![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Di Pagi dengan cuaca yang masih dingin dengan salju putih sebagai temannya, ditambah dengan hujan deras yang ikut menemani cuaca hari ini.
Lisa lagi-lagi harus mendengar suara Han yang sedang berurusan dengan bathroom, pagi-pagi pria itu sudah harus mengabsen dirinya disana dengan suara muntahan seperti biasanya.
Lisa juga sudah menyarankan untuk membawa pria itu ke rumah sakit yang mungkin saja memang harus menemui dokter tertentu untuk menunjukkan gejala yang Han rasakan saat ini, walau keduanya dokter tapi bukan berarti mereka tidak butuh rumah sakit ataupun obat bagaimanapun juga mereka manusia dan masih membutuhkan orang lain.
Lisa bangun ketika suara Han terdengar begitu menyiksa telinganya untuk dibiarkan begitu saja, dia menyingkirkan selimut dan berjalan mendekati Han yang sedang berhadapan dengan wastafel, Lisa membantu sang suami dengan segala siksaan yang hanya bisa Lisa melihat, dia juga tidak mengerti kenapa Han tiba-tiba seperti ini padahal Lisa tahu jika suami tidak suka dengan minuman beralkohol lalu Han juga tidak memiliki alergi terhadap makanan pria itu hanya alergi terhadap debu,apalagi Han sangat tidak menyukai asap rokok, lalu apa yang membuat Han seperti orang sedang hamil.
Tunggu… hamil?
“Lisa, bisa tolong bantu aku?” ucap Han dengan suara emasnya, wajah yang begitu pucat ditambah dengan akhir-akhir Han yang jarang sekali makan membuat tubuhnya terlihat kurus karena pengurusan berat badan yang berlebihan.
“Ha? Ya … kamu minta bantuan apa?”
Han menarik tangan Lisa untuk membantu menggesekkan punggungnya selagi pria itu masih harus mengeluarkan isi perutnya.
“haruskah kita kerumah sakit? Kamu sudah tiga hari seperti ini Han, kamu akan kehilangan berat badanmu lagi”
“aku baik Lisa, mungkin aku butuh istirahat saja” ucap Han, dia membersihkan wajahnya setelah merasa sudah cukup memuntahkan semuanya, Han juga tidak pernah mengerti penyakit apa yang sedang dia rasakan saat ini, dia hanya mual dan tidak nafsu makan saja, tidak ada reaksi dirinya mengalami penyakit yang serius.
“Han, aku mencemas mu, kali ini menurutlah padaku, aku yang akan mengantarmu” ucapnya, wanita itu memeluk tubuh sang suami sambil memendamkan wajahnya di bahu besar Han, akhir-akhir ini juga Lisa sangat ingin sekali berada dipelukan Han dan selalu ingin memakan sesuatu yang dulunya saat tidak dia sukai.
Sekali lagi Lisa berpikir mungkin benar ada yang aneh dengan dirinya dan Han.
Lisa membawa Han untuk kembali berbaring di ranjang mereka, memberikan air hangat yang bisa membantu menghilangkan rasa mual dan menurunkan asam dalam lambung. “aku akan membuatkan bubur untukmu, istirahatlah”
‘kapan terakhir kali aku datang bulan?’ tiba-tiba saja pertanyaan itu terlintas dalam pikiran Lisa, jika dihitung sejak kembalinya Han dan sekarang sudah memasuki bulan berikutnya seharusnya Lisa sudah namun dia belum?
Saat di dapur, Lisa tidak henti-hentinya tersenyum jika dirinya benar sedang mengandung, Lisa tidak tahu akan secepat ini dirinya akan mengandung.
“benarkah itu?” tanya Lisa, dia mengelus perutnya yang masih rata dengan senang, “kamu sudah ada disana sayang?”
‘apakah Han akan bahagia jika aku benar hamil?’
Hingga 30 menit berada di dapur, Lisa kembali ke kamarnya dengan bubur yang dia buat, dia melihat Han yang masih merasa kesakitan, Lisa kembali tersenyum melihat suami yang harus berganti peran merasakan bagaimana rasanya sedang mengandung.
“ayo makan bubur ini, setelah itu kita kerumah sakit” ucap Lisa, dia membantu Han untuk duduk diranjang dengan bantuan bantal, lalu secara perlahan menyuapi pria itu dengan hati-hati mengingat bubur itu masih panas.
Baru beberapa suap masuk kedalam mulutnya, Han kembali berlari ke bathroom dan memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya, melihat itu Lisa kembali membantu sang suami dengan mengulum pundaknya dan dengan sabar menunggu Han sampai selesai.
“Lisa, apakah aku akan mati?”
Lisa mendengar itu tentu saja langsung menutup mulut sang suami, dan mencoba menarik Han untuk berhadapan dengan, menempelkan kedua tangannya di pipi Han untuk memaksa pria itu menatapnya. “apa yang kamu bicarakan Han? Kamu sehat, kenapa kamu berpikir seperti itu?”
“aku hanya takut Lisa, ini begitu aneh! Sebelumnya aku pernah seperti ini” ucap Han, dia menundukkan pandangannya dari Lisa.
“bagaimana jika kita kerumah sakit sekarang? Aku yakin dokter disana bisa tahu penyakit apa yang kamu derita”
Han mengangguk, tidak ada pilihan lain selain menghadapi apa yang akan terjadi nantinya Han bisa menghadapinya dengan Lisa. Dia pasrah ketika sang istri menariknya untuk keluar dari bathroom, lalu menyuruhnya untuk memakai pakaian hangat karena diluar hujan masih turun akan memperburuk jika Han tidak memakai pakaian yang tebal.
“kamu juga harus memakai pakaian hangat Lisa, aku tidak ingin kamu sakit” ucap Han, dia menarik Lisa saat wanita ingin segera turun dan menyiapkan mobil, sebelum Lisa pergi Han memasangkan syal yang cukup tebal untuk Lisa.
“terimakasih, aku akan menyiapkan mobil” ucap Lisa, sebenarnya Lisa saat gugup untuk mendengar jika dirinya memang benar hamil dan Lisa begitu takut untuk melihat reaksi pertama Han saat mendengar kabar itu, apakah pria itu akan senang atau sebaliknya Han akan mencemaskan dirinya.
Kini keduanya dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat, walau cuaca yang begitu ekstrim di luar tapi semoga tidak terjadi apapun selama mereka di perjalanan.
“aku sebenarnya sangat gugup” ucap Lisa, dia harus fokus mengemudi namun perasaan begitu gugup hingga jika Lisa tidak mengalihkan kegugupan dengan memainkan jarinya sesekali di kemudi mobil.
“apa yang membuatmu gugup? Bukankah seharusnya aku?” ucap Han, dia juga merasa gugup jika yang dia rasakan selama tiga hari dengan gejala aneh menunjukkan jika dirinya mengalami penyakit parah, hingga bisa membuat pria itu mati muda.
“Han, jika kenyataan kamu tidak sakit tapi--tapi-”
“tapi apa Lisa?”
“aku ragu untuk mengatakannya”
“apa terjadi sesuatu?”
__ADS_1
“hm, tidak ada, seperti kita sudah sampai” ucap Lisa.
Han dan Lisa keluar dari mobil dengan satu payung yang mereka gunakan untuk masuk kedalam rumah sakit, di dalam satu payung melewati derasnya hujan membuat Lisa teringat dengan satu kenangan dirinya dan Han saat mereka ada di jepang, dengan senang Lisa menyandarkan dirinya didalam pelukan Han.
Hujan tidak seburuk yang Lisa pikirkan, cukup indah untuk dilewatkan bersama Han.
Lisa memilih membawa Han ke rumah sakit tempat dirinya bekerja disana, hal pertama yang Lisa adalah meminta Hyun untuk memeriksa Han disaat dirinya sibuk memanggil Heejin untuk memeriksa dirinya karena Lisa tahu jika Heejin adalah dokter di bidang kehamilan dan anak.
“Lisa, seharusnya bukankah dirimu yang diperiksa? Suamimu sehat” ucap Hyun, dia dingin disaat berhadapan dengan Han.
“aku yang sakit, bukan istriku!” ucap Han, dia menatap Hyun dengan wajah tidak suka dengan ucapannya. “Bukankah dikota ini banyak rumah sakit kenapa harus membawaku kesini Lisa?”
“baiklah, terimakasih dokter Hyun, Han ayo ikut aku”
Lisa menarik tangan Han untuk keluar, mungkin sudah waktunya menghentikan kebingungan sang suami, dia membawa Han keruangan untuk melakukan USG pada dirinya, karena sebelumnya Lisa sudah memeriksa dirinya dan benar hasilnya jika wanita itu hamil dengan usia kandungan 1 minggu.
“Lisa … jangan bilang jika ini yang membuatmu gugup?” Han tahu ruangan itu mangkanya pria itu menahan dirinya melangkah kedalam ruangan itu, dia antara tidak percaya dan senang hingga tidak sanggup untuk mengetahui fakta yang sebenarnya.
“kamu ingin tahu kebenaran bukan?” dengan lembut Lisa menarik tangan untuk kembali melangkah masuk kedalam.
Lisa langsung memberikan tubuhnya ranjang dan menyuruh Heejin memperlihatkan ada sebuah janin yang belum terlalu jelas untuk dilihat bentuknya nun menjadi suatu bahagia untuk orang yang melihatnya.
Han terdiam disana, dia tidak tahu harus memberikan reaksi apa untuk hal yang membuat dirinya tentu saja bahagia, tubuhnya rasa begitu gemetar melihat isi perut Lisa. Tanpa pria itu sadari jika air matanya mengalir saat dirinya berjalan mendekati Lisa.
Hal pertama yang Han lakukan mengucapkan rasa terima kasihnya pada Lisa melalui ciuman kening yang dia lakukan sangat lama, kemudian memeluk tubuh Lisa sangat erat hingga rasanya Han ingin sekali mengangkat tubuh itu.
“terimakasih Lisa, aku begitu bahagia hingga tidak tahu ingin menyampaikan rasa bahagia ini dengan apa, intinya aku begitu mencintaimu hingga tidak ada satu kalimat yang melebihi aku mencintaimu”
“aku juga mencintaimu Han”
Han melepaskan pelukannya untuk mencium bibir Lisa tanpa memikirkan ada seseorang di dalam ruangan itu, pria itu melakukannya hingga beberapa kali sampai harus Lisa menghentikan tindakannya.
“kamu senang?”
“i'm be happy honey, aku ingin selalu menjanjikan ini setelah kita menikah namun aku lupa untuk mengatakannya, aku ingin menjadi ayah yang baik untuk anak kita nanti dan memberikan dia segala kasih sayang sampai anak kita tahu jika dia memiliki kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtuanya, aku ingin melewati semua proses yang kamu alami Lisa, aku ingin selalu jika menjadi tempat untukmu berbagi segalanya”
“tidak, aku tidak akan keberatan, aku senang setidaknya kita bisas berbagi aku yang merasakan sulitnya dan kamu yang merawatnya didalam disini” ucap Han, dia mengelus perut rata Lisa dengan lembut.
“janji tidak akan menyusahkan?”
“promise, seperti aku akan melepaskan Grup Kim pada Sean, aku ingin menjadi pelayanmu untukmu”
Lisa tertawa, entahlah ucapan Han begitu lucu untuk dengar atau memang suasana yang begitu bahagia sampai mudah membuat Lisa tertawa.
‘Kau dengar? Ayahmu sangat bahagia, jadi tumbuh lah dengan baik’
Seperti kebahagian yang dirasakan orang semua pasangan jika diberikan sebuah kepercayaan untuk menghadirkan sebuah anak yang akan menjadi pengisi rumah dan menghilangkan kesepian di rumah besar itu.
Rasa senang dan syukur tentu saja selalu terucapkan setiap kali Lisa melihat hasil USG yang mengatakan jika dirinya mengandung anak kembar yang jenis kelaminnya masih belum diketahui, namun dokter mengatakan jika anak kembar itu kemungkinan adalah perempuan.
Betapa menantinya Lisa untuk melihat kedua putrinya yang lahir kedua ini, melihat mereka tubuh bersama sebagai kakak beradik yang akan selalu berebut kasih sayang Lisa maupun Han, hingga kabar bahagia ini ingin sekali Lisa bagi seluruh keluarganya maupun mertuanya, Lisa ingin sekali mengumpulkan mereka dalam satu acara pertemuan yang belum pernah mereka lakukan memenjak dirinya menikah dengan Han.
Kebiasaan Han masih berlangsung walau sudah satu minggu berakhir, pria itu benar-benar mengganti posisi Lisa yang seharusnya merasakan itu tapi Lisa kedapatan dalam hal makan dan menginginkan sesuatu sedangkan Han selalu mendapatkan hal yang sakitnya.
Seperti sekarang saat Lisa sedang minum susu ibu hamil di pagi hari, Han malah sibuk dengan urusannya didalam bathroom, pria itu juga merasa lebih sensitif akhir-akhir ini entah itu pada buah, makanan ataupun sesuatu hal yang berbau hingga membuat Han tidak sanggup untuk mengatasi semua ini.
Lisa ingin sekali membantu Han untuk sembuh dari semua ini tapi sangat sulit karena Lisa baru memasuki awal kehamilan.
“sudah merasa baikkan?” tanya Lisa ketika Han akhirnya keluar setelah 20 menit berada di dalam sana, seperti biasanya pria itu akan terlihat begitu lemas dan sedikit pucat.
Han mengangguk, dia berjalan mendekati Lisa lalu menarik Lisa untuk memberikan kehangatan pada tubuhnya, tingkahnya belakangan ini cenderung sedikit manja dan banyak sekali berbicara tidak seperti Han biasanya.
“aku lelah Lisa, kamu yang hamil tapi aku yang terus tersiksa” ucap Han dengan nada sedikit merengek seperti anak kecil kehilangan permennya.
“kamu sudah berjanji untuk tidak akan mengeluh bukan?” tanya Lisa, sia mengelus punggung Han seperti pria itu benar-benar bayi besarnya, dan sesekali dia akan mengecup pipi Han sebagai tanda terima kasihnya pada sang suami.
“aku tahu” Han melepaskan pelukannya, dan kemudian dia berlutut lebih tepatnya meletakkan telinganya pada perut rata Lisa, mungkin hal ini akan menjadi satu kebiasaan Han sampai dirinya benar-benar bisa mendengar anak kembarnya.
__ADS_1
“kalian dengar ayah? Jangan menyusahkan ibumu oke? Cukup ayah saja yang menderita untuk kalian tapi ibumu tidak boleh, jadi anak yang baik didalam, oke sayang” ucap Han, yang Lisa maksud banyak bicara seperti ini, Han sangat suka mengajak anak kembarnya berbicara disaat mereka baru bangun tidur atau saat mereka akan tidur.
Lisa hanya bisa tersenyum, dari awal pertemuan mereka Lisa sudah tahu jika Han begitu menyukai anak kecil atau bayi, jadi wajar saja jika saat ini Han begitu menanti kehadiran dua putrinya, mungkin Han akan menjadi ‘Daddy sugar sweet’ setelah Lisa melahirkan nanti, benar-benar pria idaman untuk setiap kaum hawa.
“kau tidak kecewa jika mereka benar-benar berjenis kelamin perempuan?” tanya Lisa, entah kenapa dalam pikiran Lisa terlintas pertanyaan itu saat Han masih sibuk mengelus perut ratanya.
“kenapa harus kecewa? Aku tidak pernah mengharapkan apapun pada jenis kelamin anak kembar kita, aku hanya berharap mereka bisa saling menyayangi dan tumbuh menjadi anak yang baik, dan membuatku bangga karena telah menjadi ayah yang baik untuk mereka nantinya” ucap Han, dia kembali berdiri sejajar dengan Lisa.
“jadi Lisa, tolong jaga kesehatanmu dengan baik, katakanlah sesuatu jika kamu menginginkannya”
“bagaimana bisa aku mengatakan keinginanku jika sekarang saja kau sudah tidak mau bekerja lagi” ucap Lisa, itu benar saat kabar kehamilan Lisa, pria itu benar-benar langsing menyerahkan Grup Kim pada sang adik tanpa berpikir panjang hanya dengan alasan ingin merawat Lisa dan selalu berada disisinya, tapi tetap saja Lisa tidak suka itu menurutnya itu terlalu berlebihan.
“aku tidak bekerja-pun uangku tidak akan habis Lisa, lagi pula aku hanya akan menganggur selama 1 tahun”
Dengan kesal Lisa menarik telinga Han keatas, dia pikir uang perusahaannya bisa sembarangan digunakan untuk kehidupan mereka, walau warisan yang ditinggalkan Tuan Kim pada kedua putranya bisa membiayai kehidupan mereka untuk jangka waktu yang panjang tapi tetap saja, peran seorang suami adalah memberikan nafkah untuk keluarganya, apalagi kini Sean sudah memiliki anak. “Tidak! Mulai besok kau harus bekerja Han, aku juga akan kembali bekerja dirumah sakit”
“apa? Lisa bukankah kita sudah sepakat untuk permasalahan pekerjaan?” ucap Han, dia menahan Lisa saat wanita itu akan meninggalkan dirinya, ya setelah pulang dari rumah sakit Han dan Lisa membuka diskusi dadakan untuk masalah kehamilan Lisa yang rentan dalam segala bahaya.
“ayolah Han, aku tidak bilang jika aku setuju untuk masalah kamu melarangku bekerja, aku tidak bisa hanya dirumah tanpa melakukan apapun sampai melahirkan, aku juga butuh kegiatan agar anak kita sehat” ucap Lisa, dia menarik tangan Han untuk melingkarkan di pinggangnya sedangkan dirinya memaksa Han untuk menatap dirinya dengan meletakkan kedua tangan di pipi tirus Han.
“Lisa”
“please Han, sampai usia kandungan ini enam bulan ya sayang?” ucap Lisa, dengan cara seperti Han akan luluh karena tidak bisa menolak jika Lisa dalam mode manja pada dirinya, apalagi Lisa sekarang sudah tahu kelemahan Han yaitu dengan ciuman, sama seperti sekarang wanita itu terus mengecup bibir Han berulang-ulang.
“baik, baiklah Lisa hanya empat bulan” ucap Han, dia sebenarnya saat mengkhawatirkan Lisa jika sang istri kembali bekerja dirumah sakit, Han sangat takut jika Lisa akan mudah kelelahan dan juga sangat cemas jika wanita itu lebih banyak melewatkan makan siang.
“Han! Aku Kan mintanya enam bulan! Kenapa kamu begitu!”
“empat atau tiga?”
“baiklah empat bulan tapi kamu juga harus bekerja, tidak boleh bekerja dirumah, aku janji aku akan pulang cepat”
Han mengangguk, dia mencium kening Lisa kemudian menyatukan kedua bibir mereka cukup lama hingga Lisa harus memukul dadanya untuk melepaskannya.
“aku mencintaimu” ucap Han, dia menarik Lisa kedalam pelukannya.
“aku tahu, hati ini hanya akan menjadi milikku”
“aku kita sarapan, kamu sudah minum susumu? Kamu ingin buah juga? Seperti kita harus berbelanja”
Lisa tersenyum, dia sedang jika Han banyak berbicara dalam lebih terbuka pada dirinya, sekarang semua terasa begitu menyenangkan sekaligus melegakan untuk menjalankan kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya.
“aku ingin dirimu”
Han melepaskan pelukannya, dia menatap bingung dengan apa yang dimaksud dengan Lisa sampai wajahnya dan pemikiran tidak sejalan dengan apa yang sedang Han tawarkan.
“Lisa kau yakin?”
Lisa mengangguk, “aku yakin”
“baiklah, ayo kita lakukan”
Saat itu juga Lisa tertawa begitu keras melihat wajah Han, yang Lisa maksud adalah dia ingin Han yang membuatkan sarapan untuknya lalu memotongkan buah untuk dirinya dan menemaninya berbelanja. Tapi pria itu malah berpikir lain
“kau sangat lucu Han, aku tidak mau melakukannya sampai melahirkan nanti, jadi tahanlah, sudahlah aku sangat lapar”
“tapi-tapi Lisa aku bisa melakukannya, aku tidak akan menyakiti si kembar”
“Lisa!”
“sayang, bagaimana jika seminggu dua kali?”
“Lisa, tunggu aku!!”
Lisa mengabaikan segala yang diucapkan pria itu, memang mereka masih bisa melakukannya tapi Lisa hanya ingin mengetes apakah Han akan kuat menunggunya.
“cepatlah, aku sudah lapar Han”
__ADS_1