Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 13 - So, I love you


__ADS_3

Risa menunduk memikirkan banyak hal, dari sudut-sudut matanya Risa, dia bisa melihat Lian yang sedang fokus dengan layar komputernya, mata itu terbingkai dengan kacamata berframe tipis, untuk kali ini Lian terlihat lebih dewasa daripada biasanya.


Wajahnya yang begitu serius, dahinya yang sedikit mengerut saat tangannya tak berhenti menekan keyboards, Risa begitu penasaran kenapa pria limited edition seperti Lian masih single hingga sampai saat ini?


Bukankah ada banyak perempuan yang rela menjadi pendampingnya Lian, salah satu contohnya adalah Jennie.


Jika dibandingkan dengan Jennie dan sederet perempuan yang pernah dekat dengan Lian, Risa jelas tidak pernah mengenal sosok Lian sebelum dipertemukan dengannya melalui Kevin.


“Kenapa?”


Lian melonggarkan dasinya, kacamatanya sudah tidak lagi mengingkai dimatanya dan Risa menggeleng lemas, matanya melirik Kevin yang masih tidur lelap.


“kemarilah!” ucap Lian.


Lian duduk di sofa yang berseberangan dengan sofa tempat Kevin tertidur.


Risa baru saja mendaratkan bokongnya di samping Lian, tapi tangan Lian menarik Risa membuat tubuhnya terduduk diatas pangkuan Lian.


“bagaimana?” ucap Lian.


Alis Risa terangkat, apanya yang bagaimana? Lian menyusupkan kepalanya di antara persimpangan leher Risa, menciumi setiap aroma tubuh Risa dalam-dalam.


“Lisa”


Risa meneguk ludahnya saat Lian menurunkan sedikit kausnya, memperlihatkan bahu putihnya lalu menggigitnya pelan.


“apa dia sangat mirip denganku?” tanya Risa.


“Ya,, dia sangat mirip denganmu secara fisik”


Lian mengusap punggung Risa mengantarkan getar-getar statis ke setiap sel tubuhnya.


“tapi secara sifat dia sangat berbeda 180 derajat denganmu, dia terlalu pemalu dan sangat pendiam, dia tidak pernah mengeluh terhadap apapun padaku, dia juga tidak pernah mengumpat sepertimu”


Bibir Risa mengerucut tidak suka, tangannya menahan Lian yang nyaris melepas pengait branya.


“lalu kenapa kamu menyukaiku?”


“aku bukan menyukaimu, aku hanya ingin hidup bersamamu, mungkin ini yang dinamakan insting, cinta saja tidak bisa menuntun kita pada satu ikatan yang dinamakan pernikahan, harus ada keyakinan dan kepercayaan yang menjadi pondasi kuat, aku sangat yakin dan percaya padamu, karena dari itu aku ingin menikahimu” ucap Lian.


Lian menyatukan dahinya dengan dahinya Risa, menggesekan pelan hingga mereka saling bertukar oksigen.


“aku tidak cukup sabar hanya untuk membuang-buang waktu untuk sekedar menjalin kasih dalam ikatan pacaran, mungkin bagi perempuan seusiamu masih ingin bermain-main dengan berpacaran, tapi aku sudah pernah melewati masa itu, maka dari itu aku ingin menjalin hubungan lebih serius dibandingkan menjalin hubungan tiada arti yang kamu sebut pacaran” Lian terus berbicara.


Risa tidak mampu membalas ucapan Lian, matanya masih terpejam menikmati usapan di perutnya, tangan besar Lian masih betah bermain di sana.


Sebenarnya apa yang Risa tunggu? Dia hanya tidak cukup yakin jika dirinya tidak berdiri di atas bayang-bayang Lisa.


“apa karena aku mirip dengan Lisa?” tanya Risa


“bukan karena itu!”


“lalu kenapa tidak Jennie?”


“sudah ku bilang ini masalah insting!”


Lian kembali mengusap kepalanya di perpotongan leher Risa lagi.


“aku tidak pernah merasa bergairah saat bersama Jennie, hati tahu kemana dia akan berlabuh, seberapa keras kamu mencoba untuk menjatuhkan hati pada seseorang yang menurutmu tetap, tapi jika hatimu tidak menghendaki maka dia takkan pernah jatuh”


“dulu aku sudah berulang kali mencoba untuk jatuh hati pada Jennie, tapi hasilnya tetap nihil, hatiku tak pernah berdebar seperti saat bersamamu”


tangan Lian menuntun tangan Risa dan menahannya di atas dada bidang miliknya.


“aku tidak ingin membohonginya dengan pura-pura menyukainya, kamu tahu? Aku bahkan tidak pernah bisa mencium Jennie meski dia memaksa“


Lian mengecup bibir Risa penuh gairah. “tanpa gairah hati takkan pernah berarti”


“berjanjilah”


Risa menangkup wajah Lian, menatap lurus matanya yang memancarkan keseriusan.


“jika kamu akan memutuskan untuk di sampingku, maka kamu hanya boleh melihatku, aku tipe perempuan yang suka monogami, memonopoli hati laki-laki yang aku cintai”

__ADS_1


Lian mengangguk mengecup ujung Risa.


“aku juga tidak pernah suka berbagi apa yang ku miliki”


Saat bibir Lian akan membungkam mulut Risa, pintu besar itu terbuka memperlihatkan Jennie yang berdiri mematung tidak percaya diujung pintu.


Risa terperanjat, tubuhnya reflek melepaskan pelukan Lian tapi tangan Lian lebih cepat menahannya, lengan besar Lian melilit semakin mempererat pelukannya di pinggang Risa, pria itu sama sekali tidak memperdulikan Jennie yang melayangkan pandangan tidak suka pada mereka.


“ada apa?” tanya Lian, satu tangannya mengelus leher belakang Risa membawa Risa untuk bersandar di perpotongan lehernya.


“kamu sudah berjanji menemaniku ke pesta pertunangan temanku, aku sengaja datang lebih awal”


Jennie mendelik tajam, melihat Risa yang masih duduk diatas pangkuan Lian.


“baiklah, tapi aku akan mengantarkan Risa dan Kevin pulang lebih dulu” ujar Lian.


Risa pikir Lian akan membatalkan ajakan Jennie, Bukankah tadi Risa sudah menyatakan ketidaksukaannya secara tidak langsung.


“memenaninya bukan karena aku mencintainya, aku hanya berperilaku seperti seorang pria, aku sudah berjanji akan menemaninya dari beberapa hari yang lalu, aku bukan pengecut yang akan membatalkan janjiku begitu saja” ucap Lian untuk meyakini Risa.


Apa ini hanya perasaan Risa saja atau Lian terlalu banyak bicara hari ini? Entahlah yang Risa tahu sekarang hatinya menghangat,


perasaan nyaman kini mendominasi setiap ruang di hatinya, dia juga tidak akan bisa egois, Jennie lebih dahulu hadir dalam kehidupan Lian, Jennie juga yang menemani Lian saat masa berat Lian.


Akan sangat tidak berperasaan jika dia melarang Lian berhubungan dengan Jennie, selama Lian tahu dimana batas persahabatan mereka, Risa akan meluaskan hatinya agar tidak mudah cemburu pada hubungan keduanya.


“tidak perlu mengantarku” ucap Risa, wajahnya merah karena malu “aku membawa mobil, lagipula kamu mungkin lelah”


“yakin?” Lian menunjukan senyum.


“tentu saja, kamu bilang kita butuh keyakinan dan kepercayaan sebagai pondasi kuat untukbhubungan kita, maka mulai saat ini aku yakin jika kamu benar-benar membutuhkanku dalam hidupmu, dan aku percaya jika seluruh hatimu sepenuhnya terisi olehku sehingga tidak ada satu orangpun yang mampu menyusup ke dalamnya”


Jika tidak ada Jennie, Lian mungkin sudah ******* bibir Risa yang melantunkan kata yang terdengar menyejukan hati dan telinganya.


“Love you” bisik Risa pelan diatas Lian dengan wajah semerah peach dan hati berdebar.


“Love you more” suara serak Lian menghantarkan jutaan Volt listrik ke hatinya.


*********


“namanya Lisa” suara serak Lian mengudara di sela-sela acaranya yang mengecup tulang selangka leher Risa, memberi beberapa tanda kepemilikannya disana.


“dia meninggal setelah melahirkan Kevin” ucap Lian.


Ada guratan penyesalan yang sirat diwajah Lian, tangan Risa terulur untuk menangkup wajah Lian menatap kedalam mata yang begitu sayu, beberapa hari lalu Lian pergi ke Osaka karena ada masalah dengan perusahaan cabang disana, pasti pria ini tidak tidur dengan nyenyak selama beberapa hari ini.


Jemari Risa mengusap lingkaran hitam dibawah kelopak mata Lian “dia yang pertama”


helaan nafas Lian menerpa wajah Risa.


“sampai beberapa tahun dia meninggal, aku belum bisa melupakannya” ucap Lian Lagi.


Lian masih berbaring nyaman di atas sofa, Risa duduk diatas pangkuannya, dengan rakus Lian menciumi aroma tubuh Risa, Lian begitu sangat merindukan Risa.


“butuh banyak waktu untuk kembali menata hidupku”


Risa mendengarkan kata demi kata yang mengudara dari mulut Lian, dia sama sekali tidak mau menyala ucapannya.


“Lisa adalah perempuan pertama yang mengenalkanku pada cinta”


Ada sedikit rasa sesak menyapa hatinya, jika Risa yang pertama kali bertemu dengan Lian apakah dia akan menjadi yang pertama?


“tapi ku simpan semua itu sebagai kenangan” Lian memberikan kecupan-kecupan kecil di wajah Risa.


“bagaimana tentangmu?” tanya Lian.


“kamu sudah mengetahui semua tentangnya bukan?” Risa ingat saat Lian mengucapkan semuanya, dia menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang Risa.


“aku ingin tahu dari mulutmu”


“tidak ada yang spesial dariku” ucap Risa, entah kenapa tiba-tiba dia kesal mendengarkan penjelasan Lian, seharusnya dia sadar jika Lian memang begitu mencintai Lisa, kenapa sekarang dia malah tidak suka.


Ponsel Lian berdering, nama Jennie tertera di sana, Lian masih bergeming tidak melepaskan tatapannya dari Risa.

__ADS_1


“angkat telponnya” ucap Risa dengan nada rendah rendahnya, perasaan tidak nyaman mulai merayap mengisi kekosongan hati Risa, sementara Lian menjawab telpon Risa lebih memilih mengambil minum, tenggorokannya tiba-tiba terasa begitu kering.


Lian begitu sangat amat mencintai Lisa, Risa jadi tidak begitu yakin jika Lian benar-benar mencintainya setelah melihat tatapan penuh duka Lian yang menceritakan tentang Lisa padanya.


**********


“strawberry atau mangga?” tanya Risa saat menimang-nimang puding yang akan dibeli.


“Kevin suka strawberry” seru Kevin dengan mata yang berbinarnya, bocah itu nyaris menempelkan wajahnya di etalase yang memajang berbagai jenis cake dan puding.


“kita makan disini, Ibu?” tanya Kevin tidak yakin, karena biasanya setelah menjemput Kevin sekolah Risa akan kembali kekantornya.


Risa menunjuk beberapa puding, lalu setelah itu membawanya kemeja kosong di ikuti Kevin yang mengekor di belakangnya.


“Ya, Ibu tidak ada pekerjaan lagi, jadi kita bisa menghabiskan waktu bersama”


Kevin tersenyum memamerkan sederet gigi kecilnya yang lucu.


“Horee!”


Risa tertawa ringan melihat Kevin, yang begitu menggemaskan, tangannya terulur untuk membersihkan mulut Kevin,


“setelah ini sebaiknya kita kemana?” Dahi Kevin mengerut tampak berfikir,


“bagaimana jika kebun binatang?” Risa melihat jam di pergelangan tangan yang menunjukan pukul satu siang.


“baiklah, kita bisa pergi ke kebun binatang Ueno, kita pergi naik kereta, Okey?”


“Oke” Kevin melompat dari kursinya.


“Kevin belum pernah naik kereta, tapi akhirnya Kevin bisa naik kereta juga”


Risa hanya menggelengkan kepalanya pelan, dia cukup yakin jika Lian takkan pernah membiarkan Kevin naik kereta mengingat dia selalu pergi dengan mobil, kali ini untuk mempercepat waktu perjalanan mereka, Risa lebih memilih untuk naik transportasi umum.


“apa kita perlu memberitahu Ayah?” tanya Kevin.


Tidak!


Sejak kejadian malam kemarin, Risa menghindari Lian, entah kenapa ada sejumput rasa sesak mengingat masih ada bayang-bayang Lisa di mata Lian yang terlihat sangat jelas saat Risa menatap mata itu.


“Tidak perlu, kita bisa pulang sebelum Ayah sampai rumah” Risa tahu pasti jika dia memberi kabar pada Lian sudah pasti pria itu akan ikut dengan mereka dan Risa tidak mau itu.


Kevin hanya mengangguk, menghabiskan pudingnya dengan cepat agar bisa segera pergi.


“menyenangkan” Kevin merentangkan kedua tanganya setelah turun dari kereta, setelah transit di stasiun Ueno Risa memilih berjalan kaki ke Gerbang depan kebun binatang Ueno karena cukup dekat dari Stasiun Ueno.


Bagian dalam kebun binatang dibagi menjadi dua kawasan, kebun Binatang barat dan kebun binatang timur, selain dapat berjalan kaki, pengunjung dapat naik monorel yang menghubungkan kebun binatang barat dan kebun binatang timur, monorel dikebun binatang Ueno adalh monorel yang pertama di Korea.


Risa lebih memilih pergi ke kebun binatang barat, karena disana ada kebun binatang anak dan kolam yang sepertinya akan cocok untuk dia dan Kevin.


“Ibu kita naik kereta lagi?” tanya Kevin saat dia dan Risa mengantri untuk menaiki Monorel, karena gerbang depan adalah bagian kebun binatang timur, Risa harus menaiki monorel agar bisa cepat sampai di kebun binatang barat.


“ini namanya monorel” jelas Risa, dia mengangkat tubuh Kevin agar bisa melihat pemandangan luar dari atas,


“Ibu itu ada Diego” tunjuk Kevin dahi Risa mengerut mencari sosok Diego yang dimaksud Kevin.


”tapi kenapa tidak ada Manfred di sana?” tanya Kevin, wajahnya terlihat bingung.


Astaga, Risa baru ingat sosok harimau di film animasi ‘ice age’ yang pertama Diego setelah Kevin, menanyakan Manfred, Mammoth besar yang baik hati.


“manfred tidak ada disana, dia bersama keluarganya di tempat lain, kita akan mampir untuk melihatnya, Okey”


“baiklah, tapi kenapa manfred tidak bersama diego?”


Bagaimana Risa harus menjawab pertanyaan Kevin, Diego,Sid dan Manfred adalah hewan langka yang sudah punah, meski Diego terlihat seperti harimau biasanya, tapi dia adalah genus dari Machairodont Felid (disebut juga Saber-toothed Cat) yang telah lama punah, mereka hidup di amerika utara selama era pleistosin (2,5 juta- 10.000 tahun yang lalu)


Intinya karakter Ice Age adalah hewan-hewan purba yang telah punah karena berjuang melawan Zaman Es.


“begini, Ibu, Kevin dan Ayah punya rumah bukan?”


Kevin mengangguk mendengarkan penjelasan Risa.


“Diego, Manfred dan Sid punya rumah, masing-masing jadi mereka tidak bisa bersama, Kevin ingat jika Sid sangat suka berada di pohon? Bayangkan apa Manfred bisa memanjat pohon? Seperti ikan yang hidup di air dan burung yang suka terbang, mereka mempunyai lingkungan masing-masing, karena itu Diego maupun manfred tidak bisa tinggal bersama”

__ADS_1


“baguslah, ayo kita turun”


Risa menghela nafas tak yakin dengan penjelasannya tentang karakter Ice Age yang bahkan tidak Risa ketahui, Risa bukan orang yang senang dengan ilmu tentang binatang-binatang, meski satu hal yang Risa tidak yakin, jika di dunia nyata Diego dan Manfred pasti sudah saling memangsa.


__ADS_2