![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Enam bulan berlalu …
Hari berganti dengan bulan dan sebalik bulan bertukar dengan bulan lainnya, hari-hari berlalu begitu saja sesuai dengan berputarnya bumi mengelilingi matahari pada setiap putarnya, kini musim semi telah berlalu begitu saja dalam hitungan bulan berganti dengan awal tahun dimana masih ada musim winter namun akan segera berganti dengan musim summer.
Setelah enam bulan berlalu disanalah sudah berlalunya lembaran baru yang dibuka oleh hubungan sehidup semati untuk kedua orang yang mengikrarkan janji suci mereka di hadapan tuhan ataupun banyak orang, seiring berjalannya waktu sama seperti pasangan suami istri lainnya, kehidupan rumah tangga yang di bangun oleh Han dan Lisa sangatlah indah yang diawal oleh rasa saling membutuhkan dan saling membantu, rasa cinta itu hanya pelengkap untuk mengisi kehidupan kisah mereka tapi untuk kepercayaan itu merupakan pondasi kokoh yang tidak akan bisa dilepaskan dalam kehidupan rumah tangga.
Han dan Lisa, walau usia pernikahan yang baru saja berjalan enam bulan bukanlah hal yang bisa dikatakan mudah tapi juga bukan hal yang sulit, ada banyak pemahaman dan juga material yang perlu mereka pelajari secara perlahan tanpa perlu memaksakan satu sama lain untuk segera mengerti, jika sepasang suami istri akan terburu-buru untuk memikirkan bagaimana cara agar mereka bisa merasakan indahnya kehidupan pernikahan dengan pergi ke berbagai tempat sebagai satu alasan untuk honeymoon.
Hal itu tidak termasuk dalam daftar awal memulai kehidupan pernikahan Han dan Lisa, selama enam bulan mereka menjalani kehidupan yang bisa dikatakan sebagai hubungan LDR karena saat hidup bersama lebih dari satu bulan, mereka memutuskan untuk berpisah. Bukan karena alasan egoisan atau pertengkaran yang terjadi, tapi memang keadaan yang memaksakan segalanya yang membuat mereka selama lima bulan berpisah.
Saat usia pernikahan Han dan Lisa berjalan satu bulan, suatu kejadian diluar dugaan semua orang dimana penyakit yang diderita ayah Han kembali mendekati sang ayah hingga merenggut nyawa sang ayah, saat itu kehidupan perusahaan Kim memang dalam keadaan yang begitu sulit karena ayah Han telah melakukan penggelapan uang hingga Grup Kim terancam akan hancur jika masalah ini tidak segera ditangani. Saat sang ayah meninggal dunia hanya satu harapan untuk Grup Kim yaitu Han yang harus mengambil alih sebagai pemegang selanjutnya walau Han bukan murni keturunan keluarga Kim tapi dalam surat wasiat yang dibuat Tuan Kim mengatakan jika Han berhak atas segala yang bersangkutan dengan Grup Kim walau dia bukan darah daging Tuan Kim.
Memang itulah hal yang ingin sekali Han pegang saat dirinya berusia 22 tahun, tapi jika memang pada akhirnya dirinya yang harus menggantikan posisi sang ayah maka tidak ada pilihan lain bukan?
Setelah kematian Tuan Kim, saat Han mengambil alih perusahaan sang ayah yang mengalami begitu banyak masalah hingga membuat Han harus berpisah dengan Lisa hingga lima bulan lamanya, Han harus tinggal di Busan untuk memulihkan segala masalah yang terjadi dengan bantuan dari Tuan Lian, walau awalnya Han menolak tapi pada akhirnya dia menerimanya atas persetujuan dari Lisa.
Setelah Lima bulan berlalu, Han dan Lisa hanya bisa bertukar sapa melalui Video Call yang dilakukan mereka jika ada waktu luang, pasalnya bukan hanya Han saja yang sibuk dengan tumpukan kertas atau dokumen tapi Lisa pun juga sibuk dengan jadwal operasi dan para pasien yang menjadi naungannya, walau jarak dan waktu memisahkan mereka tidak sedikitpun dapat mengubah perasaan mereka tentang rasa saling mencintai, itu malah menggantinya menjadi semakin kuat dan dalam akan cinta yang tumbuh dalam hati mereka masing-masing.
Walau jarak Busan dan Seoul bisa ditempuh dengan berbagai alat transportasi umum atau pribadi tapi Han dan Lisa berjanji untuk tidak bertemu setelah semua urusan mereka terselesaikan agar setelahnya mereka bisa menikmati waktu luang tanpa memikirkan apapun dan mencurahkan segala rasa rindu yang selama berbulan-bulan tidak bertemu.
Kini Han sudah bisa menstabilkan segala kekacauan yang terjadi di dalam Grup Kim dan Lisa yang sudah menjadi dokter cantik yang sudah alih dalam urusan penyakit kanker, namun kelancaran kedua belum memiliki tanda-tanda jika keduanya akan segera bertemu.
Lisa, dia adalah dokter yang begitu cantik dan juga anggun dengan jas putih dan sepatu heels yang melekat di tubuhnya setiap hari, saat dirinya menginjakkan kakinya di rumah sakit Seoul maka semua orang akan berpikir jika dia adalah wanita yang sedang magang atau masih duduk di bangku perkuliahan, tak banyak pria juga yang berpikir jika dirinya masih lajang dan Lisa bekerja disalah satu rumah sakit di pusat kota.
******
Pagi yang begitu indah diawal bulan februari di mana mungkin suhu dingin akan berkurang dan sinar matahari yang mulai mencairkan butiran salju yang menutupi beberapa tempat di kota Seoul.
Dengan mobil hyundai berwarna putih yang membelai jalanan kota Seoul di pagi hari, rasanya tidak enak jika dilewati hanya dengan mengendarai dengan kecepatan yang rendah bukan?
Mengendarai mobil di pagi hari dengan kecepatan yang tinggi sudah menjadi kebiasaan Lisa saat dirinya mulai terbiasa bepergian menggunakan mobil yang dibeli dari hasil keringatnya suaminya, ini adalah kado ulang tahun yang Han berikan saat Lisa ulang tahun pada bulan november, walau hidup sendirian dengan status sebagai istri tidak membuat Lisa iri atau malah menentang segala hal yang Han pilih, sebisa mungkin dia menjadi wanita dewasa yang mencoba mengerti segalanya dan memahami keputusan Han.
Berpisah dengan Han juga bukan hal yang buruk untuk Lisa karena dengan perpisahan ini Lisa bisa lebih fokus mengejar segalanya impiannya yang terinspirasi dari Han, dokter bukanlah pekerjaan mudah tapi memiliki begitu banyak manfaat tapi orang lain dan juga diri Lisa, karena sebagian dari keseharian kita dilewati dengan berinteraksi dengan berbagai karakter orang dan juga kadang hari libur harus membuat mereka tetap dirumah sakit.
Dengan jas putih yang ada di tangannya, Lisa berjalan mendekati ruangannya yang berada di lantai 3, di setiap jalan yang bertemu dengan banyak orang Lisa tidak akan lupa untuk menunjukan senyuman manisnya dan sikap ramahnya pada mereka semua.
Sesampainya di ruangan yang hampir dominan dengan putih itu, Lisa meletakan jas putihnya di kursi. Hal yang pertama kali dia lakukan adalah memeriksa semua laporan tentang semua pasiennya dan juga jadwalnya hari ini.
“sepertinya hari ini aku akan lebih banyak di ruang operasi” ucap Lisa, setelah meletakan kembali kertas yang ada di tangan di meja kerjanya.
« my husband »
Morning dokter Lisa, bagaimana tidurmu?
Seperti biasanya dan akan selalu begitu aku akan mengatakan jika aku selalu mencintaimu dan merindukanmu, little panda …
Lisa tersenyum saat melihat layak ponselnya, sudah menjadi sesuatu hal yang wajib bagi Han untuk mengirimkan pesan pada Lisa setiap pagi, Lisa hanya membaca pesan itu tanpa perlu membalasnya karena Lisa tahu di pagi yang indah ini pasti pria itu sudah disibukkan dengan pertemuan dan juga rapat yang kadang terjadi begitu dadakkan.
“maaf dokter Lisa, apa aku mengganggumu?”
“tidak Heejin, ada hal yang ingin disampaikan?” tanya Lisa, setelah dia meletakkan kembali ponselnya di meja kerjanya.
“hari ini, dokter Lisa memiliki jadwal untuk bertemu dengan para mahasiswa yang akan magang disini” ucap Heejin yang kini sudah berdiri didepan meja kantor Lisa dengan jas putih dan pakaian serba merahnya, dia adalah asisten Lisa di rumah sakit Seoul ini, yang baru-baru ini bekerja disana sekitar 3 bulan yang lalu.
“aku lupa, terima kasih sudah mengingatkanku Heejin, dimana aku bisa menemui mereka?”
“di lantai 5, di ballroom”
“baiklah aku akan segera kesana, Heejin bisakah kamu mengantar berkas ini pada Tuan Hyun, aku rasa dia membutuhkan ini” ucap Lisa, dia memberikan map coklat pada Heejin asistennya.
Heejin segera menerima dan langsung berpamitan dengan Lisa.
Tak menunggu lama Lisa segera mengikat rambutnya yang memang tadi terurai, lalu memakai jas putih dan beberapa alat yang biasa dokter bawa entah itu di saku jasnya atau di lehernya, dia juga mengganti sepatunya heels-nya dengan sepatu kets biasa, bukan tanpa alasan Lisa melepas sepatu itu karena dia akan berdiri begitu lama didepan banyaknya mahasiswa yang akan segera magangan disini.
Sepanjang perjalanan menuju lantai 5, Lisa selalu juga memastikan jika semua orang nyaman berinteraksi dengannya, dengan senyum yang dia tunjukkan dapat membuat orang disekitarnya merasa jika dokter tidak selalu identik dengan wajah marah dan cueknya.
Tak lama kemudian, Lisa sudah sampai di depan para mahasiswa yang sudah menunggu kehadirannya dengan suara antusiasnya dan juga kegembiraan yang mereka rasakan ketika melihat Lisa yang sudah berdiri di tengah-tengah kerumunan para mahasiswa yang hampir sama dengan dirinya yang memakai jas berwarna putih dengan logo Universitas Seoul dan juga jurusan mereka.
“selamat pagi, aku Kim Lisa, aku sebagai membuka pertemuan ini sebagai pengganti dari Tuan Choi yang saat ini sedang berada di luar negeri, aku dokter ahli dalam kanker dan juga anak, kalian bisa memanggilku dokter Lisa atau Dokter Kim dan aku sudah menikah” ucap Lisa dengan tegas dan tidak melupakan senyuman manisnya, Lisa juga sengaja mengatakan jika dirinya sudah menikah karena dari mahasiswa yang hadir saat ini sebagian besar adalah pria yang itu berarti dari beberapa mereka pasti akan mengajukan pertanyaan yang tidak seharusnya dipertanyakan bukan?
“baiklah, untuk mempersingkat waktu dan juga pertemuan ini, aku harap kalian semua bisa bekerjasama dengan baik di rumah sakit Seoul ini, dan semoga kalian bisa mengambil semua manfaat dan juga memahami segala materi yang ingin kalian pelajari disini, dan menjadi generasi muda yang mampu unggul dalam bidang medis, karena kalian adalah bibit-bibit yang baik untuk memajukan negara ini. Selamat aku ucapkan pada kalian yang sudah bergabung, mari kita menjalankan tugas dengan sepenuh hati dan juga jiwa kalian, aku ingin juga mengucapkan terima kasih pada kalian yang sudah menjadi relawan untuk membantu rumah sakit ini, sampai jumpa pada pertemuan selanjutnya” ucap Lisa.
Dia berpidato dengan sangat baik tanpa sedikitpun melakukan kesalahan kata, Lisa belajar dengan baik dengan waktu yang sedikit, jika Han melihat wanita itu sekarang mungkin perasaan senang dan bangga selalu memenuhi pikiran pria itu saat ini. Setelah berpidato didepan 250 mahasiswi, Lisa segera menuju lantai 6 dimana lantai khusus untuk ibu melahirkan dan juga bayi.
Selama bekerja disini Lisa selalu menyukai ketika dia akan melakukan pemeriksaan pada bayi yang baru saja lahir atau beberapa bayi yang ditelantarkan oleh orang tuanya, Lisa sangat senang jika lebih banyak berinteraksi pada anak kecil daripada pria, itu mungkin satu alasan lain kenapa dia tidak sedih berpisah dengan Han karena banyak pria tampan yang mampu menghangatkan hatinya tentu saja bayi.
“Dokter Lisa, kenapa kamu sangat menyayangi bayi ini, dia bahkan tidak memiliki orang tua dan juga menderita penyakit yang sangat langka” ucap salah satu perawat yang sempat berpapasan dengan Lisa yang sedang menggendong seorang bayi perempuan di depan ruangan rawat bayi.
“aku juga tidak tahu, aku sangat peduli padanya hingga rasanya aku tidak rela melihatnya sendirian disini”
__ADS_1
“aku dengar Dokter Lisa sudah menikah lama tapi kenapa aku tidak pernah melihat suami anda?”
“suamiku di Busan, dia akan segera kembali, jika urusannya segera selesai” ucap Lisa, dia meletakkan bayi itu dalam inkubator.
“apakah anda tidak curiga suami ada memikir selingkuhan? Pasalnya ada tidak pernah bertemu dengannya”
“aku lupa jika pagi ini aku harus ke ruang operasi, daripada anda mengurus hubungan orang lain lebih baik anda fokus mengurus semua bayi agar tetap hangat, aku dan suamiku, itu hubungan yang sangat privasi”
Lisa pergi begitu saja saat perawat itu memberikan tatapan tidak suka pada dirinya, mau bagaimana lagi Lisa sangat tidak suka orang lain berpikir jika hidup berpisah adalah cara yang salah, lagipula Lisa yang menjalankan kehidupan rumah tangga kenapa orang lain harus terlibat didalamnya?
“Dokter Lisa, aku mencari anda kemana-mana, ruang operasi sudah disiapkan” ucap Heejin yang terengah-engah karena dia begitu terburu-buru untuk menemui Lisa yang baru saja keluar dari lift.
“kenapa kamu tidak menghubungiku?”
“anda tidak membawa ponselmu”
“baiklah, ayo kita pergi bersama”
Lisa dan Heejin, keduanya menjalankan tugasnya sebagai dokter, walau keduanya memiliki usia yang tidak jauh berbeda tapi Lisa menganggap Heejin sudah seperti temannya sendiri dan juga sebaliknya Heejin sudah menganggap dirinya sebagai kakak perempuannya yang selalu memberikan Heejin pengertian tentang segalanya.
My Doctor
Siang harinya ….
Jika waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, maka Lisa akan meluangkan waktunya untuk menghubungi sang suami yang mungkin saat ini juga sedang menikmati makan siangnya, biasanya Lisa lebih dahulu menanyakan apakah Han sedang sedang sibuk.
« My little panda »
Han apakah kamu sedang sibuk?
Setelah mengetik tombol kirim pada layar ponselnya, Lisa memutuskan untuk meletakan ponsel tipis itu kemeja makan, dan Lisa kembali menikmati makan siangnya bersama dengan Heejin dan juga Hyun, Lisa senang karena rumah sakit ini begitu menyambutnya dengan baik dan membuat Lisa mudah untuk bergaul dengan para dokter.
“Dokter Lisa ponsel anda” ucap Heejin, saat dengan asik menikmati makan siangnya, tak sengaja Heejin melihat ponsel Lisa yang menyala terdapat telpon masuk dengan tulisan my husband.
Lisa yang mendengar itu segera melihat layar ponselnya yang benar saja, ada panggilan masuk dari Han, Lisa dibuat bingung biasanya Han akan langsung mengajaknya Video Call setelah Lisa mengirimkan pesan tapi kali ini Han malah hanya menelpon Lisa saja.
“Ya, Han” ucap Lisa,
dia menyelipkan ponselnya di antara bahu dengan telinganya. Sedangkan tangannya masih sibuk memasukan makanan kedalam mulutnya , karena jujur saja Lisa sangat lapar hingga rasanya tidak rela meninggalkan makan siangnya kali ini, belum lagi nanti pukul 2 siang dia harus masuk kedalam ruang operasi yang kemungkinan akan baru keluar dari ruangan itu sangat malam hari.
“Oh, kamu sedang sibuk, lalu kenapa kamu menelepon?”
“baiklah, jangan lewatkan makan siangmu”
Hanya berlangsung beberapa menit saja, Lisa bisa mendengar suara Han, dengan sedih dia menutup teleponnya, bagaimanapun juga Lisa harus sabar menghadapi kesibukan Han yang tidak kenal waktu. Jika seperti ini juga Lisa akan semakin merindukan pria itu, lagi pula bukankah seharusnya Han sudah kembali tapi kenapa pria itu belum memberikan tanda jika dia akan kembali?
'mungkin banyak pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan'
Lisa kembali meletakkan ponselnya di meja makan, awalnya dia memang sangat lapar tapi tiba-tiba saja rasa nafsu makannya hilang begitu saja setelah bertelepon dengan Han.
“Dokter Lisa ada apa?” tanya Dokter Hyun yang sedari tadi memperhatikan Lisa yang tiba-tiba tidak lagi melakukan kegiatan makannya, Dokter Kang Hyun adalah seorang dokter yang ahli dalam bidang saraf otak sama seperti Han, usianya lebih tua beberapa tahun dengan Lisa. Kang Hyun juga Dokter yang dipindahkan baru-baru ini dari kota Busan.
“ah? Tidak ada, hanya saja tiba-tiba perutku sakit, aku permisi dulu untuk ke kamar mandi” ucap Lisa, dia mengambil ponselnya dan jas putihnya, lalu meninggalkan Kim Heejin dan Kang Hyun begitu saja di meja makan.
“Dokter Lisa, apakah kamu ingin aku belikan sesuatu untuk perutmu?” tanya Heejin.
“tidak perlu Heejin, ini akan segera membaik”
Kepergian Lisa membuat suasana menjadi canggung bagi Heejin, dia jadi bingung untuk tetap berada di sana atau segera kembali keruangan Lisa.
“aku ada urusan, apakah tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu sendirian?” ucap Kang Hyun
“baiklah, silahkan saja Dokter Hyun”
******
Beberapa perawat sudah berlalu lalang di depan ruang operasi untuk menyiapkan apa yang dibutuhkan oleh Dokter Lisa untuk segera melakukan operasi sebentar lagi, keluarga yang menunggu di luar-pun tanpa cemas dan juga khawatir.
Lisa yang sedang dalam perjalanan menuju ruang operasi harus terhentikan karena tiba-tiba Dokter Hyun yang menghampirinya.
“minumlah obat ini, aku tahu kamu jarang sarapan, biasakan dirimu untuk mengisi perut lebih dahulu Lisa” ucap Hyun, dia menyerahkan obat, roti dan juga minum pada Lisa yang tentu saja membuat wanita itu bingung.
“ini obat apa?” tanya Lisa dengan bingung, dia seharusnya segera pergi keruangan operasi, bukannya malah disini.
“obat penghilang rasa sakit”
“dokter Hyun, aku rasa lebih baik anda fokus pada pekerjaan anda, aku masih punya banyak urusan dengan pasienku”
Lisa mengembalikan semua barang yang diberikan Kang Hyun padanya, terlalu banyak perhatian yang bisa membuat kesalahpahaman yang akan terjadi jika Hyun terus memberikan perhatian yang lebih padanya, dengan cepat dia juga langsung meninggalkan Kang Hyun begitu saja dengan wajah sedih sekaligus bingungnya.
__ADS_1
Dengan jas putih dan juga alat mendengar denyut jantung, Lisa menelusuri lorong rumah sakit dengan langkah yang tegas, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan siapapun pria memberikan perhatian lebih pada dirinya, walau memang tidal banyak dari rumah sakit ini mengira jika dirinya masih lajang, tapi Lisa percaya jika Han juga menjaga dirinya dan hatinya disana, jadi Lisa juga harus melakukan itu juga bukan?
“Heejin bagaimana dengan persiapannya?” tanya Lisa ketika dia berada didepan ruang operasi yang berlantai 4, seperti biasa Heejin akan menyiapkan segala kebutuhannya dan juga selalu menemani Lisa ketika dia akan berada di ruangan operasi.
“sangat baik, Dokter Lisa hanya tinggal mengatakan jika kita siap melakukan operasi” ucap Heejin, yang sedang memberikan pakaian untuk Lisa kenakan.
“baiklah, ayo kita lakukan”
Setelah berbicara beberapa hal dengan keluarga pasien Lisa langsung memulai operasi itu dengan keyakinan dan juga kepercayaan jika dia bisa melakukan itu atas izin dari Tuhan, ini bukan operasi pertama bagi Lisa jadi dia sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan alat operasi entah itu pisau bedah, pinset atau lain-lainnya.
“bagaimana dengan detak jantungnya?” tanya Lisa
“jantung pasien normal”
“siapkan darah tambahan untuk pasien ini”
“baiklah dokter Lisa”
“Heejin, aku membutuhkan pisau bedah”
Dengan segera Heejin memberikan apa yang Lisa butuhkan, dia juga menyiapkan beberapa kapas untuk membersihkan darah yang mungkin mengganggu Lisa untuk mengambil benjolan di perut pasien.
Suasana begitu tegang di dalam ruang operasi maupun diluar ruangan, walau juga berjalan begitu cepat hingga rasanya di dalam ruangan yang hanya diisi tidak lebih dari lima orang tidak menyadari jika sore akan berganti dengan malam.
Lisa dan Heejin begitu serius hingga keringat yang muncul dari kening terus memenuhi mereka, saat ini ada nyawa yanh sedang mereka pegang dalam kata lain ada seseorang yang sedang berjuang hidup dan mati dengan takdir yang tidak bisa ditentukan, sebagai Dokter Lisa hanya bisa melakukan hal yang dia bisa, jika Tuhan berkehendak lain itu sudah menjadi diluar kemampuan Lisa, bagaimanapun juga Lisa hanya manusia dia tidak bisa melakukan apapun tidak takdir pasien itu akan meninggal.
“tolong periksa detak jantungnya, Heejin siapkan darah, dan yang lain tolong bantu aku” ucap Lisa, dia begitu tegas dan juga tidak mau apapun menjadi lebih tegang disana, dia sudah menemukan titik pusat dimana kanker itu bersarang, hanya tinggal mengambilnya saja.
Hingga waktu menunjukan pukul 7 malam, barulah lampu yang berada diluar ruangan operasi sudah berubah menjadi hijau yang menandakan jika operasi itu berhasil dan semua yang ada disana bisa bernafas lega.
Tak lama kemudian Lisa keluar dengan pada perawat yang langsung melepaskan pakaian mereka yang penuh dengan darah, melihat itu para keluarga mendekati Lisa dengan sejuta kecemasan dan rasa syukur.
“terimakasih Dokter Lisa” ucap sang ibu
“anda tidak perlu melakukan itu, ini sudah menjadi tugasku” ucap Lisa.
“Heejin bisakah kamu memberikan laporan riwayat penyakit pasien”
“baiklah dokter Lisa”
“kalian bisa menemuinya setelah dipindahkan ke ruang rawat” ucap Lisa pada keluarga pasien yang membuatnya sulit untuk kembali ke ruang kerjanya.
Tak lama Lisa kembali setelah berbincang-bincang lama dengan keluarga pasien, Lisa melihat jam tangan yang sudah waktunya kembali pulang namun dia banyak sekali laporan yang harus ditandatangani dan beberapa persetujuan untuk melakukan operasi dalam minggu ini.
“Dokter Lisa anda belum pulang?” tanya Heejin yang sudah siap akan pulang.
“belum, ada banyak laporan yang harus aku selesaikan”
“baiklah, aku pergi dulu”
Setelah Heejin pergi, Lisa kembali membaca kertas yang ada di tangannya dia sudah melewatkan makan siangnya dan juga sekarang dia akan melewatkan makan malamnya mungkin. Tak lama kemudian ruangan Lisa kembali terbuka yang memperlihatkan sosok Kang Hyun dengan pakaian jas biasanya.
“Lisa kamu tidak pulang? Ini sudah malam”
“sebentar lagi”
“mau pulang bersama? Kita juga bisa makan malam bersama”
“aku rasa tidak perlu Dokter Hyun”
Kang Hyun nanya bisa tersenyum dengan penolakan Lisa yang begitu tegas, padahal dia hanya ingin menjalin pertemanan dengan Lisa tapi seperti akan sangat sulit baginya dan juga bagi Lisa, dia juga tahu jika Lisa sudah menikah namun apa salahnya jika dia ingin berbuat baik pada wanita itu. “baiklah, hati-hati dalam mengemudi dan jangan sampai lewatkan makan malammu”
“kamu juga” ucap Lisa sambil menunjukan senyuman perpisahan pada Kang Hyun.
Tiba-tiba layar ponsel Lisa bergetar di dalam saku jas putihnya.
« My Husband »
Kamu belum kembali Lisa?
Maaf untuk hari ini karena aku memiliki banyak pertemuan dengan para investor dan juga sponsor.
Hubungi aku jika kamu sudah kembali.
« My Little panda »
Aku memang belum kembali
Kamu beristirahatlah, tidak perlu menunggu
__ADS_1
Selamat malam dan semoga mimpi indah
Rasa bersalah dan bingung memenuhi pikiran Lisa saat ini, entah kenapa hari ini rasanya begitu berat di lalui oleh Lisa dari mulai Han yang seperti itu lalu perhatian Kang Hyun yang semakin hari semakin membuatnya tidak nyaman. Dengan terpaksa Lisa melepaskan pekerjaan dan memilih untuk kembali pulang.