![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Sejak awal Lian memang sudah merencanakan semuanya, sehari setelah resepsi pernikahannya Lian dan Risa langsung terbang ke hawai (Amerika Serikat).
Tentu saja tidak . g.h Kevin, karena ini demi kelanjutan The Next Jung yang harus diberdayakan, memikirkan bagaimana bulan madu mereka membuat Lian tersenyum sendiri.
Ketika pesawat yang mereka tumpangi akan segera lepas landas dari internasional Incheon Airport, Lian segara mengusap pipi Risa.
“Risa” Ibu jari Lian menekan-nekan pipi tembem Risa, berharap Risa akan berbangun, tapi Risa masih tertidur nyenyak di sampingnya, wajar saja mungkin Risa kelelahan
“Sayang bangunlah!”
Suara Lian sedikit memberat saat Risa tidak terusik sama sekali, akhirnya sebersit ide muncul di kepala Lian, dia mencondongkan kepalanya lalu mengecup bibir Risa berulang kali, sampai pada akhirnya dimana Lian tidak bisa menahan diri untuk ******* bibir merah peach itu.
Satu gigitan di bawah bibir Risa berhasil mengusik ketenangannya, gerakan lemah mengudara alhasil mulut Riisa sedikit terbuka, Sialnya kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Lian, lidahnya begitu saja menerobos mulut Risa mengecap lebih rasa manis di setiap rongga mulut Risa.
Mata Risa membulat ketika menyadari jika bibir Lian sedang menari diatas bibirnya, lidah pria itu begitu antusias menjelajahi mulut Risa.
“Lian” ucap Risa, dia hampir saja kehabisan nafas ketika Lian masih tidak mau beranjak dari posisinya.
“sesak!”
Lian langsung mengangkat kepalanya tapi sebelum itu dia menyusupkan kepalanya di perpotongan leher Risa, menggigit pelan kulit leher Risa hingga desahan lembut keluar dari mulut Risa.
“agar pria diluar sana tahu kalau kamu adalah milikku”
Lian tersenyum bangga melihat kissmark yang baru saja dia bubuhkan di leher jenjang Risa.
“mereka pasti tahu, Lian pasti tidak akan membiarkanku sendiri di sana” Risa mencubit lengan Lian yang merayap di belakang kaosnya mengusap pelan perut rata Risa.
“aku bahkan tidak yakin kita akan menikmati wisata di sana, ketika yang ada dipikiran Lian hanya ada cara bagaimana membuat perutku terisi dengan benihmu”
Benar saja bukan apa yang Risa khawatirkan sejak turun dari pesawat itu benar-benar terjadi.
Dia bahkan belum melihat ke seluruh penjuru resort yang mereka datangi, tapi Lian sudah menguncinya di kamar, tidak membiarkannya keluar kamar satu langkah pun.
Tidak ada lingerie atau pakaian dalam Victoria’s secret memang, tapi ini lebih parah. Sejak dua jam yang lalu tubuhnya sudah tidak terbarui satu benang pun di bawah selimut berwarna coklat muda.
Lian masih bisa bernafas teratur di atas dadanya, rambut hitam yang mencuat itu sedikit membuat geli dagu Risa, hembusan nafas hangat suaminya sungguh mengganggu, karena berhembus tetap diatas asset kembar miliknya.
Ketiak Risa akan bangkit mengambil pakaiannya yang tergeletak di bawah ranjang, lengan Lian sudah menahannya tidak membiarkan dia sedikit pun bergerak satu langkah pun.
Tanpa apa-apa mulut hangat Lian mengecup kecup merah muda yang sejak tadi sudah menegang, tangan pria itu pun tidak bisa diam meraba bokong sintal Risa.
“Lia--n” Risa meremas surai Lian, pria itu masih sibuk mengulum dengan ketat kuncup merah muda milik Risa.
Risa sedikit kelelahan, pasalnya dia sudah lupa berapa kali dia ******* sejak dua jam lalu Lian mengajaknya bergulat, awalnya hanya ajakan mandi bersama.
Karena lelah jika harus berdebat dengan Lian akhirnya Risa menurut begitu saja, dan benar saja bukan hanya mandi yang dia lakukan dengan Lian. Bahkan Lian langsung menyemburkan spermanya tanpa foreplay atau semacamnya.
“sekali lagi boleh?” Lian mendongak menatap mata Risa yang sepertinya juga sudah tersulut gairahnya.
Meski lelah karena sudah beberapa kali melakukan aktifitas yang menyita tenaga, tapi pada akhirnya Risa mengangguk patuh. Membiarkan Lian mengeksplorasi setiap inci tubuhnya.
“kamu suka?” Lian memeluk Risa dari belakang, mengecup pelan bahu Risa yang hanya mengenakan baju bertali spaghetti.
Lian sengaja menyewa saru resort eksklusif untuk mereka berdua, agar tidak ada yang mengganggu lebih tepatnya agar dia bisa melancarkan aksi mesumnya dimana saja, Lian jelas takkan suka jika Risa menjadi pusat perhatian para lelaki yang haus belaian.
“suka sekali” Risa menyadarkan kepalanya di dada bidang Lian, menikmati helaian rambut menari-nari kecil.
Lian membalikan tubuh Risa, menangkup wajah Risa dengan kedua tangannya “aku sangat mencintaimu”
Satu kecupan pelan mendarat di bibir Risa sebelum akhirnya kecupan lain menyusul di wajah Risa.
__ADS_1
“terimakasih, karena mau menyapa kehidupanku” bibir Lian tersenyum, sampai saat ini rasa syukur tidak pernah lepas dia ucapkan.
“pertemuan awal kita memang tidak menyenangkan, masa pengenalan kita pun begitu singkat, pernikahan kita terkesan terlalu mendadak, hingga aku harus berdebat dengan kakakmu” Risa masih terdiam menikmati setiap kata yang keluar dari mulut Lian.
“tapi dibalik itu semua, aku belajar sesuatu bahwa cinta sejati takkan butuh waktu lama untuk saling mengenal, karena berjodoh atau tidaknya kita bukan tentang waktu, pertemuan pertama tidak menyenangkan bukan berarti kita tidak bisa membuat memori bahagia kedepannya” jemari Lian bergerak merapikan helaian rambut Risa ke belakang telinganya.
Risa mengangkat kepalanya untuk mengecup bibir Lian
“Karena pernikahan itu bukan tentang seberapa lama kita mengenal, tapi kesanggupan hati untuk mengenal lebih jauh pasangan kita setelah janji itu berucap, berjanji-lah kita akan selalu terbuka satu sama lain, membuat kenangan bahagia setiap menitnya agar bisa kita tertawa-kan bersama di hati tua nanti”
“promise” Lian mengecup pelan kening Risa, merengkuh tubuh Risa dalam dekap hangat penuh kasih.
Mulai saat ini tidak ada lagi hampa yang akan menyapa hatinya, karena hidup bersama Risa hingga menua adalah mimpinya sekarang.
Membesarkan anak-anak mereka kelak, untuk saat ini hanya akan ada kebahagian yang menemani.
hari kedua Risa dan Lian berada di hawai.
hari ini mereka akan berencana pergi ke pantai orang amerika biasanya menyebutnya pantai Maui, salah satu tempat yang direkomendasikan untuk turis yang sedang berbulan madu dan tempat yang bagus untuk melihat matahari terbenam, pantai itu terkenal dengan suasana yang tenang dengan ombak yang cukup baik dan juga hamparan pasir putih.
mendengar mereka apa pergi ke pantai, Risa sangat bahagia sudah sangat lama dia tidak pergi ke pantai, sangking senangnya Risa sampai bangun pagi-pagi sekali. dia juga menyiapkan keperluan yang akan dibawa nanti di pantai.
"kamu sudah bangun? aku baru saja ingin membangunkan mu setelah aku selesai membuat sarapan untuk kita"
Risa cukup terkejut saat tubuhnya tiba-tiba bersentuhan dengan Lian yang sudah memeluknya dari belakang. Risa merasakan jika Lian tidak memakai baju, karena keringat Lain begitu terasa.
"kenapa tidak membangunkan ku? saat aku membuka kedua mataku aku tidak melihat dirimu dan itu cukup membuatku khawatir" Lian menelusupkan kepalanya di perpotongan leher Risa.
"aku hanya tidak ingin mengganggu tidur nyenyak saja"
"maaf untuk yang semalam, apa kamu tidak merasa sakit? kita melakukan lebih dari 3 jam"
"ak--aku--aku baik! hanya saja aku sulit untuk berjalan"
"aku akan menggendongmu jika kamu tidak sanggup untuk berjalan lagi"
"masih sanggup untuk berjalan, sayang lebih baik kamu pergi mandi, aku tidak suka dengan bau dari keringatmu"
Risa mencoba mengalihkan pembicaraan, dia tidak mau terlihat memalukan di hadapan Lian,
"aku sangat suka menggodamu Risa, lihatlah wajahmu sudah memerah"
"Lian pergilah aku tidak suka dengan keringatmu, lepaskan aku! kalau tidak aku akan memukulmu-- "
"baiklah, aku mencintaimu"
Saat pelukan itu lepas dengan cepat Lian berlari meninggalkan Risa, dia tahu Risa pasti akan berteriak atau memarahinya.
setelah Lian pergi, Risa mulai menyiapkan sarapan yang tadi sempat dihentikan.
dia kembali ke kamar untuk mengambil pakaian yang akan dibawa ke pantai, tapi saat di melangkah masuk kedalam kamar langkah kakinya terhenti begitu saja saat melihat tubuh berotot Lian yang masih terdapat tetesan air bekas dia mandi, terlihat sangat indah dengan rambut yang berantakan dan dada telanjang yang terekspos begitu saja. ingin rasa Risa meletakkan jari mungilnya di tubuh itu.
'Shitt, apa yang sedang kau pikirkan Risa sadarlah!' Ucap Risa dalam hatinya sebisa mungkin dia mengalihkan pandangan agar tidak terlihat tubuh ideal Lian, berjalan mendekati lemari untuk mengambil pakaiannya.
dengan cepat-cepat dia mengambil pakaian di lemari lalu pergi melangkah keluar kamar, namun saat membalikkan tubuhnya, Lian sudah lebih dahulu menghampitnya dengan kedua tangannya dan itu cukup membuatnya terkejut.
"Lian, apa yang sedang kamu lakukan?" padahal mereka sudah menikah tapi Risa masih saja gugup dan juga malu untuk melihat tubuh Lian.
Lian tersenyum nakal, satu tangannya menarik dagu Risa. "kenapa kamu menundukkan wajahmu sayang, kamu sudah melihat semua tubuhku kenapa masih malu untuk melihat lagi"
"aku--aku--tidak sedang melihat tubuhmu aku hanya ingin mengambil pakaianku saja"
__ADS_1
"benarkah? saat aku sedang mengeringkan rambutku, kau menatapku tanpa berkedip sedikitpun Risa" ucap Lian, dia mengucapkan tetap di telinga Risa yang semakin membuat Risa merasa malu, Risa hanya bisa berharap bisa pergi dari kamar ini secepatnya.
"Risa.."
"Lian ini masih pagi dan juga kita akan pergi ke pantai, bisakah melakukannya nanti"
"aku hanya ingin memintamu menyingkir sedikit, aku ingin mengambil pakaianku, apa yang sedang kamu pikirkan sayang?"
"aku.. aku harus menyiram tanaman di luar" secepat kilat Risa berlari keluar kamar meninggalkan Lian begitu saja di kamar.
*************
"kenapa begitu banyak barang yang kita bawa?" tanya Lian.
Kini mereka berdua sedang dalam perjalanan ke pantai Maui, Karna pantai Maui sangat jauh dari hotel yang mereka tempati membutuhkan waktu sekitar 1 jam setengah perjalanan, membuat mereka harus berangkat lebih awal.
"aku ingin kita piknik disana, dan aku juga ingin berjemur dibawah teriknya sinar matahari"
perjalanan berjalan dengan saat baik, tepat pukul 10 pagi mereka sudah berada di Pantai Maui, tanpa diberitahu Risa langsung menganti pakaian dengan pakaian pantai yang sudah dia siapkan tadi pagi.
tepat saat Risa keluar dari ruang ganti Lian sudah berada di tempat di mana mereka akan piknik, dan saat itu juga tatapan tajam datang dari Lian, dengan cepat Lian mendekatinya.
"Risa! ayo kita ganti baju sekarang!!"
"Lian! lepaskan sakit, memang apa yang salah dari pakaianku, aku juga tidak memakai bikini"
Lian menghela nafas, dia tidak boleh kasar pada Risa dengan sabar dia menurunkan suara agar terdengar lebih lembut.
"Risa aku sangat cemburu jika pria lain melihat tubuh indahmu, tidakkan kamu memikirkan diriku ini? bayangkan jika semua pria yang ada di sini melihat tubuhmu? ini bisa membuatku gila Risa" Ucap Lian,
padahal Risa tidak sepenuhnya mengekspos tubuhnya pakaian masih dibilang layak untuk dipakai, di bagian bawah pinggang dia menggunakan kain untuk menutupi pahanya sampai lututnya dan untuk bagian atas dia mengenakan kaos putih polos dengan bagian perutnya terlihat.
"Lihat tubuhmu, kamu membiarkan perutmu terlihat, ayolah Risa aku sangat tidak suka, aku bahkan memakai kemeja pantai untuk menutupi tubuhku"
rasa Risa ingin sekali mencubit pipi Lian, Risa sangat suka saat Lian sudah mulai posesif pada dirinya.
"lain kali aku akan membuat banyak tanda pada tubuhmu sehingga kamu tidak akan berani memakai pakaian seperti ini lagi" Lian menarik tangan Risa membawanya ke sebuah toko pakaian.
setelah selesai dengan acara perdebatan mereka, kini Lian dan Risa sedang duduk di pinggir pantai sambil menikmati indahnya lautan dan sejuknya angin pantai. Lian begitu posesif dia tidak membiarkan Risa melihat pria lain. bahkan saat piknik tadi pun Lian sengaja mencari tempat yang sepi dan jauh dari banyak orang.
"Lian kapan akan kembali? aku merindukan Kevin, aku belum sempat menelponnya Setelah selesai acara pernikahan kita"
"sampai kamu hamil baru kita akan kembali pulang, dan masalah Kevin, dia sangat bahagia tinggal bersama dengan ayahmu"
"menyebalkan!"
"tapi kamu menyukai pria menyebalkan dan juga tampan inikan?"
"Tidak!"
Lian sangat gemas dengan wajah Risa yang sedang marah, dengan sengaja dia menarik wajah Risa dan menciumnya dengan saat tiba-tiba. Lian tidak membiarkan Risa menolaknya dengan cepat mengunci pergelangan tangannya.
"Lian--aku--sulit bernafas" Risa mendorong Lian agar menjauh darinya.
"aku mencintaimu Risa, tolong tetap menerima semua perbuatanku yang kurang ajar ini, aku bener-bener merasa bersyukur memilikimu seutuhnya, Risa berjanji satu hal padaku jika suatu saat nanti kamu merasa aku berubah tolong jangan pernah berpikir untuk pergi tapi beritahu aku jika itu terjadi" ucap Lian memegang kedua tangan Risa dan mencium kedua tangannya.
"aku berjanji, aku akan selalu berada disampingmu untuk menghadapi semua masalah yang akan terjadi di masa depan nantinya"
"apa kamu ingin membeli sesuatu di sini untuk keluargamu atau untuk Kevin sambil menunggu matahari terbenam" tanya Lian
"baiklah ayo pergi" Risa mengulurkan tangannya untuk mengajak Lian untuk bangun.
__ADS_1
Kini keduanya sedang berjalan ke pasar toko aksesoris, Risa tidak pernah melepaskan genggaman tangan Lian yang terasa hangat, Risa tersenyum melihat Lian masih saja melarangnya melihat pria lain dengan sengaja Lian menurunkan topi membuatnya hanya bisa melihat kebawah.