliknya, mengemudi perlahan membelah kota Seoul, dia sungguh tidak peduli jika akan datang terlambat.
beberapa menit kemudian ….
Ballroom Hotel disulap menjadi begitu megah, mata Risa terpana mengingat bagaimana ballroom hotel ini sebelumnya, decakan kagum itu keluar tanpa henti dari mulutnya, warna pink pastel begitu mendominasi, wangi bunga aster semerbak mengisi udara dalam ballroom hotel.
“bosmu benar-benar punya selera yang bagus“ Johan sama terpanahnya dengan suasana ballroom hotel yang lembut namun classy.
“ini pasti diatur oleh istrinya“ Risa berbisik seolah mencibir, dia cukup tahu bagaimana pribadi Kyoung.
“kamu benar, mengingat Mina. begitu menyukai bunga aster, sudah pasti dia yang mengkombinasi semua ini sehingga menjadi sesuatu yang mengagumkan“
“ayo“
Risa menarik lengan Johan, berjalan dengan anggun ke hall di mana Bisma dan Mei berdiri menjadi sorotan utama dalam balutan merah muda yang begitu mengagumkan.
“selamat boss!“ ucap Risa, sesaat tangan Risa berjabat dengan Kyoung sebelum akhirnya memeluk Mei sebagai bentuk ucapan Selamat.
“Mina, kamu harus hati-hati pada si musang licik ini“ Risa melirik pada Kyoung yang menepuk pelan bahu Johan “dilihat darimanapun, bosku itu terlihat begitu mesum“
“Risa, mau aku potong gaji bulan depan?“ Lee Su Kyoung memasang senyum penuh kemenangan.
“semoga cepat menyusul ke jenjang pernikahan“ ucap Minq yang mengedipkan sebelah matanya, dia berbisik tepat ditelinga Risa.
“Hei-hei, wajahmu kenapa Risa?”
“sudahlah, jangan menggodanya terus“ Johan menarik lengan Risa, menatap lembut mata yang meredup malu-malu.
“sebaiknya kita memberikan orang lain kesempatan untuk memberi selamat pada Tuan Lee”
Risa mengangguk setuju, masih banyak tamu undangan yang ingin memberi selamat pada Kyoung.
“Johan“
Keira memekik tak percaya pada sosok dihadapannya, bagaimana bisa Johan terlihat begitu tampan dan maskulin disaat yang bersamaan? mungkin karena sahabatnya Risa satu ini jarang mengenakan pakaian formal, sehingga terlihat begitu istimewa.
“hai, Keira“
Johan menatap Keira sebelum akhirnya mengangkat tangannya untuk sekedar menyapa kekasih Keira yang berdiri di ujung sana.
“kamu dan Risa terlihat berbeda“ Johan dan Risa mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud dari ucapan Kiera.
“berbeda dalam arti penampilan“ lanjut Keira diiringi tawa ringan. “Hei, sepertinya Jung Lian memang datang bersama Jennie“
__ADS_1
Keira melirik Lian yang baru saja tiba, Jennie terlihat begitu memikat dengan membungkus ketat tubuhnya, gaun itu terlihat indah mempertontonkan setiap lekuk tubuh Jenny.
Para tamu mulai berbisik membicarakan kedatangan sang Jung, bukan hal yang aneh jika Jung Lian selalu menjadi pusat perhatian, mereka mulai berbisik tentang Jenny yang menawan begitu cocok disandingkan dengan Lian yang rupawan.
Johan menyadari raut wajah Risa yang mulai menekuk sejak kedatangan Jung Lian.
“Hei, mana boleh kamu bersedih di resepsi pernikahan orang lain“ ucapan Johan.
“kamu bisa terlihat jelek seperti nenek sihir“ lanjut johan
Bibir Risa mengerucut tidak suka “nenek sihir?“
“Ya, nenek sihir yang penuh dengan keriput jika wajahnya terus mengerut seperti ini“
Johan mengerutkan dahinya dengan bola mata yang memutar mengejek Risa. Tawa tingan meluncur dari mulut Risa, ekspresi Johan terlihat menggemaskan.
“menurutmu apa yang lebih menyakitkan dari sekedar patah hati?“ tanya Johan,
tanganya menyelipkan surai Rambut Risa ke belakang telinga.
“Hm--”
Risa tampak berpikir serius, apa? Memangnya apa yang lebih menyakitkan dari patah hati? Cinta bertepuk sebelah tangan? Tapi bukankah itu sama saja dengan patah hati? “Tidak tahu“
“mengakhiri sebuah hubungan yang bahkan belum kita mulai“
Risa tertegun, dia meneguk saliva yang terasa begitu kering di tenggorokan.
“mencintai seseorang tanpa mengungkapkannya“ lanjut Johan
“kamu dan Lian“ johan mengusap lembut pipi Risa.
“jika kamu benar-benar menyukainya, pertahankan-lah, cinta yang sama tak-kan pernah menyapa untuk kedua kalinya“
“Risa” panggilnya.
“Justin??” panggil, dia melangkah mendekati pria tersebut.
Alis johan menaik ketika Risa memanggil Justin dalam balutan rasa keterkejutan.
“senang bisa bertemu denganmu disini”
Justin menunjukan senyuman terbaiknya, dalam balutan jas dark Justin terlihat begitu tampan.
Risa ingat betul jika Justin adalah salah satu klien Tuan Lee, pertemuan pertamanya dengan Justin saat itu di kuil Shinto, Tokyo.
“kupikir kamu tidak datang?“ ucap Risa mengingat Justin sudah dua bulan menetap di London.
“apa kamu berharap begitu?“ Justin tertawa ringan, sudut-sudut bibirnya masih terangkat.
Risa menggeleng, “hanya tidak menduga saja kamu akan datang“
Saat musik waltz mendarat Justin mengulurkan tangannya, johan menaikan alisnya tidak suka, kenapa harus Justin yang mengajaknya berdansa terlebih dulu.
“apa kamu keberatan?“ tanya Justin, pria itu menatap Risa yang menggigit bibirnya ragu.
Dari sudut matanya Risa menatap johan yang tengah mendengus kesal, sebenarnya tidak ada masalah berdansa dengan Justin tapi jika tidak minta izin johan rasanya sedikit aneh.
Johan mengangkat kedua bahunya sebagai isyarat jika dia menyerahkan keputusannya pada Risa, johan tidak ada dalam wewenang untuk melarang Risa.
“a--aku--“
belum sempat Risa menolak, Justin sudah menarik tangan Risa membawanya ke lantai dansa, melingkarkan tangannya dipinggang Risa.
__ADS_1
“hanya 5 menit“ ucap Justin, lima menit bukan waktu yang lama, Rusa akhirnya menghela nafas pasrah membiarkan tubuhnya dituntun oleh Justin.
“kamu sangat mempesona dengan gaun ini“ bisik Justin.
Lagi-lagi Risa hanya tersenyum kikuk, sebenarnya gaun yang dia kenakan adalah gaun pemberian johan sebagai hadiah ulang tahunnya tahun lalu, gaun sequin berwarna dark blue dari rumah mode Givenchy, tidak terlalu mencolok dengan aksesoris berlebihan gaun dengan sepuluh centi dibawah lutut.
Gaun ini hampir mengekspos seluruh punggung Risa, karena dari itu Risa sengaja menggerai rambutnya, dan jangan lupakan bagian depan gaun yang terbelah di antara kaki hingga lima belas senti diatas lutut pembuat Riasan terlihat semakin sexy.
“apa kamu merasa tidak nyaman?“ tanya Justin, sejak tadi Risa menggigit bibirnya dengan pandangan cemas, Risa menundukan menghindari tatapan Justin, tapi pria itu memegang dagu Risa mengangkatnya hingga mata Risa menatap tepat padanya.
Sejujurnya Risa tampak gugup karena sejak tadi Lian menatapnya, pria itu menatapnya dengan segelas wine di tangannya, Risa hanya merasa seperti sedang diawasi, takut-takut melakukan kesalahan karena tatapan Lian terlihat begitu datar tanpa ada emosi yang tersirat.
“rileks“ Justin mengecup pipi Risa menbuat Risa berjengit terkejut, "aku rasa kamu terlalu tegang“
Rasa tidak nyaman kini menggelayuti hati Risa, ekor matanya kembali menatap Lian, Wine di gelasnya sudah tandas, Risa hanya menatap heran.
Bukankah dari pria itu datang bersama Jennie? Lalu kenapa sejak tadi Lian berdiri sendiri disana, rasa penasaran kini menguasainya.
Apa terjadi sesuatu dengan Jennie? Atau dia sedang pergi ke toilet.
“mau pulang bersama?“ lagi-lagi Justin yang memulai pembicaraan.
“aku pulang bersama Johan?“
“pacarmu?“
“ah, tidak“
Risa menggeleng pelan saat kalinya bergeser kekiri untuk mengimbangi gerakan Justin, kenapa waktu lima menit terasa begitu lama?
“dia sahabatku“
Ada guratan bahagia di wajah Justin saat Risa memperjelas hubungannya dengan johan. Tapi Justin tidak mau berpuas diri, jika johan bukan kekasihnya Risa mungkin ada pria lain yang menjadi kekasih Risa
“apa kamu sudah mempunyai kekasih?“
Kaki Risa berhenti mengikuti gerak dansa. “Tidak“
“kurasa aku harus kembali pada johan“ lanjut Risa,
Justin mengangguk menyetujui meski ada perasaan tidak rela saat harus melepaskan genggamannya pada tangan Risa.
“kurasa lebih dari lima menit“
johan melirik jam tangan rolex yang melingkar di tangannya saat Justin dan Risa menghampirinya.
"sampai berjumpa lagi nanti“
Justin sanggup tidak menghiraukan ucapan johan, pria itu tersenyum sebelum memberikan kecupan di punggung tangan Risa lalu pergi begitu saja.
“pria itu menyukaimu“ tandas johan sejak tadi dia memperhatikan ketertarikan pada sahabatnya.
“Tidak“
Risa menggeleng, dia tidak yakin jika Justin menyukainya “dia hanya klienku dulu, hanya sebatas itu“
“dan mencium pipi?“ sebelas alis johan terangkat, “jangan lupakan ciuman di punggung tanganmu“
Risa tidak tahu harus menjawab apa, dia tidak cukup nyaman dengan perlakuan Justin, karena itu begitu tiba-tiba untuk orang asing yang hanya bertemu beberapa kali, Justin bilang itu sebagai bentuk pujian untuk kecantikan Risa malam ini, tapi haruskah mencium pipinya.
Lian, entah kenapa Risa memikirkan pria itu sekarang, apa Lian melihat Justin mencium pipinya? bagaimana perasaannya?
Sebersit ada perasaan takut dihatinya, dia takut Lian salah paham tapi salah paham atas dasar apa?
__ADS_1