Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]

Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]
Bab 59 - Still with you


__ADS_3

Tiga hari kemudian ….


Semenjak pertengkaran hari itu membuat Sona dan Kevin tidak berbicara satu sama lain, entah karena kecanggungan yang ada terjadi di keduanya atau memang keduanya tidak ingin membahas permasalah ini dan memilih untuk diam satu sama lain, walau mereka tinggal di satu atap yang sama tapi untuk saling menatap wajah saja mereka tidak bisa melakukan.


Sona juga bingung untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini, yang jelas wanita itu sangat kecewa dengan keputusan Kevin yang tidak bertanya lebih dahulu pada Sona, pergi ke inggris saat hubungan mereka baru saja terjalin, enam bulan bukanlah waktu yang sebentar setidaknya itu bisa melewati dua musim sekaligus.


Hari sudah menunjukan pukul sepuluh malam, tapi tidak tanda-tanda pria itu akan kembali, Kevin pergi saat Sona belum membuka keduanya matanya dan akankah pria itu kembali saat Sona sudah tertidur?


Sona menatap cemas pada luar kamarnya, dia terus menunggu kepulangan Kevin yang membuatnya semakin cemas, dia juga sudah menghubungi Kevin beberapa kali tapi sialnya ponsel pria itu tidak menyala.


Saat itu juga suara bunyi bel menyadarkan Sona dari kebingungannya, dia segera berjalan mendekati pintu dan membukanya.


Seketika bau alkohol menusuk hidung Sona, dia menatap Kevin yang kembali dengan keadaan yang sudah tidak rapi, pria itu langsung mendorong tubuh Sona hingga kaki Sona membentur sofa dan membuat wanita itu jatuh.


“Kevin apa yang terjadi?” ucap Sona, dia kembali bangun untuk membantu Kevin untuk duduk di sofa, namun itu malah membuat kedua tubuh mereka jatuh bersamaan di sofa.


Sona menatap wajah sayup Kevin, pria di atasnya terlihat begitu frustasi dan rapuh, entah karena perasaan ibanya atau tidak tega melihat Kevin seperti itu, Sona mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah sang suami, membiarkan pria itu melakukan apa yang dia inginkan.


“Sona kenapa? Kenapa kamu mengabaikan aku selama tiga hari ini? Kamu tahu aku sangat tersiksa dengan semua diamnya dirimu! Jika kamu tahu banyak ketakutan yang aku pikirkan, seandainya kamu tahu jika aku juga ingin selalu ada didekatmu” ucap Kevin, dia terus berkata tanpa mengenal untuk berhenti, sepertinya alkohol membuat pria itu tidak bisa mengendalikan dirinya.


“Kevin--”


“tidak! Kali ini aku yang akan berbicara, tugasmu hanya diam!” 


“Sona, kamu tahu jika aku sangat mencintaimu?” tanya Kevin, dia menatap Sona seakan-akan wanita itu harus menjawab pertanyaan itu.


“Ya”


“kamu tahu jika aku bukan putra dari ibuku yang sekarang?” tanya Kevin lagi


“bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Sona, dia langsung teringat dengan janjinya pada ibu Lisa, dia langsung menarik Kevin, wanita itu terpaksa melakukan hal itu untuk menghentikan Kevin berbicara lebih banyak, Sona terus mencium Kevin hingga pria itu terakhirkan oleh permainan yang Sona buat.


“kamu merindukan diriku?” tanya Kevin, pria itu melepaskan ciuman itu saat Sona sudah tidak mampu untuk mengimbangi Kevin.


“Ya, suamiku” 


Sona kembali mengusap wajah Kevin dengan sensasi yang berbeda, jari telunjuknya terus menyentuh wajah Kevin hingga berhenti di sebuah apel milik Kevin, saat itu juga Kevin meringai dengan angkuh dia menepis tangan Sona dan mencium kembali wanita yang ada di bawah kuasanya.


******


Keesokan harinya …


Cuaca di luar tidak terlalu baik karena tiba-tiba pagi ini hujan turun cukup deras hingga jalan kota Seoul dipenuhi dengan genangan air bukan butiran salju, lamaran cuaca hari ini adalah hujan yang akan terus turun hingga siang hari. Yang membuat matahari tidak bisa menyinari kota Seoul untuk pagi ini.


Karena turunya hujan ditambahnya dengan musim salju membuat suhu hari ini begitu dingin dimana suhu sudah mencapai - 10 , membuat kedua orang yang ada di ruang tamu menjadi kedinginan, keduanya saling memeluk tubuh yang hanya tertutupi oleh selimut tipis yang tidak cukup untuk dibagi berdua.


Sona dan Kevin, mungkin karna terlalu lelah keduanya memutuskan untuk tidur di sofa setelah selesai bermain cukup lama, dengan posisi Kevin berada di ujung Sofa dan Sona yang ada di antara sofa dan Kevin.


Hingga beberapa menit kemudian kedua mata Sona terbuka, kepalanya terasa begitu pusing karena pengaruh alkohol dari Kevin, dia menatap pada tubuh Kevin yang hanya memakai celana dan memamerkan dada bidangnya terekspos begitu saja dan Sona, wanita itu hanya memakai kemeja milik Kevin yang sangat kebesaran untuk dirinya.


Sona mencoba untuk keluar dari sofa, dia juga menggeser tubuh Kevin yang mungkin dengan sedikit dorongan pria itu sudah terjatuh, memberikan selimut untuk menutupi tubuhnya.


Dan kaki melangkah mendekati dapur, dia perlu membuat minuman yang bisa menghilangkan rasa mual yang akan terjadi pada Kevin jika pria itu terbangun, dan benar saja, suara Kevin yang langsung berlari ke kamar mandi.


Sona membawa minuman itu ke dalam kamar, sesampainya disana dia melihat Kevin yang tersungkur lemas di ranjang dengan tangan memegang perutnya, Sona berjalan mendekati Kevin, membantu pria itu untuk duduk dan memberikan minuman pada pria itu.


“Sona, apa tadi malam aku--” 


Tiba-tiba Sona menutup mulut Kevin dengan tangannya, wanita itu duduk di pangkuan Kevin dan melingkarkan tangannya di leher pria itu.


“aku baik-baik saja, kamu sudah merasa lebih baik?” tanya Sona.


“Ya, terimakasih untuk minumannya, perutku merasa jauh lebih baik”


“oke, baiklah sekarang kita harus berbicara”


“dengan posisi seperti ini? Aku hanya takut, aku tidak bisa fokus Sona, kamu bahkan memakai pakaianku dan kamu tidak memakai pakaian dalam”


“buang pikiran kotormu itu! Bukankah tadi malam kamu sudah melakukan begitu banyak, aku harus meminum pil ku dulu” ucap Sona, dia turun dari pangkuan Kevin berjalan kelaci lalu mengambil pil dan meminumnya.


“sejak kapan kamu minum pil itu? Sona aku tidak bilang kita harus menundanya,kan?” 


“Tuan Kevin apakah anda lupa jika di usiaku sangat beresiko untuk melahirkan, ku rasa itu bisa dibahas nanti, sekarang kita bahas kenapa dirimu, memaksakan diri untuk meminum alkohol?”


“apa tadi malam aku berbicara banyak kata?”


“apa yang kamu ingat hanya saat kita bercinta? Kevin aku sedang serius”


“baiklah, Sona aku tahu jika aku bukan anak dari ibuku yang sekarang, aku sudah mencoba untuk menerimanya dan menyembunyikan semua ini seakan-akan jika diriku tidak tahu, tapi hati sakit Sona saat ibuku tidak ingin aku terlibat dalam masalahnya, di tambah dirimu yang terus mengabaikanku beberapa hari ini--”

__ADS_1


“sudah, aku tahu, aku minta maaf untuk itu” ucap Sona, dia memilih untuk duduk disamping Kevin dan memberikan pelukan pada pria itu.


“Sona, tolong jangan marah lagi padaku, kamu tahu? Aku juga sangat berat untuk meninggalkan dirimu, kita bahkan belum melakukan bulan madu karena pekerjaanku”


“Kevin, selama dirimu masih mengingat diriku dan janji-janji yang kamu ucapkan, aku akan selalu setia dan menunggu dirimu kembali”


“tapi Sona, enam bulan bukanlah waktu yang sebentar, aku bisa melewati dua musim”


“Ya, aku tahu”


“apa kamu siap untuk aku tinggal?”


“aku akan selalu di sini Kevin, enam bulan bukankah tandingan untuk rasa cintaku padamu, jadi kamu harus percaya itu, setidaknya aku bisa bekerja disini dan saat kamu kembali aku akan berhenti bekerja”


“Sona, aku bahagia untuk itu, berjanjilah padaku, jika dirimu akan menjaga dirimu dengan baik”


“Ya, aku berjanji, aku juga ingin bilang maaf padamu karena seharusnya aku mengatakan semua itu padamu, apa hatiku terluka mendengar jika Risa bukanlah ibumu?”


“Sona, aku bukan anak kecil yang berusia lima tahun, aku mengerti kenapa ibuku tidak ingin aku mengetahuinya, walau memang ada sedikit luka dihatiku”


“aku bangga padamu, kamu memang pria yang sangat hebat dalam menerima ini, jika aku jadi dirimu mungkin aku akan marah”


“itulah alasan kenapa aku ditakdirkan untuk dirimu karena hanya aku yang bisa menenangkan amarahmu dan mencoba mengerti sifat kekanakan dirimu”


“Ya, aku ingin mandi”


“ide yang bagus”


Tiba-tiba saja Kevin menggendong tubuh Sona, pria itu berjalan mendekati kamar mandi.


“apa yang kamu lakukan?”


“mandi”


Ya, setelah itu hanya ada kepasrahan yang Sona lakukan, membiarkan pria itu melakukan apa yang dia inginkan, setidaknya di waktu yang tersisa ini mereka bisa menghabiskan waktu bersama walau nanti akan berpisah atau tidaknya itu hanya menjadi penantian yang tidak harus ditakutkan atau dihindarkan, selagi keyakinan dan semua ikatan, sejauh apapun jarak memisahkan semua akan berlalu begitu saja dan pada akhirnya mereka kembali bersatu, pertengkaran dan permasalahan hanyalah sebuah tantangan untuk menguji suatu kekuatan hubungan, hanya butuh untuk saling mengerti dan saling mencurahkan semua perasaan yang terpendam maka secara perlahan semua akan terselesaikan seiring berjalannya waktu.


Keesokan harinya ….


Hari ini cuaca begitu baik karena matahari sudah memberikan sinarnya, salju juga mulai menghilang secara perlahan yang menandakan jika musim panas akan segera datang, musim dimana semua orang akan lebih sering berkunjung ke pantai atau taman hiburan.


Hari ini Sona memutuskan untuk berkunjung ke makam sang ibu yang sudah lama tidak dikunjungi sejak Sona menikah, dia berkunjung ke makam sang ibu sendiri tanpa ditemani oleh sang suami, Sona tahu jika Kevin juga sedang sibuk untuk urusan pekerjaan, pria itu lebih sering menghabiskan waktunya di kantor, kadang dia sampai menginap di kantor agar tidak telat berangkat.


Sebelum ke makam sang ibu, Sona membeli beberapa bunga yang sangat mendiang ibunya sukai, dia membeli bunga matahari dan mawar merah.


“Mom, l really miss you, what happened? Aku yakin Mom bahagia bersama daddy, aku juga membawakan bunga kesukaan daddy nanti aku akan berkunjung ke makam daddy, Maafkan Sona yang baru menemui Mom lagi” ucap Sona.


“Mom, thanks you so much, Sona sekarang sangat bahagia bersama pria yang Mom pilih, aku tidak menyesal telah menikahi pria yang begitu mengerti diriku and  Love in our hearts slowly started to grow” ucap Sona lagi, dia duduk disamping makam sang ibu yang tidak jauh dari makam sang ayah.


“Mom, you the best in my life and forever love you, see you later Mom ” 


Setelah berkunjung ke makam sang ibu dan sang ayah, Sona memilih untuk kembali pulang, dia harus segera kembali karena ada pekerjaan yang harus dia lakukan, dia harus mencuci pakaian Kevin dan dirinya.


Hingga saat kembali ke apartemen Kevin, dia terkejut dengan Lisa yang sudah ada disana didalam ruang tamu, sebelum mendekati Lisa, wanita itu menaruh semua belanjaan di dapur, membuka mantel yang tadi digunakan dan berjalan mendekati Lisa yang terdiam.


“Lisa? Bagaimana kamu bisa masuk? Maksudku kenapa tidak mengabariku” tanya Sona, seperti biasanya dia akan mengajukan banyak pertanyaan.


“kamu tidak membawa ponselmu, aku disini karna kakak Kevin yang mengkhawatirkan dirimu dan ada hal yang ingin aku bicarakan juga” ucap Lisa dengan tenang, dia menarik Sona untuk duduk disampingnya.


“Ah--kamu benar aku tidak membawa ponselku, aku akan mengirimkan pesan pada Kevin, ada hal apa yang ingin kamu bicarakan? Tentang Han? Atau hubungan kalian”


“ini memang ada hubungannya dengan Han tapi kakak Kevin juga terlibat”


“maksudmu apa Lisa? Kenapa Kevin terlibat?”


“kamu harus mendengarkan dulu apa yang akan aku katakan, satu minggu lagi aku akan menikah--”


“apa? Lisa kamu ingin menikah? Wah itu bagus, akhirnya kamu bisa bersama dengan Han”


“Sona, aku belum selesai berbicara, kenapa kamu terus menyala, aku memang akan menikah dengan Han, tapi ada hal yang terus menganjal dalam pikiranku, kamu tahu kakak Kevin akan pergi ke inggris bulan depan?”


“Ya, aku tahu, memang kenapa Lisa?”


“aku curiga, kenapa kepergian Kakak Kevin ke inggris dan Han itu bisa bersamaan, tidakkah kamu merasa curiga Sona? Dan alasan mereka berdua pergi juga karena keinginan dari ayahku dan ayah Han”


“aku juga sempat curiga kenapa Kevin pergi begitu lama dan aku bahkan tidak boleh ikut dengannya, Lisa sebenarnya apa yang terjadi? Aku mempunyai firasat buruk” ucap Sona, dia langsung menghadap Lisa dan memegang tangan Lisa.


“itulah alasan kenapa aku kesini, mungkin Han dan kakak Kevin keduanya tidak ada, Sona ini mungkin rencana ayahku dan Tuan Kim untuk membuat Han dan Kevin bersaing untuk mendapatkan kontrak dari perusahaan Victory”


“tapi untuk apa mereka melakukan itu Lisa?”

__ADS_1


“oh ayolah Sona, kamu berkuliah di jurusan ekonomi dan bisnis masa kamu tidak mengerti”


“itu--itu tidak mungkinkah Lisa? Hanya untuk memajukan perusahan mereka merelakan putra mereka untuk bersaing?” 


“itulah kenyataannya Sona, aku ingin kamu menghalangi Kakak Kevin untuk pergi dan aku akan meyakini Han untuk tidak pergi”


“terimakasih untuk itu Lisa dan selamat untuk dirimu yang akan menikah, satu minggu lagi? Kalian sangat tidak sabaran”


“bisakah kamu menceritakan bagaimana setelah kalian menikah?” tanya Lisa


Sona dan Lisa keduanya menceritakan banyak hal yang terjadi setelah menikah, mereka terus mengobrol hingga waktu sudah menjelang malam hari, hingga akhirnya mereka harus berpisah.


Sona, wanita itu kini sedang menyiapkan makan malam untuk Kevin, saat Sona mengirimkan pesan pada Kevin, pria itu mengatakan jika malam ini dia akan pulang, kebetulan juga Sona sedang ingin memasak untuk Kevin.


Hingga kedatangan Kevin yang tidak disadari oleh wanita itu mengejutkan dirinya karena pria itu tiba-tiba memeluknya dari belakang dengan pakaian kerja yang masih lengkap.


“selamat datang, aku tidak menyadari jika kamu sudah kembali” ucap Sona, dia mencoba tidak merasa terusik dengan adanya Kevin yang menempel di tubuhnya, walau memang sulit bergerak untuk memasak.


“kamu membuatkan makan malam untukku?” tanya Kevin


“tidak untuk kita berdua, Tuan manja bukankah sebaiknya anda mandi? Dari menggangguku” jawab Sona dengan santai, dia melepaskan tangan Kevin yang melingkar di tubuhnya dan menatap pria itu, memberikan kecupan singkat pada Kevin.


“hari ini kamu sangat berbeda, apa terjadi sesuatu?”


“tidak ada aku hanya ingin menjadi istri yang baik untukmu, sudah pergi mandi”


“baiklah” Kevin kembali mengambil tas miliknya di kursi, dia berjalan kearah kamarnya, dan membersihkan dirinya.


Saat Kevin sudah selesai mandi, Sona juga sudah selesai menyajikan makanan di meja makan, dia menata dengan baik sesuai dengan arahan di buku resep yang tadi dia beli di toko buku, dia menarik Kevin untuk segera duduk di sampingnya.


“pasta?” tanya Kevin


“Ya, aku baru belajar memasak dan pasta merupakan nemu yang mudah dibuat, cobalah”


Sona menyerahkan sumpit pada Kevin, membiarkan pria itu untuk menyicipi makan buatannya lebih dahulu, dia menatap Kevin penuh dengan antusiasnya dan rasa penasarannya.


“bagaimana?”


“sangat enak” ucap Kevin 


Mendengar itu Sona langsung memakan pasta yang dia siapkan untuk dirinya, dan benar rasa memang enak namun tidak seenak yang pernah Kevin buat.


“tidak biasa saja”


“apapun yang istriku buat akan terasa enak karena dia membuatkannya penuh dengan cinta”


“sayangnya aku tidak berminat pada rayuanmu Tuan Jung”


“hari ini kegiatan apa saja yang kamu lakukan”


“mengunjungi makam mom and daddy, lalu aku mengobrol dengan Lisa”


“apa yang kalian bicarakan?”


“pernikahan Lisa dan Han”


Detik itu juga Kevin tersedak air minum yang baru saja dia minum, dia sampai menyembur air itu kemakannya, wajahnya langsung menatap Sona dengan bingung.


“apa? Menikah? Mereka tidak memberitahuku”


“Lisa juga baru memberitahuku hari ini, dia bilang dia belum sempat membicarakan ini denganmu”


“......” 


“kamu marah? Jangan berfikir yang tidak-tidak Kevin, mereka semua menyayangimu dan tidak ingin membuatmu khawatir, bukankah akhir-akhir ini kamu sibuk karena telah mengambil posisi ayahmu?”


“Ya, itu benar, aku tidak menyukai posisi ini, membuatku semakin sulit bertemu denganmu”


“tidak apa-apa akan ada waktunya kita bersama”


“aku tidak ingin menunggu diriku tua untuk bisa menghabiskan waktu bersamamu Sona, aku tidak suka dengan kekuasaan yang tidak memberikan apapun padaku, kebahagian tidak bisa dibeli oleh uang Sona”


“Ya, aku tahu, itulah maksudku aku ingin kamu tidak pergi ke inggris, bagaimana jika kita berbulan madu, pasti di negara luar--”


“Sona, aku tidak bisa membatalkan rencanaku”


Sona hanya bisa tersenyum mendengar penolakan yang begitu tegas dari Kevin, dia akan membujuk Kevin secara perlahan yang tadi hanyalah latihan saja, dia kembali menikmati pasta buatannya.


Selanjutnya tidak ada percakapan lagi yang akan mereka bahas, suasana Kevin juga menjadi berubah begitu saja membuat Sona sedikit bingung, setelah merapikan dapur. Sona kembali ke dalam kamar mereka sambil membawa Coffee untuk Kevin yang mungkin pria itu butuhkan.

__ADS_1


Saat membuka pintu Sona melihat Kevin yang sibuk dengan laptop yang ada di tangannya, dia meletakkan Coffee di samping Kevin, “untukmu, jangan terlalu memaksakan diri, kamu juga butuh istirahat Kevin”


Sona berjalan ke sisi ranjang, kemudian menarik selimut dan tidur dengan posisi memunggungi Kevin, namun beberapa menit baru memejamkan matanya tiba-tiba sebuah tangan besar memeluk tubuhnya dari belakang, Sona tidak melakukan apapun dia membiarkan Kevin untuk memeluk tubuhnya, hingga keduanya tertelap secara bersamaan, potret sebuah hubungan yang membuat orang iri, hari ini adalah hari lelah untuk Kevin, pria itu juga butuh sandaran untuk menghilangkan semua kesalahannya dan Sona Lah sandaran yang Kevin butuhkan saat ini.


__ADS_2