![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Risa masih sibuk membuat omelet untuk sarapan pagi, kali ini, meski badannya sudah cukup sehat Lian masih melarangnya untuk pergi ke kantor.
Risa menurutinya begitu saja, alhasil satu-satunya kegiatan yang bisa dia lakukan adalah mengantar Kevin pergi ke sekolah.
“Ibu” Kevin berteriak langsung memeluk Risa, anak itu sudah rapi dengan seragam sailor warna birunya.
“hari ini Ibu mengantarku ke sekolah?”
Kevin mendongak menatap Risa, berharap satu anggukan sebagai bentuk kebenaran dari pertanyaannya.
Tadi Lian memberitahunya, bahwa Risa akan menemaninya pergi ke sekolah, tentu Kevin sangat senang dengan ucapan Ayahnya.
“Ya, Ibu akan menemanimu ke sekolah”
Risa menarik tangan Kevin, menuntunku agar sesegera duduk di meja makan. “mungkin kita bisa pergi ke kedai es krim pulangnya”
Ucapan Risa langsung mendapatkan tatapan tajam Lian. “Kamu baru sembuh flu, dan ingin memakan es krim?”
“Ya, apa salahnya?”
“apa salahnya?” ulang Lian, tangannya mengambil sedikit omelet. “kamu ingin tenggorokanmu sakit lagi, jangan bercanda Risa, kamu bukan lagi anak kecil yang harus ku peringatkan”
Risa meneguk ludahnya gugup saat Lian berujar dengan tatapan menusuk.
“kita bisa pergi menonton Ibu” usul Kevin, “dan memakan sedikit es krim, tapi jangan beritahu Ayah nantinya”
Risa menunjukan senyumannya, benar apa kata Kevin, dia tidak perlu mengatakan apa yang dia lakukan pada Lian, dia bisa melakukan apa saja yang dia mau selama Lian tidak mengetahuinya.
“jangan coba-coba, Risa” kata Lian seolah sudah bisa membaca pikiran Risa, lagipula kenapa Kevin mengatakannya di depan Lian, sudah pasti pria itu bisa membaca pikiran Risa.
Risa hanya merenggut memajukan bibirnya, Lian terkadang memang sangat menyebalkan.
Sesampainya di sekolah Kevin.
“wah, kamu istri dari Tuan Jung Lian?” tanya seorang perempuan berambut hitam.
“baru kali ini aku melihat Kevin di antar oleh Ibunya”
Risa hanya menunjukan senyumanya, dia sudah sering mangantar Kevin hanya saja tidak sampai menunggu Kevin sampai pulang sekolah, Risa hanya akan mengantarnya sampai kelas lalu menjemputnya saat Kevin pulang, jadi wajar saja sosoknya tidak cukup dikenali.
“aku bukan Ibunya” ujar Risa.
“tapi ku dengar Kevin memanggilmu Ibu”
Risa meneguk ludahnya, akan sangat sulit menjelaskan situasinya terhadap orang asing jadi lebih baik dia berbohong sedikit saja.
“maksudku, aku bukan Ibu kandungnya” ucap Risa
“oh--begitu” perempuan itu mengangguk. “perkenalkan, namaku aelya, aku juga sedang menunggu puteriku”
“aku Risa” Risa mengulurkan tangannya.
“kamu isteri baru Tuan Jung Lian begitukan?” tanya Alya, perempuan itu terlihat begitu penasaran.
“Tapi kenapa tidak ada berita mengenai pernikahan kalian, justru yang kutahu Tuan Lian sedang menjalin hubungan serius dengan sahabatnya Jennie, kan?”
Risa menarik nafas pelan, sepertinya kehidupan Lian memang menjadi konsumsi publik, mata Risa melirik gelisah pada jam di tangannya, sebentar lagi Kevin akan keluar dan dia bisa selamat dari Alya yang begitu penasaran dengan kehidupannya.
“aku yang memintanya agar tidak terlalu mengekspos hubungan kami ke publik”
“Ibu” Kevin berteriak dengan senyum cerahnya, bocah itu memamerkan sederet gigi putihnya.
Akhirnya, Kevin berhembus menarik tangan Risa, disusul anak-anak lain yang keluar kelas memenuhi koridor, Risa mengangguk lalu berpamitan pada Alya.
“apa Kevin lapar?” tanya Risa saat dia mulai mengemudi, Kevin duduk disampingnya, anak itu masih terlihat sibuk dengan mobil hot wheels yang baru didapatnya kemarin dari Lian.
“bagaimana jika makan ramen?”
__ADS_1
“Kevin suka ramen” seru Kevin. “tapi Kevin lebih suka Ibu dan Ayah”
Risa mengerutkan keningnya mendengar ucapan Kevin.
“bagaimana jika kita telpon Ayah, kita ajak Ayah makan siang bersama, Ayah sangat suka dengan ramen” ujar Kevin penuh antusias.
“kita hanya akan mengganggu Ayah, sayang. Ayah pasti sedang sibuk”
“kita pergi ke kantor Ayah, tapi sebelum ke kantor Ayah kita ke kedai ramen dan makan di kantor Ayah”
Kevin menatap Risa dengan tatapan memohonnya, Oh Tuhan kenapa anak ini sangat pintar merajuk.
“Baiklah”
“Yes” Kevin tersenyum senang.
Untuk kedua kalinya Risa pergi ke kantor Lian, pertama kali adalah saat penawaran tender, sebenarnya dia takut jika mengganggu Lian, tapi Kevin terus merengek.
“apa Lian ada di dalam?” tanya Risa pada receptionist yang ada di depan ruangan Lian.
“kenapa kita tidak langsung masuk saja Ibu” ucap Kevin membuat perempuan berambut merah itu menyipitkan matanya, sepertinya perempuan itu tidak tahu jika Kevin adalah putera Lian.
Receptionist baru mungkin, pikir Risa.
“Tuan Jung tidak menerima tamu saat jam istirahat, lagipula harus membuat janji terlebih dahulu jika ingin bertemu dengan beliau"
“Ibu--” Kevin menarik pelan tangan Risa.
“Ibu telpon Ayah sebentar”
Risa merogoh tasnya, mencari benda tipis yang biasanya disimpan di saku. Shit! sepertinya dia lupa membawa ponselnya dan berapa nomor ponsel Lian? Risa tidak mengingatnya.
“Nona” Risa menatap lekat perempuan di depannya.
“bisakah kamu menelpon kepadanya, katakan jika aku, Risa dan Kevin menunggu di Luar ruangannya”
“kamu pikir aku berbohong?” tanya Risa tidak percaya, alisnya terangkat kesal.
“IYA” ujarnya penuh penekanan, perempuan itu mengibas-ngibaskan tangannya di udara sebagai isyarat mengusir Risa “pergi sekarang”
Risa sangat malas berdebat dengan perempuan tidak sopan itu, akan terasa bodoh jika dia beradu kata dengan perempuan tidak tahu diri itu.
Akhirnya Risa lebih memilih melangkahkan kakinya meninggalkan receptionist, memilih melabuhkan kakinya di lantai 6 yang terdapat ruang foodcourt.
“kita makan disini saja”
Risa membuka box yang memuat ramen, jika tidak dimakan sekarang ramennya sudah tidak enak lagi.
Kevin mengangguk. “setelah ini kita pergi menonton saja, Ibu”
“baiklah, tapi Kevin harus habiskan makanan Kevin dulu”
Risa menyuapi Kevin menggunakan sumpitnya, meniup pelan ramen yang masih panas belum menyuapikannya ke mulut Kevin.
“jangan minum susu itu” ucap Risa saat Kevin ingin meneguk susu kemasan yang Risa beli di vending machine untuknya.
“itu susu kedelai, Kevin tidak boleh minum itu, Kevin minum ini saja” Risa menyodorkan jus kemasan yang dia beli.
“Aaa--”
Risa menyuapi Kevin kembali, Mulut Kevin tidak berhenti mengunyah ramen dengan potongan sayur.
“apa yang kalian lakukan disini?”
suara itu menyentak Risa, dia hampir saja tersedak ramen yang sedang dia kunyah pelan-pelan.
“Ayah” seru Kevin saat melihat tubuh Lian menjulang di depannya.
__ADS_1
“kami hanya makan siang” ucap Risa tidak peduli, mulutnya masih sibuk meniup-niup ramen dan segera menyuapikannya kemulut Kevin.
“sejauh ini?”
Lian ikut mendudukan dirinya sebelah Risa.
“memang ada aturan aku harus makan dimana?” tanya Risa, wajahnya masih datar meski hatinya masih kesal.
“kenapa tidak memberitahuku jika kalian disini?” tanya Lian dengan bingung.
“aku lupa membawa ponsel” ucap Risa
“kamu bisa langsung datang ke ruanganku”
“kamu pikir aku menemui siapa? yang bisa datang sesuka hati, aku menemui orang paling sibuk yang bahkan tidak punya waktu untuk makan siang, meskipun begitu aku masih mencoba berbicara baik dengan receptions-mu dan dia malah menertawakanku sebagai ******, karena aku mengaku-ngaku membawa putranya, dia pikir aku perempuan murahan yang sedang meminta pertanggungjawaban atas kelakuan bejatmu!”
Risa menarik nafas pelan, rentetan kata itu keluar begitu saja sebagai luapan rasa kesal yang bersarang di hatinya.
Seketika suasana hening, mereka menjadi pusat perhatian, jika saja yang dibicarakan bukan presiden Jung Grup, sudah pasti suasana Foodcourt akan dipenuhi bisik-bisik tidak jelas.
Lian menanggapinya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa, tangannya membuka satu box yang masih berisikan ramen.
“suapi aku”
Lian menyodorkan box ramen yang sudah dibuka.
“Ayah sudah besar, makan sendiri saja, Ibu sedang menyuapi Kevin”
Kevin mencubit lengan Lian gemas.
Tawa Lian mengudara saat melihat bibir Kevin merenggut
“tapi Ayah juga ingin disuapi Ibu seperti Kevin”
Oh Tuhan, tidak bisakah dua Jung ini menghentikan tingkah konyolnya, setelah Risa mengumpat kesal Lian bahkan tidak merespon ucapannya.
“tidak bisa, Ayah makan sendiri”
Sepertinya Little Jung satu ini ingin memonopoli Risa, selanjutnya hanya ada adu mulut ringan antara dua Jung, Lian sangat senang menggoda putranya.
Setelah acara makan siang bersama yang hampir gagal karena receptionist menyebalkan, Lian mengajak Risa ke ruangannya, Lian menggendong Kevin dengan satu tangan kanannya, Kevin sendiri melingkarkan tangannya sepanjang bahu Lian.
Sejak tadi hati Risa sudah berdegup kencang, tangan kiri Lian bertautan dengan tangan kanannya, Pria itu sepanjang jalan menggandeng tangannya, buku-buku jari Risa menghangat.
Potret keluarga yang bahagia, Risa tidak ingat kapan dia pernah memimpikan kehangatan seperti ini, jika saja Park Lisa tidak meninggal, keluarga Jung pasti akan menjadi keluarga bahagia.
“sebenarnya hubungan kita seperti apa?”
Pertanyaan itu mengudara begitu saja dari mulut Risa, tubuh Lian membeku menghentikan langkahnya.
“aku bukan pria yang mampu menjanjikan banyak hal, takkan membuatmu menangis, takkan melukaimu, tidak akan membiarkanmu menderita, aku tidak akan menjanjikan hal-hal yang tidak memungkinkan seperti itu, aku hanya akan menjanjikan satu hal, jika kamu menjadi milikku, maka aku akan menyerahkan seluruh hatiku untukmu”
“aku juga bukan pria yang suka mengumbar kata manis penuh cinta dengan efek bahagia sesaat, aku hanya pria dewasa yang mencoba mengerti perasaanmu, membuatmu nyaman hidup di sampingku”
Shit! Jantung Risa benar-benar berdebar, kakinya seperti jelly nyaris tidak bisa menopang tubuhnya, Risa tidak menjawab ucapan Lian, dia membiarkan tubuhnya dituntun oleh Lian.
Langkah Lian terhenti saat di depan meja receptionist di ruangannya, safirnya menatap tepat pada perempuan yang tengah tersenyum menundukan kepalanya.
“lain kali jika kamu melihat mereka berdua, jangan pernah melarang apapun yang ingin mereka lakukan, ikuti saja mereka, meski aku sedang ada rapat mendesak sekalipun kamu wajib memberitahu” ucap Lian dengan tegas.
Lian menarik Risa mendekat hingga menubruk lengannya, lalu mengecup pelan pipi Risa.
Perempuan itu mematung, menatap Risa yang tersenyum penuh kemenangan, Rasakan, tawa Risa menggema dalam hatinya.
“tunggu disini, aku akan menyelesaikan pekerjaanku”
menyuruh Risa dan Kevin untuk duduk disofa sedangkan Lian segera menyelesaikan pekerjaan.
__ADS_1