Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 29 - One Sided Love


__ADS_3

Han disana, entah apa yang membuatnya enggan untuk meninggalkan tempat itu, Han memilih untuk duduk di kursi yang memang disediakan di sana. Luka di wajahnya mulai mengering dan membengkak.


Sedang yang ada di ruangan terasa begitu hening karna Lian dan Risa sudah tertidur, tapi tak lama kemudian Lisa membuka kedua matanya, entahlah tiba-tiba seperti ada panggilan suara yang memanggil Lisa untuk bangun dan keluar dari ruangannya, Lisa mencoba mengingat apa yang terjadi.


“Dokter Han!” ucap Lisa, dia teringat dengan dokter Han yang terluka, dengan langkah yang hati-hati Lisa mencoba untuk turun dari ranjangnya dan berjalan keluar ruangan.


Dan benar saja saat membuka pintu, Lisa melihat dokter Han, 'dia bahkan belum mengobati luka' ucap Lisa dalam hatinya, betapa sakit hatinya melihat orang yang tidak bersalah harus menanggung semua kesalahannya. Dengan langkah yang pelan Lisa mendekati dokter Han yang sedang menatap Lisa dengan bingung.


“Lisa? Kenapa kamu di sini?” ucap Han yang kebingungan melihat Lisa yang sudah ada didepannya.


“bukankah yang harus bertanya itu aku?” ucap Lisa yang membalikan pertanyaan itu pada Dokter Han.


“aku--Aku hanya sedang menunggu Dokter Park, memberikanku obat itu saja” ucap Han yang mencoba mengalihkan pandangannya ke tempat lain, dia tidak bisa menatap Lisa.


"kamu berbohong! Kamu pasti mempunyai tujuan lain Dokter Han”


“Lisa! Lebih baik kau kembali ke tempatmu, jangan membuat keluargamu salah paham padaku lagi!”


“lalu kenapa kamu menolongku sangat aku ingin bunuh diri? Jika pada akhirnya kamu tak mau membuat keluargaku salah paham padamu Dokter Han!”


“berhentilah berbicara omong kosong Lisa! Jangan membuatku kesal! Lebih kamu pergi dan menjauh dariku!”


“setidaknya biarkan aku mengobati lukamu, agar aku tak berasa jika aku memiliki hutang budi padamu” ucap Lisa, dia duduk di lantai untuk menatap Dokter Han lebih dekat.


“Tidak perlu Lisa, kembali kedalam ruangan itu”


“Dokter Han! aku mencintaimu, dan aku tahu kamu juga mencintaiku!” ucap Lisa, dia terus menatap wajah Dokter Han yang mulai membengkak dan tidak memperdulikan dinginnya lantai rumah sakit yang bisa membuatnya sakit.


Han cukup terkejut dengan apa yang Lisa katakan tapi secepat mungkin dia menepis semua itu, Han tidak pantas untuk mendapatkan cinta dari Lisa apalagi bisa hidup bersama itu adalah hal yang mustahil akan terjadi.


“Lisa sekarang bangunlah, lantai rumah sakit tidak baik untuk kesehatanmu”


Han membantu mengangkat tubuh Lisa untuk berdiri, dia seakan-akan tidak mendengarkan apa yang Lisa ucapkan.


“Kenapa? Kau peduli padaku? Kenapa kamu mengalihkan pembicaraan dokter Han?” ucap Lisa, matanya mulai berkaca-kaca, dia tidak mengerti dengan perubahan yang terjadi pada Dokter Han, Lisa merasa jika Han mencoba untuk menjauh darinya.


“Lisa, buanglah imajinasimu yang berfikir jika aku mencintaimu, aku hanyalah doktermu, tugasku hanya merawatmu, kepedulian dari seorang dokter adalah hal yang wajar”


“benarkah? Mengajak pasiennya pergi dari rumah sakit? Lalu apa kamu lupa dengan ciuman kita? Dan jangan lupa saat kamu berusaha menyembunyikan fakta jika itu adalah kesalahanku? Kamu masih mau menentang itu semua dokter Han?”


Han berhenti sejenak, dia terdiam di depan pintu ruangan Lisa, mulutnya seakan-akan terkunci dan kaki seperti tertancap di tanah, semua tubuh menegang hanya dengan mendengar perkataan Lisa.


“kamu bilang ingin mengobati lukaku bukan? Sekarang ayo kita obati lukaku” ucap Han, dengan kasar dia menarik tangan Lisa sesuatu tempat yang hanya Dokter Han ketahui, itu adalah ruangan pribadinya.


“dokter Han, lepaskan! tanganku sakit!”


Kini mereka berdua berdiri didepan sebuah kamar yang berada di ujung lorong rumah sakit, ruangan yang sangat jarang dilalui orang lain, tak menunggu lama Han langsung membuka pintu kamar itu dan menarik Lisa kedalam. Melempar tubuh Lisa keranjang yang memang disediakan disana.


“tidak! Dokter Han apa yang mau kamu lakukan!” ucap Lisa yang sangat ketakutan, dia terus melangkah mundur menghindari Dokter Han yang mulai melangkah menaiki ranjang.


“bukankah kamu mencintaiku Lisa? Inilah diriku Lisa! Seorang pria yang suka tidur dengan banyak wanita, di rumah sakit ini hampir semua suster yang masih muda sudah pernah tidur denganku”


Lisa sangat terkejut dengan apa yang diucapkan Han, dalam hati Lisa mengutuk dirinya yang terlalu polos, dia berpikir jika dokter Han adalah lelaki baik yang sangat menghormati wanita, tapi ternyata dia tidak jauh dari seorang pria brengsek!


“cepat! obati semua luka yang ada di tubuhku! bukankah kamu ingin membayar hutangmu?” ucap Han, dia menarik tubuh Lisa untuk mendekati padanya.


“lepaskan! aku membencimu! Kau pria brengsek! Aku sangat menyesal mengenalmu Han!”


Lisa berteriak pada Han, dia mulai menangis, Lisa menangis karena bodoh telah mencintai pria yang salah, dia menatap Han penuh dengan kebencian dan ada juga perasaan kecewa.


Han yang melihat itu hanya bisa mengutuk dirinya sendiri, Han tidak punya cara lain untuk membuat Lisa menjauh darinya, hanya dengan cara yang kotor ini Han bisa membuat dirinya seakan-akan dia adalah pria yang brengsek dan membuat Lisa membencinya.


“pergilah sebelum aku berubah pikiran” ucap Han, dia menundukan pandangannya, Han benar-benar tidak sanggup untuk melihat Lisa yang menangis karena perbuatannya.


Segeralah Lisa meninggalkan ruangan itu, Lisa masih punya harga diri yang harus dia jaga, dia tidak akan melakukan hal bodoh karena seorang pria, Lisa langsung berlari setelah dia keluar dari ruangan Han, dengan segala kekecewaan dan kehancuran hatinya Lisa mencoba untuk tidak membiarkan hatinya jatuh pada Han lagi.

__ADS_1


Sedangkan Han, pria itu mengutuk dirinya dalam kegelapan ruangannya, dia memukuli tembok kamar itu hingga membuat tangannya terluka dan mengeluarkan darah, Han benar-benar tidak berdaya untuk sangat ini, semua orang disekitarnya terus menekannya dan memaksanya untuk menjauhi Lisa, tapi mereka tetap menahan Han untuk menjadi dokter rawat Lisa, bukankah itu sama saja membuat Han semakin bingung dan stress?


“maafkan aku Lisa, aku benar-benar tidak layak untuk dirimu, aku bahkan tak berdaya untuk mempertahankan cinta kita, aku juga sangat membenci diriku sendiri Lisa! Semoga kamu bahagia dengan semua luka yang aku berikan padamu, maafkan aku yang tak bisa memperjuang cintaku untukmu Lisa, tapi aku akan tetap mencintaimu dari jauh, dan melihatmu bahagia dari kejauhan”


********


Keesokan Harinya ......


Saat membuka kedua mata, hal pertama Lisa lihat biasanya adalah senyuman manis dari dokter yang dia cintai, kini yang Lisa lihat hanyalah langit-langit yang warna putih dan seperti biasa ruangan yang begitu hening dan sepi. Sepanjang malam Lisa terus menangisi Han, hati Lisa terasa begitu sakit mengingat bagaimana pria itu memperlakukannya seperti wanita ******.


“selamat pagi Lisa”


Sapa seseorang yang suara berasal dari pintu, pria itu berjalan dengan santainya sambil membawa beberapa makanan dan juga buah-buah, dan juga tak lupa dengan pakaian casual yang terlihat sangat cocok untuknya, pria itu adalah Sean.


Tunggu? Sean? Apa pria itu lakukan disana? Bagaimana dia bisa tahu jika Lisa ada disini?


Begitu banyak pertanyaan yang muncul dibenak Lisa saat melihat Sean yang berjalan mendekatinya.


“Sean?”


“kenapa terkejut aku ada disini? Atau merindukanku?”


“apa yang ingin kau lakukan disini?”


“membawamu pulang lalu menikahimu”


“.......”


“Ayahmu yang memanggilku kesini, aku sangat sedih saat mendengarmu sakit, jadi aku langsung pergi kesini”


“aku tidak butuh belas kasihanmu!”


“Lisa kamu tidak boleh seperti itu pada calon suamimu”


“Sean! Kau! Menyebalkan!” ucap Lisa, dia mencubit perut Sean, agar pria itu berhenti lakukan hal gilanya.


“Lisa sakit, baiklah aku akan berhenti, apa kamu lapar? Aku membawa kue dorayaki untukmu dan juga susu coklat kesukaanmu”


Lisa langsung menerima pemberian dari Sean, dia memang sangat lapar karena biasa dokter Han akan memberikannya sarapan pagi entah itu bubur atau pun roti dan tak dengan susu coklat hangat. Lisa menghela nafas panjang, di saat seperti ini dia masih memikirkan pria itu.


Lisa dan Sean, mereka berdua berbincang tentang banyak hal sambil menikmati sarapan pagi bersama, Setidaknya dengan kehadiran Sean, Lisa bisa sejenak melupakan hati yang sedang terluka.


Tiga hari berlalu ....


Setelah kejadian itu Han tidak pernah menampakkan dirinya di depan Lisa atau pun menampakan dirinya di rumah sakit, dia menghilang seperti ditelan oleh bumi, tidak ada satu pun yang tahu di mana keberadaannya.


Tak ada satu haripun Lisa lewatkan untuk tidak memikirkan Dokter itu, ada seribu pertanyaan yang melintas dalam pikiran Lisa, dia masih tidak mengerti dan mencoba memahami semua perilaku Han, yang berubah setelah Ayah dan kakaknya kesini.


Apa mereka bertiga pernah bertemu saat Lisa sedang tidak bersama mereka atau saat Lisa sedang tertidur? 


Apa ayahnya mengancam Han? Atau kakak kevin?


 Atau memang Han tidak pernah menyukai Lisa?


“jadi selama ini hanya aku yang menyukainya sedangkan dirinya tidak? Tapi kenapa aku bisa bertahan dengan perasaan yang tak terbalaskan ini? Aku harus bagaimana? Bertahan dengan labirin cinta yang terus menjebakku untuk terus ada di dalam sana”


Lisa bertanya pada dirinya sendiri, kondisi Lisa memang sudah membaik, dokter Park berkata jika dia akan menjalankan operasi minggu depan, jika operasi berjalan dengan baik itu berarti tak lama Lisa akan pulang dan meninggalkan rumah sakit ini, seharusnya Lisa bahagia karena itu adalah hal sangat dia inginkan sejak pertama Lisa menginjakkan kakinya di rumah sakit ini, tapi kenapa rasanya Lisa ingin menangis? Ada rasa sakit yang terus menusuk kedalam hatinya, membuat Lisa sesak nafas dan sulit untuk berfikir.


Apa cintanya terhadap dokter Han begitu dalam? Hingga Lisa sulit untuk menghapusnya dalam pikirannya maupun hatinya, apa sebegitu menyakitkan mencintai seseorang? Lisa tidak pernah berfikir jika cinta pertamanya akan bertepuk sebelah tangan seperti ini, tapi sekali lagi Lisa tidak bisa berbuat apapun untuk bisa menghapus segala kenangan dan juga perasaan terhadap Dokter Han.


Lisa tersenyum murung saat melihat obat pil yang ada di tangannya saat seorang suster menyuruhnya untuk meminumnya, biasanya Lisa sangat menunggu-nunggu waktunya untuk minum obat, tapi hari ini rasanya bukan obat yang dia butuhkan.


“Nona Lisa?” tanya suster yang masih menunggu Lisa untuk meminum obatnya.


“Anda bisa meninggalkanku suster, aku akan meminumnya” ucap Lisa yang tersenyum pada suster yang ada di sampingnya.

__ADS_1


“baiklah, pastikan untuk meminum obatmu” ucap suster itu, dia mulai melangkah meninggalkan ruangan Lisa.


Bukannya meminum obatnya Lisa malah membuangnya di tempat sampah yang ada di samping ranjangnya, lalu secara perlahan turun dari ranjang, melangkah keluar dari ruangan dan berjalan ke tempat yang berada di ujung lorong.


Kini Lisa berdiri didepan sebuah ruangan yang hampir membuat masa depannya hancur, dengan ragu-ragu Lisa mencoba untuk mengetuk pintu itu sampai tiga kali, namun tak ada jawaban dari dalam ruangan, Lisa mencoba mengulurkan tangannya untuk membuka pintu kamar itu yang tidak terkunci.


Lisa hanya melihat ruangan yang kosong, tidak ada Dokter Han disana, ruangan itu seperti sudah dikosongkan, Lisa sangat ingin saat beberapa hari yang lalu ketika dia ada di ruangan itu terdapat banyak sekali buku-buku dan foto, tapi sekarang ruangan itu bersih tanpa ada buku ataupun foto.


'Apakah dokter Han pergi? Atau dia mengundurkan diri?' tanya Lisa dalam hatinya.


“kamu pergi, tapi tak mengabariku, sebegitu tidak berartinya diriku bagimu, Han”


Lisa menangis, meluapkan semua emosi yang sejak tadi dia tahan, Lisa menjatuhkan tubuhnya ke lantai, Lisa benar-benar merasa rapuh seakan-akan jiwa telah meninggalkan raganya, tidakkah Han mengerti jika Lisa membutuhkannya dan juga merindukannya.


“apa yang harus aku lakukan Han? Aku tak bisa melupakanmu walaupun hanya satu detik, hidupku hampa tanpa ada dirimu disisiku”


Lisa bangkit dari tempatnya dan mulai meninggalkan ruangan itu, percuma saja dia menangis itu tak akan berpengaruh pada apapun, Lisa mencoba untuk kuat, masih banyak impian dan cita-cita yang belum dicapai, Lisa tak boleh rapuh hanya karena seorang pria walaupun cinta pertama sulit untuk dilupakan.


Sesampainya di ruangannya, Lisa di kejutkan dengan Han, pria itu ada di ruangannya? 


Apa Lisa sedang berhalusinasi? 


Atau Lisa sedang bermimpi?


“Lisa?”


Suara itu terdengar sangat nyata di telinga Lisa, tak mau membuang waktu Lisa segera berlari mendekati Han, mencoba memastikan jika Han itu nyata.


“Lisa, berhati-hatilah, kamu bisa jatuh" ucap pria itu langsung memegang tangan Lisa yang hampir jatuh di hadapannya.


"ini bukan mimpikan---Sean?”


Lisa sangat terkejut, Lisa benar-benar merasa jika dia melihat Han bukan Sean, tapi pada kenyataan yang ada dihadapan itu Sean bukan Han, lagi-lagi Lisa merasa sedih, begitu merindukannya sampai menganggap orang lain itu adalah Han.


“Lisa, kamu sedang berbicara apa? kenapa kamu berlari saat melihatku? Apa terjadi sesuatu? Dan darimana saja kamu Lisa?”


“aku--Ak-- Akh!Kepalaku sakit” ucap Lisa, dia berpura-pura sakit kepala, Lisa sangat bingung untuk menjawab semua pertanyaan yang Sean berikan, dengan cara ini Lisa bisa mengalihkan pembicaraan.


“biar, aku bantu untuk membaringkanmu” ucap Sean, dengan hati-hati dia membantu Lisa untuk kembali keranjangnya dan membantu menidurinya.


“apa perlu aku panggilkan dokter?” tanya Sean, dia terlihat sangat khawatir dengan kondisi Lisa.


Dengan cepat Lisa menarik tangan Sean, mencoba menahannya untuk pergi dari ruangan dan berkata “Sean, tidak perlu! Aku hanya butuh istirahat, lagi pula aku sudah minum obat”


“baiklah, istirahatlah dengan baik, aku tak akan mengganggu tidurmu”


Sean memutuskan untuk duduk disamping Lisa, menunggu sampai Lisa tertidur, baru setelah itu Sean bisa meninggalkan Lisa sebentar, Sean harus pergi kesuatu tempat.


******


Sebenarnya tujuan Sean ke jepang bukanlah untuk menemani Lisa, tapi karena ada urusan yang lebih penting dari itu, yaitu membawa pulang sang kakak yang sudah hampir 5 tahun berada di jepang untuk mengejar sang pujaan hatinya.


Kini Sean sedang berada di tempat peristirahatan terakhir sang Ibu atau bisa dibilang kuburan sang Ibu, Ibu Sean sudah meninggal saat usianya 12 tahun, permintaan terakhir Ibunya adalah dimakamkan di tempat kelahirannya.


“Ibu, apa kamu bahagia?”


“aku sangat merindukanmu, maaf jika aku baru mengunjungi lagi, aku terlalu sibuk menjaga ayah yang kondisinya sedang tidak baik, ayah akhir-akhir sering bertanya tentang kakak padaku--”


“Ibu, aku masih tidak mengerti apa alasan kakak pergi meninggalkan rumah, aku tak percaya jika dia pergi hanya karena mengejar cintanya”


“aku sudah disini, aku pastikan akan membawanya pulang, aku akan kembali lagi nanti”


setelah memberikan bunga pada makam sang Ibu, Sean mulai melangkah meninggalkan makam sang Ibu, dengan berat hati Sean mencoba terlihat baik-baik saja.


namun tak lama Sean pergi meninggalkan makam itu, ada seorang pria dengan berjas abu-abu sambil membawa. buket bunga di tangannya berjalan mendekati makam sang Ibu.

__ADS_1


__ADS_2