![Ibu Muda Presiden Lian [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ibu-muda-presiden-lian--revisi-.webp)
Seminggu berlalu begitu saja....
Sudah seminggu Lisa di rawat di rumah sakit, rencana berlibur keluarganya benar-benar hancur karena Lisa, tapi tidak satupun keluarganya mengeluh kepala Lisa sebaliknya mereka terus mencoba menyemangati Lisa agar cepat sembuh, bahkan Lian berjanji jika Lisa mau bersedia lebih lama di rumah, Lian akan menuruti semua keinginan putrinya, kakak pun tidak ingin kalah dengan ayahnya. Kevin juga berjanji akan mengajak Lisa pergi ke Swiss, jika Lisa menurut untuk tetap bertahan di rumah sakit selama satu bulan.
Jung Lian dan Jung Kevin terpaksa harus bolak-balik dari jepang ke Korea dan sebaliknya dari Korea ke Jepang, alasan yang membuat Lian dan Kevin seperti karena pekerjaan yang benar-benar tidak bisa mereka serahkan pada orang lain, di awal tahun ini banyak sekali project baru yang sedang Lian jalankan sedangkan Kevin sibuk dengan para investor yang ingin menanam saham di perusahan Grup Jung, Kevin juga akan segera menggantikan posisi sang Ayah, maka dari itu Kevin harus lebih banyak mempelajari tentang perusahan ayahnya.
Sedang Risa harus disibukkan dengan segala perpindahan mereka, setidaknya Risa harus menyiapkan beberapa keperluan untuk keluarganya menetap di jepang selama satu bulan kedepannya, Risa juga harus pulang ke Korea mengurus urusan Kuliah Lisa, yang harus mengambil cuti.
Kesibukkan yang terjadi pada Lian, Kevin dan Risa membuat Lisa sedih, bagaimana Lisa tidak bersedih? Dia sendirian di kota Tokyo dan juga keluarganya masih terus merahasiakan penyakitnya yang membuat Lisa semakin terluka, padahal Lisa hanya ingin kembali ke rumahnya yang ada di Korea bukan ingin diberikan sesuatu oleh ayahnya ataupun kakaknya yang menjanjikan suatu agar Lisa mau bertahan lebih lama dirumah sakit ini.
Cahaya matahari di jepang memang tidak secerah cahaya matahari di Korea, namun Lisa masih bisa melihat sinar itu dari jendela rumah sakit yang berlantaikan lima, di atas ranjangnya Lisa sedang menatap ke arah jendela yang memberikan pemandangan kota Tokyo yang sangat indah, dengan wajah yang pucat dan terlihat kurus, dan tangan yang tidak bisa lepas dari infusan, kondisi Lisa akhir-akhir ini sedikit menurun, Lisa sangat sulit untuk makan dan terkadang dia juga akan membuat semua obatnya tanpa sepetahuan siapapun.
“selamat pagi” ucap dokter Han, pria itu melangkah masuk, mendekati Lisa dengan membawa sarapan pagi untuk Lisa.
“pagi, dokter Han” ucap Lisa, pandangan langsung teralihkan ke arah dokter Han.
“apa yang sedang kamu lihat tadi?” tanya dokter Han, dia menyiapkan meja di ranjang Lisa, agar memudahkan Lisa untuk memakan sarapannya.
“bukan hal penting” ucap Lisa, dia menghela nafas panjang saat melihat sarapan yang begitu membosankan untuknya, Lisa merindukan sarapan dengan roti bakar bukan bubur yang rasa sangat hambar.
“apa kamu bosan Lisa?”
“aku hanya merindukan kehidupanku yang biasanya, sangat membosankan bagiku harus melakukan aktivitas yang seperti ini terus, makan -minum obat-istirahat, seperti itu terus”
Tak ada sedikitpun niat Lisa untuk menyentuh makan yang ada di hadapannya.
“mau melarikan diri dari rumah sakit ini satu hari?” tanya dokter Han yang menunjukan senyuman manisnya pada Lisa.
“apakah bisa?”
“melarikan diri adalah hal sering aku lakukan”
“kalau begitu bawa aku pergi, dokter Han” ucap Lisa, dia terus menatap Han dengan tatapan memohon.
“asalkan kamu mau menghabiskan sarapanmu dan juga meminum obatmu, aku akan menepati janjiku”
“aku pasti akan menghabiskannya” ucap Lisa dengan antusiasnya, tanpa menunggu lama lagi, Lisa langsung mengambil sendok dan memakan bubur itu dengan semangat.
“pelan-pelan kamu bisa tersedak Lisa” ucap dokter Han yang heran melihat Lisa yang begitu semangat.
'apa dengan membawanya pergi jalan-jalan bisa membuatnya tidak murung lagi?' tanya Han dalam hatinya.
Dalam lima menit bubur itu sudah dihabiskan oleh Lisa, Han yang melihat ada sedikit kotoran di area bibir Lisa langsung mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan kotoran di area bibir Lisa.
Lisa yang baru saja ingin membersihkan area bibir menggunakan tisu, langsung terdiam menatap Han yang sudah lebih dahulu membersihkan area bibirnya, tatapan Lisa tertuju pada wajah Han yang begitu dekat dengan wajahnya membuat degup jantung Lisa berdetak kencang.
Dari jarak yang begitu dekat ini Lisa bisa melihat Han yang begitu tampan dan juga dewasa. Diam-diam Lisa tersepi malu dengan perlakuan Han terhadapnya. Seandainya Lisa bisa memperlambat waktu dia tidak ingin kejadian ini cepat berlalu begitu saja.
“ini minumlah obatmu Lisa” ucap dokter Han yang kini memberikan Lisa obat yang sudah dia siapkan.
“terimakasih”
“bagaimana caranya kita keluar dari rumah sakit ini?” tanya Lisa, namun dia terdiam sejenak, dia memikirkan ucapan yang baru saja di ucapkan 'kita', kata itu seperti merujuk pada sebuah hubungan.
“itu hanya mudah, kita hanya perlu mengganti pakaian kita saja dan dengan mudah kita bisa pergi dari rumah sakit ini” ucap Han yang sedang merapikan barang tadi dia bawa.
“pakaian? Seperti Ibu belum membawa pakaian untukku”
“Ibu sudah membawakannya, dia meletakkan di raci ini” Han menunjukan dimana pakaian Lisa berada.
“kamu gantilah dulu pakaianmu, aku harus menghantarkan ini terlebih dahulu, baru aku akan kembali kesini” ucap Han yang mulai melangkah menuju pintu keluar.
“baiklah”
Setelah Dokter Han sudah pergi, Lisa menurunkan tubuhnya dari ranjang dan berjalan mendekati laci yang berisi pakaiannya. Lalu Lisa mulai memilih pakaian yang ingin dia pakaian, kali ini Lisa ingin memakai pakaian seperti wanita dewasa, Lisa memilih kemeja yang berwarna peach dengan corak bunga, dan untuk celana Lisa memilih celana training seperti biasanya.
Dia mulai melangkah ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, Lisa juga tidak lupa untuk membawa make up, dia juga berhias sedikit, untuk menutupi wajahnya yang pucat.
Setelah selesai mengganti pakaian dan sedikit memakai make up, kini Lisa sedang menatap dirinya di cermin kamar mandi, untuk pertama kalinya dia melakukan hal yang tak pernah dia lakukan sebelumnya, 'melanggar aturan' Lisa bukanlah anak yang suka melanggar aturan, Lisa sangatlah mencintai peraturan. Tapi sekarang mungkin sudah tidak bisa bilang seperti itu.
Untuk kali ini Lisa ingin mengubah tampilannya, jika biasa dia akan menguncir dua rambut, memakai pakaian seperti anak kecil, kini dia hanya memakai pakaian sederhana yang biasa gadis-gadis korea pakaian, untuk pertama kalinya Lisa mencoba membiarkan rambutnya terurai begitu saja, Lisa juga memotong beberapa helai rambutnya untuk dijadikan poni yang tidak terlalu tebal, dan terakhir memakai jepit rambut sebagai pelengkap.
Lisa tersenyum melihat penampilannya yang sekarang, dia baru menyadari jika usianya sudah akan menginjak dua puluh tahun, itu menandakan jika Lisa sudah mulai dewasa, Lisa akan lebih sering merawat diri daripada mengganggu kakaknya atau Ibunya.
“Lisa?” ucap dokter Han yang suara ada luar kamar mandi, dia sepertinya sudah selesai dengan urusannya.
“Ya? Aku ada di dalam kamar mandi dokter Han” ucap Lisa, sebelum meninggalkan kamar mandi, Lisa memastikan jika dandanya sudah rapi, setelah itu segera keluar dari kamar mandi.
“apakah kamu----”
__ADS_1
Baru satu langkah keluar dari kamar mandi dan ingin bertanya tubuh Lisa di buat tegang saat matanya tanpa sengaja melihat Han yang sedang membuka pakaiannya, pria itu dengan santainya membuka pakaiannya di depan Lisa? Di Depan seorang gadis yang masih dalam kategori polos, Lisa yang melihat itu langsung menutup kedua matanya dengan tangannya dan membalik tubuhnya.
Dengan wajah yang mungkin sudah merah, Lisa mencoba menenangkan dirinya yang mulai gugup, begitu terkejutnya Lisa melihat tubuh seorang pria yang telanjang dada. 'Tapi jika dilihat tubuh Dokter Han sangat bagus, dada bidangnya yang menggoda untuk disentuh... Oh Tuhan, tolong jauhkanlah aku dari pikiran kotor ini!' ucap Lisa dalam hatinya.
“Lisa? Ternyata kamu sudah keluar, aku pikir kamu masih lama, jadi aku mengganti pakaianku disini” ucap Han, saat dia membalik tubuhnya, dia sempat terkejut melihat Lisa yang sedang menghadap ke arah pintu kamar mandi, 'apa dia melihat saat aku membuka pakaianku? Oh Han bodoh! Kau memperlihat tubuhmu pada seorang gadis?'
“apa Dokter Han sudah selesai? Kalau masih lama aku akan masuk ke dalam kamar mandi lagi” ucap Lisa, tidak sedikitpun dia menoleh kebelakang.
“tidak, aku sudah selesai”
Dengan ragu-ragu Lisa membalikan tubuhnya dengan masih menutup kedua matanya dengan tangannya, setelah itu secara perlahan dia membuka kedua tangannya yang menutupi matanya, hal yang pertama kali Lisa lihat ada Han yang kini berbeda saat dia sudah mengganti pakaian. Han yang kini ada di hadapan Lisa sangat berbeda, perbedaan itu semakin membuat Lisa kagum pada sosok yang ada di depannya.
“siap untuk melarikan diri?” tanya Han, kini pria itu sudah ada didepan Lisa, pria itu juga mengulurkan tangannya ke arah Lisa.
“Hm” Lisa mengangguk sebagai jawabannya, dia juga mengulurkan tangannya untuk bisa memegang tangan yang selalu ini Lisa harapkan untuk bisa memegangnya.
Han membawa Lisa keluar dari kamar rawat, dengan langkah yang tegas pria itu menggenggam tangan Lisa. Lalu melewati lorong rumah sakit yang sudah sepi dengan penjenguk, Han memilih melewati lorong rumah yang akan menuju ke belakang, di mana di belakang rumah sakit ada pintu yang langsung menghubungkan dengan jalan Kota Tokyo.
Lisa hanya diam, matanya terus memandangi tangannya yang sedang di genggam oleh Han, dari genggam itu Lisa bisa merasakan kehangatan dari tangan Han, diam-diam Lisa tersenyum, ini pertama kalinya dia bergandengan tangan dengan seorang pria. Hanya dengan bergandengan tangan saja sudah membuat jantung Lisa berdetak lebih kencang.
Tak membutuhkan waktu lama kini mereka berdua sudah berada di depan jalan Kota Tokyo.
“kamu ingin kemana Lisa?” ucap Han, dia masih tidak sadar jika tangannya masih menggenggam tangan Lisa.
“apakah kamu bisa menunjukan tempat yang biasa kamu kunjungi dokter Han?”
*********
Beberapa menit kemudian, tibalah mereka di sebuah Museum yang bernama Fujiko F. Fujio, yang lokasi tidak jauh dari stasiun Tokyo.
Di dalam museum Fujiko F. Fujio, terdapat semacam diorama di mana patung Doraemon dan teman-temannya berpose di ruangan yang sudah sangat familiar bagi pecintanya seperti kamar Nobita dan lapangan bermain dengan tiga pipa besar. Selain Doraemon, museum juga memajang karakter lain karya Fujiko F. Fujio, yaitu P Man.
Puas berkeliling, kamu bisa mencicipi menu khas di tempat wisata ini. Menu makanan di restoran ini juga bertemakan Doraemon. Kamu bisa memesan kue dorayaki dan berbagai makanan lain yang dihiasi dengan wajah Doraemon.
Lisa hanya bisa terdiam menatap museum ini, matanya mulai berkaca-kaca melihat karakter yang selalu ini menghiasi kamarnya, kini Lisa bisa melihatnya secara langsung di negara asal doraemon.
“Dokter Han? Bagaimana kamu tahu jika aku menyukai doraemon?” tanya Lisa yang kini mengalihkan pandangan ke Han
“aku melihat boneka doraemon yang ada di lacimu, mau melihat-lihat museum ini?” ucap Han, dengan senyum manisnya dia mengulurkan tangannya kepada Lisa.
Lisa hanya mengangguk, dengan semangat Lisa memberikan tangannya kepada Han, dan langsung melangkah untuk melihat-lihat yang ada di museum itu.
“Lisa?”
“tidak, bisakah kamu memanggilku Han saja? Kitakan tidak sedang di rumah sakit”
Lisa yang sedang memotret salah satu figur doraemon terdiam sejenak, dia berpikir jika dia memanggil 'dokter han' tanpa mengunakan dokter, bukankah itu terlihat jika mereka seperti sudah berteman?
Setelah puas mengelilingi museum, Lisa dan Han memilih untuk makan dia di sana, kini mereka sedang berada di taman yang lokasi di belakang museum, duduk di depan danau yang tenang dengan udara yang sejuk membuat perasaan menjadi nyaman.
“kamu terlihat sangat lapar Lisa”
“Ya, karena aku sangat merindukan makanan seperti ini, selama dirumah sakit aku tidak diperbolehkan memakannya” ucap Lisa, dia sangat menikmati hamburger yang ada di tangannya.
“jika kamu masih ingin lagi, makanlah milikku” ucap Han, dia memberikan hamburger miliknya yang masih terbungkus rapi.
“tidak, dokter Han, itu milikmu” ucap Lisa, dia menggelengkan kepalanya dan memberikan kembali hamburger itu kepada Han.
“kamu sangat lucu Lisa”
Han tersenyum melihat tingkah laku Lisa, dia gadis yang polos dan juga baik, karena kecemasan Lisa membuat Han ingin sekali mencubit pipinya, tapi Han tidak bisa melakukannya jadi dia hanya memilih mengacak-acak rambut Lisa.
“Dokter Han apa aku boleh bertanya?” tanya Lisa, dia sedikit mengangkat kepalanya untuk menatap dokter Han yang posisi sangat dekat dengan Lisa.
Setelah selesai makan siang, mereka memilih untuk kembali ke rumah sakit, melihat kondisi Lisa yang sudah mulai kelelahan, sekarang mereka sedang dalam kereta bawah tanah, kondisi di dalam kereta cukup padat membuat Han harus menjaga Lisa.
“mau bertanya apa?"
Han menundukan kepalanya, dengan ekspresi wajah yang serius dia menatap Lisa, seperti dia sangat penasaran dengan hal yang akan ditanyakan Lisa.
“Itu--Itu--Aku ingin bertanya ten---”
Saat Lisa sedang berbicara, tanpa di duga tiba-tiba penumpang di dalam kereta saling bergeser dan salah satu dari mereka tidak sengaja mendorong tubuh Han yang membuatnya tidak sengaja mencium bibir Lisa. Bola mata Lisa melebar sangat bibir Lisa merasa bersentuhan dengan bibir Han.
“maaf tadi aku terdorong” ucap Han yang terlihat gugup, dia mengalihkan pandangan dari Lisa.
Sedang Lisa, gadis itu masih terkejut dengan kejadian itu! Degup jantungnya terus berdetak kencang, tanpa sadar Lisa juga menyentuh bibirnya yang masih terasa jejak Han di sana 'ciuman pertamaku?'
di dalam kereta yang padat penumpang itu hanya mereka dua yang terlihat canggung setelah apa yang terjadi, Han sama sekali tidak melihat ke arah Lisa, padahal Lisa berada di depannya.
__ADS_1
***********
sesampainya dirumah sakit tak ada sedikitpun obrolan yang mereka lakukan selama perjalanan kembali.
“Lisa?”
“Ibu?”
saat membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk Lisa melihat sang Ibu yang ada di dalam kamarnya, Lisa langsung gugup, dia bingung harus berkata apa pada Ibunya.
“Lisa, kemana saja kamu setengah hari ini?” tanya Risa, dia langsung menarik Lisa untuk duduk di sofa.
“Itu--Ibu--aku--”
Lisa terdiam, dia tidak mungkin membohongi Ibunya, Lisa bukanlah anak yang suka berbohong dengan orang tuanya apa dengan Ibu yang sangat Lisa hargai.
“Lisa!”
pertama kalinya Risa membentak Lisa, untuk kali ini Risa tidak bisa menahan emosinya, pergi tanpa seizinnya, Risa hampir kebingungan harus mencari kemana Lisa, belum lagi jika Lian bertanya tentang Lisa apa yang harus dia jawab, dan apalagi jika terjadi sesuatu hal pada Lisa.
“aku pergi dengan dokter Han, ke museum yang tidak jauh dari kini Ibu” dengan perasaan bersalah, Lisa terus menundukan kepalanya. tidak sedikitpun dia berani menatap Ibu, Lisa terlalu takut.
“apa kau bodoh Lisa?”
“tolong jangan salah Lisa” ucap Han yang kini sedang menahan tangan Risa yang hendak menampar Lisa.
“ada bisa menampar saja sebagai gantinya, saya yang salah”
tanpa menunggu lama, sebuah tamparan yang cukup keras menghantam pipi mulus Han, “kau tidak pantas untuk disebut dokter!”
kata-kata yang dikeluarkan Risa memberikan tamparan lebih keras, dokter adalah pekerjaan yang sangat dia cita-citakan sejak kecil, tujuan utama dia menjadi dokter karena dia membantu orang lain sembuh melawan penyakitnya, dan salah satu alasan dia ingin menjadi dokter karena masa lalu yang tidak bisa diselamatkan satu Ibu dan kekasihnya.
ucapkan itu seakan-akan mengatakan jika dia gagal menjadi seorang dokter, Han juga sudah bekerja di sini selama lebih dari lima tahun.
“Ibu, bukankah mengatakan hal seperti itu menyakiti perasaan orang lain” ucap Lisa, dia tidak tega melihat Han yang di tampar Ibunya lalu di hina seperti itu.
“apa perasaan Ibumu tidak sakit Lisa? anakku kini sudah berani melakukan hal yang sudah jelas dilarang!”
“maafkan Lisa Ibu, Lisa janji tidak akan melakukannya lagi, Lisa akan menurut pada Ibu, tolong biarkan Dokter Han pergi”
air mata yang Lisa tahan akhirnya dia keluarkan, dia benar-benar merasa bersalah, tanpa sadar dia membela Han yang seharusnya tidak dia lakukan, ketegangan yang terjadi membuat sakit kepala Lisa kembali kambuh.
“Ahk... Ibu kepalaku pusing”
“Lisa?” Ucap Han, baru saja dia ingin memeriksa kondisi Lisa, dengan cepat Risa menghalanginya.
“jangan menyentuh putriku! panggillah dokter Park”
Risa membantu Lisa untuk berbaring di ranjang, sedangkan Han hanya bisa menurut, dia segera pergi memanggil dokter Park.
beberapa menit kemudian yang datang hanya Han, tidak ada dokter Park, dengan langkah yang sedikit ragu Han melangkah masuk.
“bukankah aku menyuruhmu memanggil dokter Park!”
“Tuan Park, sedang berada di luar, biarkan saya yang memeriksa Lisa”
“aku tidak akan membiarkan kau menyentuh putriku!”
“Ibu--”
“jika anda terus bersikeras seperti ini, jangan salah rumah sakit ini jika terjadi sesuatu pada Lisa” ucap Han, dia mencoba untuk menahan emosinya, bagaimanapun juga dia adalah dokter yang merawat Lisa dan Ibunya tidak ada hak untuk melarangnya.
Risa yang mendengar ini hanya bisa diam, jika Risa hanya menuruti keegoisannya, itu malah akan menjadi semakin mempersulit Lisa, mau tidak mau Risa harus mengalah pada Han dan membiarkan Han memeriksa Lisa.
“Lisa, tolong untuk tenang biarkan aku memeriksanya” ucap Han, suara itu begitu lembut.
setelah memastikan Lisa sudah meminum obatnya dan juga beristirahat, dokter Han masih ada di sana, ada hal yang ingin di sampainya pada Risa.
“tolong jangan membahas masalah ini lagi nyonya Jung, aku tahu semua ini salah, tapi Lisa tidak bisa menahan tekanan yang begitu keras, itu akan membuat dia berpikir keras dan juga menyakiti kepalanya, apakah anda pernah berpikir Lisa bahagia dengan semua ini? tinggal di sini sendirian di rumah sakit tanpa tahu apa penyakit yang dia derita!” Sejenak Han menghentikan perkataannya.
“dan jika saya tidak pantas untuk menjadi dokter, tidak mungkin rumah sakit ini mau menampung saya, memang Lisa membutuhkan kesembuhan dari rumah sakit ini, tapi semua ini butuh proses dan cara tersendiri, saya mengajak Lisa pergi semata bukan untuk kesenangan tapi saya mencoba memahami kondisi Lisa,”
setelah mengucapkan kata-kata yang membuat Risa terdiam, Han menundukan tubuhnya sedikit lakukan melangkah keluar kamar.
Pikiran Risa dipenuhi dengan kata-kata ' tinggal disini sendirian di rumah sakit tanpa tahu apa penyakit yang dia derita!' Risa tidak pernah berpikir kata-kata itu akan melukai perasaannya, sebagai Ibu dia tidak mampu untuk mengatakan hal itu kepada putri dan terus menahannya di rumah sakit tanpa tahu apa penyakit yang diderita.
Risa yang kini berada di samping sang putri yang sudah tertidur, Lisa yang sudah berganti pakaian pasien dan juga tangannya yang sudah dipasang infusan lagi, satu air mata lolos dari pipi Risa.
“maafkan Ibu Risa, Ibu tidak sanggup jika harus memberitahu tentang penyakit yang kamu derita sayang, Ibu terlalu takut” ucap Risa, dia menggenggam tangan Lisa yang terasa begitu dingin.
__ADS_1