![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Saat membuka kedua matanya Lisa melihat sang ibu yang tertidur di tepi ranjang miliknya, gadis itu melihat sisa-sisa air mata yang sudah mengering di bawah lingkaran hitam matanya, ada perasaan sedih menerpa hati Lisa melihat sang ibu seperti.
Mata Lisa melirik pada jam dinding yang sudah menunjukan pukul 6 pagi, biasa dijam segitu ibunya masih sibuk menyiapkan sarapan untuk sang ayah, tiba-tiba begitu banyak pertanyaan yang melintas di pikiran Lisa begitu saja.
Secara perlahan Lisa menuruni ranjang tanpa menimbulkan kebisingan suara yang akan mengganggu tidur sang ibu, namun saat Lisa ingin memberikan selimut untuknya, detik itu juga sang ibu membuka kedua matanya dan langsung beranjak dari posisinya. Risa menatap putrinya dengan ragu-ragu menghapus air matanya.
“ibu menangis?” tanya Lisa.
Risa mencoba untuk tersenyum walau mungkin terkesan seperti paksaan, dia memegang pundak Lisa dengan kedua tangannya sambil berkata.
“Han mencintaimu?”
“Ya, dia mencintaiku”
“bisa pertemukan ibu dengannya saat ada waktu luang”
Lisa menaikan satu alisnya, dia cukup terkejut dengan permintaan sang ibu yang begitu mendadak, Lisa berpikir pasti terjadi sesuatu pada sang ibu.
“aku akan bertanya pada Han”
Risa melepaskan tangannya di bahu Lisa, “kabari ibu jika dia bersedia”
Baru saja sang ibu melangkah untuk meninggalkan Lisa, “ada masalah apa yang terjadi ibu?”
Risa kembali membalik tubuhnya dan tersenyum kembali pada Lisa, beritahu jika dia baik-baik saja.
“tidak ada sayang”
“bolehkan aku ikut saat ibu bertemu dengan Han?”
Risa menggeleng kepalanya, dia kembali melangkah mendekati sang putri yang menatapnya dengan bingung “Lisa ….”
“baiklah, jika ibu tidak mengizinkan aku tidak akan ikut campur, aku percaya pada ibu”
Risa langsung memeluk sang putri, dia kembali menangis telah menahan semuanya sendirian.
“semuanya akan baik-baik saja ibu”
“baiklah, aku akan menyiapkan sarapan untukmu”
“bagaimana dengan ayah?”
“tentu, ibu akan membuatkannya jika dia masih ada”
“bukankah ayah biasa berangkat pada pukul 8?”
“Lisa--”
Tiba-tiba suara ponsel Lisa berdering membuat sang ibu menghentikan ucapannya dan memilih membiarkan Lisa menerima panggilan itu, lalu sang ibu pergi meninggalkan ruang kamar Lisa.
Lisa menekan terima panggilan dan menempelkan ponselnya di antara bahu dan telinga sambil membuka hordeng kamarnya yang membiarkan cahaya matahari menyinari kamarnya.
Lisa : Han? Ada apa?
Han : Lisa kamu baik-baik saja?
Lisa : Ya, aku baik
Han : syukurlah
Lisa : ada masalah?
Han : tidak aku hanya takut kehilanganmu
Lisa : omong kosong! Kamu mengganggu indahnya pagiku!
Han : aku ingin mengajakmu makan malam, hari ini
Lisa : seperti tidak bisa--
Han : kenapa? Kamu punya janji dengan orang lain?
Lisa : tidak, ibuku ingin bertemu denganmu secepatnya
Han : untuk?
Lisa : membicarakan beberapa hal denganmu, aku bahkan putrinya saja tidak boleh ikut
Han : baiklah, katakan pada ibumu, calon menantunya siap untuk bertemu dengannya
Lisa : baik Tuan sibuk, aku tahu pekerjaanmu sangat tidak biarkan dirimu lebih lama denganku
Han : sampai jumpa lagi, aku mencintaiku
Lisa tersenyum setelah mematikan ponselnya, berhubungan dengan Han mengubah pikiran Lisa menjadi lebih dewasa dimana dia harus bersikap dewasa dalam mengerti segala hal, secara perlahan Lisa mengerti mengapa orang perlu memahami satu sama lain agar keduanya bisa saling mengerti walau jarak dan waktu yang memisahkan keduanya.
Lisa mulai menuruni anak tangga, dia berjalan kearah dapur dimana sang ibu yang hanya melamun menatap kearah lain dengan tatapan kosong, padahal di tangannya ada pisau yang mungkin akan melukai tangannya, Lisa segera berlari mendekati sang ibu dan mengambil pisau di tangannya.
“ibu, apa yang sedang ibu pikirkan?”
“tidak ada sayang”
“ibu berbohong, saat aku bangun ibu sudah ada di kamarku dengan sisa air mata dipipi ibu, lalu sekarang ibu melamun, pasti ada satu masalah yang membuat ibu seperti”
“Lisa, ibu baik-baik saja”
“jika ibu memberitahuku semua akan rasa lebih baik, bukankah ibu selalu berkata seperti? Untuk mencoba berbagi beban pada orang yang aku percaya, apa ibu ragu padaku?”
Risa menggelengkan kepalanya dengan lemas, dia mencoba menyibukkan dirinya dari Lisa, bukan waktunya untuk Lisa mengetahui masalah atau mungkin biarkan masalah ini hanya Risa dan Lian yang tahu, untuk Han mungkin dia akan menjadi pengecualian jika Risa bersedia menceritakannya.
“ibu menghindariku?”
“kamu ingin sarapan apa?”
“aku bertanya pada ibu, kenapa ibu mengalihkan pembicaraan?”
“apakah kamu ingin sarapan dengan omelet dan roti?”
“baiklah, Han bersedia bertemu dengan ibu, hari ini dia tidak mempunyai banyak jadwal, ibu bisa bertemu dengannya nanti malam”
“katakan padanya, jika ibu sangat berterima kasih padanya” ucap Risa, dia sama sekali tidak mau melihat ke arah sang putri yang duduk manis di meja makan.
__ADS_1
“hari ini kamu punya kesibukan Lisa?”
“aku lupa jika hari aku harus kerumah sakit, aku akan melakukan tes hari ini”
“pergilah bersiap-siap”
Lisa segera pergi meninggalkan sang ibu, tak lama kemudian sosok Lian datang membuat dapur terasa begitu mengerikan untuk Risa, setelah selesai membuat sarapan untuk Lisa, dia segera meninggalkan ruangan itu.
Namun tangannya tertahan oleh Lian yang sudah bisa membaca situasi yang akan terjadi, dia menarik Risa untuk menghadap ke arahnya, dan wanita itu hanya memberikan tatapan dingin yang sudah lama tidak dia lakukan.
“kita perlu bicara” ucap Lian
Risa menepis tangan pria itu saat akan menariknya kedalam pelukan.
“tidak ada yang bisa diperjelas lagi”
“Risa--”
“cukup! Kau bukan Lian, kau Tuan Jung yang protektif!”
“kamu masih marah?”
“aku tidak punya hak untuk marah pada dirimu! Lepas!”
Lian yang baru saja ingin menenangkan sang istri langsung ditolak mentah-mentah oleh Risa.
“jangan mencoba menenangkanku dan memanipulasi diriku!”
“Risa, aku harus bagaimana?”
“kembalilah saat dirimu sudah menjadi Lian yang dulu!”
Risa berjalan begitu saja meninggalkan Lian yang sudah mengepalkan telapak tangannya hingga terlihat otot tangannya, dengan kesal dia mengusap wajahnya dengan satu tangannya, lalu menatap punggung Lisa yang sudah menaiki anak tangga.
******
Hari sudah menunjukan pukul jam empat sore, Risa sedang menunggu kepulangan sang putri yang belum memberinya kabar, dia sampai mondar-mandir dengan ponsel tipis di tangannya.
Suara mobil datang dari pintu membuat semua kecemasan Risa hilang, wanita itu segera membuka pintu dan mendapati Lisa yang diantar pulang oleh Han.
“bagaimana tesnya?”
“berjalan dengan lancar, mulai besok aku akan bekerja sebagai dokter”
“itu bagus, selamat untuk keberhasilanmu”
“aku akan masuk kedalam ibu”
Han berjalan mendekati Risa, dia membungkukkan badannya sedikit pada wanita dihadapannya.
“aku dengan anda ingin berbicara suatu hal padaku?”
“Han, aku butuh bantuanmu”
Han mengangguk, setelah memberitahu Lisa, Han dan Risa segera pergi meninggalkan rumah.
Disebuah restoran di persimpangan jalan kota Seoul, adalah tempat yang cukup baik untuk membiskusikan suatu hal, restoran ini cukup sederhana dan memiliki kesan yang klasik.
“Han, kamu mencintai Lisa?”
“aku ingin menitip Lisa padamu”
Han menarik alisnya dengan ragu, “aku tidak mengerti”
“aku tahu jika Lian dan ayahmu sudah merencanakan sebuah pernikahan untuk kalian padahal aku tahu jelas jika Lisa tidak menyukai itu dan kamu juga, aku ingin kamu membatalkan semua ini Han”
“aku tahu, serahkan semua ini padaku, ada tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, sampai kapanpun impian Lisa adalah segalanya untukku”
“aku dengar ayahmu akan mengirimmu ke inggris?”
“Ya, awalnya memang seperti itu tapi itu berubah dia akan akan mengizinkanku pergi setelah aku menikahi Lisa”
“kenapa bisa seperti?”
“ayahku gila akan kekuasaan dan sikapnya yang suka mengatur orang lain, dia ingin mengambil ahli perusahaan milik Tuan Jung”
Perkataan Han membuat Risa sampai tersedak saat dia sedang meminum, “Lian juga seperti, ambisinya terdapat bisnis membuatnya gila akan kekuasaan”
“anda tenang saja, aku tidak akan melipatkan Lisa dalam hal apapun, aku akan menikahi Lisa atas inginnya dan keinginanku”
“baiklah, aku rasa bisa mempercayaimu Han”
“terimakasih nyonya Risa, karna mempercayakan putriku padaku, aku akan memegang janji ini”
Tidak ada pembicaraan lagi selanjutnya, Risa meminta Han untuk mengantarnya kembali pulang setelah pertemuan mereka yang hanya berlangsung selama setengah jam saja.
Dengan segala hormat Han menghantar sang calon mertua dengan selamat sampai tujuan, sebelum pergi Han sempat melihat yang ada di dalam jendela ruangan tamu, dia memberikan senyuman manisnya pada gadis itu dan memberikan isyarat jika dia akan pergi.
Satu minggu telah berlalu begitu saja …
Tidak terasa jika memang Han dan Lisa sudah tidak bertemu beberapa hari, duanya disibukkan dengan segala aktivitas yang tidak mau ditinggal oleh keduanya, komunikasi keduanya memang berjalan lancar, namun tidak seperti sebelum.
Jika ada waktu luang baru salah satu dari mereka membalas pesan yang jika dihitung satu hari hanya ada beberapa pesan dan tidak ada satu atau dua panggilan masuk.
Baik Han dan Lisa, kedua memang perlu untuk mengerti satu sama lainnya, mereka tidak akan memaksakan jika setiap hari mereka harus bertemu atau saling menatap wajah dalam layar ponselnya.
Hari-hari Lisa diisi dengan berbagai tugas yang membuatnya terbiasa akan aktivitas yang terasa berbeda saat dia hanya mempelajarinya lewat materi, kini Lisa mengerti kenapa seorang dokter Han bisa mengerti perasaan pasiennya karena harapan terakhir mereka adalah suatu kesembuhan yang harus diberi semangat oleh orang sekitar, itu alasan kenapa Han sangat menyemangati Lisa saat berjuang melawan penyakitnya.
Berbanding terbalik dengan Han yang kehidupannya berubah 180° dari pekerjaannya selama lima tahun ke belakang, hari-hari Han di isi dengan jadwal yang selalu diberitahu oleh asisten, tumpukan kertas dan email - email yang harus segera dia balas, belum lagi pertemuan dengan beberapa klien di luar kantor yang jaraknya tidak begitu dekat, apalagi jika tiba-tiba Han harus menghadiri rapat yang memang harus dihadiri oleh pemimpin perusahaan.
Beban hidup Han jauh lebih berat dari saat dirinya masih berstatus seorang dokter, Han benar-benar dibuat berpikir keras untuk menyelesaikan semua masalah yang tidak ada habisnya, saat di musim seperti ini perusahaan Han akan lebih sibuk dari musim lainnya, bukan hanya Han yang merasakan itu seluruh karyawan yang bekerja di grup Kim.
Semua hal itulah yang membuat Han sangat jarang untuk menyentuh ponsel tipisnya, semua rasa beban itu akan hilang saat Han melihat beberapa pesan dan foto yang Lisa berikan padanya, hanya senyuman Lisa yang mampu membuat Han mengambil langkah seberani ini dalam hidupnya.
Dengan sengaja Han mengunduh foto-foto Lisa dan menyimpannya di laptop yang sekarang menjadi temannya bukan lagi alat untuk mendengar detak jantung dan senter yang selalu ada di saku jas putihnya, Han membuang nafas berat, dia sampai memijat pangkal hidungnya mencoba menghapus segala ke stress dan bebannya.
“Tuan Muda Kim, akan ada rapat setelah makan siang”
Han hanya menatap asistennya, lalu dia menggerakkan tangannya memberi isyarat jika Han sudah mengerti dan mendengarnya, dia melihat pada jam tangan yang menunjukan pukul 11 siang, tiba-tiba Han bangkit dari posisinya, dia mengambil jas berwarna dark blue dan mengambil kunci mobil miliknya.
Dengan santai dia berjalan mendekati lift yang dibuat khusus untuk Han dan beberapa orang kepercayaannya, dia segera menekan tombol ruang garasi miliknya, sambil menunggu Han mencoba menghubungi Lisa.
__ADS_1
Lisa : Halo?
Han : Hai Lisa, kamu sedang apa?
Lisa : aku sedang memeriksa daftar nama untuk pasienku, Ya seperti memastikan jika makan siang mereka sampai keruangan mereka.
Han : oke baiklah
Han mematikan ponselnya ketika lift terbuka, memperlihatkan jajaran mobil milik sang ayah yang diberikan untuk Han, sudah empat hari juga Han tidak pulang kerumah karena menurut Han kantor adalah tempat pelariannya dari ayahnya yang masih bersikeras mendesak Han untuk segera menikahi Lisa.
Dia memilih mobil hyundai, alasannya karena Han lebih terbiasa membawa mobil yang diproduksi hanya terbatas di belahan dunia ini, hidup sederhana yang Tuan Park ajarkan cukup membuat Han tidak gila akan harta dan kekuasaan yang saat ini ada di genggamannya sementara.
Han segera menyalakan mesin mobilnya, keluar begitu saja dari garasi mobil dan menyusuri jalanan kota Seoul yang tidak terlalu banyak kendaraan berlalu lalang di jalan, dia juga menyalakan radio untuk mengusir keheningan di dalam mobil, memasang GPS menuju rumah sakit tempat Lisa bekerja.
Butuh waktu setiap setengah jam untuk sampai di rumah sakit, mengingat tempat Lisa bekerja cukup jauh dari kantor Han, tanpa menunggu lama lagi Han kembali menghubungi Lisa.
Lisa : ada apa lagi Tuan Sibuk?
Han : rumah sakit yang besar dan banyak juga dokter pria disini
Lisa : kamu dimana?
Han : didepan
Lisa segera mematikan ponselnya, dia membuka pakaian pelindungnya dan menyisihkan jas putih, dia sedikit berlari ke arah lift yang sudah hampir tertutup.
Saat kaki Lisa sudah berada diluar rumah sakit, dia menatap tidak percaya pada pria yang sedang bersandar di depan sebuah mobil sambil memasukan salah satu tangannya di saku celana dan tersenyum padanya.
Lisa segera berlari mendekati Han, dan memeluk pria yang sudah tidak dia lihat selam satu minggu ini, rasanya begitu berat untuk mengatakan jika Lisa tidak sanggup untuk berjauhan dengan Han, seandainya semua bisa menjadi lebih mudah, namun tidak indah jika ingin mendapatkannya tanpa adanya usaha dan tantangan.
“aku merindukanmu” ucap Han, dengan senang hati pria itu menerima pelukan hangat Lisa.
“aku juga, bukan aku sangat merindukanmu Han”
Setelah puas memeluk pria berjas dark blue itu secara perlahan Lisa melepaskannya, dia menatap pria yang sangat gagah dan semakin tampan mungkin.
“makan siang bersama?” tanya Han
“Han, kamu jauh-jauh datang kesini untuk mengajakku makan siang? Romantis sekali”
“kamu suka? Aku akan kesini setiap hari untuk mengajakmu makan siang”
Siapa yang tidak senang jika sang kekasih akan selalu mengajaknya makan siang bersama, namun berbeda dengan Lisa, gadis itu menggelengkan kepalanya tidak suka.
“bukannya aku tidak mau Han, tapi--”
“aku tahu, kamu tidak ingin mengganggu pekerjaanku bukan?”
“Ya, cukup satu kali dalam seminggu”
“baiklah, kita akan makan siang dimana?” tanya Han, dia mengulurkan tangannya pada Lisa, bermaksud mengajak gadis itu untuk ikut dengannya kedalam mobil.
“aku ingin ke restoran italia”
Han hanya mengangguk, dia mencari lokasi restoran italia terdekat di GPS yang disediakan di dalam mobilnya, baru setelah itu memasang sabuk pengaman untuknya dan Lisa.
Detik berikutnya mobil Han sudah meninggalkan rumah sakit, Han mengemudi mengikuti arahan yang GPS tunjukan padanya, sambil sesekali melirik pada Lisa, ada yang berbeda dengan gadis itu.
“mengubah gaya rambutmu?”
“ini, sebenarnya selama aku dirumah sakit aku lebih sering mengepang rambutku hingga membuat rambutku sedikit berbeda dari biasanya, aku juga jarang merawat rambutku”
“tidak, aku suka melihatnya, kamu terlihat lebih cantik ditambah dengan jas putih itu”
Lisa tertunduk malu saat mendengar perkataan Han yang membuatnya bahagia, dia menggenggam satu tangan Han yang tidak sedang menggenggam kemudi.
“terimakasih”
“Ya, aku lupa bertanya, dokter disana cukup tampan dan sebagian hampir sama usianya dengan dirimu”
“Han, aku tidak tertarik dengan mereka, didalam mereka aku sudah menemukan nya dirimu, kamu tampan, baik, dewasa, dan yang jelas mereka tidak bisa menjadi seperti dirimu”
“baiklah, aku hanya menguji dirimu saja, terimakasih karena telah mencintaiku begitu dalam”
Tak lama mobil mereka suda diparkirkan di depan restoran italia, Han langsung membukakan pintu untuk Lisa dan menggenggam tangan gadis itu menuju restoran.
Lisa dibuat takjub dengan tema gaya klasik yang benar-benar membawa Lisa pada suasana italia, hari ini Han begitu romantis, dia bahkan memesan meja yang di samping diiringi dengan seseorang yang bermain biola dan piano, Han juga menarikkan kursi untuk mempersilakan Lisa duduk terlebih dahulu.
“Han, ini terlalu berlebihan, kita hanya makan siang bukan kencan” ucap Lisa.
“tidak Lisa, ini sederhana”
“tapi--”
“Lisa, kita jarang untuk bertemu, apa aku tidak boleh melakukan hal istimewa untukmu?”
“terimakasih, aku sangat menyukai kejutan yang selalu tidak terduga seperti ini”
Lisa dan Han, kedua menikmati indahnya makan siang bersama dengan suasana italia yang begitu kental, Lisa tidak tahu jika Han menyewa restoran itu yang kebetulan sedang sepi dari pengunjung.
“Lisa, aku akan segera berangkat ke inggris” ucapan, setelah dia selesai menikmati makan siangnya dan sedang meneguk wine yang kadar alkoholnya rendah.
“kapan?”
“tiga minggu lagi”
“itu berarti kita hanya akan bertemu tiga kali lagi? Setelah kamu berangkat kita tidak akan bertemu?”
“Ya, itu mungkin akan benar, aku tidak bisa berjanji tapi aku pastikan jika dalam satu bulan kita akan bertemu maksimal tiga atau dua kali” ucap Han
“tidak apa-apa, jangan memaksakan dirimu Han, aku sudah sangat senang saat kamu sering menghubungiku”
“Lisa, aku mohon tunggu aku enam bulan lagi”
“aku akan selalu menunggu Han, selama apapun itu”
Han tersenyum pada Lisa, dia mendekati Lisa dan memberikan pelukan pada sang gadis sebagai ucapan rasa terimakasih untuk segala hal yang Lisa yakini untuk Han.
Jam sudah menunjukan pukul 12.30 siang, sebentar lagi waktu makan siang akan berakhir, baik Lisa dan Han keduanya harus kembali pada pekerjaan masing-masing, tapi Han tidak membiarkan Lisa untuk kembali ke rumah sakit sendiri, Han tidak peduli jika dirinya akan terlambat kembali ke kantor.
“sampai bertemu lagi nanti Lisa” ucap Han saat membukakan pintu untuk Lisa, membiarkan gadis itu melewatinya.
__ADS_1
“Ya, sampai jumpa lagi”
Lisa melambaikan tangannya pada saat mobil Han meninggalkan rumah sakit, hari yang sebelumnya terasa begitu berat kini telah tergantikan dengan semangat yang baru, dengan wajah bahagia Lisa kembali masuk kedalam rumah sakit.